Saturday, November 24, 2018

Mengenal Sejarah Lampau Bahder Djohan

Mengenal Sejarah Lampau
Bahder Djohan
Pedagang kertas bekas menyortir bahan-bahan yang mana ia tidak tertarik untuk menyimpan satu buku berwarna hijau. Bader Djohan: Pengabdi Kemanusiaan.
Mereka yang suka membaca sejarah pergerakan pra kemerdekaan mesti mengenal dr. Bader, sahabat kecil Mohammad Hatta. Satu dari beberapa pemula pergerakan pemuda dan penggerak perhimpunan politik Indonesia, dan satu dari beberapa yang menyusun sekolah kedokteran modern tanah air.
Si pedagang tidak merasa ada yang hilang ketika saiya meminta buku tersebut. Sampulnya tidak cerah, dan kertasnya yang kecoklakatan tidak lagi disukai pabrik daur ulang kertas. Ia lebih menghargai kertas-kertas hvs sisa makalah atau fotokopi yang gagal. Pada kardus pun ia tidak lagi memberikan perhatian lebih.
"Kardus sekarang hampir ga ada harganya pak. Cuma ini syarat saja buat saiya. Kan kalau kita jalan gak dapat barang engga enak ngomong ke boss."
Si pedagang berkata dan ia mengangguk ketika saiya ucapkan terimakasih untuk buku hijau tadi.
Pada bagian pertama buku ini dikisahkan masa kecil Bader di sekolah rakyat berbahasa Belanda HIS yang dikisahkan hanya setengah lembar saja.
"Saya mengenal Hatta dengan cara yang aneh. Satu ketika kami berjalan dari arah berlawanan di pematang sawah yang sempit dan baru selesai di bajak orang."
"Hatta tampaknya tidak ingin mengelak dan akupun berbuat demikian pula."
Ketika dekat dengan sigapnya ia mengelakkan diri sehingga tidak ada di antara kami yang terjatuh. Sejak itu kami berkenalan.
Ketika ia diterima di MULO (sekolah menengah pertama) ia mulai mengenal pergerakan Jong Sumatranen Bond yang dibawa seorang pemuda Minang perantau Natsir Datuk Pamuntjak pada Januari 1918. Usianya belum lagi 14 tahun dan di sana Bader bercerita setelah Natsir Pamuntjak selesai berpidato berapi-api Ainsjah bin Yahya seorang pelajar perempuan kelas 2 MULO melanjutkan pidato dalam bahasa Belanda yang bagus sekali. Pada acara itu Bader kembali bertemu kembali Hatta. Esoknya diselenggarakan pemilihan pengurus Cabang JBS di Sumatera. Ainsjah terpilih sebagai komisarit dan sekretaris sementara Hatta sebagai bendahara.
"Sejak aku mengenal Hatta, aku telah memperhatikan sifatnya yang jujur dan memiliki pendirian yang tegas. Ia menjunjung tinggi harga waktu dan janji."
Hatta mengatur pengeluaran dan kas organisasi. Nanti di Jakarta Hatta pula yang menyelesaikan masalah hutang JBS pusat di Betawi kepada percetakan sebesar 1000 Gulden. Bahkan Hatta lanjut Bader setelah menutup hutang tadi ia melipat gandakan kas organisasi setelah ia mengeluarkan daftar hitam nama-nama anggota dan donatur yang belum membayar iuran.
"Hatta orang yang tegas....tetapi dasarnya ia cenderung sebagai orang yang mendamaikan."
Bader melanjutkan sekolahnya di STOVIA Betawi. Dimana ia bercerita jika di dekat jalan Rumah Sakit ada dua kedai Kopi milik apek Cina yaitu kedai Long dan satu lagi berdekatan milik orang Betawi kedai kopi B.A
"BA bukan Bachelort of Arts, tetapi Bang Amat"
Tiap lewat jam malam asrama kami keluar diam-diam dan memesan kopi boke (sedang tidak punya uang). Namanya kopi sepincang (1,5 sen) dengan es dipinjam. Es tadi hanya digunakan untuk mendinginkan kopi sebentar, kemudian diambil lagi.
Pada tahun ke lima JBS, diadakan sebuah lustrum dan lomba-lomba pada 1923. Pemuda Yamin membawakan pidato dalam bahasa Belanda: De Maleische Taal in her verleden heden en in de toekomst (Bahasa Melayu; Masa lampau, sekarang dan nanti).
Intisari dari pidatonya tersebut serupa dengan apa yang Bader diskusikan setiap sabtu sore saat mereka biasa berjalan keliling kota. Perlunya satu bahasa persatuan bagi semua pergerakan pemuda di tanah air. Hatta yang ketika masih di Padang kerap membaca cerita bersambung yang Bader tulis di Neratja: Tenggelam dalam laut Penghidupan menggap Baderlah orang yang cocok memimpin sebuah majalah berbahasa melayu.
Baru pada tahun 1922 perkumpulan pelajar hindia-belanda di eropa yang dipimpin Hatta mengubah nama mereka menjadi Indonesische Vereniging. Selanjutnya nama Indonesia benar-benar digunakan ketika mereka menggunakan nama Perhimpunan Indonesia (PI) pada 1924.
Sudah tentu gerakan ini mempengaruhi pemuda-pemuda di tanah air yang selanjutnya perhimpunan pemuda yang ada mendorong terbentuknya federasi dan pada April-Mei 1926 sebuah Kongres Pertama Pemuda diselenggarakan di Jakarta. Kelak pada Kongres Kedua pada Oktober 1928 Muhammad Yamin kembali mendorong forum untuk memutuskan dan menetapkan bahasa melayu sebagai Bahasa Indonesia.
Buku Bader Djohan baru saiya baca awalnya saja. Ketika saiya memandang halaman, sekarang masuk nomor 42. Masih banyak kisah menarik di dalamnya. sayangnya belakangan otak ini sulit sekali mengingat nama-nama dan istilah-istilah, kecuali nama-nama tempat-tempat makan di masa lampau.
Alangkah menyenangkan jika saiya besok menemukan lagi Warung nasi goreng dan sate ayam Pasar Baru.. Gedung bioskop di Weltervreden, kedai kopi Long dan BA di jalan rumah sakit (mungkin sekitar Kemayoran), serta mungkin warung makan Gedung Pertemuan Gang Kenari.

0 comments:

Post a Comment