Sunday, November 11, 2018

Khusyu

Khusyu’ itu bukan ketika shalat saja. Seluruh hidup harus khusyu’: hati sepenuhnya menghadap Allah. Tidak berpaling. Itu ideal.
Kalau belum mampu hidup khusyu’, setidaknya shalatnya khusyu’.
Kalau belum mampu seluruh shalatnya khusyu’, setidaknya salah satu saja shalatnya khusyu’.
Kalau belum mampu salah satu shalatnya khusyu, setidaknya salah satu sujudnya khusyu’. Atau salah satu bacaannya. Atau takbirnya, atau salamnya.
Kalau belum mampu juga, setidaknya hargailah waktu shalat, lima waktu sehari semalam. Dengan sungguh-sungguh menghargai.
Kalau belum mampu juga, ya setidaknya ada shalat dalam sehari.
Lho, apa boleh ada waktu shalat yang terlewat?
Ya jelas tidak boleh. Kalau mau bicara boleh nggak boleh, ya hidup tidak khusyu’ juga tidak boleh, sebenarnya. Tapi adanya waktu menghadapkan sepenuh diri pada Allah, walaupun tidak lengkap, masih lebih baik daripada tidak pernah menghadap sama sekali.
Demikian juga shalat sekali sehari saja. Ya sangat tidak boleh. Tapi setidaknya, masih ada satu pintu cahaya Allah yang terbuka dalam sehari--walaupun ini jauh, jauh, jauh dibawah kebutuhan minimal jiwa kita atas cahaya Ilahiah yang menerpa jiwa kita dalam kekhusyu'an shalat--masih lebih baik daripada tidak ada pintu yang terbuka sama sekali dalam sehari menjalani hidup.
Bagaimana mungkin mau menikmati hidup, tanpa sekali pun pernah sungguh-sungguh menghadap dan meminta izin penggunaannya pada Sang Pemilik Hidup?
Kalau punya anak perempuan, coba bayangkan gimana rasanya ada pria mau 'menikahi' anak kita dan tidur dengannya tanpa pernah sekali pun mau datang atau peduli pada kita, orang tuanya. Dia tidak mau tau bahwa kita ada. Dia cuma mau menikmati kecantikannya saja.
Setelah itu, baru kita bisa bicara bahwa tidak shalat itu 'dosa besar'.
Salaam.

0 comments:

Post a Comment