Saturday, November 24, 2018

Vaksin Jepang

Vaksin Jepang
Di masa pendudukan Jepang banyak sekali terjadi peristiwa-peristiwa menyedihkan
Bahder Djohan dalam otobiografinya mengungkapkan. Jika di zaman Belanda ada istilah heerendienst atau kerja paksa (rodi) maka di zaman Jepang orang Indonesia dipaksa Jepang bekerja romusha dengan dikirim ke berbagai pulau tanpa bayaran.
Bahder Djohan mengungkap dalam otobiografinya. Sebuah buku hijau yang saiya minta dengan percuma dari seorang pedagang kertas bekas keliling.
Jika di zaman Belanda ada istilah heerendiens atau kerja-paksa (rodi) maka di zaman Jepang ada romusha yang lebih keras dan tanpa bayaran sama sekali. Orang Indonesia dikirim jauh meninggalkan kampung halamannya ke pulau-pulau.
Ada satu waktu di pertengahan tahun 1944, 90 orang romusha dari Klender diangkut ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSCM sekarang) karena menderita penyakti tetanus. Meski sudah diberikan pertolongan semuanya meninggal. Berita kemudian menyebutkan ada 300-1000 romusha mati dengan penyakit sama.
Dari penyelidikan terbukti para korban telah disuntik vaksin Kolera, tipus dan disentri yang mengandung toksin tetanus.
Ken Pei Tai menahan hampir semua karyawan laboratorium Eykman di Jakarat termasuk direkturnya Profesor Ahmad Mochtar, tiga dokter Djoehana Wiradikarta, MA Hanafiah dan Sutarman. Empat orang analis, Jatman Subekti, Nona Ko Kiap Nio, dan Nanny Kusumasudjana. Beberapa dokter dari RSUP dan Jawatan Kesehatan.
Ken Pen Tai menuduh mereka mengotori vaksin dengan serum anti tetanus. Prof. Ahmad Mochtar dijatuhi hukuman mati tanpa pengadilan. Marah Ahmad dan Soeleiman Siregar meninggal dalam tahanan karena tiada tahan menahan siksaan yang kejam di luar batas kemanusiaan. Tahanan yang dibebaskan kemudian keluar dengan keadaan yang menyedihkan, sebagian mereka memerlukan perawatan berbulan-bulan.
"Rohaniah mereka telah menjadi cacat seumut hidup."
Baru nanti setelahnya Prof. MA Hanafiah dalam buku kecil "Drama Kedokteran Terbesar" saiya ikut menulis tentang kisah sedih tadi.
Seorang Kapten dokter Jepang bernama Hirosito Nakamura mengadakan eksperimen dengan membuat anti-toksin tetanus sendiri lalu mencampurnya dengan vaksin colera, tipus dan disentri. Padahal sebelum perang, Institut Pasteur di Bandung pernah melakukannya dan menemukan hal itu gagal sama sekali.
Untuk menutupi kekeliruan Jepang yang telah merenggut nyawaw sekian banyak orang mereka melemparkannya kepada bangsa Indonesia dan kemudian Prof. Ahmad Mochtar dan kawan-kawannya.
dari Bahder Djohan:
Tragedi penyuntikan tetanus.

0 comments:

Post a Comment