Saturday, July 14, 2018

Mas Pion Jadi Wapres

Andi Hakim 11 Juli 2018
Kurang dari tiga puluh hari lagi semua gundah gulana siapa kandidat presiden dan wakil presiden untuk pemilu akan terjawab.
Sebetulnya dari pilihan tadi, maka posisi capres hari ini tidak terlalu bermasalah. Piublik masih melihat sosok Mas Jokowi, Mas Prabowo, dan Mas X, tetapi pada posisi pendamping yaitu Wakil presiden inilah masing-masing pihak saling mengunci.
Beberapa nama yang telah swadaya mewapreskan atau diwapreskan dirinya antara lain, Muhaimin Iskandar, Gatot Nurmantyo, Moeldoko, Puan Mahearani, Anis Baswedan, Srimulyani, Budi PU, Airlangga Hartarto, Mahfud MD, Tito dll..
Beberapa survey mulai merilis nama-nama yang "cocok" dipasangkan ke Jokowi atau Prabowo. Yang menurut saiya sebetulnya lebih kepada pencocokkan, ini karena kemudian setelah nama disusun baru dilakukan pengelompokkan minat dan ketertarikan. Misal konsultan politik itu lalu memberikan alasan bahwa tokoh tadi dipilih karena; Tokoh militer, polisi, tokoh profesional, tokoh birokrat, tokoh agama. Lalu agar lebih historis seperti bandar bola di Inggris, maka riwayat si tokoh perlu ditulis seperti; jawa, non jawa.
Tetapi kita yang ahli-ahli dalam membaca zaman ini tentu juga punya dugaan-dugaan yang sama kerennya.
Misal kita sebut saja, bahwa siapapun wapresnya dia harus memberikan dua opsi kepada calon presiden. Ingat karena meskipun disebut di UU KPU kita memilih Pasangan pada kenyataannya pemilih itu hanya memilih si Presiden atau si Wapres. Tidak keduanya.
Model power sharing macam begini akan menjadikan posisi Wapres itu kepada dua pokok saja, yaitu dia yang bisa mendukung dari segi perolehan suara (memiliki massa), atau dia mendukung dari segi pendanan (memiliki duit). Sehingga ada duit atau ada massa ini tetap saja jadi pilihan utama, bukan soal pri non pri, jawa-non jawa, tokoh atau masyarakat umum.
Nah bagi Jokowi, Prabowo atau bila ada tambahan calon ketiga, maka si wapres itu harus memenuhi salah satu atau kedua kriteria di atas. Bagaimana ia punya massa atau punya duit itu masalah asset yang penting ini orang harus dianggap bagian dari persoalan kebangsaan. Apa persoalan kebangsaan hari ini> yaitu ambruknya industri manufaktur lokal kita, merosotnya dollar, naiknya inflasi yang menyebabkan mahalnya kebutuhan pokok masyarakat.
Taroklah pemerintah sukses membangun infrastruktur tetapi faedahnya kepada industri nasional hampir tidak ada. Tidak banyak kontraktor lokal dilibatkan, tidak banyak barang barang lokal digunakan dlalam proyek.
Siapa tokoh yang dapat mengatasi kelemahan pemerintahan hari ini itulah yang akan diangkat sebagai wapres baik Jokowi, maupun Prabowo. Wapres yang akan menggenjot kembali produk-produk manufaktur dalam negeri. Yang mencintai produk-produk Indonesia.

0 comments:

Post a Comment