Friday, December 21, 2018

Uighur dan Realitas Media

Uighur dan Realitas Media
Sebagaimana dulu orang ramai #Save Syria, Save Allepo, Save Ghouta, dan Save-save lainnya, saiya masih dalam usaha mendapatkan informasi langsung di lapangan terkait #Save Uighur.
Tentu saja jika alasannya membela sesama muslim, ada kasus nyata tiga tahun perang asimetris dan blokade ekonomi atas Yaman oleh Saudi Arabia yang kini telah dinyatakan PBB menyebabkan krisis kemanusiaan terparah. Respon kita atas tindakan Saudi dan koalisi dukungan AS-Inggris-Prancis yang melanggar piagam PBB (Intervensi ke negara berdaulat) tidak seheboh aneka save-save tadi.
Kata Uighur dan orang Uighur (Xinjiang Timur) baru saiya dengar dalam pembahasan di kantor GIGA Hamburg, kira-kira tahun 2012. Pemapar dari pemerintahan Suriah mengatakan dari info intelejen kurang lebih 20-30 ribu etnis Turki Cina (Uighur) yang terlibat dalam konflik bersenjata di Suriah. Kelompok mereka dikoordinir oleh semacam grup bersenjata yang terafiliasi dengan Al Qaeda. Kemampuan mereka berbahasa Turki, Rusia dan Cina membuat kelompok Uighur menjadi salah satu favorit dari proses rekruitmen milisi asing di Suriah.
Baru di tahun 2014, pemerintah Cina mulai mengirimkan pengamat militer mereka ke Suriah setelah beberapa konflik yang diinisiasi kelompok salafi di Xinjiang Uighur mendorong gerakan separatisme Uighur merdeka dengan basis pemerintahan a la ISIS. Pemerintah Cina memberikan otonomi khusus bagi provinsi beretnis mayoritas keturunan Turki ini. Mereka melihat jika konflik di Suriah membawa semacam genre baru orang Uighur yang lebih militan dan mereka memiliki pengalaman konflik bersenjata. Jumlah mereka kecil saja dibanding mayoritas orang Uighur yang menerima sistem otonomi khusus.
Cina, menurut Tuan Dong, memiliki alasan untuk memperhatikan persoalan kembalinya para milisi jihadis dan salafis ini sebagai ancaman nasionalnya. Ditambahkan jika isu separatisme Uighur, yang memang baru tahun 1949 masuk ke teritorial Cina Raya selalu dapat menjadi pintu masuk dari konflik di sana.
Sebenarnya sama halnya dengan ketika terjadi konflik yang bermula dengan the so called Arab Springs di Suriah dan Irak. Saiya mengambil jarak untuk segera menjatuhkan penilaian. Baru setelah diundang Kementerian Luar Negeri Jerman dan beberapa kampus dalam rangka diskursus negosiasi untuk bertemu beberapa sumber dari negara-negara berkonflik saiya sedikit menemukan perspektif berbeda.
Pertama, mirip dengan kondisi Aceh di era Soeharto sampai Megawati. Bahwa ada kelompok yang ingin membawa kemerdekaan Aceh, dan ada kelompok yang hanya menginginkan otonomi seluas-luasnya di bawah persatuan Indonesia. Mirip dengan komposisi pemain dalam konflik-konflik di Uighur. Ada yang so-so, ada yang tidak peduli, ada yang radikal, dan ada yang biasa-biasa saja.
Kedua, pemerintah Cina mengamati jika kelompok pertama (yang selalu menginginkan pemisahan) memperoleh tenaga baru dari kelompok yang mendomplengnya lewat isu syariat (islam). Mereka adalah kelompok yang terindikasi memperoleh pelatihan di kamp-kamp jihadis di Turki dan Suriah.
Ketiga, isu tentang kamp konsentrasi, pembunuhan, dan penyiksaan kelompok Uighur oleh aparat kepolisian dan militer Cina mungkin saja terjadi. Sama halnya dengan kekerasan terhadap kelompok yang dianggap separatis di Papua.
Seperti halnya OPM, pemerintah Cina sejak lama berkonflik dengan kelompok bersenjata di Uighur, Dua kelompok utama adalah TIP dan ETIM (Gerakan Pembebasan Turki Timur).
Keempat, isu Uighur diangkat serupa dengan isu #Save Suriah di tahun 2012. Jika dilacak maka trend ini berkembang setelah negosiasi Allepo Suriah Utara dn Qunaitra, Suriah Barat Daya pada 2016 dan 2018. yaitu ketika militer Suriah setuju memindahkan jihadis ke wilayah Idib (Suriah Timur) dan mengakomodasi pengembalian beberapa ratus milisi Uighur ke perbatasan Turki.
Pemerintah militer Turki menolak mereka untuk tinggal di wilayah zona penyangga di Suriah (Idlib) dan Manjid yang dikuasai militer Turki. Kemungkinan besar milisi ini kembali ke Uighur difasilitasi pemerintah Turki.
Kelima, media massa mainstream (MSM) adalah mereka yang ada dibalik berkembangnya isu keamanan nasional Cina ini menjad "seolah-olah" isu umat Islam.
Keenam, masih dalam rangka memeriksa kemungkinan destabilisasi geoekopolitik hankam Cina lewat isu Uighur, maka saiya melihat jika pengembangan Isu save Uighur lewat media massa dan media sosial yang gencar ini tidak akan bertahan lama.
Alasan-alasannya akan kita paparkan besok saja.....

0 comments:

Post a Comment