Saturday, October 13, 2018

IMF dan Buruh

Satu klausul yang selalu mengambang dalam pembahasan Kerjasama Pembangunan Global adalah seberapa besar alokasi hutang akan memberikan peluang bagi kelompok tenaga kerja.
Nona Erni dari Buruh Migran tidak dapat membayangkan jika persoalan hutang sama selalu belum dihitung detail karena menurutnya resiko-resiko tadi tidak masuk hitungan. Kami bertemu terakhir di Nairobi pada acara Pertemuan Tingkat Tinggi Kerjasama Yang Effectif (GDPEC). Seberapa besar investasi/hutang Cina, US, Jepang, dan OECD misalnya membuka lapangan pekerjaan dengan bayaran layak bagi buruh lokal Hari ini orang berteriak tentang hilangnya kesempatan kerja karena bersama investasi asing selalu hadir tenaga kerja import.
Vietnam, Indonesia, dan Malaysia mulai mengeluh dengan kehadiran TKA Cina. Yang terjadi di ketiga negara ASEAN tadi adalah munculnya isu politik identitas, yaitu nasionalisme populis. Beberapa negara Afrika juga demikian dengan intensitas yang lebih ringan. Sementara di eropa, Jerman mulai khawatir investasi Cina di manufaktur. Mereka ditakutkan akan akan membawa-alih atau reverse industri
enjinering Jerman ke Cina.
Tentu kita tidak dapat menyalahkan Cina, mereka pun punya hitungannya tetapi isu kepentingan nasional adalah yang paling utama adalah klausul terpenting dari seluruh bentuk kerjasama dunia.
Berbeda dengan antisipasi yang telah dilakukan negara-negara reseptor, sepertinya Indonesia belum memiliki formula menghadapi shifting dari model kerjasama hari ini. Sebagian menganggap kecurigaan kita kepada pekerja migran cina itu tidak beralasan seraya membandingkan TKI import kita di Malaysia, Hongkong, atau Arab Saudi. Kedua kasus ini tentu saja berbeda, sebab TKI kita tidak datang karena Indonesia berinvestasi di LN, namun karena sulitnya lapangan kerja DN. Mereka pun umumnya menjadi pekerja kasar, buruh rumah tangga, layanan di rumah jompo, atau proyek-proyek yang penduduk lokalnya tidak lagi mau bekerja di sana.
Minggu ini di Bali dilaksanakan pertemuan tahunan IMF-WB. Perihal seberapa besar ia akan memberikan kemanfaatan kepada kelompok buruh juga belum atau sama sekali tidak menyentuh pembicaraan ini. Sekali lagi, kelompok pekerja dan pembukaan lapangan kerja masih akan dianggap bagian tidak penting dari kerjasama ini.
Kita dapat melihat pada beberapa kasus di tanah air. Misalnya kebermanfaatan proyek-proyek infrastruktur yang memanfaatkan dana-dana ini kecil sekali kontribusinya kepada kelompok buruh. Belum lagi kepada operator lokal seperti asosiasi-asosiasi kontraktor. Hal yang sama dengan kebijakan di sektor kelautan -tol laut-, kebijakan penangkapan ikan, dll., yang semakin jauh dari menghadirkan kesejahteraan bagi pekerja nelayan.
Siang tadi saiya berbincang dengan beberapa peserta aksi di Taman Monas depan Patung Arjuna, mereka dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia -KSPI dan beberapa lainnya barangkali. Mereka melaksanakan aksi untuk mengkritis perhelatan mahal IMF-WB Annual Meeting.
"Belum ada tindakan maupun sekedar kebijakan yang jelas dari pemerintah pada event ini mas. Terutama keberpihakan kepada kepentingan pekerja lokal."
Saiya mengangguk dan jika tidak keliru dua minggu lalu KSPI melakukan aksi di depan Kementerian Kelautan dan Perlaukan Nasional. Yang membuat saiya sedikit kagum adalah, bahwa kedua anak muda tadi berbicara dengan bahasa yang bagus dan paparan yang tertib. Saiya tidak kepikiran bahwa mereka itu adalah pekerja logam yang apa pentingnya memikirkan persoalan IMF-WB.
Ya, saiya mengatakan ya setelah berkata kemana para peserta aksi.
"Yang lain masih menjalankan shalat jum'at pak. Di sana di gedung-gedung di depan pak."
Saiya tidak heran, jika anggota KSPI ini cerdas dan di sisi lain mereka orang yang hormat dalam menyimbangkan urusan politik jalanan dengan menjalankan kewajiban agamanya. Ada transformasi besar dari model aksi-aksi buruh dalam kurun lima-sepuluh tahun ke belakang. Itu tentu karena faktor-faktor followershipness yang digagas para tokohnya.
Satu diantaranya yang saiya kenal rendah hati tetapi cerdik adalah Tuan Muhammad Rusdi. Ia cukup serius menggarap perkaderan sebagai wakil presiden di serikat pekerja itu.
"...perubahan itu mungkin tidak dalam lima atau sepuluh tahun ke depan ya Bung. Tetapi sedikit banyak kita sudah melakukan usaha ke arah yang lurus. Ya, kita butuh training yang mengkombinasikan kepentingan dengan nilai-nilai/values"
Begitu katanya ketika kami bertemu im promtu di sebuah Taman untuk berolahraga.
Yang olahraganya sendiri akhirnya kandas karena olah perut, tetapi itu pembicaraan yang menarik di pagi hari. Apakah kerjasama internasional dan organisasi seperti IMF-WB ini sudah pula memasukkan values di dalam klausul model kerjasamanya, itu kita faham belum ada buktinya. Hutang adalah hutang, jika anda tidak membayar kami ambil yang kami inginkan.

0 comments:

Post a Comment