Wednesday, December 5, 2018

Membaca Reuni-ted 212; Perspektif Politik

Membaca Reuni-ted 212; Perspektif Politik
Hal yang tidak dapat dihindari dari aksi reuni -saiya lebih setuju menyebutnya reunited- 212 adalah fakta bahwa hari ini sebagian besar umat Islam yang diwakili oleh para peserta aksi sedang menunjukkan bentuk politik massa yang elegan.
Mengumpulkan ratusan ribu atau jutaan orang di jantung Ibukota dengan tertib, teratur, terorganisir, bersih, swadaya dan berwibawa bukan lagi persoalan massa aksi politik biasa, ini adalah sebuah bahasa baru dari politik umat Islam Indonesia. Gerakan seperti ini merupakan manifestasi jenis politik baru.
Tidak satu pun partai-partai politik, LSM, serikat tani-buruh, ormas dan organ Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Majlis Tabliq atau dzikir yang berani mengklaim bahwa mereka adalah pencetus jumlah aksi massa kemarin. Aksi sukarela yang didorong oleh keinginan berpartisipasi baik bermotifkan membela agama, politik, ekonomi, atau sekedar wisata bersama keluarga ini tidak lagi dapat didekati dengan teori politik massa aksi biasa.
Beberapa alasan untuk itu adalah;
Pertama, gerakan ini muncul bukan dengan memajukan agenda partai, ormas atau kandidansi presiden sekalipun. Mereka yang hadir di arena minggu 2 Desember 2018 kemarin akan menjawab pertanyaan seragam; bahwa mereka terharu, kagum, dan kadang-kadang tercengang bahwa umat Islam dapat menyuarakan aspirasi "diam" nya dalam sebuah aksi masif yang elegan.
Partisipasi publik dengan menyediakan konsumsi bagi para peserta, terbukanya pintu-pintu masjid, yayasan dan rumah-rumah warga untuk menampung peserta dari tempat jauh, serta pasukan penjagaan dan sapu bersih yang bekerja mengawasi keindahan dan kebersihan lokasi adalah satu wujud kesadaran dan kedewasaan dari politik non-anarkis. Sekaligus menunjukkan jika aksi kemarin bukan lagi persoalan politik elite tetapi sudah merupakan gerakan massa rakyat.
Kedua, dari segi partisipan, jumlah ini melampau dari aksi 212 tahun 2016 lalu. Artinya ia sebagai sebuah bola pembuka telah membesar dengan efek bola saljunya. Ada lebih banyak orang yang dahulunya tidak hadir dengan sukacita merekatkan dirinya sebagai bagian dari "alumni". Tentu saja bola ini akan memberikan efek semakin besar dengan tentu saja tetap dalam koridor aksi demokratis yang bertanggungjawab.
Ketiga, agenda penistaan agama, isu perpecahan atau aksi yang akan disusupi ISIS, khilafah, atau wahabi untuk menciptakan perpecahan dan Suriahnisasi Indonesia sama sekali tidak terbukti. Banyak peserta yang hadir membawa keluarga, anak kecil dan balita dalam kereta-kereta dorong. Ini lebih mirip kemping keluarga besar umat Islam Indonesia daripada sebuah aksi politik.
Keempat, isu anti toleransi dan anti kebhinekaan dipatahkan dengan bergemanya lagu Indonesia raya diiringi kibaran bendera Tauhid dan sang saka merah putih. Semua yang hadir merasakan satu bentuk nasionalisme religius di padang Monas yang tidak dapat dipungkiri.
Isu bahwa bendera tauhid adalah bendera ISIS dengan tujuan negara Islam dirobohkan dengan komitmen jika kumpulan manusia di monas memiliki satu tujuan bersama yaitu menjaga Indonesia Raya baru dengan moralitas baru.
Kelima, gerakan ini tidak lagi dapat ditawar dan dinegosiasikan. Pada aksi pertama, satu negosiasi di Istana telah dibocorkan ke publik dengan tujuan menggembosi aksi tadi sebagai aksi dengan agenda framing satu dua kelompok kepentingan saja. Namun kali ini jelas jika tidak satu pun the so called "tokoh-tokoh" yang hadir di sana berani lagi mengatasnamakan aksi 212 untuk mengajukan negosiasi kepentingan politiknya.
Artinya tidak ada pilihan lain bagi pemerintahan hari ini, karena bentuk aksi 212 kemarin tidak lagi dapat disederhanakan dengan pendekatan mitigasi aksi dengan menyebut gerakan tadi disusupi, didanai donor tertentu, diselepi elemen anti demokrasi dan intoleransi.
Kita melihat jika tidak ada dari aksi besar ini kehendak mendapatkan perhatian pemerintah sebagaimana aksi-aksi jalanan lain pada umumnya. Kepergian Jokowi ke luar kota untuk mendadak menjadi teknisi PLN sama sekali tidak lagi menjadi masalah besar dan menyinggung perasaan mereka. Aksi ini lebih mirip kepada apatisme ada atau tidak ada pemerintahan hari ini semakin tereduksi kewibawaannya.

0 comments:

Post a Comment