Sunday, July 1, 2018

Mesin Politik Partai Gerinda-PKS berjaya di PIlkada

Andi Hakim 27 Juni
Ini sebenarnya membuat saiya terharu. Bukan karena saiya anggota kedua partai tetapi, rupanya anomali sukses Gerindra-PKS sebagai mesin politik suara ternyata berulang di beberapa tempat dimana mereka memiliki basis suara (Jabar, Jatim, Sumut, dst).
Artinya pemirsa, setelah kita dipaksa menjalankan sistem pemilu one man-one vote atas nama demokrasi langsung (bukan perwakilan seperti di masa Orla dan Orba) sebetulnya kita tengah menjalankan demokrasi yang maha mahal harganya namun dengan kualitas pemimpin atau anggota dewan yang paling buruk dalam sejarah. Ada ratusan kepala daerah dan anggota dewan yang berurusan dengan KPK.
Model pemilihan langsung yang mahal ini membuat hubungan kandidat dengan partai tidak terlalu kuat, tetapi lebih kepada perhubungan modal yang pragmatis saja. Akibatnya partai dan anggotanya hanya dilihat sebagai kendaraan politik kekuasaan saja, bukan sebagai organisasi yang membentuk kader, mendidik kader, dan mendistribusikan mereka sebagai pelaksana visi dan misi partai.
Namun sukses Gerindra dan PKS di pilkada DKI rupanya terulang kembali di pilkada serentak 27 juni hari ini. Artinya kita dapat berharap bahwa partai sebagai sebuah organisasi politik ternytata masih dapat menunjukkan coraknya sebagai organisasi perkaderan. Ini tentu menggembirakan, karena masih ada harapan bagi masyarakat untuk mempercayai partai sebagai representasi dalam memperjuangkan suara mereka.
Kedua partai menunjukkan tajinya dalam plkada serentak ini, terutama di Jawa Barat.
Setelah ditempatkan di nomor tiga oleh semua lembaga survey dengan kisaran 7-10 persen di awal lalu 13-17 menjelang pilkada, pasangan Sudrajat Ahmad Syaiku (Asyiik) membekuk perolehan 29-31% suara pemilih. Artinya setelah saiyah sempat meragukan mesin politik kedua partai ini akan mengulang sukses mereka di Jakarta ke Jabar maka secara fenomenal mereka menjungkirkan banyak prediksi lembaga survey.
Meskipun boleh dibilang telat menghadapi popularitas pasangan Ridwan Kamil-UUn (Rindu) yang kini masih memimpin di 31-33%, namun meroketnya Asyiik menyalib pasangan 2DM sekali lagi menunjukkan jika mesin politik partai Gerindra dan terutama PKS benar-benar bekerjas solid. Kader, anggota, dan simpatisan mereka telah menjadi sebuah komunitas politik yang dewasa.
Terlepas dari serangan-serangan terhadap citra PKS sebagai partai teroris, partai anti toleransi, dan partainya kaum islam garis keras, namun di pilkada hari ini mereka sama sekali menunjukkan trend yang berbeda. Baik Gerindra terlebih PKS bersikap sebagai partai modern yang bisa berkoalisi dengan pihak mana saja sepanjang dapat memenangkan dan mengamankan tujuan. Jika kita amati, maka yang mereka lakukan memang fokus mengamankan kantong-kantong perkaderannya di pilkada ini. Ini tentu menarik karena pada saat partai lain memikirkan politik zona marking, kedua patai sepertinya tetap konsisten menjaga kantong perkaderannya.
Mereka boleh mengklaim jika hari ini mereka ada di rel yang tepat untuk menghadapi pilpres 2019.

0 comments:

Post a Comment