Sunday, July 1, 2018

Seputar Dunia

Andi Hakim 26 Juni
1. Erdogan terpilih ulang
Presiden Turki dari partai AKP Recep Erdogan terpilih kembali dari pilkada serentak yang kontroversial (dipercepat). Memenangkan 53 persen melawan pesaing terdekatnya Ramaden Ince dari aliansi partai nasional sekular.
Hasil ini tidak akan membawa perubahan banyak di Turki. Erdogan masih akan memainkan sentimen "Khilafah" untuk memastikan dukungan dari koalisi Aliansi Rakyat yang dipengaruhi Ikhwanul Muslim (MHP) dengan kampanye mengembalikan kejayaan Turki Ustmani.
Politik Luar Negerinya pun tidak akan bnyak berobah. Bagi Suriah dan Irak, Turki tetap dianggap masalah. Bagi eropa Turki di bawah Erdogan tidak akan memberikan manfaat besar.
Jika ada pada kondisi seperti ini maka Erdogan hanya dapat memainkan politik Friennemy pada semua pihak. Termasuk berbik-baik dengan Iran, Rusia dan Israel. Erdogan hanya membutuhkan konflik di Suriah dengan kelompok Kurdi hanya untuk mengakomodir kelompok militer dan romantisme kelompok Ikhwanul Muslim tentang khilafah.
2. Suriah Memulai Kampanye di Selatan.
Pandangan ini pernah kita tulis tujuh tahun lalu, di awal krisis Suriah. Bahwa pada akhirnya momentum menentukan dalam perang ini adalah kampanye di wilayah selatan dan akhirnya Dataran tinggi Golan yang dikuasai Israel.
Bila kita amati berdasarkan bukti, maka ketika terjadi kerusuhan (uprising) mereka yang disebut pemberontak dan terorist pertama kali melakukan serangan militer kepada pos-pos arhanud (artileri pertahanan udara) di Daraa, Allepo. dan Ghouta. Tentu menjadi pertanyaan, mengapa para pemberontak dan teroris ini menghancurkan alat pertahanan udara yang sama sekali tidak menargetkan mereka.
Sehingga dapat diduga ini adalah bagian dari menghilangkan kemampuan pertahanan udara Suriah dari kemungkinan terlibatnya negara-negara yang memiliki pesawat tempur, dan rudal balistik. Artinya sejak awal dapat difahami bahwa persoalan uprising di Suriah adalah bagian dari neocolonialisme dengan alasan "arab springs" dan ganti rejim, Al Qaeda, ISIS, dan pemberontak tidak memiliki pesawat maupun rudal balistik.
Melemahnya kekuatan damaskus di selatan dimanfaatkan Israel dan AS dengan menawarkan zona penyangga imajiner sepanjang 40 km dari perbatasan Golan. Israel ingin merasa lebih aman dalam mengakusisi Golan.
Kekeliruan israel adalah ia tidak belajar dari kasus Lebanon Selatan 1980. Menguatnya Hezbollah sebagai sebuah partai dan sayap militer di Lebanon adalah karena Israel dan Barat melemahkan peran pemerintah pusat di Beirut. Hal serupa terjadi kembali di Suriah, dengan melemahnya kekuatan pemerinah pusat di Damaskus, maka di wilayah selatan muncul kelompok-kelompok perlawanan yang berbasis etnis dan agama.
Mereka inilah yang kita dapat prediksi akan menjadi sleeper cell bagi pemerintah Assad untuk suatu saat digunakan melawan pemberontak dan ISIS yang didukung AS-ISrael di wilayah Selatan. Mereka di satu sisi menderita kekelahan di banyak front pada awal perang, namun mereka telah menghitung dengan cermat kemenangan strategis yang jauh lebih penting.
Kampanye hari ini adalah bagian dari membangunkan sel-sel tadi, dan mereka tidak akan berhenti sampai Golan.

0 comments:

Post a Comment