Thursday, December 13, 2018

Dalam politik hanya Loyalitas yang dihargai

Dalam politik hanya Loyalitas yang dihargai
Seorang junior mengirimkan video yang katanya viral; La Nyalla mantan orang kuat di PSSI menyebut bahwa dirinya pernah melakukan black campaign dengan menuduh Jokowi Kristen, jokowi PKI pada pilpres 2014.
Itu semua dilakukan karena dulu ia ada di kubu Prabowo. Sekarang ia meminta maaf atas perbuatannya tersebut karena kini telah menjadi pendukung Jokowi.
La Nyalla pecah kongsi dengan Prabowo setelah pilpres dan memuncak pada perhelatan pilgub Jawa Timur. Ia yang sering dipanggil Cak -karena lebih dianggap sebagai orang Jatim daripada Bugis- menyebut bahwa dirinya siap potong leher jika Jokowi kalah.
Saiya tidak melihat ada hal darurat dalam pernyataan seperti itu. Ia, kehilangan loyalitasnya baik di mata kubu Prabowo dan Jokowi. Dengan mengakui bahwa dirinya pernah menjadi pelaku black campaign ia tidak menjadi lebih keren daripada buzzer hoax atau perawat situs palsu. Komitment siap potong leher pun kita faham hanyalah omong kosong dan omong besar. Yang bila kejadian atau tidak terjadi sama-sama tidak akan memberikan dampak elektabilitas atau memperkuat kepercayaan kepada dirinya. Hilangnya loyalitas dengan cepat menghapuskan kredibilitas.
Persoalan inti dari politik sebagai sebuah an applied theoritical game adalah bagaimana seseorang atau kelompok mengkapitalisasi apapun kesempatan, peluang, menjadi keuntungan diri dan kelompoknya. Sebab sifatnya yang oportunis dan advonturis inilah maka politik -yang sebenarnya bermakna segala cara untuk menemukan resolusi dan menghindari konflik - terstigmasi menjadi ilmu menghalalkan segala cara.
Sehingga di dalam sphere yang dibatasi adagium "Tidak ada teman abadi yang ada hanya kepentingan" maka satu-satunya nilai moral yang menjaganya hanyalah loyalitas.
Namun jika seseorang kehilangan loyalitas dalam politik, ia tidak memenangkan apa-apa.

0 comments:

Post a Comment