Sunday, November 4, 2018

Beragama Kok Simbolis?

"Beragama hanya sebatas bersimbol, atribut, belum subtansi. Jangan jadikan agama sebagai politik."
Kalimat tadi saiya baca di lini masa. Di dunia yang berkelimpahan informasi dan data ini masih saja ada orang berpikiran sempit. Tentu saja bukan salah bunda mengandung.
Hanya saja bagaimana caranya orang beragama tanpa atribut dan simbol? Koh Budi dan koh Aho saudaranya saja faham jika tiap jelang lebaran stok baju koko dan songkok di toko mereka ludes diborong pelanggan.
Lagi pula bila kita perhatikan seluruh tindakan shalat dari takbir, sujud, dan tahiyat itu apalagi selain simbol ketertundukan kepada Ilahi Rabbi.
".. bukan, maksud saiya anda tersinggung bendera dibakar tapi tidak tersinggung ada koruptor berjilbab."
Tentu saja pada dalih seperti itu kita tidak tertarik melanjutkan. Kenyataannya ia sendiri menjadi seorang symbolist pada saat menghubungkan tindakan koruptif dengan jilbab. Apa kaitan keduanya mungkin KPK dapat membiayai satu penelitian khusus antara jilbab dan korupsi.
Lalu mereka yang susah payah hendak melepaskan agama dari politik dan sebaliknya juga pada akhir berputar-putar saja dihaluan. Bagaimana agama bisa menyebar ke pelosok dunia dari kota sampai gunung dan ngarai tanpa politik (siyasah). Dipikirnya agama ini bisa menyebar begitu saja seperti seperti tunas kelapa yang terdampar di pantai.
Kita jadi ingat satu kutipan dari Mohammad Hatta;
"Satu abad besar telah dilahirkan, sayangnya ia hanya menemukan orang-orang berpikiran kerdil."
Ya, itu benar sekali

0 comments:

Post a Comment