Tuesday, October 30, 2018

Menggeledah Informasi

Mehdi Masroor Biswas tinggal di Bangolore. Ia membuat sebuah akun di twitter dengan nama ShamiWitness dan memilih isu konflik Suriah karena trafiknya yang cukup tinggi.
Mehdi Masroor tidak dapat berbahasa arab dan tidak tinggal di Suriah. Ia bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan dan dukungannya kepada kelompok Jihadis awalnya sekedar mengejar follower. Ia tidak hidup seperti mereka yang disebut jihadis. Masroor menyukai pizza dan pergi ke pesta dengan kawan-kawannya. Ia melihat jika berkicau atas nama kelompok jihadis itu lebih mudah mendapatkan pengikut daripada sebaliknya. Akun ShamiWitness menjadi akun progandis jihad Suriah dengan pengikut dan aktivitas tertinggi di Twitter.
Dalam waktu singkat Mehdi menjadi twitteria seputar konflik Suriah. Ia berteman dengan jaringan pemasok milisi asing ke Suriah, membenarkan isu konflik sektarian sunni versus Syiah, mendukung brutalisme ISIS terhadap minoritas, memberikan info dan gosip seputar konflik. Pendapatnya bukan hanya dikutip oleh mereka yang mengaku "pakar Suriah", ahli perdamaian, tetapi juga lembaga pemantau timur tengah, dan pejabat-pejabat pemerintah Barat yang memiliki reputasi besar yang menginginkan Assad jatuh.
Mehdi ditangkap polisi India setelah Koresponden Channel 4 mengungkap siapa dirinya. Ia menyebutkan bahwa dirinya pernah mendapatkan bayaran untuk melakukan semua kebohongan itu.
Yang boleh kita perhatikan adalah jika perang di Suriah telah membuka kenyataan adanya peran sosial media yang cukup besar dalam mematangkan dan memanjangkan konflik. Bukan hanya pihak-pihak yang secara langsung terlibat namun mereka yang disebut sebagai para antagonis yang sama sekali tidak terlibat langsung pada masalah dapat tiba-tiba menjadi aktor penting di dalamnya. Semua orang dapat merasa menjadi mereka yang faham apa yang tengah terjadi, meski dengan berbohong.
Sosok Mehdi Masroor bukan hanya satu. Ada banyak orang seperti dia yang mengelola akun untuk membenarkan sikap ideologi dan politiknya. Mereka berbohong untuk itu karena merasa preferensi politiknya -meski keliru- harus terus dibela. Lebih parahnya lagi kebohongan tadi diviralkan untuk memperoleh dukungan dan akhirnya legitimasi.
Ada banyak spanduk SAVE ALLEPO, SAVE GHOUTA, SAVE DARAA (YA) di Jakarta untuk mengkoleksi sumbangan dari mereka yang disebut sahabat Syria. Mereka menindaklanjuti apa yang diproduksi Mehdi. Kemudian Informasi dan cerita bohong dibangun untuk menunjukkan sukses pengiriman bantuan ke kantong-kantong yang dikuasai milisi dengan cara mengelabui kepungan tentara pemerintah. Kenyataannya itu adalah kebohongan. Seolah-olah usaha-usaha herois sudah dilakukan untuk menolong para korban dari keganasan tentara pemerintah Suriah. Faktanya kota-kota tadi terisolasi dan memustahilkan masuknya bantuan yang diklaim tadi.
Sementara pada kasus pembakaran bendera oleh Banser di Garut. Akun-akun yang memproduksi gambar dan kutipan Habib Luthfi bin Yahya mengalir viral seolah-olah ia mendukung tindakan oknum Banser. Lalu kita melihat adanya usaha membenturkan Banser dengan kelompok HTI dan masyarakat muslim yang menolak pembakaran bendera dengan NU. Berita ini mencuat menjadi isu pokok hari-hari kemarin.
Kenyataannya hal tadi tidak pernah keluar dari diri Abah Luthfi sendiri. Ia lewat keluarganya telah memverifikasi kebohongan-kebohongan yang memasangkan foto dirinya dengan pernyataan-pernyataan.
Sebenarnya ini adalah tantangan bagi semua orang untuk memeriksa informasi di dunia sosial media. Tidak mudah, karena produksi tanda, penanda, dan petanda bergerak viral dengan pola reproduksi, repertisi, lalu akhirnya reperkusi; saling balas membalas.
Hanya saja seperti kasus Mehdi Masroor yang gemar memproduksi informasi bohong, fitnah, propaganda, maka selalu ada saja jejak digital yang ditinggalkannya. Yang memberikan petunjuk bagi orang yang memeriksanya untuk segera menemukan bahwa semua kegaduhan tadi adalah prefabrikasi. Hal yang sengaja dibuat dan diciptakan dengan tujuan-tujuan iseng yang kadang tidak masuk akal tetapi melahirkan resiko besar.

0 comments:

Post a Comment