Saturday, October 13, 2018

Toleransi

Istilah “toleransi” (Indonesia) atau “toleration” (Inggris) itu berasal dari bahasa Latin “tolerare” yang artinya “menerima dengan sabar”, “persetujuan” atau “membiarkan.” Istilah ini pada umumnya mengacu pada “penerimaan bersyarat dari” atau “non-interferensi” terhadap keyakinan, tindakan atau praktik yang dianggap salah tetapi masih “dapat ditolerir.”
Akan tetapi, apakah toleransi itu identik dengan anarki? Istilah anarki berasal dari bahasa Yunani yaitu “an-arkhe” yang artinya “ketiadaan prinsip” atau “tanpa komando.” Apakah toleransi itu meniscayakan “anything goes” alias “apa pun boleh”?
Tidak. Toleransi adalah “penerimaan bersyarat”, bukan “anarki yang membolehkan apa pun.” Karena itu selalu akan ada batas-batas dalam toleransi. Begitu pula halnya dengan Islam sejauh yang pahami dan anut, sebuah agama yang memiliki aturan dan hukum meliputi seluruh kehidupan umatnya, dari mulai buang hajat, berhubungan suami istri, dalam bertetangga (sehingga terkesan bahwa tetangga pun memiliki hak waris), sesaat bayi keluar dari rahim langsung disambut hukum waris dan sesaat seseorang meninggal berbagai sunnah dan juga hukum waris langsung menyentuhnya, hingga saat ‘beraudiensi’ dengan Tuhan tanpa sepengetahuan siapa pun.
Dalam selorohan dengan sebagian teman, saya kadang berkata bahwa “agama ini (Islam) ‘terlalu nyinyir’ mengatur segenap kehidupan umatnya sehingga sukar untuk dimasuki oleh ide tentang sekularisme.” Namun beda perkaranya jika si muslimnya itu sendiri yang melucuti hukum-hukum Islam dari dirinya. Atau, lagi dan lagi dan lagi saya mengatakan ini berulang-ulang kali, Islam malah dijadikan ‘budak’ bagi berbagai wacana teoretik (post)modern oleh sebagian muslim yang terpesona pada kebebasan sekular dari arus pemikiran tersebut. Sesuatu yang belakang disadari juga oleh Ulil Abshar Abdala dan diistilahkannya sebagai “bias for.”
Adapun untuk diri saya pribadi, toleransi pun merupakan “suatu penerimaan bersyarat yang memiliki batasan.”
Setiap tahun saya selalu mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Paskah kepada kalangan Nasrani secara terbuka di wall FB, dengan resiko yang sama dari tahun ke tahun, mulai dari dikafirkan atau dituduh liberal hingga di-unfriend atau diblokir. Namun, hingga saat ini, sikap saya pernah berubah. Bagi para pengguna FB yang memang ingin menjadi ‘friend’ saya, tunggu saja. Sebentar lagi Natal akan tiba, dan biasanya akan ada beberapa jatah friend yang mendadak kosong. Dua bulan itu tidak lama kok.
Begitu juga saat seorang ustadz menyebut “Salib” sebagai tiang jemuran. Saya ikut marah dan mencoba sebisa saya membela serta menjelaskan apa arti salib itu dan bagaimana itu adalah simbol yang sangat agung bagi agama Nasrani, agama yang saya istilahkan sebagai agamanya para martir. Anda tahu apa arti kata “martir”?
Kata MARTIR berasal dari bahasa Yunani “MARTUS” yang artinya adalah saksi. Istilah ini pertama kali dikenakan kepada para rasul dalam Kisah 1: 8 yang berbunyi “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku (MARTUS) di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”; dan Kisah 1: 22 yang berbunyi “yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.”
Kita bisa melihat bahwa kata “SAKSI” atau “MARTUS/MARTIR” itu disandingkan dengan Roh Kudus, dan bagaimana MARTUS dan SYUHADA itu artinya sama, yaitu SAKSI YANG BENAR.
Lebih jauh, coba simak Kisah 2: 1-4 yang berbunyi sebagai berikut:
“(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;(3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.(4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”
Namun, setelah umat Kristen awal mendapat banyak tekanan dan siksaan karena mereka tidak mau meninggalkan agamanya, maka istilah MARTUS pun dilekatkan juga kepada mereka yang mati dalam mempertahankan imannya. Dan orang pertama yang digelari MARTUS karena mati dalam mempertahankan imannya adalah Stefanus, seorang Diakon, yang kita bisa jumpai kisah pembunuhannya oleh orang Yahudi dalam Kisah 6 sampai 8. Dan penyebutan Stefanus sebagai MARTUS atau SYUHADA bisa kita jumpai dalam Kisah 22: 20 yang berbunyi sebagai berikut:
“Dan ketika darah Stefanus, saksi-Mu itu, ditumpahkan, aku ada di situ dan menyetujui perbuatan itu dan aku menjaga pakaian mereka yang membunuhnya.”
Jika Anda mempelajari sejarah awal kalangan Nasrani, Anda akan mendapati bagaimana umatnya, dari yang masih kecil hingga yang tua renta, ibu beserta bayinya, dengan gagah berani menyambut kematian. Entah itu dimasukkan ke dalam sumur lalu dilempari batu hingga mati, atau diikat di sebuah tiang lalu dibalut kain kemudian dilumuri minyak untuk dibakar menjadi obor penerangan jalan di malam hari, atau diumpankan kepada singa-singa lapar sambil disaksikan sebagai pertunjukan bagi orang banyak, atau dijadikan ‘mangsa’ para gladiator, lain sebagainya. Kenapa mereka bisa sedemikian gagah beraninya menyambut kematian? Karena inspirasi dari Yesus yang mati di tiang salib! Jika Anda membaca juga sejarah tokoh-tokoh kudus di kalangan Nasrani, Anda bisa melihat sendiri bagaimana sebagian besar dari mereka itu mati sebagai martir.
Berbeda dengan sejarah Nasrani di masa awal yang tidak diwarnai dengan peperangan, Islam adalah agama yang di masa awalnya memiliki sejumlah sejarah perang yang dilakoni langsung oleh Rasulullah Muhammad saw dan para sahabatnya. Lalu, apa kata Rasulullah Muhammad ihwal kemartiran di kalangan umat muslim?
“Kebanyakan syuhada dari ummatku, ialah mereka yang mati di tikar tidurnya. Dan banyak pula orang yang terbunuh di antara dua baris perang, yang Allah Maha Mengetahui apa niat sebenarnya.” (HR Ahmad dari Ibnu Mas’ud)
Bahkan Khalid bin Walid, sahabat Rasulullah saw yang berperang dengan gagah berani di banyak peperangan, yang pada saat jenazahnya dimandikan memperlihatkan bagaimana berbagai luka bekas senjata tajam tersebar di segenap tubuhnya, justru mati di atas tikar tidurnya, dan bukan di medan perang. Karenanya, janganlah seorang muslim itu menghina simbol agung milik kalangan Nasrani tersebut.
Namun, sekali lagi, bagi saya pribadi, toleransi itu memiliki batas. Saya sering diajak bicara oleh kalangan non-muslim ihwal poligami dalam nada nyinyir dan terkadang mengejek, bahkan menyiratkan bahwa itu adalah ‘pelacuran yang dilegalkan melalui hukum agama.’ Mungkin karena kegemaran saya kepada wacana teoretik cultural studies dan filsafat memberi kesan bahwa saya adalah seorang yang berpikiran terbuka (bisa juga dibaca “liberal”) dan menolak hal tersebut. Jika percakapan itu terjadi dengan kalangan Katolik, misalnya, saya akan bersikap dengan tegas dengan mengatakan bahwa “Bukankah di agama Anda yang dianggap utama itu adalah mereka yang tak menikah? Lalu dengan modal apa Anda bisa mengkritisi seluk beluk hukum pernikahan dalam agama saya yang bukan hanya memperbolehkan poligami, tapi juga mengatur soal perceraian, sehingga memang berbeda sama sekali dengan hukum dalam agama Anda? Tak usahlah jahil mengurusi hukum agama orang lain. Bukankah di agama Anda pun banyak masalah yang harus ditangani? Biarkanlah ini jadi keributan tersendiri di kalangan umat muslim saja. Anda tak perlu repot-repot ikut mengurusi.”
Namun, jika ada sebagian dari kalangan umat muslim ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi Islamisme, misalnya, maka saya adalah salah satu yang akan bangkit melawan mereka. Selain menerjemahkan buku “Islam and Islamism” karya Bassam Tibi, saya pun pernah menulis artikel berjudul “Tata Negara dan Peradaban Islam: Antara Cita-cita dan Ilusi” yang dimuat di sebuah jurnal milik UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Itu salah bentuk toleransi lainnya bagi saya pribadi, bahwa di negara yang semua agama pernah masuk, bukan berarti agama mayoritas boleh seenaknya menentukan ideologi bernegara yang menjadi pijakan tata kehidupan bersama atau politik.
Demikian pula halnya dengan LGBT. Saya tak ambil pusing jika para penganut agama lain bersikap lebih longgar atau bahkan cenderung menerima hal tersebut dengan embel-embel toleransi, keberagaman, hak azasi manusia, urusan privat yang bebas selama tidak kriminil, dan lain sebagainya. Silakan, itu urusan para penganut agama tersebut, bukan urusan saya. Namun, sebagai seorang muslim yang mempunyai dua guru pemikir terkenal di negeri ini dan mempunyai dua mursyid di sebuah thariqah, saya akan bangkit menolong agama-Nya dari penggerusan Islam melalui kemahiran akrobat logika yang disalurkan melalui lidah dan jari jemarinya. Semoga Allah berkenan menolong saya.

0 comments:

Post a Comment