Friday, October 26, 2018

Makanan Jum'at

DUA minggu lalu saya shalat Jum'at. Saya jalan kaki ke masjid di tengah hari yang kala itu matahari lagi sangat terik. Terus terang, saya suka sedikit skeptis kalau menjelang berangkat shalat Jum'at. Biasanya karena satu alasan: malas kalau kebetulan mendapatkan khatib yang bicara kesana kemari nggak fokus, mengomentari golongan lain, mengkafir-kafirkan, atau yang sekedar melakukan syarat sah khutbah: yang penting bicara, tanpa peduli jika terlihat bahwa dia juga tidak terlalu mengerti tentang apa yang dia bicarakan di mimbar.
Itu sebabnya saya biasa pindah-pindah masjid. Kalau pas menemukan masjid yang khatib Jum'atnya dalem dan merasuk ke hati, saya biasanya balik ke sana lagi. Itu juga alasannya, kenapa sebelum shalat Jum'at saya suka berdoa, "Ya Rabb, berilah jiwa hamba makanan dari Jum'atan ini."
Dua minggu lalu, di sebuah masjid, saya memasukinya dengan sedikit skeptis. Saya dengarkan khutbah, sambil menanti dari sisi mana Allah akan memberi saya 'makan' di Jumatan ini. Khatib biasa saja, dia khutbah sambil membaca. Bikin ngantuk kalau khatib membaca, tapi topiknya cukup menarik: bahwa sahabat Rasulullah (saw), Ibnu Abbas r.a., pernah ditanya tentang hal-hal apa saja yang menjadi kunci kebahagiaan hidup.
Beliau--yang pernah didoakan Rasulullah (saw) secara khusus agar diberi kemampuan menta'wil Al-Qur'an--mengatakan, ada kunci kebahagiaan hidup itu ada tujuh. Pertama, Qalbun Syakirun. Memiliki qalb hamba-hamba yang bersyukur. Kedua, Azwajus-Shalih. Pasangan hidup yang shalih. Ketiga, awladul abrar. Anak-anak yang termasuk golongan Al-Birr. Keempat, Abyatus-Shalih. Hidup dalam lingkungan yang shalih. Kelima, Al-maalul halal. Memiliki harta yang halal. Keenam, Tafaqquh Fiddin. Faqih tentang Ad-Diin. Dan ketujuh, Umur yang barokah.
Itu kunci kebahagiaan hidup, kata Ibnu Abbas (r.a.), salah seorang sahabat Rasul yang utama.
Saya menyimak baik-baik, dan Alhamdulillah, kali itu saya tidak ngantuk.
Lalu khutbah selesai, dan qamat dikumandangkan. "Oh, ternyata itu yang Allah berikan buat saya Jum'at ini," saya pikir. Alhamdulillah.
Ketika imam sudah takbir, saya mendengar orang masih jalan di antara shaf di belakang saya. Telinga saya mendengar bahwa ia berjalan menabrak-nabrak shaf orang shalat. Ia mencari tempat kosong sambil meraba-raba kanan-kiri. Mungkin ada yang merasa terganggu dengan rabaan tangannya itu.
Taqdir Allah, ia berhenti tepat di samping kiri saya. Cuma lucunya, ia berdiri bukan sejajar dengan shaf, tapi selangkah di depan. Shaf-nya lebih maju selangkah dari barisan. Saya tunda takbir saya.
Ketika saya mau meluruskan posisi berdirinya, saya tercekat. Dalam. Ya Allah. Dia buta. Matanya tidak ada. Lubang matanya kosong.
Semua orang sudah mulai shalat. Tapi saya pegang kedua bahunya sedikit untuk menariknya mundur perlahan, agar shafnya sejajar dengan semua orang. Ia rupanya mengerti maksud saya, dan ia mengikuti tarikan saya.
Setelah itu, ketika saya bersiap takbir, saya ihat ia masih meraba-raba ke kanan kirinya, setengah jongkok. Rupanya ia mencari ruang sedikit untuk menaruh tasnya, tapi segan untuk mengganggu orang lain yang sudah mulai shalat.
Saya tunda lagi takbir saya. Saya bantu ia melepas tasnya, dan saya letakkan di samping kiri saya (yang sengaja saya beri sedikit ruang), agar dia tenang. Tangannya mengikuti tangan saya untuk meletakkan tasnya. Ia mengangguk sedikit untuk berterima kasih, setelah itu ia berdiri dan takbir. Ia shalat.
Saat itulah saya melihatnya baik-baik. Usianya mungkin akhir dua puluhan. Potongan rambutnya sedikit 'culun' dan tidak trendy. Tentu saja, karena mungkin ia tidak pernah melihat cermin. Giginya sedikit menonjol ke luar diantara bibirnya. Wajahnya sedikit mendangak, tidak lurus ke depan. Seperti umumnya orang buta. Bajunya berwarna putih, sedikit kedodoran. Mungkin khusus dipakainya untuk shalat Jum'at. Itu caranya memuliakan hari Jum'at. Dan celana kain hitam, juga sedikit kedodoran. Tasnya tas murahan dan sudah usang, tapi dia perlakukan seperti barang berharga.
Saya langsung menangis. Ya Allah. Dia, yang tanpa mata (dan nabrak sana-sini ketika melangkah diantara shaf), masih berjalan ke masjid dan berusaha shalat Jum'at dengan baik. Ia masih memuliakan Jum'at dengan pakaian terbaiknya. Sementara saya selalu skeptis dan enggan untuk berjalan ke masjid setiap hari Jum'at, dan ke masjid dengan kaus t-shirt hitam.
Air mata saya sudah terlanjur bercucuran ketika saya takbir. Saya memanggil nama-Nya dan memulai shalat dengan sangat malu. Kapan terakhir kali saya mengucapkan terima kasih kepada Dia, yang saat ini saya sedang menghadap kepada-Nya, atas mata saya yang berfungsi normal ini? Atas tangan saya, kaki saya, tubuh saya, yang semuanya berfungsi baik ini? Kapan?
Saya berusaha meredam tangisan saya sepanjang shalat. Sedapat mungkin saya tidak ingin terdengar menangis ketika memanggil nama-Nya dalam shalat ini. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan rasa malu saya kepada-Nya, dan kepada sosok buta di samping kiri saya ini. Ya Allah, betapa hamba bukan termasuk hamba yang bersyukur kepada-Mu.
Setelah selesai salam, air mata saya masih bercucuran. Saya usap dengan tangan saya, sambil berpura-pura berdoa dan mengangkat tangan, kemudian mengusap wajah--yang sebenarnya mengusap air mata saya.
Tapi air mata saya terus saja mengalir. Ketika saya ingin berdoa setelah shalat, kali ini saya tidak bisa mengucap zikir atau doa yang biasa saya lakukan setelah shalat. Kali ini, hati saya kosong. Kosong sekali. Saya tidak bisa berdoa apa-apa. Tidak sanggup.
Kali itu saya hanya ingin mohon ampun. Cuma ingin mohon ampun. Atas hal-hal yang buruk atau yang tidak halal yang pernah disaksikan oleh mata saya. Dan saya mohon ampun atas tidak pernahnya saya bersyukur atas kedua mata saya yang Dia berikan ini.
Itu rupanya 'makanan jiwa' yang Allah berikan pada saya, Jum'at dua minggu lalu. Bukan cuma tujuh kunci kebahagiaan hidup.
: :

0 comments:

Post a Comment