Tuesday, December 18, 2018

Qadha dan Qadar

SEMUA orang paham enam rukun iman. Ada enam pilar iman: Iman kepada Allah, iman kepada para malaikat Allah, iman kepada kitab Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada para utusan Allah, iman kepada hari akhir, dan yang terakhir, iman kepada qadha dan qadr.
'Qadha' artinya ketetapan Allah, dan 'qadr' artinya kadar dari ketetapan tersebut.
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadr (ukuran)" (QS Al-Qamar [54]: 49)
Takdir, sedikit berbeda. Takdir adalah jatuhnya, atau terjadinya, ketetapan Allah dengan kadarnya (qadha dan qadr) tersebut.
Konon katanya, tanpa keimanan kepada enam hal itu, statusnya sebagai muslim 'nggak sah'.
Nah. Pernah merenungkan nggak, yang kita kira paling gampang -- bahkan paling jarang disimak atau dibahas-- yaitu iman kepada qadha dan qadr tadi, justru keimanan yang paling susah?
Iman kepada ketetapan Allah dan kadar ketetapan tersebut, itu sungguh-sungguh tidak mudah memahaminya. Itulah sebabnya, muslim yang sungguh-sungguh beriman kepada qadha dan qadr ini relatif sedikit. Bener. Sedikit sekali muslim yang sudah meraih keimanan terhadap qadha dan qadr ini.
Iman kepada qadha dan qadr itu, implikasinya misalnya, bahwa kita iman sepenuhnya kalau kita nggak ganteng dan nggak cantik, dengan kadar warna kulit sekian dan kemancungan hidung sekian, itu adalah murni kebaikan Allah untuk kita, dan telah dihitung dan dikadar-Nya dengan sangat cermat -- bahkan sejak sebelum alam semesta ada.
Iman bahwa kalau kita nggak kaya, kalau kita sakit, kalau kita gagal, kena musibah mungkin -- itu adalah murni kebaikan, rahmat dan perlindungan Allah untuk kita.
Sebagian besar manusia malah menggerutu sejak bangun tidur sampai pergi tidur. Ngaca, dan melihat kok saya nggak cantik, lalu mengeluh. Mandi, mengeluh karena harus kerja. Berangkat mengeluh karena jalanan padat. Di kantor, mengeluh karena kerjaan. Siang mengeluh karena terik. Sore mengeluh karena hujan. Pulang, mengeluh karena macet. Tidur pun mengeluh karena capek. Ia kecewa dengan ketetapan yang harus dilaluinya hari itu. Lalu, ia menyalahkan dirinya, orang tuanya, keadaan, kondisi, negara, gubernur, presiden, yang 'gara-gara itu' saya jadi begini.
Begitulah hidupnya: ia menjalani setiap hari dalam hidupnya dengan keluhan. Ada saja sisi hidupnya -- atau tepatnya pemberian Allah untuk dirinya -- yang dia keluhkan. Begitulah hidupnya sampai mati.
Jangan bicara 'iman terhadap qadha'. Sebagian besar kita bersikap seakan-akan ketetapan dan kadar Allah yang Dia turunkan pada kita setiap saat, adalah salah. 'Harusnya nggak gitu'.
Sebenarnya, mengeluh, meskipun dalam hati, itu urusannya aqidah. Dengan Allah langsung. Itu sikap yang seakan-akan menunjuk kepada Allah bahwa Dia 'salah ngasih'. Dia keliru. 'Pelayanan-Nya' terhadap kita nggak bagus.
Guru saya selalu bilang, kalau dosa lainnya, Beliau bisa mendoakan, memohonkan ampunan. Tapi kalau dosa karena mengeluh, walaupun dalam hati, Beliau nggak bisa. Sebab keluhan itu artinya sama dengan menyatakan bahwa kebijakan-Nya terhadap kita adalah salah. Mengeluh itu seperti menunjuk hidung Allah ta'ala.
Lha, kalau segala sesuatu dalam hidup kita adalah qadha dan qadr-Nya, ketetapannya, terus gimana? Hidup kan harusnya penuh perjuangan dan usaha keras?
Nah. Bukan berarti kita harus pasrah dengan keadaan, atau membiarkan diri terbawa arus kehidupan tanpa usaha bangkit. Bukan gitu. Berusaha pindah ke takdir lain, adalah persoalan lain. Tapi aqidah awalnya adalah, terima dulu bahwa segala sesuatu yang sampai ke kita, itulah qadha Allah. Dan dalam qadr dari-Nya. Jika kita menghendaki takdir yang lain, tentu saja boleh. Mintalah, berbuatlah. Tapi aqidahnya, yang pertama, terima dulu. Sadari dulu siapa yang berada di balik apa-apa yang kita terima.
Jangan bersikap seakan-akan apa yang terjadi adalah salah, harusnya nggak gitu, dan di luar pengetahuan-Nya. Seakan-akan apa yang terjadi adalah 'gara-gara si anu'. 'Si anu' itu adalah jalan kejadian ketetapan-Nya saja.
Kalau kita sudah mengerti bahwa apapun yang kita alami adalah di bawah qadha dan qadr dari-Nya, dan --demi kebaikan kita sendiri-- (*) baru kita akan sujud. Dan setelah itu, untuk minta dipindahkan ke qadha dan qadr yang 'lebih enak' pun, kita sujud lagi. Kita minta. Baru kita akan lihat bahwa Dia sungguh-sungguh turun dan berperan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kalau kita nggak pernah menyaksikan bahwa Dia ada dan mengabulkan doa persis sebagaimana yang kita minta, gimana cara mengimani-Nya? Padahal ini adalah rukun iman pertama.
Dia ada. Hadir. Bukan sekedar konsep yang jauh tenggelam di dalam kitab-kitab suci, yang nggak terjangkau. Setidaknya, kita akan berhenti mengeluh, dan mulai berdoa sungguh-sungguh.
(*) ini panjang banget pembahasannya, jadi jangan nanya persoalan takdir Gak akan bisa dibahas di sini.

0 comments:

Post a Comment