Saturday, October 13, 2018

Intoleran

INTOLERAN!!! Tampaknya ada tendensi bahwa label semacam ini jadi lebih ‘mematikan’ daripada ‘kafir’ atau ‘murtad’ atau ‘pendosa besar’... Tak jarang label ini diikuti juga dengan berbagai isu canggih lainnya seperti toleransi (tentu saja), lalu pluralisme, keberagaman (diversity), hak azasi manusia, pemisahan ranah privat dan publik, kebebasan dan berbagai isu keren lainnya.
Saya sering merasa ‘terbakar’ ketika melihat orang-orang yang hanya ingin hidup bersahaja dalam ketaatan menjalankan agamanya itu malah ditantang dan dihantam dengan berbagai pelintiran lidah yang memuntahkan omongan-omongan canggih tersebut dari kalangan yang merasa dirinya toleran lagi terpelajar.
Apakah memang ada jaminan bahwa kalangan yang toleran lagi terpelajar itu memang setoleran klaim mereka? Bagaimana dengan ungkapan ‘bigot’ atau ‘onta Arab’ dan berbagai ejekan lainnya yang diobral dalam percakapan sesamanya, entah saat di kantor, saat nongkrong, atau di media sosial? Bagaimana dengan kebencian yang langsung muncul begitu saja saat melihat orang yang memakai sorban, gamis, berjanggut, bercadar lalu diiringi ucapan-ucapan paranoid? Benarkah ada objektivitas dalam berbagai sentimen dan kenyinyirannya saat mempermasalahkan berbagai sepak terjang politikus atau kalangan yang tak disukainya (baca: ‘dibenci’, tapi saya tak memakai kata ini secara langsung karena maknanya yang intoleran he he he he he...).
Begitu juga dengan isu El Ge Be Te (sengaja ditulis begini biar nggak di-banned oleh FB). Saya sudah berulang kali menjelaskan dalam berbagai tulisan, baik di jurnal maupun artikel koran, dan juga status FB, bahwa Islam itu agama yang resis terhadap sekularisme. Gagasan semacam itu sukar untuk masuk ke kesadaran umat dari agama yang memiliki hukum sedemikian rinci dalam mengatur seluruh kehidupan mereka, dari perkara paling remeh hingga saat ‘berdua’ bersama Tuhannya. Kecuali jika si muslimnya sendiri yang mengenyahkan itu semua lalu memilih hidup sekehendaknya, atau, yang agak lebih canggih, menjadikan Islam sebagai ‘keset’ bagi berbagai wacana teoretik Barat sekular.
Dalam tulisan di Majalah Basis dan juga di Journal of Tasawwuf Studies, saya mengutip penjelasan dari Ibn ‘arabi dan anak angkatnya, Sadruddin Al-Qunawi, ihwal kenapa memperturutkan syahwat dan hawa nafsu itu dosa terutama sekali adalah karena si pelakunya memposisikan dirinya sejajar dengan Allah serta mengambil asma “Iradah” (Maha Berkehendak) milik Allah untuk berbuat semaunya, padahal hanya Allah yang boleh berbuat semaunya, dan manusia adalah hamba yang seharusnya tunduk pada kemauan Tuannya.
Perkara hukum “tak boleh membebaskan hasrat” semacam ini tentu sulit untuk dipahami dalam bingkai sekularisme atau dalam teologi agama-agama yang tak memposisikan hubungan Tuhan sebagai Tuan dan manusia sebagai hamba seketat agama Islam. Maunya sih, Islam di(post)modernkan sesuai standar Barat sekular, yang kebetulan saat ini trendnya sedang mengembalikan hasrat, si anak hilang dalam dunia filsafat, ke kancah wacana humanisme yang tengah mengalami kebuntuan setelah manusia itu sendiri 'dibunuh' oleh kalangan post-strukturalis Prancis.
Kembali ke masalah intoleran tadi, secara pribadi saya sudah sangat sering menyaksikan sendiri secara langsung bahwa klaim “toleran” yang diusung kalangan terpelajar lagi terbuka itu tidaklah seindah yang mereka gaungkan. Nada-nada paranoid, kenyinyiran, kebencian, ejekan merendahkan, arogansi dan sejenisnya tak berhasil disembunyikan secara rapi dalam berbagai perkataan dan tulisannya.
Begitu juga dengan isu El Ge Be Te. Saya adalah seorang bapak dari dua anak, yang sulung perempuan dan si bungsunya lelaki. Saya akan melindungi kedua buah hati tersebut dengan segenap kemampuan dari perusakan orientasi seks semacam itu. Saya akan melawan dengan segenap daya pikir saya, dengan jari jemari saya, dan dengan iman yang Allah pinjamkan ke hati ini. Jika Dia Ta‘ala memang memberi saya kemudahan untuk mengunyah bacaan filosofis teoretik yang ampuh untuk menakut-nakuti kalangan awam agar tunduk dan menerima isu-isu yang mengikis Islam, agama saya, maka semoga Dia pun berkenan memberi saya kekuatan buat memanfaatkan kemampuan itu untuk balik melawan guna menolong agama-Nya.
Sudah berulang kali saya mengalami kejadian nyaris mati, dan mungkin umur saya pun tak akan lama. Semoga tak terlambat bagi saya untuk berbuat sesuatu guna menolong agama-Nya. Karena jika terlambat, maka saya akan menempuh perjalanan sesudah kematian dalam keadaan tak tertolong lagi. Perkara besar ini membuat label “intoleran” yang ditempelkan kepada saya sama sekali bukan sesuatu yang menakutkan.

0 comments:

Post a Comment