Thursday, November 1, 2018

Pemabuk dan Pezina

Sultan Murad IV berkata kepada kepala pengawal: "Mari kita keluar sejenak." Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar. Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sangat sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun, setiap orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya. Sultan pun memanggil mereka, dan mereka sama sekali tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan.
Mereka bertanya: "Apa yang kau inginkan?"
Sultan menjawab: "Mengapa orang ini meninggal, tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Di mana keluarganya?"
Mereka berkata: "Orang ini zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina."
Sultan berkata: "Ayo kita bawa ke rumahnya."
Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Melihat suaminya meninggal, sang istri pun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.
Dalam tangisnya sang istri berucap: "Semoga Allah merahmatimu wahai WALI Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang shalih."
Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget. "Bagaimana mungkin dia termasuk WALI Allah, sementara orang-orang mengatakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?"
Sang istri menjawab: "Sudah kuduga pasti akan begini. Setiap malam, suamiku keluar rumah, pergi ke toko-toko minuman keras. Dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian, minuman-minuman itu di bawa ke rumah, lalu ditumpahkannya ke dalam toilet sambil berkata: 'Aku telah meringankan dosa kaum muslimin.'
Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: 'Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.' Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: 'Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam.'
Orang-orang pun hanya menyaksikan bagaimana dia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.
Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: 'Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menshalatimu dan menguburkan jenazahmu.'
Ia hanya tertawa dan berkata: 'Jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya.'"
Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: "Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, menshalatinya dan menguburkannya."
Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat.
(Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhory dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV)
: :
Foto: Sultan Murad IV

0 comments:

Post a Comment