Saturday, July 14, 2018

Tolil

Andi Hakim 13 Juli 2018
Kata tolil sering saiya dengar dari Antoni Kentot. Ini teman SD yang sampai kelas lima baru terdeteksi mengapa ia sering maju ke depan papan dan memandangi papan tulis. Matanya silindris.
Tolil sendiri adalah pleonasme dari kata tolol. Mirip anak di kota Bandung menyebut kata anjrit, anjis, daripada kata anjing.
Tetapi tolil ini bukan hanya soal pembelian tambahan saham Freeport agar pemerintah dapat saham mayoritas. Dengan membayar kepada perusahaan hampir 53 Trilyun rupiah yang kontraknya akan habis kita tidak tahu apa arti kepemilikan daripada kemanfaatan.
Memberi duit ke perusahaan metal di saat industri metal AS ketar-ketir dengan ide perang tarif Trump. Trump memaksa India dan Cina menjual produk metal mereka lebih mahal di pasar AS agar produk dalam negeri menjadi kompetitif. Apa yang akan dilakukan Cina dan India mesti retaliasi dengan cara mendumping harga di pasar internasional. Ini dengan tujuan, negara-negara lain mengambil kesempatan menyedot dan menyetok produksi baja mereka.
Baik Cina dan India akan mengambil pilihan tetap menguasai pasar meski kehilangan pasar AS. Jadi, jika saiya Menperindag maka saiya akan minta duit 53 Trilyun tadi buat borong baja, alumunium dan metal Cina-India. Yang jelas dibutuhkan bagi proyek infrastuktur. Tokh nanti Freeport metal juga mesti rugi -rugi juga dengan langkah Trump.
Tetapi pinternya Trump ini dia bisa bikin orang percaya sama dia. Ia dengan mudah memperoleh 100 Trilyun dari Arab Saudi untuk membeli produk alutista dan membiayai keberadaan tentara militer AS di sana, Saudi harus percaya jika Iran akan membom Jeddah. Mirip dengan divestasi Freeport hari ini. Anda harus membayar Freeoirt yang selama ini tidak banyak memberi anda apa-apa, dan anda harus membayar saiya jika ingin saiya tetap ada di negeri anda.
Tetapi tolil ini juga soal keingintahuan para abang-abang di pinggir jalan. Mereka membahas sebuah video viral, seorang polisi menendang ibu yang katanya kedapatan mencuri di sebuah toko makanan. Si polisi berpangkat AKBP dan sialnya dia kehilangan kariernya karena arogansi.
Pada si ibuk kita tentu bertanya, mengapa ia harus maling untuk mendapatkan barang-barang tadi? Sudah sedemikian serakah atau sedemikian susahnya kehidupan masyarakat sampai si ibuk mencuri. Tetapi lebih tolil lagi si pembuat video, dan orang-orang di sana. Mereka kalem saja melihat perlakuan melanggar hukum dan diluar batas kemanusiaan terjadi di depan muka mereka. Tidak ada usaha menghalangi atau mengingatkan.
Tolil sekali peri kehidupan kita belakangan ini. tetapi kita harus percaya untung pisang goreng atau martabak itu trilyunan. Jadi mungkin duit 53 trilyun itu diinvestasikan saja ke pohon pisang dan tepung terigu .

0 comments:

Post a Comment