Wednesday, November 14, 2018

Sejenak Palestina

Sejenak Palestina
0.1
Abang Mahmud membalas pesan yang saiya kirimkan kepadanya kemarin malam. Ia satu dari beberapa kolega yang saiya kenal di Tepi Barat.
Menurutnya berita Saudi melarang pengguna Passport Palestina itu bukan seperti yang berkembang. Ia menyebutkan adanya kuota dan kontrol yang lebih ketat dalam memberikan kesempatan umroh atau haji dari Palestina ke Hizaj (Mekkah-Madinah).
"Mereka yang tahun lalu sudah umroh atau haji tidak dapat diberikan visa hajinya karena quota akan diberikan kepada yang belum."
Saiya tidak menanyakan lebih detail tetapi persoalan kuota ini memang bukan hanya masalah bagi orang Palestina saja. Penerapan visa bagi yang pernah berhaji atau umroh dari negara lain mungkin akan segera menyusul.
Menurut saiya pelarangan kuota itu sebetulnya tidak terlalu masuk akal. Seorang petinggi di kementerian agama pernah berkata jika pembatasan quota itu untuk mencegah membludaknya jamaah haji di Mekkah dan memberi kesempatan bagi yang belum. Menurut saiya justru karena adanya model quota maka harga menjadi mahal dan kesempatan menjadi terbatas.
Aah dalam hati saiya, masa iya sih Nabi Ibrahim atau Allah SWT tidak mempertimbangkan persoalan ini. Seandainya kawasan Mekkah dikelola dengan baik dan tetap menjadi milik bersama umat Islam -tanpa ada pihak-pihak yang mengkalim sebagai pelayannya- tidak perlu adanya kuota-kuota tadi. Melihat luasnya, saiya pikir padang Arafah itu bisa menampung 20-30 juta orang atau lebih jika tidak ada kapitalisasi ruang bagi bisnis properti keluarga Saud yang membuat kawasan menjadi sumpek.
02.
Osma membalas jika Israel melakukan operasi untuk membunuh Noor Baraka salah seorang ahli perang parit dari Brigade Al Qasam di kota Khan Yunis Jalur Gaza. Tujuh orang anggota Qasam tewas ketika membalas serangan. Pihak Hammas menyebut operasi Israel ini sebagai Khan Yunis Kedua. Merujuk kepada peristiwa operasi penyisiran milisi Fedalin (cikal bakal PLO) tahun 1957
Hammas membalas serangan Israel dengan menembakkan ratusan roket dan mengancam akan melepaskan rudal ke Tel Aviv. Mabes Tentara Israel mengajukan gencatan senjata setelah Brigade Al Qasam membalas kemarin dengan menyerang sebuah bis penuh tentara dengan rudal pemandu.
Saiya membaca analisis militer dari retaliasi Gaza Palestina ke Israel. Biaya untuk mencegat proyektil yang ditembakkan Hammas hanya satu per seribu harga dari roket patriot yang ditembakkan ISrael untuk menghancurkannya. Sedemikian tidak efektifnya sistem pertahanan seperti ini bila harus mengeluarkan dana sedemikian besar dengan capaian yang tidak terukur pasti.
Saiya ingat dulu ada Jendral Edi Sudarajat yang berkata perlunya Indonesia mengembangkan sistem persenjataan dan pertahanan appropriate -yang tepat guna-. Mengimplemenasikan sistem seperti Israel itu mahal sekali dan sama sekali tidak menjamin keamanan.

0 comments:

Post a Comment