Sunday, July 1, 2018

Sekali Lagi Mesin Partai

Yang harus difahami untuk mengerti bagaimana sebuah partai menjadi mesin suara adalah bukan pada satu hasil tertentu,
Betul bahwa pada akhirnya kemenangan politik dalam pilkada atau pilpres adalah tujuan paling tinggi dari kompetisi elektabilitas. Namun memahami itu sebagai salah satu tujuan adalah kekeliruan.
Pertama kita akan membahas partai dari segi corak politik dan partai dari model perkaderannya.
0.I Corak Partai
Dari seluruh partai di Indonesia, mungkin baru Golkar yang paling faham bagaimana memahami pengertian bahwa berpolitik itu bukan persoalan merebut tetapi mengatur kekuasaan.
Mereka memiliki pengalaman dan pengertian yang paling pragmatis sebagai sebuah partai: yaitu bagaimana mendistribusikan dan meredistribusikan kekuasaaan. Sejak awal lahirnya partai ini memang lebih fokus pada persoalan bagaimana "membuka peluang kerja atau karya" bagi eksponen partainya. Mereka tidak menyibukkan diri dengan persoalan ideologis, filosofis, atau warna. Melainkan menjadikan dirinya sebagai platform bagi banyak pihak untuk merasa hommy (nyaman).
Pada helatan pilkada serentak kemarin (27/06) kandidat dari Golkar tidak semua menang, tetapi dibanding PDIP maka Golkar adalah partai yang paling sukses meyakinkan kontributornya bahwa mereka adalah partai yang paling pertama menciptakan format koalisi cair dalam pilkada. Koalisi antar partai yang di-setting oleh media sebagai partai saling berhadapan seperti Poros Islam vs Nasionalis, Poros Islam tradisional vs Poros Islam moderat sama sekali tidak ada. Sebaliknya kita menyaksikan aneka poros pelangi terbentuk mengikuti skenario Golkar.
Sehingga meski di pIlkada ini meski tidak seluruh kandidat mereka menang tetapi mereka sukses menciptakan jenis poros cair dalam skala luas. Entahlah apa namanya, artinya pengetatan kepada dual poros dalam skala nasional: Islam vs Nasionalis yang dikehendaki partai semacam PDIP itu tidak terentuk. Korelasinya adalah, paket-paket pilihan pilpres tahun depan pun akan cair. Ini tentu cukup menarik, karena bisa saja dengan kekalahan ini PDIP tidak mengontrol ketat petahana pilpres (okowi), atau Golkar ingin membuat pertukaran yuang lebih baik.
0,2 Partai Perkaderan
Sementara PKS dan Gerindra meski tidak semua kandidat dimana mereka terlibat koalisi menang, mereka adalah pemenang sebagai mesin partai. Keduanya sukses menjaga soliditas mesin dan anggota-anggotanya.
Di Jawa Barat, kantong-kantong sub dan con-suburban dimana mereka pernah menang tidak satu pun yang hilang (Bandung, KBB, Bekasi, Depok, Bogor). Begitu pula dengan dukungan pada Sudirman Said di Jawa Tengah dan Syaifullah Yusuf di Jatim. Trend yang mirip terulang di beberapa daerah pemilihan (data lengkap ada di DPW-DPP kedua partai). Sementara di tempat yang bukan wilayah kantong suara mereka ada kenaikan pemilih. Bahkan pada paslon mereka di Jabar dan Jateng, perolehan suaranya jauh menyimpang dari dugaaan (maaf bukan prediksi) dari lembaga-lembaga dan konsultan survey.
Sehingga dapat kita katakan bahwa setelah pilkada DKI yang sukses menjungkalkan prediksi petahana (Ahok-Djarot) menang kini kedua partai menunjukkan sukses yang sama di tiga wilayah di jawa.
Saiya menganalisa bahwa gagalnya lembaga survey melacak suara "tak terduga" dari pemilih kedua partai terutama PKS adalah karena mereka telah sukses mengubah pemilih mereka dari pemilih partisan menjadi pemilih minoritas pasti. Yaitu kelompok pemilih yang sudah tahu apa yang akan dipilih tetapi malas berkomentar karena beberapa alasan. Salah satu alasan adalah bahwa para pemilih ini sudah terikat bukan hanya karena sentimen keanggotaan kepada partai tetapi mungkin sudah satu kantor, satu pengajian, satu kompleks, dan satu komunitas besar. Mereka menjadi simpatisan atau kader dari partai dan tidak akan dapat diungkit dengan metode survey biasa, tetapi dengan indepth interview melalui analisa semantik kelompok khusus.
Pada pilkada ini mereka menunjukkan satu konsistensi kepada target utamanya yaitu pilkada akan merefleksikan target pilpres tahun depan.Yang artinya para pemilih dari dua partai ini adalah refleksi dari konsistensi para pemilih @20I9Gantipresiden. Keduanya menjadi mesin yang sangat diperhitungkan.

0 comments:

Post a Comment