Thursday, November 1, 2018

Inakurasi Dalam Kampanye

Pembakaran bendera di acara Hari Santri di Garut adalah langkah mundur dari kampanye menyasar kelompok pesantren.
Tentu saja kerugian ini ada di pihak petahana yang sejak awal mendorong gagasan menggunakan pesantren sebagai basis suara pemilih, dengan salah satunya adalah menjadikan 22 Oktober sebagai hari Santri Nasional.
Karuan saja aksi tadi memancing pro-kontra yang segera menghadapkan pesantren dengan masyarakat muslim lainnya.
Terlepas dari apapun dalih dan dalil yang dikaitkan dengan pembakaran dari soal derajat periwayatan hadist, jenis bendera, sejarah bendera, kepemilikan, atau warna latarnya yang jelas tindakan tadi merugikan Banser dan GP Ansor sebagai lembaga sayap dari NU dan pemerintah di sisi lain, karena niat dari hari Santri sebagai pengerahan massa tadi buyar menjadi persoalan bendera.
0.1
Usaha-usaha pembelaan atau pengalihan dengan isu HTI, konflik Suriah, ancaman NKRI, atau PKI sama sekali tidak akan menghasilkan resolusi.
Beberapa lembaga survey segera mengeluarkan hasil polling dadakan yang isinya: Jokowi-Ma'ruf tetap tidak tergoyahkan bahkan cenderung naik dengan adanya isu-isu seperti ini. Sebelumnya survey semacam itu muncul ketika kasus Ratna Sarumpaet dan persekusi artis dan tagger @2019Ganti Presiden,
Bola liar seperti ini tidak mudah ditutupi dengan aneka hasil survey. Mengingat kemarin Wapres Jusuf Kalla di rumah dinas Wapres mengundang tokoh-tokoh ormas Islam dan memberikan konferensi pers dengan pesannya: Agar umat Islam jangan terpecah belah. Jika bukan karena satu kerisauan elektabilitas mana mungkin sampai perlu menghadirkan tokoh-tokoh tadi ke sana.
0.2
Menspining (memutar) persoalan pembakaran bendera menjadi kesalahan-kesalahan pihak-pihak lain juga tidak akan menolong. Sebagian menyebutkan jika ini adalah upaya HTI -sebagai organisasi terlarang- untuk mengadu domba masyarakat.
Jika harus ingat pada kasus Ahok di Jakarta. Ketika Ahok mencoba menggunakan penafsiran atas identitas agama untuk menyindir lawan politik ia tidak mengira jika akhirnya harus berhadapan dengan siapa saja yang merasa tersinggung. Ahok dan Tim-nya gagal memitigasi arus protes di tingkat elit massa Islam, ini karena pukulannya langsung direspon kebanyakan umat Islam.
Pada kasus pembakaran ini, saiya heran juga mengapa tidak segera dilakukan klarifikasi bahwa itu adalah tindakan emosional yang dilakukan spontan. Mengingat apa pun alasannya, ada perasaan yang tersinggung ketika frasa atau kalimat yang ada di bendera (kalimat syahadah) di ganggu. Memitigasi persoalan sentimen ini hanya kepada HTI tentu tidak akan menolong.
Belakangan mulai muncul meme' ; Saiya NU saiya cinta bendera Tauhid, Saiya Golkar saiya cinta Tauhid, Saiya muslim saiya hormat Bendera Tauhid. Arus seperti ini tentu akan muncul dan tenggelam sesuai dengan responnya.
03.
Mengarahkan para massa pemrotes pembakaran sebagai pendukung Prabowo, Prabowers, juga tidak akan menghasilkan hal positif. Ini karena sejak awal sama sekali tidak ada kaitan Prabowo dengan perihal pembakaran bendera dan HTI.
Mengiliminasi massa tersinggung sebagai kelompok lawan Petahana adalah langkah inakurasi dalam kampanye. Jokowi katanya masih memimpin dengan 52 persen suara, maka menyerang pihak lawan dengan kampanye hitam bukanlah kecerdasan. Mengingat persoalan ini justru terjadi di frame-work kampanye hari Santri yang digagas petahana.
Selain itu sikap terlalu menyederhanakan persoalan ketersinggungan karena perusakan simbol, tanda, frasa yang terkait dengan identitas agama sebagai masalah politik belaka adalah kekeliruan memahami sentimen publik.
Apalagi kemudian mengaitkannya dengan pihak lain yang katanya meraih untung secara politik dengan adanya kekisruhan ini. Ini tentu rekomendasi dari konsultan kampanye yang sontoloyo.

0 comments:

Post a Comment