Saturday, December 22, 2018

Tentang Negara Punah, dan Negara Fine-fine saja

Tentang Negara Punah, dan Negara Fine-fine saja
Hal yang menarik dari sebuah pendapat adalah sejauh mana pemiliknya mempertanggungjawabkannya. Saiya memperhatikan jika pada hal ini kita tidak tertib dan tumaninah (teratur).
Beberapa pesan tertutup masuk dan mempertanyakan perihal apa saja dari persoalan mengundang narsum training, sumbangan proposal sampai hal-hal tidak penting seperti orang menawarkan apartemen baru di sekitar perempatan Cawang.
Satu, dua yang baru masuk adalah pertanyaan seputar muslim Uighur dan Negara Punah dari Prabowo. Pertanyaan itu sebenarnya bukan murni bertanya, hanya pendapat tentang pendapat.
Pertanyaan pertama:
Apakah negara bisa punah. Jika Prabowo Subianto kalah di pilpres? Padahal Prabowo beberapa kali gagal nyapres negara fine-fine saja.
Pertama menjawab pertanyaan di atas tentang perihal negara bisa punah, maka jawabannya bisa. Ada ratusan atau mungkin ribuan contoh dari lahir, tumbuh, dan matinya sebuah bangsa, umat, negara, atau peradaban. Ini hukum besi sejarah sebagaimana ditulis Tuan Khaldun, Bismarck, Toybee, dan lain-lainnya itu.
Apa dan bagaimana sebuah nagari bisa bertahan lama (dengan aneka varian dan perubahan-perubahan) adalah pertanyaan klasik yang lama dikaji pemikir filsafat dan sosiologi sejak masa lampau. Beberapa faktor dirumuskan para ahli tersebut dan mencakup antara lain; nagari butuh gagasan, visi, keadilan semesta, hukum ditegakkan, keamanan dijaga, rakyat yang cinta dan dicintai pemimpinnya, kekayaan dan kemakmuran, serta kemampuan beradaptasi.
Max Weber mengatakan jika sukses atau gagalnya transformasi sebuah nagari itu ditentukan oleh dua hal saja; Kepemimpinan (leadership) dan karisma.
Pidato Prabowo itu disampaikan disebuah forum yang sebenarnya eksklusif, dalam sebuah acara kepartaian. Ia menjadi retoris karena diimbuhkan frasa bersyarat. Jika kalah maka hancur. Sebetulnya ada atau tidak ada syarat ini pun hukum kepunahan itu akan berlaku juga. Sebab dia hanyalah sebuah syarat cukup (necessary) bukan syarat wajib (compulsory).
Jika dihubungkan dengan syarat-syarat lain yang salah satunya dimunculkan Weber, maka pidato tadi barangkali merujuk kepada syarat perlu dari langgengnya sebuah nagari yaitu kepemimpinan dan karisma. Bila mengacu kepada syarat Ibn Taimiyah maka syarat pemimpin kharismatik itu menjadi wajib. Mana yang benar, tergantung kepada madzhab mana kecenderungan kita.
Nah menjawab pendapat kedua; apakah negara hari ini fine-fine saja, maka saiya jawab tentu tidak fine.
Pertama misalnya pada kasus proyek jalan trans-Papua UP4B (unit presiden untuk percepatan pembangunan papua dan papua barat) yang diinisiasi Presiden SBY sudah sejak awalnya melibatkan TNI sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam implementasinya, terjadi pembunuhan sistemik terhadap 31 orang pekerjanya.
Anda bisa membayangkan sebuah jalan yang pelaksanaannya diawasi TNI tetapi para pekerjanya masih bisa diburu dan dibunuh oleh gerakan separatis Papua. Ini tentu satu operasi militer yang nekat sekali, bukan sekedar aksi kriminal biasa.
Sekali lagi sebuah aksi pembantaian pekerja proyek yang diawasi tentara dan tempo hari diklaimaman karena sudah dilintasi presiden Jokowi dengan foto yang viral.
Bagaimana logikanya bila semua kita anggap fine-fine saja.
Kedua, apa anda tidak merasa aneh bila persoalan komplek yang terjadi di Papua dengan ujung pembunuhan 31 pekerja itu ditutupi pemerintah dengan gembar-gembor berita suksesnya negosiasi mengambil mayoritas kepemilikan Freeport?
Where is logic.... sebuah perusahaan sebesar Freeport yang lewat intuisi bisnisnya saja sudah melihat adanya potensi ledakan besar masalah keamanan di Papua sudah mulai mengendorkan resiko kepemilikannya. Padahal kita sadar jika syarat aman adalah nomor satu dari iklim bisnis maka untuk apa tindakan tadi. Di sisi lain ada fakta ancaman distabilitas keamanan di Papua dengan dibantainya 31 orang di proyek dan kini sebuah operasi terpadu dilakukan untuk mengembalikan iklim tadi.
Lalu kita di Jawa berkata semua fine-fine saja, negara aman-aman saja.
Udah pada gila

0 comments:

Post a Comment