Sunday, December 16, 2018

ZIARAH SEBAGAI MESIN WAKTU

ZIARAH SEBAGAI MESIN WAKTU
Saat Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah, seluruh kaum Anshar menginginkan jika unta Nabi pertama kali berhenti di halaman rumah mereka. Sayangnya, tak mungkin semua orang mendapatkan keberuntungan tersebut. Dan orang yang beruntung hari itu hanyalah Khalid bin Zaid, alias Abu Ayyub al Anshari. Selama beberapa bulan, sebelum punya tempat tinggal sendiri, Rasulullah akhirnya tinggal di rumah Abu Ayyub.
Ada banyak kisah tentang kesetiaan dan keluhuran budi Abu Ayyub radiallahu anhu. Kita bisa menitikan air mata jika membacanya kembali. Ia selalu menyertai Rasulullah dalam semua peperangan. Bahkan, hingga usia senjanya, ia tak segan untuk ikut mengangkat senjata, hingga akhirnya ia meninggal di Konstantinopel pada sebuah perang di zaman Muawiyah.
Saat Rasulullah masih hidup, suatu kali Abu Ayyub pernah mendengarnya bersabda, bahwa Kostantinopel akan jatuh ke tangan tentara Islam, dan rajanya akan menjadi sebaik-baik raja, serta tentaranya adalah sebaik-baik tentara.
Perkataan Rasulullah itu sangat mempengaruhi Abu Ayyub. Ia percaya jika suatu saat Konstantinopel akan bisa dikuasai kaum muslimin. Dan ia turut berlomba mewujudkan hal itu. Ia ingin turut menyiarkan Islam hingga ke Konstantinopel.
Konstantinopel adalah sebuah kota yang sangat penting karena letaknya yang sangat strategis. Peradabannya, sejak zaman kuno, sudah sangat maju. Tak heran, Napoleon pernah menyebut seandainya bumi ini hanya terdiri dari satu negara, maka Konstantinopel akan menjadi ibukotanya. Kota Konstantinopel tak lain adalah Istambul kini.
Pada zaman kehalifahan Muawiyah, ia melakukan ekspansi ke Konstantinopel. Pada saat itulah Abu Ayyub syahid. Ia meninggal tahun 674. Sesuai dengan permintaannya, ia kemudian dimakamkan di Konstantinopel, di luar bentengnya yang megah dan legendaris itu.
Saat Konstantinopel berhasil ditaklukan oleh Sultan Muhammad II pada tahun 1453, yang membuatnya diberi gelar Al Fatih, sang penakluk, Sultan sangat terkesan dengan kisah Abu Ayyub al Anshari. Itu sebabnya, ia berusaha menemukan makam sahabat Rasulullah tersebut.
Banyak orang mengatakan jika Sultan Muhammad Al Fatih merupakan figur yang sangat sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad).
Al Fatih bukan hanya cakap dalam bidang militer, ia juga menguasai matematika, sains, dan bisa bicara dalam 6 bahasa. Ia adalah sosok yang sangat intelek. Dan ia sangat mengagumi Abu Ayyub al Anshari. Itu sebabnya ia meminta kepada orang-orang alim untuk mencari dan menemukan makam Abu Ayyub.
Sesudah makam Abu Ayyub ditemukan, Sultan Muhammad al Fatih membangunkan sebuah masjid di samping makam tersebut. Masjid ini, yang kemudian dikenal sebagai Masjid Abu Ayyub al Anshari, merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Kesultanan Turki Ottoman setelah penaklukan Konstantinopel di tahun 1453. Bisa disebut ini adalah masjid pertama di Istambul, sebuah kompleks masjid yang dibangun di luar dinding-dinding kota Konstantinopel yang megah.
Masjid tersebut bukan hanya menjadi tempat ibadah yang ramai. Pada zaman kejayaan Ottoman, di masjid inilah dahulu para sultan dilantik dan disahkan dengan sebilah pedang milik Usman bin Affan radiallahu anhu. Masjid tersebut masih berdiri megah hingga kini.
Saya beruntung kemarin bisa mampir shalat Ashar di masjid tersebut, sembari ziarah ke makam Abu Ayyub al Anshari. Suasanya khusyu dan tenang. Udara musim dingin membuat orang jadi lebih khusyu berdoa.
Di lokasi pertama tempat ditemukannya makam Abu Ayyub, sebelum dipindahkan ke tempat yang sekarang, terdapat sumber air yang jernih yang digunakan oleh orang-orang yang ziarah untuk minum, membasuh muka, hingga berwudhu. Sehabis wudhu di luar, saya ikut mencicipi sumber air tersebut.
Ziarah adalah sebuah historical journey. Kita seperti dibawa ke masa lalu saat berziarah. Saya kira itu juga yang membuat kenapa ibadah haji penting untuk ditunaikan. Berhaji, selain merupakan sebuah spiritual journey, juga adalah semacam historical journey. Kita diajak kembali kepada fragmen-fragmen sejarah yang pernah ditinggalkan oleh Nabi Adam, Ibrahim, dan tentu saja Rasulullah SAW sendiri. Melalui ziarah sejarah itu kita disadarkan bahwa masa kini peradaban berhulu ke banyak peristiwa di masa lalu.
Sesudah beberapa kali pernah mengunjungi makam sahabat dan keturunan Rasulullah, terus terang saya jadi ingin pergi haji. Entah kapan bisa terwujud.
Labbaik Allah Humma Labaik...

0 comments:

Post a Comment