Thursday, November 1, 2018

PENULIS YANG TAK BENAR-BENAR BISA MENULIS

Tak semua penulis sebenarnya betul-betul bisa “menulis”. Saya kadang terkejut, untuk kemudian terkekeh, mendapati cerita tersebut.
Ya, jika yang dimaksud dengan menulis adalah duduk tepekur di depan mesin ketik atau layar monitor, maka ada sejumlah nama tenar dengan karya bejibun yang sebenarnya tak pernah benar-benar “menulis”.
Siapa tak kenal Dr. Sjahrir, misalnya? Bekas aktivis Malari yang akrab dipanggil Ciil itu adalah ekonom top pada masanya. Saking topnya, ia disebut sebagai orang Indonesia pertama yang mematok tarif tertentu jika diundang seminar. Dan tarifnya tentu saja mahal. Bukan karena ia kemaruk. Tapi, akunya, semua itu perlu ia lakukan untuk membatasi jumlah undangan yang datang ke kantornya 😂 Sebuah alasan yang membuat saya terpingkal saat pertama kali membacanya.
Ia memang selebritas. Yang mengundangnya bukan hanya kampus-kampus top, atau perusahaan-perusahaan top, tapi juga korps dharma wanita. Ya, d-h-a-r-m-a-w-a-n-i-t-a 🤣 Jadi, bayangkan, ia bukan hanya bisa menulis ekonomi, atau politik, tapi juga bisa “disuruh” menulis sejenis makalah tentang peran ibu-ibu pengajian di era globalisasi… 😂
Dulu, hampir tiap pekan tulisannya nongol di berbagai majalah, atau koran. Tapi, meski dikenal produktif, siapa nyana Sjahrir tak terbiasa memegang komputer sendiri.
Tentu saja itu terjadi bukan karena dia gaptek. Sebagai alumni Harvard tidak mungkin ia asing dengan komputer. Alasan kenapa ia hampir tak pernah memegang komputer adalah karena tiap kali ia memencet tombol keyboard, akunya, yang muncul di layar monitor pastilah selalu lebih dari satu huruf. Dan itu semua terjadi karena jari-jemari Ciil memang berukuran lebih besar dari manusia normal, mengikuti ukuran badannya yang bongsor itu… 🤣🤣🤣
Akibat ukuran jari yang kegemukan itu, dia lebih suka mendiktekan makalah-makalahnya kepada sekretarisnya. Makalah-makalah itu biasanya didiktekan dalam perjalanan menuju kantor atau menuju bandara. Dan tulisan yang didiktekan itu, ajaibnya, begitu selesai hampir tak membutuhkan editing yang berarti.
Begitulah hebatnya Sjahrir.
Kisah tersebut mungkin akan mengingatkan kita pada Jorge Luis Borges. Menurut saya, hanya sedikit orang yang caranya berhubungan dengan buku bisa melahirkan iri dan iba sekaligus. Dan Borges berada di daftar paling atas. Kebutaan telah memaksanya untuk membaca melalui mata orang lain. Namun, kebutaan juga yang telah melatihnya untuk menulis serta menyunting karyanya langsung di kepala, sehingga ketika cerita atau puisinya itu didiktekan, karya-karya itu telah jadi.
Saya tidak tahu, apakah keterampilan semacam itu harus dilihat sebagai sejenis keberuntungan, ataukah kutukan.
Penulis lainnya yang sama sekali tak pernah benar-benar menulis adalah Barbara Cartland. Siapa tak tahu Barbara? Barangkali ia adalah penulis perempuan paling sukses dengan jumlah karya paling banyak di dunia. Novel-novelnya, yang jumlahnya sekitar 723 judul, telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dan diperkirakan telah laku sebanyak 750 juta eksemplar.
Luar biasa!
Sebagai perbandingan, J.K. Rowling, penulis perempuan tersukses saat ini, baru bisa menjual 450 juta eksemplar buku, melalui serial Harry Potter yang dikarangnya.
Jika hari ini Anda berkunjung ke Gramedia, misalnya, lalu mampir ke rak fiksi, maka sebagian besar buku yang ada di sana dipastikan adalah karya Nyonya Barbara.
Bagaimana cara dia menulis?
Bagi seseorang yang hidupnya bisa mencapai 99 tahun—ia meninggal pada tahun 2000 silam—bisa menulis 723 novel tetap saja merupakan hal yang sulit dibayangkan. Seandainya jumlah karyanya itu kita bagi dengan jumlah usianya, ia rata-rata menulis lebih dari tujuh buku tiap tahun. Artinya, pada usia produktifnya, ia bisa menulis belasan, mungkin lebih dari dua puluh novel tiap tahun.
Jadi, bagaimana dia bisa menulis sebanyak itu?!
Sebagaimana halnya Borges, atau Sjahrir, Barbara juga tak mengetik sendiri novel-novelnya. Sekretarisnya, yang selalu menguntitnya kemanapun pergi, selalu membawa catatan di tangannya. Perempuan itu hanya akan nyerocos tak henti-henti mendiktekan naskah novelnya, sembari minum teh, sembari melihat-lihat museum, atau pendek kata pada semua aktivitas kesehariannya. Dan sekretarisnya yang tekun akan menuliskan semua itu dalam buku catatannya. Begitulah cara dia menuliskan sebagian besar novel-novelnya yang umumnya berlatar Victorian itu.
Saya membayangkan, menulis novel baginya sepertinya sudah seperti nge-rap saja 🤣 Tinggal nyerocos lalu dikirim ke penerbit.
Namun, meski tak pernah duduk tepekur di depan mesin ketik, atau layar monitor yang menyala semalaman, mereka tentu saja orang-orang berpikiran lantip. Setidaknya mereka pastilah orang-orang yang bisa fokus dalam berpikir.
Tak seperti saya. Awalnya membuka laptop untuk menulis presentasi bahan ajar, tapi yang kemudian terjadi malah menulis status ini…
Hoaaaahhhemmmm…

0 comments:

Post a Comment