Monday, July 9, 2018

Persoalan Kita itu Krisis Ekonomi bukan Krisis Identitas

Andi Hakim 9 Juli 2018
Narasi yang paling laku belakangan ini adalah bahwa kita hampir bersepakat jika masalah bangsa hari ini adalah: masalah geger identitas dan bukan masalah semakin sulitnya ekonomi masyarakat.
Hampir seluruh percakapan kita di media sosial dan media mainstream hanya tersalurkan dalam persoalan politik aliran (Islam vs Nasionalis), dan politik keyakinan b(agama nusantara vs agama import). Narasi seperti kemiskinan, rusaknya sumber daya lingkungan, pengangguran, melemahnya daya beli masyarakat terutama pada kebutuhan sehari-hari, ditariknya subsidi pada listrik, gas, dan BBM, sampai STKM sebagai syarat masuk sekolah negeri lolos dari fokus pembicaraan.
Seluruh sumber daya baik uang dan pikiran dikerahkan untuk membahas perihal betapa pentingnya kita mempersoalkan intoleransi dan radikalisme beragama. Bahwa cara pandang dan perilaku yang dinarasikan sebagai intoleran dan radikal tadi lebih prioritas daripada persoalan ratusan ribu atau jutaan buruh asing masuk lewat kontrak investasi, pada saat pemerintah berjanji akan membuka 10 juta kesempatan kerja. Saat masyarakat dijanjikan tol laut yang hebat, dalam satu bulan enam kecelakaan tragis kapal penyeberangan terjadi dan berakhir dengan percekcokkan siapa yang paling bertanggungjawab.
Pemberitaan media mainstream dan media palsu digital dengan mengabaikan asas ekualitas antara persoalan yang sifatnya konseptual (vertical) seperti intoleransi, dan cara berkeyakinan agama dengan persoalan praktikal (horisotnal) masyarakat yang semakin berat hanya menciptakan persoalan parsial yang asimetris. Bahwa arah perbincangan kita hanya dilokalisir di satu titik yang telah dinarasikan dengan pembahasan yang mesti timpang dalam bentuk percekcokan daripada resolusi. Ini karena tujuan dari narasi tadi memang menciptakan sebuah kondisi pra-syarat, yaitu masyarakat yang terbelah (Rose:2017).
Sehingga tampak bagi kita, adanya pembentukan atau konstruksi subjek percakapan tentang relasi masyarakat terbelah yang didesain untuk sialnya tidak dapat diselesaikan. (unfixing relationship). Bahwa kita kemudian secara alamiah didorong hanya untuk memikirkan betapa kompleksnya membangun relasi antar identitas tadi melalui praktik cara yang absurd; yaitu saling mencela.
Pada saat yang bersamaan, narasi lain bekerja dengan cara saksama. Proses de industrialisasi di negara berkembang seperti Indonesia terus saja berjalan tanpa ada formula mengatasinya. Semua disibukkan dengan persoalan geger identitas. Sementara pada persoalan sulitnya bahan bakar dan bahan makanan, beberapa menteri di pemerintahan hari ini mudah saja menjawab:; jika tidak ada daging makanlah bekicot. Tidak ada protein makanlah belatung, dan tidak bisa membeli BBM ganti mobil mu dengan mobil listrik. Tidak kuat bayar TDL gantilah dengan kayu bakar.
Narasi idenitas ini mengabaikan fakta jika ada 35 ribu perusahaan jasa konstuksi dengan ratusan ribu pekerja yang mengeluh kehilangan order. Mereka nyaris tidak mendapatkan manfaat dari masifnya pemberitaan sukses pembangunan infrastruktur jalan tol, bandara, dan Pembangkit Listrik Tenaga Kipas Angin Raksasa (PLTKAR) yang diklaim sebagai bukti kemajuan negara. CGD, lembaga peneliti pembangunan melaporkan akan ada 2/3 tenaga kerja tersingkir dengan digitalisasi sektor jasa dan manufaktur. Kita sudah mengalaminya. Hari ini semakin sulitnya pasar tenaga kerja dan manufakur bergerak. Mahalnya ongkos kerja dan bahan-bahan adalah faktor utama selain semakin murahnya barang import India dan Cina.
Sebagian tenaga kerja ini bermigrasi menjadi buruh digital sebagai driver ojeg online. Dengan pasar tenaga kerja generik (hampir siapapun bisa menjadi super ojeg) maka margin yang dipeoleh semakin sempit saja.
Hari ini kita menghadapi persoalan ekonomi yang semakin sulit dan narasi perang identitas adalah cara yang dicari-cari untuk menutupi kegagalan pemerintahan hari ini memenuhi janji-janji politiknya..
Cina dan India mulai membalas perang tarif yang diserukan Presiden AS Donal Trump, terutama di sektor metal dan pertanian. Bagi mereka ini adalah langkah yang harus diambil untuk menyelamatkan harga diri dan kepentingan dalam negeri.
Sementara kita yang menjalan pemerintahan tanpa perencanaan mesti kewalahan dengan konsekuensi dari perang ekonomi para gajah. Kenyataannya hari ini saja banyak usaha konstruksi teriak karena kenaikan bahan baja dan masyarakat mengeluh kenaikan barga bahan pokok rumah tangga dari beras, bawang, dan garam.Belum lagi kita mendengar Iran -produsen minyak keempat terbesar dunia- mengancam menutup selat Hormutz yang berkonsekuensi menaikkan security insurance dari tanker pembawa BBM/LPG/LNG.
Artinya pada negara yang APBN nya diatur oleh dinamika harga minyak dunia, maka persoalan internasional tadi akan semakin merisaukan saja kondisi bangsa yang setengah terkapar ini. .
Sementara kita percaya bahwa narasi hari ini adalah masalah mempersoalan siapa yang paling menusantara dan paling toleran. Masalah kita hari Ini masalah ekonomi yang semakin morat-marit.
Anda harus percaya kepada saiya bahwa kini masalah kemiskinan bukan lagi hak previlege mereka yang dibawah garis kemiskinan tetapi mulai menyasar kelas menengah perkotaan. Jika tidak percaya anda boleh bertanya, mengapa orang tua dari kelompok ini banyak mencari Surat Keterangan Tidak Mampu. Ini bukan lagi persoalan pendidikan otak anak menjadi radikal atau intoleran, tetapi lebih kepada konsekuesi pembiayaan sekolah mereka

0 comments:

Post a Comment