Thursday, July 26, 2018

Siang berbincang dengan penceramah pengajian.

Andi Hakim 25 Juli 2018
Ia pengurus NU dan menurutnya medsos mengkhawatirkan karena memproduksi manusia-manusia yang mudah memfitnah dan berbohong.
Kami berbincang sampai ia berkata bahwa Islam Nusantara ada penemuan bangsa Indonesia dalam mengapresiasi syariah dan adat-istiadat. Yang membuat dunia Islam di luar kita ingin belajar dan mengadopsi praktik sosialnya seperti di Indonesia.
"...para ulama terdahulu kita itu begitu visioner. Mereka misalnya mengadapsi ajaran silaturahim menjadi halal bi halal."
Ia berkata dan melanjutkan.
"Bayangkan bagaimana silaturahim hari ini kalau tidak ada halal bi halal. Ratusan orang berkumpul, bertemu dan saling memaafkan. Jika tidak di halal bi halal maka berapa lama itu silaturahim dari rumah ke rumah."
Ya, baginya itu mungkin sebuah artefak mulia yang digali dari khasanah praktik Islam di tanah air kita. Tetapi setiap waktu dan tempat memiliki ekspresinya masing-masing yang juga mulia bagi orang di sana.
Di Irak anda bisa menemukan jika di bulan Muharram warga memasak dan bersedekah kepada siapa saja yang berziarah dalam seremonial Karbala. Mereka memuliakan para tamu tanpa meminta bayaran. Di Pakistan atau Iran jika anda dalam kesempitan mereka akan memberi anda cukup perbekalan. Sementara muslim di Uighur atau Kadzhaktan akan mengundang orang yang baru mereka kenal untuk makan di rumahnya.
Belum lagi di Lebanon atau Suriah, keramahtamahan ini juga punya cara tampilnya masing-masing nan unik.
Tidak perlu membanggakan sebuah ekspresi atau artefak kebudayaan. Bahwa milik kita lebih baik daripada misalnya yang dari Arab atau Eropah sana. Semua punya kelebihan dan kekurangannya bila diperbandingkan. Lagi pula jangan pula ber halal bi halal kalau nantinya saling menilai di belakang dari cara berpakaian, berkendaraan, bertanya gaji atau status pernikahan anda sekarang.
#IslamSaleroNusantara, tamboh ciek.

0 comments:

Post a Comment