Sunday, July 1, 2018

Manufaktur Kita

Andi Hakim 25 Juni 2018
Tulisan ini sedikit menjelaskan mengapa kita jangan terlalu bangga dengan proyek-proyek infrastruktur terutama jalan tol.
Semenjak David Bell menulis The Coming of Post Industry Society (1978) dengan cara yang skeptis. Menurutnya ke depan peran manufaktur yang menghasilkan barang guna atau produksi akan pudar dan digantikan industri sektor jasa.
Pada beberapa kasus pendapat ini tidak keliru, kita melihat misalnya industri jasa dan perbangkan meningkat sejalan dengan perkembangan digital.
Hanya saja bila kita telaah dari beberapa faktor maka pengabaian pembangunan di sektor industri manufaktur hanya berhasil di beberapa bagian kecil saja negara dengan resiko besar. Negara finansilal heaven seperti Monaco, Lichtenstein, Kuwait, Brunei, Qatar, Emirat Arab, hanyalah sedikit negara yang melompat kepada post industrial state/city, Hanya saja belakangan kita melihat persoalan ketiadaan manufaktur bahkan yang paling sederhana saja seperti industri pengolahan makanan membuat Qatar mengalami masalah besar ketika mereka berkonflik dengan tetangganya Saudi Arabia. Demikian pula pada kasus Brunei yang mulai menghitung rencana pengembangan industri non minyak bumi dengan semakin terseoknya harga minyak dunia.
Beerapa alasan mengapa kampanye pengembangan manufaktur kita menjadi penting adalah;
0.1
Tidak ada satu pun negara yang dominan di sektor industri jasa tidak memulainya dengan menjadi negara industri manufaktur. Bila kita perhatikan sejarah perkembangan negara besar terhimpun dalam G7/8 atau Global 7/8 Industrialized Countries Club maka istilah ini selalu digunakan bersama dengan istilah developed, rich, atau progressed countries. Artnya mereka disebut maju dan kaya karena mereka mendominasi pengembangan industri manufaktur.
Mereka menjalahi tahapan sebagai negara manufaktur sebelum menjadi dominan di sektor jasa dan finansial. Bahkan sampai hari ini mereka tidak pernah sekalipun meninggalkan manufaktur.
0.2
Apa yang membuat negara tadi menjadi maju adalah karena industri manufaktur selalu melahirkan temuan dan innovasi. Keduanya adalah produk yang nantinya akan mengubah interaksi orang terhadap industri selanjutnya yaitu jasa, kesehatan dan pasar finansial.
Temuan dan innovasi inilah faktor utama yang mendorong perkembangan dan pembangunan secara berkelanjutan. Penemuan alat dan cara baru dalam industri misalnya dapat menekan ongkos dan kualitas produksi sekaligus kompetitivnessnya. Sementara di sektor kesehatan dan perbankan, layanan dan transaksi menjadi semakin mudah dengan adanya temuan-dan inovasi tadi.
03
Manufaktur adalah bidang yang paling luas untuk menampung tenaga kerja dengan rentang keahlian dan keilmuan paling lebar. Dalam sebuah industri manufaktur, pekerja dengan kualifikasi pendidikan dasar hingga keahlian sarjana atau doktor, dari pekerjaan administatif, riset hingga teknis dapat ditampung.
Mengambil contoh Singapura yang giat mengembangkan industri manufaktur biomedikal. Maka boleh kita sebut jika kontribusi manufaktur di sektor ini adalah 68 kepada industri lainnya. Mulai dari pendidikan, kesehatan, riset akademis, pertanian, sampai produk iklan. Sementara hanya 15 persen peran industri service yang mendukung sektor manufaktur/
Mudahnya adalah, bila ada 100 industri manufaktur maka ia berkontribusi terhadap 30 bidang jasa. Sebalinya sektor jasa hanya memberi 3-4 kontribusi ke bidang manufaktur.
0.4
Sektor manufaktur adalah sektor besar yang melibatkan hampir 40 persen pasar tenaga kerja dunia. Jumlah terbesar temtiu saja di tenaga buruh. Bila kita melihat pasar kerjas di Indonesia maka Kemenperin menargetkan sekitar angka 16-17 juta, jumlah ini jauh di bawah pasar buruh AS yang hampir 40 juta dengan rasio jumlah penduduk yang hampir sama.
Bukan hanya di dalam negeri namun pada 2010 Obama mengkritisi Steve Job karena manufaktur besar seperti Apel coorporation membagi kue manufaktur mereka ke Cina. Obama berharap keuntungan lebih besar dari produk Apel, meski kebanyakan orang berpikir bahwa Apel maju karena bisnis non manufaktur seperti jasa telekomunikasi, pemutar musik, game, dan layanan aplikasi lainnya.
0.5
Perkembangan sektor non industri (post-industrial) terbukti tidak pernah menghilangkan peluang berkembangnya industri manufaktur. Sebaliknya, industri manufaktur yang kuat selalu akan membuka peluang-peluang baru dari industri non manufaktur seperti jasa.
Jadi bolehlah kita menyebutkan teori Daniel Bell tentang pudarnya masyarakat pasca industri ini secara skeptis saja. .
Bila kita melihat kasus Indonesia maka ada beberapa indikator yang menunjukkan kondisi darurat manufaktur.
Pertama semenjak kita mengikuti resep IMF ketika mengalami krisis tahun 1998 dan 2014 untuk mengurangi dukungan di sektor manufaktur dan lebih pro pada pasar jasa keuangan maka ini sama sekali tidak mengubah apa pun kecuali kita semakin tergantung oleh barang import. Gagasan industri yang mendukung pertanian, dan industri pengolahan pasca pertanian yang dikembangkan di masa Orde Baru pelan-pelan menghilang.
Kedua, melemahnya sektor manufaktur dalam negeri ini dapat dilihat dari jumlah pasar tenaga kerjasa lulusan SMK yang paling banyak menganggur hari ini. Pada tahun 2010 sempat muncul kembali optimisme sektor manufaktur akan kembali bangkit dan mengambil pangsa pasar lulusan SMK dan adanya keseriusan pemerintahan SBY untuk menaikkan upah tenaga buruh.
Meski demikian tuntutan kenaikan upah ini lbih kepada persoalan hak buruh yang diperjuangkan aktivis ketimbang naik sebagai konsekuensi dari kompetitivnes pasar tenaga sektor manufaktur.
Ketiga, proyek-proyek besar yang seharusnya dapat menjadi pendorong dari bergeraknya kembali industri manufaktur kita hari ini ternyata tidak sesuai harapan.
Ambil contoh dari proyek infrastrukttur yang pendanaannya kini dikelola oleh BUMN, hanya kurang dari 17% meretas kepada pelaku industri manufaktur dalam negeri. Bahkan asosiasi sipil dan kontruksi melaporkan ada 35 ribu anggotanya yang bangkrut atau terancam gulung tikar. Mereka tidak melihat ada relevansi langsung pembangunan di infrastruktur yang masif hari ini terhadap pertumbuhan industri-industri pendukungnya.
Bila hari ini kita melihat banyak yang beralih ke usaha jasa dan makanan, maka sebenarnya ini hanyalah usaha mempertahankan hidup karena tidak ada pilihan lain. Barangkali pada 1997-2000 ketika kritis moneter kita masih bisa bertahan dengan bisnis makanan dengan membuka warung-warung tenda, tetapi hari dengan semakin mudahnya masuk makanan siap saji dan olahan dari luar, tentu semakin sulit saja.

0 comments:

Post a Comment