Saturday, December 22, 2018

Tentang Negara Punah, dan Negara Fine-fine saja

Tentang Negara Punah, dan Negara Fine-fine saja
Hal yang menarik dari sebuah pendapat adalah sejauh mana pemiliknya mempertanggungjawabkannya. Saiya memperhatikan jika pada hal ini kita tidak tertib dan tumaninah (teratur).
Beberapa pesan tertutup masuk dan mempertanyakan perihal apa saja dari persoalan mengundang narsum training, sumbangan proposal sampai hal-hal tidak penting seperti orang menawarkan apartemen baru di sekitar perempatan Cawang.
Satu, dua yang baru masuk adalah pertanyaan seputar muslim Uighur dan Negara Punah dari Prabowo. Pertanyaan itu sebenarnya bukan murni bertanya, hanya pendapat tentang pendapat.
Pertanyaan pertama:
Apakah negara bisa punah. Jika Prabowo Subianto kalah di pilpres? Padahal Prabowo beberapa kali gagal nyapres negara fine-fine saja.
Pertama menjawab pertanyaan di atas tentang perihal negara bisa punah, maka jawabannya bisa. Ada ratusan atau mungkin ribuan contoh dari lahir, tumbuh, dan matinya sebuah bangsa, umat, negara, atau peradaban. Ini hukum besi sejarah sebagaimana ditulis Tuan Khaldun, Bismarck, Toybee, dan lain-lainnya itu.
Apa dan bagaimana sebuah nagari bisa bertahan lama (dengan aneka varian dan perubahan-perubahan) adalah pertanyaan klasik yang lama dikaji pemikir filsafat dan sosiologi sejak masa lampau. Beberapa faktor dirumuskan para ahli tersebut dan mencakup antara lain; nagari butuh gagasan, visi, keadilan semesta, hukum ditegakkan, keamanan dijaga, rakyat yang cinta dan dicintai pemimpinnya, kekayaan dan kemakmuran, serta kemampuan beradaptasi.
Max Weber mengatakan jika sukses atau gagalnya transformasi sebuah nagari itu ditentukan oleh dua hal saja; Kepemimpinan (leadership) dan karisma.
Pidato Prabowo itu disampaikan disebuah forum yang sebenarnya eksklusif, dalam sebuah acara kepartaian. Ia menjadi retoris karena diimbuhkan frasa bersyarat. Jika kalah maka hancur. Sebetulnya ada atau tidak ada syarat ini pun hukum kepunahan itu akan berlaku juga. Sebab dia hanyalah sebuah syarat cukup (necessary) bukan syarat wajib (compulsory).
Jika dihubungkan dengan syarat-syarat lain yang salah satunya dimunculkan Weber, maka pidato tadi barangkali merujuk kepada syarat perlu dari langgengnya sebuah nagari yaitu kepemimpinan dan karisma. Bila mengacu kepada syarat Ibn Taimiyah maka syarat pemimpin kharismatik itu menjadi wajib. Mana yang benar, tergantung kepada madzhab mana kecenderungan kita.
Nah menjawab pendapat kedua; apakah negara hari ini fine-fine saja, maka saiya jawab tentu tidak fine.
Pertama misalnya pada kasus proyek jalan trans-Papua UP4B (unit presiden untuk percepatan pembangunan papua dan papua barat) yang diinisiasi Presiden SBY sudah sejak awalnya melibatkan TNI sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam implementasinya, terjadi pembunuhan sistemik terhadap 31 orang pekerjanya.
Anda bisa membayangkan sebuah jalan yang pelaksanaannya diawasi TNI tetapi para pekerjanya masih bisa diburu dan dibunuh oleh gerakan separatis Papua. Ini tentu satu operasi militer yang nekat sekali, bukan sekedar aksi kriminal biasa.
Sekali lagi sebuah aksi pembantaian pekerja proyek yang diawasi tentara dan tempo hari diklaimaman karena sudah dilintasi presiden Jokowi dengan foto yang viral.
Bagaimana logikanya bila semua kita anggap fine-fine saja.
Kedua, apa anda tidak merasa aneh bila persoalan komplek yang terjadi di Papua dengan ujung pembunuhan 31 pekerja itu ditutupi pemerintah dengan gembar-gembor berita suksesnya negosiasi mengambil mayoritas kepemilikan Freeport?
Where is logic.... sebuah perusahaan sebesar Freeport yang lewat intuisi bisnisnya saja sudah melihat adanya potensi ledakan besar masalah keamanan di Papua sudah mulai mengendorkan resiko kepemilikannya. Padahal kita sadar jika syarat aman adalah nomor satu dari iklim bisnis maka untuk apa tindakan tadi. Di sisi lain ada fakta ancaman distabilitas keamanan di Papua dengan dibantainya 31 orang di proyek dan kini sebuah operasi terpadu dilakukan untuk mengembalikan iklim tadi.
Lalu kita di Jawa berkata semua fine-fine saja, negara aman-aman saja.
Udah pada gila

Friday, December 21, 2018

Uighur dan Realitas Media

Uighur dan Realitas Media
Sebagaimana dulu orang ramai #Save Syria, Save Allepo, Save Ghouta, dan Save-save lainnya, saiya masih dalam usaha mendapatkan informasi langsung di lapangan terkait #Save Uighur.
Tentu saja jika alasannya membela sesama muslim, ada kasus nyata tiga tahun perang asimetris dan blokade ekonomi atas Yaman oleh Saudi Arabia yang kini telah dinyatakan PBB menyebabkan krisis kemanusiaan terparah. Respon kita atas tindakan Saudi dan koalisi dukungan AS-Inggris-Prancis yang melanggar piagam PBB (Intervensi ke negara berdaulat) tidak seheboh aneka save-save tadi.
Kata Uighur dan orang Uighur (Xinjiang Timur) baru saiya dengar dalam pembahasan di kantor GIGA Hamburg, kira-kira tahun 2012. Pemapar dari pemerintahan Suriah mengatakan dari info intelejen kurang lebih 20-30 ribu etnis Turki Cina (Uighur) yang terlibat dalam konflik bersenjata di Suriah. Kelompok mereka dikoordinir oleh semacam grup bersenjata yang terafiliasi dengan Al Qaeda. Kemampuan mereka berbahasa Turki, Rusia dan Cina membuat kelompok Uighur menjadi salah satu favorit dari proses rekruitmen milisi asing di Suriah.
Baru di tahun 2014, pemerintah Cina mulai mengirimkan pengamat militer mereka ke Suriah setelah beberapa konflik yang diinisiasi kelompok salafi di Xinjiang Uighur mendorong gerakan separatisme Uighur merdeka dengan basis pemerintahan a la ISIS. Pemerintah Cina memberikan otonomi khusus bagi provinsi beretnis mayoritas keturunan Turki ini. Mereka melihat jika konflik di Suriah membawa semacam genre baru orang Uighur yang lebih militan dan mereka memiliki pengalaman konflik bersenjata. Jumlah mereka kecil saja dibanding mayoritas orang Uighur yang menerima sistem otonomi khusus.
Cina, menurut Tuan Dong, memiliki alasan untuk memperhatikan persoalan kembalinya para milisi jihadis dan salafis ini sebagai ancaman nasionalnya. Ditambahkan jika isu separatisme Uighur, yang memang baru tahun 1949 masuk ke teritorial Cina Raya selalu dapat menjadi pintu masuk dari konflik di sana.
Sebenarnya sama halnya dengan ketika terjadi konflik yang bermula dengan the so called Arab Springs di Suriah dan Irak. Saiya mengambil jarak untuk segera menjatuhkan penilaian. Baru setelah diundang Kementerian Luar Negeri Jerman dan beberapa kampus dalam rangka diskursus negosiasi untuk bertemu beberapa sumber dari negara-negara berkonflik saiya sedikit menemukan perspektif berbeda.
Pertama, mirip dengan kondisi Aceh di era Soeharto sampai Megawati. Bahwa ada kelompok yang ingin membawa kemerdekaan Aceh, dan ada kelompok yang hanya menginginkan otonomi seluas-luasnya di bawah persatuan Indonesia. Mirip dengan komposisi pemain dalam konflik-konflik di Uighur. Ada yang so-so, ada yang tidak peduli, ada yang radikal, dan ada yang biasa-biasa saja.
Kedua, pemerintah Cina mengamati jika kelompok pertama (yang selalu menginginkan pemisahan) memperoleh tenaga baru dari kelompok yang mendomplengnya lewat isu syariat (islam). Mereka adalah kelompok yang terindikasi memperoleh pelatihan di kamp-kamp jihadis di Turki dan Suriah.
Ketiga, isu tentang kamp konsentrasi, pembunuhan, dan penyiksaan kelompok Uighur oleh aparat kepolisian dan militer Cina mungkin saja terjadi. Sama halnya dengan kekerasan terhadap kelompok yang dianggap separatis di Papua.
Seperti halnya OPM, pemerintah Cina sejak lama berkonflik dengan kelompok bersenjata di Uighur, Dua kelompok utama adalah TIP dan ETIM (Gerakan Pembebasan Turki Timur).
Keempat, isu Uighur diangkat serupa dengan isu #Save Suriah di tahun 2012. Jika dilacak maka trend ini berkembang setelah negosiasi Allepo Suriah Utara dn Qunaitra, Suriah Barat Daya pada 2016 dan 2018. yaitu ketika militer Suriah setuju memindahkan jihadis ke wilayah Idib (Suriah Timur) dan mengakomodasi pengembalian beberapa ratus milisi Uighur ke perbatasan Turki.
Pemerintah militer Turki menolak mereka untuk tinggal di wilayah zona penyangga di Suriah (Idlib) dan Manjid yang dikuasai militer Turki. Kemungkinan besar milisi ini kembali ke Uighur difasilitasi pemerintah Turki.
Kelima, media massa mainstream (MSM) adalah mereka yang ada dibalik berkembangnya isu keamanan nasional Cina ini menjad "seolah-olah" isu umat Islam.
Keenam, masih dalam rangka memeriksa kemungkinan destabilisasi geoekopolitik hankam Cina lewat isu Uighur, maka saiya melihat jika pengembangan Isu save Uighur lewat media massa dan media sosial yang gencar ini tidak akan bertahan lama.
Alasan-alasannya akan kita paparkan besok saja.....

Tuesday, December 18, 2018

Qadha dan Qadar

SEMUA orang paham enam rukun iman. Ada enam pilar iman: Iman kepada Allah, iman kepada para malaikat Allah, iman kepada kitab Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada para utusan Allah, iman kepada hari akhir, dan yang terakhir, iman kepada qadha dan qadr.
'Qadha' artinya ketetapan Allah, dan 'qadr' artinya kadar dari ketetapan tersebut.
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadr (ukuran)" (QS Al-Qamar [54]: 49)
Takdir, sedikit berbeda. Takdir adalah jatuhnya, atau terjadinya, ketetapan Allah dengan kadarnya (qadha dan qadr) tersebut.
Konon katanya, tanpa keimanan kepada enam hal itu, statusnya sebagai muslim 'nggak sah'.
Nah. Pernah merenungkan nggak, yang kita kira paling gampang -- bahkan paling jarang disimak atau dibahas-- yaitu iman kepada qadha dan qadr tadi, justru keimanan yang paling susah?
Iman kepada ketetapan Allah dan kadar ketetapan tersebut, itu sungguh-sungguh tidak mudah memahaminya. Itulah sebabnya, muslim yang sungguh-sungguh beriman kepada qadha dan qadr ini relatif sedikit. Bener. Sedikit sekali muslim yang sudah meraih keimanan terhadap qadha dan qadr ini.
Iman kepada qadha dan qadr itu, implikasinya misalnya, bahwa kita iman sepenuhnya kalau kita nggak ganteng dan nggak cantik, dengan kadar warna kulit sekian dan kemancungan hidung sekian, itu adalah murni kebaikan Allah untuk kita, dan telah dihitung dan dikadar-Nya dengan sangat cermat -- bahkan sejak sebelum alam semesta ada.
Iman bahwa kalau kita nggak kaya, kalau kita sakit, kalau kita gagal, kena musibah mungkin -- itu adalah murni kebaikan, rahmat dan perlindungan Allah untuk kita.
Sebagian besar manusia malah menggerutu sejak bangun tidur sampai pergi tidur. Ngaca, dan melihat kok saya nggak cantik, lalu mengeluh. Mandi, mengeluh karena harus kerja. Berangkat mengeluh karena jalanan padat. Di kantor, mengeluh karena kerjaan. Siang mengeluh karena terik. Sore mengeluh karena hujan. Pulang, mengeluh karena macet. Tidur pun mengeluh karena capek. Ia kecewa dengan ketetapan yang harus dilaluinya hari itu. Lalu, ia menyalahkan dirinya, orang tuanya, keadaan, kondisi, negara, gubernur, presiden, yang 'gara-gara itu' saya jadi begini.
Begitulah hidupnya: ia menjalani setiap hari dalam hidupnya dengan keluhan. Ada saja sisi hidupnya -- atau tepatnya pemberian Allah untuk dirinya -- yang dia keluhkan. Begitulah hidupnya sampai mati.
Jangan bicara 'iman terhadap qadha'. Sebagian besar kita bersikap seakan-akan ketetapan dan kadar Allah yang Dia turunkan pada kita setiap saat, adalah salah. 'Harusnya nggak gitu'.
Sebenarnya, mengeluh, meskipun dalam hati, itu urusannya aqidah. Dengan Allah langsung. Itu sikap yang seakan-akan menunjuk kepada Allah bahwa Dia 'salah ngasih'. Dia keliru. 'Pelayanan-Nya' terhadap kita nggak bagus.
Guru saya selalu bilang, kalau dosa lainnya, Beliau bisa mendoakan, memohonkan ampunan. Tapi kalau dosa karena mengeluh, walaupun dalam hati, Beliau nggak bisa. Sebab keluhan itu artinya sama dengan menyatakan bahwa kebijakan-Nya terhadap kita adalah salah. Mengeluh itu seperti menunjuk hidung Allah ta'ala.
Lha, kalau segala sesuatu dalam hidup kita adalah qadha dan qadr-Nya, ketetapannya, terus gimana? Hidup kan harusnya penuh perjuangan dan usaha keras?
Nah. Bukan berarti kita harus pasrah dengan keadaan, atau membiarkan diri terbawa arus kehidupan tanpa usaha bangkit. Bukan gitu. Berusaha pindah ke takdir lain, adalah persoalan lain. Tapi aqidah awalnya adalah, terima dulu bahwa segala sesuatu yang sampai ke kita, itulah qadha Allah. Dan dalam qadr dari-Nya. Jika kita menghendaki takdir yang lain, tentu saja boleh. Mintalah, berbuatlah. Tapi aqidahnya, yang pertama, terima dulu. Sadari dulu siapa yang berada di balik apa-apa yang kita terima.
Jangan bersikap seakan-akan apa yang terjadi adalah salah, harusnya nggak gitu, dan di luar pengetahuan-Nya. Seakan-akan apa yang terjadi adalah 'gara-gara si anu'. 'Si anu' itu adalah jalan kejadian ketetapan-Nya saja.
Kalau kita sudah mengerti bahwa apapun yang kita alami adalah di bawah qadha dan qadr dari-Nya, dan --demi kebaikan kita sendiri-- (*) baru kita akan sujud. Dan setelah itu, untuk minta dipindahkan ke qadha dan qadr yang 'lebih enak' pun, kita sujud lagi. Kita minta. Baru kita akan lihat bahwa Dia sungguh-sungguh turun dan berperan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kalau kita nggak pernah menyaksikan bahwa Dia ada dan mengabulkan doa persis sebagaimana yang kita minta, gimana cara mengimani-Nya? Padahal ini adalah rukun iman pertama.
Dia ada. Hadir. Bukan sekedar konsep yang jauh tenggelam di dalam kitab-kitab suci, yang nggak terjangkau. Setidaknya, kita akan berhenti mengeluh, dan mulai berdoa sungguh-sungguh.
(*) ini panjang banget pembahasannya, jadi jangan nanya persoalan takdir Gak akan bisa dibahas di sini.

Sunday, December 16, 2018

ZIARAH SEBAGAI MESIN WAKTU

ZIARAH SEBAGAI MESIN WAKTU
Saat Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah, seluruh kaum Anshar menginginkan jika unta Nabi pertama kali berhenti di halaman rumah mereka. Sayangnya, tak mungkin semua orang mendapatkan keberuntungan tersebut. Dan orang yang beruntung hari itu hanyalah Khalid bin Zaid, alias Abu Ayyub al Anshari. Selama beberapa bulan, sebelum punya tempat tinggal sendiri, Rasulullah akhirnya tinggal di rumah Abu Ayyub.
Ada banyak kisah tentang kesetiaan dan keluhuran budi Abu Ayyub radiallahu anhu. Kita bisa menitikan air mata jika membacanya kembali. Ia selalu menyertai Rasulullah dalam semua peperangan. Bahkan, hingga usia senjanya, ia tak segan untuk ikut mengangkat senjata, hingga akhirnya ia meninggal di Konstantinopel pada sebuah perang di zaman Muawiyah.
Saat Rasulullah masih hidup, suatu kali Abu Ayyub pernah mendengarnya bersabda, bahwa Kostantinopel akan jatuh ke tangan tentara Islam, dan rajanya akan menjadi sebaik-baik raja, serta tentaranya adalah sebaik-baik tentara.
Perkataan Rasulullah itu sangat mempengaruhi Abu Ayyub. Ia percaya jika suatu saat Konstantinopel akan bisa dikuasai kaum muslimin. Dan ia turut berlomba mewujudkan hal itu. Ia ingin turut menyiarkan Islam hingga ke Konstantinopel.
Konstantinopel adalah sebuah kota yang sangat penting karena letaknya yang sangat strategis. Peradabannya, sejak zaman kuno, sudah sangat maju. Tak heran, Napoleon pernah menyebut seandainya bumi ini hanya terdiri dari satu negara, maka Konstantinopel akan menjadi ibukotanya. Kota Konstantinopel tak lain adalah Istambul kini.
Pada zaman kehalifahan Muawiyah, ia melakukan ekspansi ke Konstantinopel. Pada saat itulah Abu Ayyub syahid. Ia meninggal tahun 674. Sesuai dengan permintaannya, ia kemudian dimakamkan di Konstantinopel, di luar bentengnya yang megah dan legendaris itu.
Saat Konstantinopel berhasil ditaklukan oleh Sultan Muhammad II pada tahun 1453, yang membuatnya diberi gelar Al Fatih, sang penakluk, Sultan sangat terkesan dengan kisah Abu Ayyub al Anshari. Itu sebabnya, ia berusaha menemukan makam sahabat Rasulullah tersebut.
Banyak orang mengatakan jika Sultan Muhammad Al Fatih merupakan figur yang sangat sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad).
Al Fatih bukan hanya cakap dalam bidang militer, ia juga menguasai matematika, sains, dan bisa bicara dalam 6 bahasa. Ia adalah sosok yang sangat intelek. Dan ia sangat mengagumi Abu Ayyub al Anshari. Itu sebabnya ia meminta kepada orang-orang alim untuk mencari dan menemukan makam Abu Ayyub.
Sesudah makam Abu Ayyub ditemukan, Sultan Muhammad al Fatih membangunkan sebuah masjid di samping makam tersebut. Masjid ini, yang kemudian dikenal sebagai Masjid Abu Ayyub al Anshari, merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Kesultanan Turki Ottoman setelah penaklukan Konstantinopel di tahun 1453. Bisa disebut ini adalah masjid pertama di Istambul, sebuah kompleks masjid yang dibangun di luar dinding-dinding kota Konstantinopel yang megah.
Masjid tersebut bukan hanya menjadi tempat ibadah yang ramai. Pada zaman kejayaan Ottoman, di masjid inilah dahulu para sultan dilantik dan disahkan dengan sebilah pedang milik Usman bin Affan radiallahu anhu. Masjid tersebut masih berdiri megah hingga kini.
Saya beruntung kemarin bisa mampir shalat Ashar di masjid tersebut, sembari ziarah ke makam Abu Ayyub al Anshari. Suasanya khusyu dan tenang. Udara musim dingin membuat orang jadi lebih khusyu berdoa.
Di lokasi pertama tempat ditemukannya makam Abu Ayyub, sebelum dipindahkan ke tempat yang sekarang, terdapat sumber air yang jernih yang digunakan oleh orang-orang yang ziarah untuk minum, membasuh muka, hingga berwudhu. Sehabis wudhu di luar, saya ikut mencicipi sumber air tersebut.
Ziarah adalah sebuah historical journey. Kita seperti dibawa ke masa lalu saat berziarah. Saya kira itu juga yang membuat kenapa ibadah haji penting untuk ditunaikan. Berhaji, selain merupakan sebuah spiritual journey, juga adalah semacam historical journey. Kita diajak kembali kepada fragmen-fragmen sejarah yang pernah ditinggalkan oleh Nabi Adam, Ibrahim, dan tentu saja Rasulullah SAW sendiri. Melalui ziarah sejarah itu kita disadarkan bahwa masa kini peradaban berhulu ke banyak peristiwa di masa lalu.
Sesudah beberapa kali pernah mengunjungi makam sahabat dan keturunan Rasulullah, terus terang saya jadi ingin pergi haji. Entah kapan bisa terwujud.
Labbaik Allah Humma Labaik...

Thursday, December 13, 2018

Demonstrasi di depan lapangan Des Droits de l' Homme Paris meluas ke seluruh negeri.

Demonstrasi di depan lapangan Des Droits de l' Homme Paris meluas ke seluruh negeri.
Demo supir truk dan pelaku umkm di lapangan Champs du Mars Hak asasi Manusia tugu Eiffel untuk memprotes kenaikan pajak BBM berakhir chaos. Polisi dan garnisun (gendarmerie) membubarkan paksa demonstran dengan pentungan, pukulan, gas airmata dan peluru karet.
Sampai hari ini di seluruh Prancis diberlakukan siaga satu dan kewenangan bagi gendarmerie menggunakan kekerasan.
Demo berlanjut ke kota-kota dengan topik yang berbeda. Begitu Whatsapp dari Uni Inay dari Bordeaux. Mulai dari isu pendidikan, lapangan kerja, umr, tarif listrik, dan imigran asing.
Para demonstran mengunakan vest berwarna hijau kuning sebagai simbol aksi damai. namun setelah tindakan represif pemerintah demonstran mulai menggunakan simbol Macron Diktator.
Pada saat yang bersamaan di kawasan jantung Ibukota Jakarta, massa aksi reunited 212 yang jumlahnya ratusan kali lebih besar dari massa aksi di Paris melangsungkan aksinya dengan santai-santai saja. Jika di paris mereka diserang polisi dan garnisun, maka di Jakarta para peserta aksi melakukan foto-foto selfie dengan unit-unit kepolisian dan TNI. Semua senang karena banyak sekali makanan dan minuman dibagikan gratis dan kawan-kawan lama bersilaturahmi. tuntutan keadilan kepada ulama pun sudah disampaikan dengan damai. Tentu saja ini sebuah parade unjuk rasa massa actie alias people power yang luar biasa elegan.
Anehnya yang melakukan tindakan represif justru yang gak ikutan aksi. mereka entah mengapa, merasa terpukul dan sakit hati. Padahal kalau ikutan datang minimal mereka dapat pembagian makanan dan minuman dari ribuan peserta yang ingin bersedekah dan berbagi.
Di depan menhir monument detroit des l'homme et du citoyen (monumen hak asasi manusia dan warga kota raya) tepatnya di depan patung pria bertoga saiya sampaikan keluhan.
Si bapak tadi tentu anggota patriak, warga kehormatan, kelas menengah terpelajar, dan mungkin orang kaya (karena ada simbol freemanson di atasnya), bahwa ia menulis kurang lengkap. mestinya selain hak asasi manusia dan warga kota raya itu dilindungi untuk berdemo di ruang publik, maka mereka juga harus terlindungi dari orang-orang yang senewen.
Yah tapi mau bilang apa lagi, namanya juga patriarki Prancis, cuma bisa omong doang. Penduduknya demo aja digebukin.
#monumen detroit des 'l homme et du citoyen Paris pose diperagakan oleh Model.

Dalam politik hanya Loyalitas yang dihargai

Dalam politik hanya Loyalitas yang dihargai
Seorang junior mengirimkan video yang katanya viral; La Nyalla mantan orang kuat di PSSI menyebut bahwa dirinya pernah melakukan black campaign dengan menuduh Jokowi Kristen, jokowi PKI pada pilpres 2014.
Itu semua dilakukan karena dulu ia ada di kubu Prabowo. Sekarang ia meminta maaf atas perbuatannya tersebut karena kini telah menjadi pendukung Jokowi.
La Nyalla pecah kongsi dengan Prabowo setelah pilpres dan memuncak pada perhelatan pilgub Jawa Timur. Ia yang sering dipanggil Cak -karena lebih dianggap sebagai orang Jatim daripada Bugis- menyebut bahwa dirinya siap potong leher jika Jokowi kalah.
Saiya tidak melihat ada hal darurat dalam pernyataan seperti itu. Ia, kehilangan loyalitasnya baik di mata kubu Prabowo dan Jokowi. Dengan mengakui bahwa dirinya pernah menjadi pelaku black campaign ia tidak menjadi lebih keren daripada buzzer hoax atau perawat situs palsu. Komitment siap potong leher pun kita faham hanyalah omong kosong dan omong besar. Yang bila kejadian atau tidak terjadi sama-sama tidak akan memberikan dampak elektabilitas atau memperkuat kepercayaan kepada dirinya. Hilangnya loyalitas dengan cepat menghapuskan kredibilitas.
Persoalan inti dari politik sebagai sebuah an applied theoritical game adalah bagaimana seseorang atau kelompok mengkapitalisasi apapun kesempatan, peluang, menjadi keuntungan diri dan kelompoknya. Sebab sifatnya yang oportunis dan advonturis inilah maka politik -yang sebenarnya bermakna segala cara untuk menemukan resolusi dan menghindari konflik - terstigmasi menjadi ilmu menghalalkan segala cara.
Sehingga di dalam sphere yang dibatasi adagium "Tidak ada teman abadi yang ada hanya kepentingan" maka satu-satunya nilai moral yang menjaganya hanyalah loyalitas.
Namun jika seseorang kehilangan loyalitas dalam politik, ia tidak memenangkan apa-apa.

Wednesday, December 5, 2018

Membaca Reuni-ted 212; Perspektif Politik

Membaca Reuni-ted 212; Perspektif Politik
Hal yang tidak dapat dihindari dari aksi reuni -saiya lebih setuju menyebutnya reunited- 212 adalah fakta bahwa hari ini sebagian besar umat Islam yang diwakili oleh para peserta aksi sedang menunjukkan bentuk politik massa yang elegan.
Mengumpulkan ratusan ribu atau jutaan orang di jantung Ibukota dengan tertib, teratur, terorganisir, bersih, swadaya dan berwibawa bukan lagi persoalan massa aksi politik biasa, ini adalah sebuah bahasa baru dari politik umat Islam Indonesia. Gerakan seperti ini merupakan manifestasi jenis politik baru.
Tidak satu pun partai-partai politik, LSM, serikat tani-buruh, ormas dan organ Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Majlis Tabliq atau dzikir yang berani mengklaim bahwa mereka adalah pencetus jumlah aksi massa kemarin. Aksi sukarela yang didorong oleh keinginan berpartisipasi baik bermotifkan membela agama, politik, ekonomi, atau sekedar wisata bersama keluarga ini tidak lagi dapat didekati dengan teori politik massa aksi biasa.
Beberapa alasan untuk itu adalah;
Pertama, gerakan ini muncul bukan dengan memajukan agenda partai, ormas atau kandidansi presiden sekalipun. Mereka yang hadir di arena minggu 2 Desember 2018 kemarin akan menjawab pertanyaan seragam; bahwa mereka terharu, kagum, dan kadang-kadang tercengang bahwa umat Islam dapat menyuarakan aspirasi "diam" nya dalam sebuah aksi masif yang elegan.
Partisipasi publik dengan menyediakan konsumsi bagi para peserta, terbukanya pintu-pintu masjid, yayasan dan rumah-rumah warga untuk menampung peserta dari tempat jauh, serta pasukan penjagaan dan sapu bersih yang bekerja mengawasi keindahan dan kebersihan lokasi adalah satu wujud kesadaran dan kedewasaan dari politik non-anarkis. Sekaligus menunjukkan jika aksi kemarin bukan lagi persoalan politik elite tetapi sudah merupakan gerakan massa rakyat.
Kedua, dari segi partisipan, jumlah ini melampau dari aksi 212 tahun 2016 lalu. Artinya ia sebagai sebuah bola pembuka telah membesar dengan efek bola saljunya. Ada lebih banyak orang yang dahulunya tidak hadir dengan sukacita merekatkan dirinya sebagai bagian dari "alumni". Tentu saja bola ini akan memberikan efek semakin besar dengan tentu saja tetap dalam koridor aksi demokratis yang bertanggungjawab.
Ketiga, agenda penistaan agama, isu perpecahan atau aksi yang akan disusupi ISIS, khilafah, atau wahabi untuk menciptakan perpecahan dan Suriahnisasi Indonesia sama sekali tidak terbukti. Banyak peserta yang hadir membawa keluarga, anak kecil dan balita dalam kereta-kereta dorong. Ini lebih mirip kemping keluarga besar umat Islam Indonesia daripada sebuah aksi politik.
Keempat, isu anti toleransi dan anti kebhinekaan dipatahkan dengan bergemanya lagu Indonesia raya diiringi kibaran bendera Tauhid dan sang saka merah putih. Semua yang hadir merasakan satu bentuk nasionalisme religius di padang Monas yang tidak dapat dipungkiri.
Isu bahwa bendera tauhid adalah bendera ISIS dengan tujuan negara Islam dirobohkan dengan komitmen jika kumpulan manusia di monas memiliki satu tujuan bersama yaitu menjaga Indonesia Raya baru dengan moralitas baru.
Kelima, gerakan ini tidak lagi dapat ditawar dan dinegosiasikan. Pada aksi pertama, satu negosiasi di Istana telah dibocorkan ke publik dengan tujuan menggembosi aksi tadi sebagai aksi dengan agenda framing satu dua kelompok kepentingan saja. Namun kali ini jelas jika tidak satu pun the so called "tokoh-tokoh" yang hadir di sana berani lagi mengatasnamakan aksi 212 untuk mengajukan negosiasi kepentingan politiknya.
Artinya tidak ada pilihan lain bagi pemerintahan hari ini, karena bentuk aksi 212 kemarin tidak lagi dapat disederhanakan dengan pendekatan mitigasi aksi dengan menyebut gerakan tadi disusupi, didanai donor tertentu, diselepi elemen anti demokrasi dan intoleransi.
Kita melihat jika tidak ada dari aksi besar ini kehendak mendapatkan perhatian pemerintah sebagaimana aksi-aksi jalanan lain pada umumnya. Kepergian Jokowi ke luar kota untuk mendadak menjadi teknisi PLN sama sekali tidak lagi menjadi masalah besar dan menyinggung perasaan mereka. Aksi ini lebih mirip kepada apatisme ada atau tidak ada pemerintahan hari ini semakin tereduksi kewibawaannya.

Satu dorongan ke gerbang Istana, maka runtuhlah pemerintah.

Satu dorongan ke gerbang Istana, maka runtuhlah pemerintah.
Saiya merenungi ucapan tuan Heru. Ia berkata jika aksi kemarin betul-betul menunjukkan jika akar rumput umat Islam itu sudah bergerak dengan politik moral.
Massa dengan jumlah sebesar itu di jantung Ibu kota dan di depan Istana hanya membutuhkan satu dorongan ke gerbang Istana maka runtuhlah kewibawaan pemerintah.
Tidak akan ada polisi atau militer yang akan bermain api dengan melepaskan tembakan atau kekerasan pada massa sebesar itu. Mereka akan memilih mengikuti arus daripada memasang badan menanggung resiko delegitimasi dan menjadi musuh rakyat. Tidak akan ada partai politik yang akan membela karena aksi ini muncul dari inspirasi massa bawah. Tidak ada dalam sejarahnya politisi menantang kehendak publik, ini dapat difahami mengapa belakangan semakin banyak politisi dan partai politik menarik jarak untuk mengomentari aksi-aksi massa terutama yang membawa persoalan identitas agama.
Tetapi kerisauan itu tidak ada. Massa masih menghormati pemerintah dan pemerintahannya, mereka masih percaya pada demokrasi dan jalan damai. Mereka mencintai Indonesia dengan mengumandangkan lagu Indonesia raya dan takbir di lapangan Monas. bergemuruh membuka acara.
Massa aksi yang sama menciptakan revolusi di Tunisia, Mesir, Libya, Irak, dan Suriah. Di Paris bahkan massa membakar dan berkelahi dengan penjaga keamanan. Menistakan para pemimpinnya dan menelantarkan rakyatnya sebagai korban konflik bersenjata. Tetapi jumlah yang ratusan kali lebih besar dari yang pernah ada di lapangan At Tahri Kairo atau Arc d Trump ada di Monas. Mereka sama sekali tidak menghujat pemerintah, atau mengganggu hak siapa pun. Bahkan kembang dan rumput pun tidak pernah didzalimi dan jalan-jalan terjaga dari kotoran.
Ini adalah manifestasi politik baru massa umat Islam Indonesia. Sebuah gerakan moral dan partisipasi publik yang mesti dicatat dalam sejarah politik Indoneia. Ia bisa menjadi contoh bagi aksi massa besar di tempat-tempat lainnya.
Padahal jika ingin menjatuhkan pemerintah, hanya satu dorongan kecil ke gerbang Istana dan runtuhlah pemerintahan.

Bagaimana Sebaiknya Petahana Memitigasi Aksi 212?

Bagaimana Sebaiknya Petahana Memitigasi Aksi 212?
(bagian pertama)
Hanya satu cara bagaimana petahana memenangkan pilpres 2019 pasca gelombang aksi Reunited 212 kemarin, yaitu operasi teritorial besar-besaran.
Menurut pendapat saiya, usaha menjaga elektabilitas petahana dengan mem-both (membayar) media arus utama (MSM) dan mendukung keperluan logistik bagi para caleg partai pengusung sebenarnya kurang terbukti.
1,0
Pertama, usaha memblokade berita yang memberikan dampak positif kepada penantang ini sebetulnya bukan sekali saja. Media MSM pernah memblokade tiga berita besar aksi massa. Awalnya boleh dibilang awalnya cukup efektif.
Blokade pertama adalah hilangnya berita tentang aksi dewan mahasiswa yang menuntut depolitisasi kampus. Ribuan mahasiswa berorasi di depan istana tetapi nihil berita. Yang kedua adalah aksi K2 besar-besaran para guru honorer yang datang dari berbagai daerah dengan angkutan umum dan bus sewaan. Ini juga tidak muncul di muka koran dan televisi. Terakhir pemberitaan massa aksi umat Islam di silang Monas minggu kemarin yang memang sepertinya sengaja dikecilkan atau bahkan diabaikan.
Tentu saja mengabaikan sebuah aksi massif di jantung ibukota dan di depan istana dengan pemberitaan lain seputar instalasi listrik atau limbah botol plastik adalah agenda framing yang gagal. Hanya dibutuhkan sedikit pemicu, untuk membalik massa besar ini menjadi satu people power anarkis yang dengan mudah menjebol Istana dan mendelegitimasi baik dalam maupun luar negeri kepada pemerintahan hari ini.
2.0
Kedua, sudah pasti petahana dalam hal ini Jokowi telah melakukan kesepakatan-kesepakatan untuk mem-framing agenda politik apa yang perlu disampaikan kepada publik untuk memenangkan kembali pilpres 2019. Ini sah-sah saja.
Namun yang sulit kita bantah hari ini adalah, algoritma dari sosial media dengan kekuasaan berbagi dan meamplikasi berita di luar jalur MSM. Twitter, facebook, instagram, line, dan sosial media lainnya bersaing mengatasi dominasi bot media arus utama.
3.0
Ketiga, terkait dukungan dana dari pusat kepada para caleg untuk mendongkrak suara capres-wapres. Usaha ini tidak mudah, karena topik politik hari ini sudah hampir seluruhnya memperbincangkan pilpres-wapres 2019. Meskipun ada pemilihan caleg di DPR DPRD, dan DPD pada kenyataannya obrolan tentang pilpres jauh melambung ke depan meninggalkan urusan yang lain..
Laporan analisis dari coat-tail effect atau efek terangkat bagi para caleg di dewan dengan mengusung sosok capres-wapres tidak menunjukkan angka signifikan. Efek terangkat ini hanya terjadi pada lembaga kepartaian yang mengusung si capres. Artinya persoalan terpilih atau tidak sama sekali tidak berkorelasi positif dengan siapa capres-wapres yang didukung si caleg.
Jadi argumen bahwa peran caleg dalam mendorong pemenangan presiden ini sebetulnya kecil saja. Mereka tentu lebih sibuk untuk memenangkan dirinya sendiri daripada memperjuangkan partai apalagi yang lain. Belum lagi ketika usaha memanfaatkan dana-dana desa yang kita faham tidak akan meretas sampai ke level masyarakat secara luas. Ia hanya akan habis dibagi di lingkungan terdekat.
Artinya memang tidak ada yang berani menjamin jika posisi petahanan hari ini bukan tidak tak terkalahkan. Ini pun disadari oleh tim ses petahana juga.
Kesimpulan (pertama)
Apakah analisa ini sesuatu yang baru? Tentu tidak, saiya yakin bahwa para pemain sudah membaca peta dan trend elektabilitas dari masing-masing partai dan tim pemenangan capres-wapres.
Trend yang ada adalah bahwa petahana dalam posisi konstan sementara penantang (Prabowo-Sandi) ada dalam jalur yang progresif.
Ini dapat difahami mengapa kemudian kita banyak melihat aksi-aksi benchmarking dari lembaga survey (padahal konsultan) untuk meletakkan angka-angka fantastis bagi petahana. Namun bila kita membaca hasil temuan kita atas data yang ada, maka capres wapres Jokowi-Amien itu belum lagi bergerak di angka 43% saja. Bagi petahana ini adalah angka yang mengkhawatirkan. Bila kita bandingkan dengan re-match SBY-Boediono di periodemilik pemerintah dan BUMN, kedua mereka, maka ia sudah mengantungi 62% dukungan publik. Jika mereka menang pun dengan modal di bawah 50% maka gelombang aksi dan penolakan akan dengan mudah mengganggu kerja pemerintahan. Pemerintah ke depan nantinya akan tersandera oleh legitimasi publik.
Sehingga kita mulai melihat munculnya survey-survey aneh. Seperti virus radikalisme di masjid kantor pemerintah dan BUMN dan sebelumnya ada survey tentang ustad terpopuler dan paling dipatuhi di Indonesia. Serta sikap politik umat islam yang tidak ikut di 212. Survey-survey ini jelas survey pesanan saja, apalagi ketika ia dengan gamblang menyasar kelompok pemilih umat Islam perkotaan.
Kelompok pemilih yang katanya sudah dikuasai petahana dengan baik. Namun survey-survey dan mitigasi dengan memblokade media massa utama itu jelas-jelas satu tindakan panik yang sebetulnya dapat kita fahami. Aksi reunited 212 kemarin saiya pikir akan menjadi bola salju yang cukup merisaukan dan sulit dibendung dengan mitigasi aksi biasa. Ia adalah aksi damai serba swadaya, Dimana tidak satu pun elit partai atau ormas yang dapat mengklaimnya. Ini sebuah pertunjukan politik massa umat Islam yang elegan dan karenanya sulit dinegosiasikan.
Bila nantinya opsi penggunaan operasi teritorial yang melibatkan aparatus negara diambil maka kita sedang masuk kepada politik leviathan. Pemanfaatan apa saja dari tentakel kekuasaan untuk mempertahankan diri.

Mencari titik kulminasi

Mencari titik kulminasi
Yang dibutuhkan peserta aksi reunited 212 adalah titik kulminasi.
Saiya bertemu dengan mereka-mereka yang dulunya apatis terhadap politik. Mereka yang barangkali dulu tidak terlalu mau ambil perhatian terhadap politik tetapi lebih kepada kerja teknis implementasi keberagamaan mereka. Mereka dulu sibuk dengan usaha-usaha pendidikan, sosialisasi dakwah, dan kerja sosial sebagai implementasi dakwah Islam menurut mereka. Sekarang pengurus serta anggota ormas seperti HTI, Persis, dan yayasan-yayasan pendidikan dan sosial Islam misalnya saiya lihat ada turut berpartisipasi di reunited 212.
Belum lagi kita hitung pengurus masjid-masjid di kantor, pabrik dan kampung perkotaan yang membawa serta jamaahnya turun ke sana. Selain tentu saja inisiatif perorangan yang jumlahnya berlipat kali lebih banyak.
Secara sosiopolitis ini tentu menggembirakan. Setelah sekian lama politik Islam direduksi bahkan dipisahkan (yang seringnya dikontrakan) dari ritus islam pelan-pelan bergerak menuju arah yang sama dengan cara yang ramah. Ada kesadaran baru jika apapun bentuk kerja keras kita bila ia tidak mampu melewati ganjalan politik maka ia hanya akan menjadi ide, konsep, dan hal-hal rutin belaja. Politik, kali ini mulai difahami sebagai jalan (sulthan) bagaimana gagasan besar tadi semakin mudah dikerjakan.
Di acara reunited 212 Monas lalu, misalnya kita dapat melihat bagaimana agenda framing yang dibuat kepada umat Islam (utama Islam kota) seperti; disusupi politik, cenderung anarki, anti-toleransi, serta berpotensi konflik, mengotori dan mengganggu lingkungan sama sekali tidak terbukti. Sebaliknya kita menyaksikan sebuah parade raksasa massa umat Islam Indonesia yang elegan dan sejalan dengan cara-cara yang demokratis.
Lebih jauh, para peserta dapat menunjukkan harmonisasi antara Islam sebagai sebuah keyakinan dengan sikap nasionalisme sebagai sebuah keniscayaan di negara majemuk seperti Indonesia. Kalimat Tauhid berpadu dengan elan kebangsaan saat menyanyikan Indonesia Raya. Belum lagi kita dapat menyaksikan bagaimana supporting-system yang self-sufficient dalam bentuk gotong-royong dalam hal konsumsi, logistik, keamanaan, dan kerapihan antar peserta bisa terjadi secara kompak.
Ini tentu hal yang positif, tetapi politik adalah politik. Artinya akan selalu ada usaha menegasikan sukses besar acara reunited 212 dengan segala cara. Ini karena bagaimana pun juga ada pihak yang merasa terancam dengan akumulasi massa sebesar itu. Yang bukan mustahil jumlah dan aksinya akan berlipat kali.
Sehingga mulailah kita membaca postingan dari mereka yang meragukan jumlah dengan -entah kenapa- menghitung jumlah luasan lahan di Monas. Membandingkan dengan jumlah jamaah haji (-what is the idea?-) sampai membenturkannya dengan jumlah istighosah NU Jatim. Seolah-olah massa ini adalah musuh dari NU, yang nota bene sebagian dari massa reunited 212 adalah bawaan dari lembaga-lembaga terafiliasi dengan NU. Ini bisa dilihat dari tokoh-tokoh NU di panggung utama.
Tentu saja, aksi reunited 212 ini membutuhkan kerja konkrit di lapangan. Artinya mengambil contoh 212 pada 2016 lalu yang sukses membangunkan awareness (kewaspadaan kepedulian) muslim Ibukota untuk bergerak ke kotak suara dan menjaga TPS-TPS, maka reunited 212 pun nantinya akan mengarah kepada titik kulminasi politiknya.
Pendekatan politik konflik tentu tidak dapat digunakan, mengingat para peserta reunited boleh dibilang hadir bukan karena tidak didorong oleh persoalan-persoalan ekonomi struktural dalam pengertian konflik perspektif Marxist. Mereka orang yang berpendidikan dan barangkali berpenghasilan besar. Jika kita melihat polanya, ini lebih kepada dorongan ke persoalan harga diri, marwah, dan kerinduan untuk umat Islam yang bersatu setelah selalu disudutkan sebagai umat dari kelompok ekstrimis, radikal, dan teror.
Tinggal dibutuhkan beberapa pemicu jika kita mengabaikan fakta politik ini. Ini karena persoalan kekecewaan dan bangkitnya harga diri umat Islam hari ini sepertinya sudah tidak dapat dinegosiasikan lagi. Adopt or Revolt, begitu nasehat Liem Sio Liong dulu kepada Pak Harto. Ketika politik Islam menguat di tangan kelompok menengah islam maka satu-satunya jalan adalah mengakomodasi merea, atau pilihan lainnya adalah revolusi.