Thursday, November 15, 2018

Genjatan Senjata di Gaza

Hamas tidak menyangka jika Israel terlalu cepat mengajukan genjatan senjata. Baru dua hari pertempuran antara kedua pihak dan senat Israel menyetujui genjatan senjata.
1.0
Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman kemudian diisukan mengundurkan diri setelah persetujuan ini. Sedikitnya empat tentara khusus IDF (Israel Defence Forces) tewas atau terluka lepas menjalankan operasi Khan Yunis di jalur Gaza Palestina hari minggu kemarin. Tentu saja bagi sebuah operasi khusus ini adalah kegagalan.
Operasi tadi bertujuan membunuh Noor Baraka (Nurdin Barkah), satu dari beberapa elit penting komando Qassam, sayap militer Hamas. Noor adalah arsitek perang parit dan ideolog Hammas. Ia bertanggung jawab atas tewasnya tujuh IDF oleh bom tanam di perbatasan Februari 2018 lalu. Noor dan tujuh anggotanya terbunuh oleh tentara IDF dalam baku tembak. Empat tentara Israel dikabarkan tewas dan mereka mundur di bawah lindungan serangan udara.
Hamas kemudian meluncurkan 380 proyektil ke Israel yang juga dibalas IDF dengan menghancurkan 150 sasaran penting Hamas. Baru setelah Komando Qassam melakukan pembalasan dengan menembak bus rombongan IDF dengan kornet selasa kemarin. Militer Mesir mengontak Hamas dan mengabari jika Israel meminta perundingan genjatan senjata di Rafah.
Sampai hari ini poin perundingan masih dibicarakan, tetapi sepertinya PM Netanyahu memang tidak memiliki pilihan lain. Ia tidak menduga jika Hamas memiliki proyektil, roket, dan rudal anti tank (kornet). Ia membutuhkan satu situasi kondusif menjelang pemilu sela. Melihat jika operasi khusus pembunuhan Noor ternyata menghasilkan retaliasi asimetris dari pihak Hamas ini tentu tidak akan menguntungkan bagi pemerintahan Netanyahu. Bisa saja perlawanan tadi berlangsung lebih dari satu tahun dan ini akan meruntuhkan kepercayaan penduduk Israel.
Sami Abu Zufri menyebut genjatan senjata dan pengunduran diri Lieberman sebagai kemenangan dari gelombang baru perlawanan Palestina. Apa yang disebut gelombang baru itu tidak dijelaskan, tetapi bila melihat pola dan model dari serangan balasan Hamas maka ada kemungkinan mereka telah memiliki persenjataan baru yang lebih canggih. Informasi dari Oswan menyebutkan jika Hamas mungkin mendapatkannya dari Hezbollah.

0 comments:

Post a Comment