Thursday, May 16, 2019

Parallel Processing untuk Entrepreneur

Parallel Processing
“Pa, minta saran dong. Papa waktu itu bilang latihan untuk kerja pararel. Mulai ngelatihnya dari mana?”
Pesan WA di atas dikirim oleh sulung saya beberapa waktu yang lalu, saat saya sedang nonton film “Resurrection Ertugrul” di Netflix. Sontak saya pause aplikasi Netflix yang sedang saya tonton dan segera WA call ke Reza. Rupanya Reza sedang berpikir keras bagaimana caranya melakukan “parallel processing” yang sering saya nasehatkan ke dia dalam beberapa waktu belakangan ini.
Sejak dia memutuskan ingin menjadi seorang entrepreneur, saya memang sering mewanti-wanti dia untuk bisa bekerja secara paralel, mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Dalam dunia entrepreneurship yang penuh ketidakpastian, bekerja secara paralel adalah sebuah kemestian. Dalam satu hari kita bisa dihadapkan pada berbagai masalah secara bersamaan, dan semuanya harus bisa diputuskan hari itu juga. Tanpa kemampuan parallel processing, kerja kita jadi sangat lambat, dan kita akan kehilangan banyak sekali peluang bisnis.
Tentu saja Reza sangat mau mengikuti nasihat saya. Tapi dia masih bingung, bagaimana caranya? Mana mungkin pada saat yang bersamaan otak kita memikirkan 2 atau lebih permasalahan sekaligus?
Saya paham apa yang Reza pikirkan. Ketika baru mulai masuk dunia kerja, saya juga tidak kenal apa itu “parallel processing”. Sebagai karyawan baru, kata sakti yang saya pegang teguh saat itu adalah “fokus”. Kalau diberi tugas oleh bos misalnya, saya akan fokus dan mengkonsentrasikan segala daya upaya untuk menyelesaikan tugas tersebut secara tuntas. Di situlah “fokus” menjadi mantra yang sangat penting. Artinya, kita hanya bisa bekerja secara serial, dan tidak bisa paralel. Saat itu saya sama sekali tidak terpikir bisa melakukan beberapa hal sekaligus. Saya hanya bisa mengerjakan satu hal saja pada saat yang sama.
Ketika karir semakin naik, tentu saja “fokus” masih tetap penting. Tetapi definisi fokus mulai bergeser. Fokus tidak lagi berarti hanya mengerjakan 1 hal pada saat yang sama, tapi lebih ke pilihan strategi bagaimana sebuah misi harus dijalankan. Arti fokus sudah bergeser dari level operasional menjadi level strategis. Karena dalam level operasional kita masih harus mengerjakan/memikirkan beberapa hal sekaligus. Di situlah saya mulai akrab dengan mantra baru, yaitu “parallel processing”.
Ketika memutuskan terjun menjadi entrepreneur, ternyata “parallel processing” ini makin penting. Banyak hal yang harus dikerjakan pada saat yang sama. Mulai dari menerima komplain dari customer, menyiapkan bahan presentasi, meeting dengan mitra, dan lain-lain. Sebagai sebuah start-up, tentu saja itu semua harus dilakukan sendiri, dan tidak bisa didelegasikan ke orang lain. Alhasil kemampuan melaksanakan pekerjaan secara parallel processing menjadi sangat penting.
Kembali ke laptop. Bagaimana kita bisa melatih diri kita supaya bisa melakukan “parallel processing”? Apakah otak kita bisa memproses beberapa hal sekaligus dalam waktu yang sama?
Pertanyaan mendasar dari Reza itu membuat saya juga bertanya-tanya, benarkah otak kita bisa bekerja secara paralel? Jangan-jangan sebenarnya parallel processing itu tidak ada. Pada saat yang sama, secara serial otak kita hanya mengerjakan 1 hal saja. Tetapi karena semuanya dikerjakan secara cepat, maka ketika satu masalah sudah dapat diselesaikan maka otak kita bisa segera mengerjakan hal yang lain dengan cepat pula. Begitulah otak kita bekerja secara terus-menerus, dari satu masalah ke masalah yang lain dengan cepat. Dalam 1 hari beberapa masalah dapat diputuskan, sehingga yang terlihat adalah kita bisa bekerja secara parallel processing. Padahal kalau di-zoom out, yang terjadi sebenarnya tetap saja serial processing, tapi dilakukan secara cepat dan berpindah dari satu masalah ke masalah yang lain.
Kembali ke pertanyaan Reza, bagaimana melatih parallel processing? Yang dapat dilatih menurut saya adalah kemampuan bekerja secara cepat dan kemampuan mengambil keputusan secara cepat pula. Kemampuan bekerja secara cepat membutuhkan beragam skill yang harus dilatih, sementara kemampuan mengambil keputusan membutuhkan sikap dan mindset yang tepat, sehingga kita bisa mengambil keputusan-keputusan secara cepat pula.
Bagaimana menurut Anda?
Salam,
Hari

Monday, May 6, 2019

I'tikaf di Bandung

Sepuluh malam terakhir ramadhan memang menjadi incaran muslim untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkannya adalah dengan melaksanakan i'tikaf di masjid.
Beberapa masjid menyelenggarakan i'tikaf secara resmi, bahkan memakai pendaftaran karena banyaknya jama'ah yang ingin melaksanakan i'tikaf. Akibatnya kapasitas masjid tidak lagi cukup untuk menampung jumlah jamaah yang i'tikaf. Misalnya di Masjid Habiburrahman, IPTN. Jamaah i'tikaf sampai meluber bikin tenda di luar masjid (jadi i'tikaf ngga ya?).
Masjid lain yang cukup penuh yaitu Masjid Salman ITB dan Masjid Pusdai. Setiap jamaah harus daftar untuk mendapatkan spot tempat tidur dan jatah sahur/buka yang pasti. Kalau tidak daftar, ya akan kerepotan untuk mencari tempat rehat di sela-sela ibadah.
Dulu sekali, pernah jalan kaki bersama anak dari rumah mertua di titiran dalam ke pusdai. Sampai sana, cari-cari spot untuk anak istirahat ngga nemu akhirnya jalan balik ke Masjid Al Manar, Jl. Puter. Saking penuhnya.
Lalu Masjid Al Ukhuwah sempat jadi favorit tempat i'tikaf karena kalau malam-malam ganjil selalu ada bimbingan i'tikaf. Baca do'a dipimpin oleh seorang ustadz. Lalu shalat malam berjama'ah. Kantin pun biasanya buka. Tapi kalau malam genap, kantin ngga buka dan agak susah juga cari makanan sahur di sekitarnya. Hanya ada satu rumah makan padang yang buka di dekat masjid.
Sempat cari-cari lagi masjid yang agak dekat rumah. Masjid Al Aniah di Bumi Sariwangi biasanya ada yang i'tikaf kalau malam ganjil. Tapi kosong, bisa sendirian saja kalau malam genap. Jadi meskipun kadang dapat sahur, akhirnya ngga jadi pilihan karena malam genap mah ngga ada orang sama sekali.
Masjid dekat rumah apalagi. Kalau yasinan malam Jum'at selalu jadi kegiatan rutin, tapi urusan i'tikaf ngga pernah ada. Pernah coba satu malam di masjid dekat rumah karena ada sekelompok remaja yang ngumpul di masjid sampai malam. Ternyata jam 12 malam mereka pergi. Akhirnya sendirian lagi sampai sekitar jam 3 malam, setelah berdatangan jamaah untuk shalat malam.
Masjid yang jadi pilihan saat ini adalah Masjid Al Murabbi, Setra Sari. Pengunjungnya cukup banyak baik di malam genap maupun ganjil. Selain itu disediakan makan sahur dan berbuka gratis asalkan daftar sebelum jam 11 malam.
Imam-imamnya pun masih muda. Bacaan bagus, doa-doanya juga bagus, menyentuh hati meskipun ngga ngerti.

Sunday, May 5, 2019

ANDA ANGGAP RASULULLOH ITU MANUSIA BIASA ???

Sayidah Aminah berkata, “Ketika aku mengandung “Kekasihku” Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, di awal masa kehamilanku, yaitu bulan Rajab.
Suatu malam, ketika aku dalam kenikmatan tidur, tiba tiba masuk seorang laki-laki yang sangat elok parasnya, wangi aromanya, dan tampak sekali pancaran cahayanya.
Dia berkata, “Marhaban bika Ya Muhammad (Selamat datang untukmu Wahai Muhammad)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab “Aku Adam, ayah sekalian manusia”
“Apa yang engkau inginkan?”
“Aku ingin membawa kabar gembira. Bahagialah engkau wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Sayyidil Basyar” (Pemimpin Manusia)”
Pada bulan kedua datang seorang laki-laki, seraya berkata, “Assalamu’alaika Ya Rasulallah (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Tsits”
“Apa yang engkau inginkan”
“Aku ingin menggembirakanmu, bergembiralah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibut Ta’wil wal Hadits” (Pemilik Ta’wil dan Hadits)”
Pada bulan ketiga datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Nabiyallah (Salam untukmu wahai Nabi Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Idris”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyir Ro-iis” (Nabi Pemimpin)”.
Pada bulan keempat datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Habiballah (Salam untukmu wahai Kekasih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Nuh”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibun Nashri wal Futuh” (Pemilik Pertolongan dan Kemenangan)”.
Pada bulan kelima datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya shafwatallah (Salam untukmu wahai Sahabat Karib Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Hud”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bergembiralah wahai ibu Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibusy Syafa’ah fil yawmil Masyhud” (Pemilik Syafaat di Hari persaksian/ Hari kiamat)”.
Pada bulan keenam datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Rohmatallah (Salam untukmu wahai kasih sayang Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Ibrohim AlKholil”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Jalil” (Nabi yang Agung)”.
Pada bulan ketujuh datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya manikhtaarohullah” (Salam untukmu wahai orang yang telah dipilih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isma’il Adz-Dzabih (Yang disembelih)”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Malih” (Nabi yang Elok)”.
Pada bulan kedelapan datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Khirotallah” (Salam untukmu wahai pilihan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Musa putra Imran”
“Apa yang engkau inginkan”
“Kabar gembira Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Man Yunzalu ‘alaihil Qur’an” (Orang yang akan diuturunkan padanya Al-Qur’an)”.
Pada bulan kesembilan, yakni bulan Robi’ul Awwal, datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Rosulallah” (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isa putra Maryam”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Mukarrom wa rosulil mu’adhom” (Nabi yang dimuliakan dan Rasul yang diagungkan)”.
Syaikh Nawawi Banten, Maulid Ibriz, hlm 17-19.
Detik-detik Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Robi'ul-Awwal) saat hari-hari kelahiran Nabi Muhammad saw sudah semakin dekat, Alloh swt semakin melimpahkan bermacam anugerah-Nya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Robiul-Awwal malam kelahiran Al-Musthofa Muhammad saw.
Pada Malam Pertama (ke 1) :
Alloh swt melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Pada malam ke 2 :
Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad saw yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Alloh swt.
Pada malam ke 3 :
Datang seruan memanggil :
“Wahai Aminah … sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rosululloh saw yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Alloh swt.”
Pada malam ke 4 :
Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan jelas.
Pada malam ke 5 :
Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Alloh Ibrohim as.
Pada malam ke 6 :
Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad saw memenuhi alam semesta.
Pada malam ke 7 :
Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira sehingga kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak.
Pada malam ke 8 :
Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan jelas mengumandangkan :
“Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat kelahiran Nabi agung, Kekasih Alloh swt Pencipta Alam Semesta.”
Pada malam ke 9 :
Alloh swt semakin mencurahkan rohmat kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga tidak ada sedikitpun rasa sakit, sedih, susah, dalam jiwa Sayyidah Aminah.
Pada malam ke 10 :
Sayyidah Aminah melihat tanah Tho’if dan Mina ikut bergembira menyambut akan kelahiran Nabi Muhammad saw.
Pada malam ke 11 :
Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Sayyidina Muhammad saw.
Malam detik-detik kelahiran Nabi Muhammad saw, tepat tanggal 12 Robi’ul-Awwal di sepertiga malam. Di malam ke 12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Saat itu Sayyid Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad saw) sedang bermunajat kepada Alloh swt di sekitar Ka’bah. Sedangkan Sayyidah Aminah sendiri di rumah tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
Tiba-tiba Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4 wanita yang sangat masing² sangat jelita, anggun dan cantik, diliputi dengan cahaya kemilau yang memancar serta semerbak harum memenuhi seluruh ruangan.
Wanita pertama datang berkata :
”Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang agung, junjungan semesta alam. Beliaulah Nabi Muhammad saw. Kenalilah aku, bahwa aku adalah istri Nabi Alloh Adam as, ibunda seluruh ummat manusia, aku diperintahakan Alloh untuk menemanimu.”
Kemudian datanglah wanita kedua yang menyampaiakan kabar gembira :
“Aku adalah istri Nabi Alloh Ibrohim as yang diperintahkan Alloh swt untuk menemanimu.”
Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga :
”Aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Alloh untuk menemanimu.”
Datanglah wanita ke empat :
”Aku adalah Maryam, ibunda Isa as datang untuk menyambut kehadiran putramu Muhammad Rosululloh.”
Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad saw yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.
Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya berdatangan silih berganti memasuki ruangannya dan mereka memanjatkan puji-pujian kepada Alloh swt dengan berbagai macam bahasa yang berbeda.
Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau bermacam-macam bintang di angkasa beterbangan yang sangat indah berkilau cahayanya.
Detik berikutnya Alloh swt memerintahkan kepada Malaikat Ridhwan agar mengomandokan seluruh bidadari sorga agar berdandan cantik dan rapi, memakai kain sutra dan segala macam bentuk perhiasan dengan bermahkotan emas, intan permata yang bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian sorga yang harum semerbak ke segala penjuru, lalu beribu ribu bidadari² itu dibawa ke alam dunia oleh Malaikat Ridhwan, terlihat wajah bidadari² itu gembira.
Lalu Alloh swt memanggil :
“Yaa Jibril … serukanlah kepada seluruh arwah para Nabi, para Rosul, para wali agar berkumpul, berbaris rapi, bahwa sesungguhnya Kekasih-Ku cahaya di atas cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah mereka mnyambut kedatangan Nabi Muhammad saw.
Yaa Jibril … perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup pintu-pintu neraka dan perintahakan kepada Malaikat Ridhwan untuk membuka pintu-pintu sorga dan bersoleklah engkau dengan sebaik-baiknya keindahan demi menyambut kekasih-Ku Nabi Muhammad saw.
Yaa Jibril… bawalah beribu ribu malaikat yang ada di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah Kekasih-Ku Muhammad saw telah siap untuk dilahirkan dan sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman.”
Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi bumi ini dengan beribu ribu malaikat. Sayyidah Aminah melihat malaikat itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya. Pada saat itu pula mereka semua berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula datanglah burung putih yang berkilau cahayanya mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada saat itu pula lahirlah Nabi Muhammad Rosululloh saw dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari Nabi Muhammad saw bersujud kepada Alloh seraya mengucapkan :
“Allohu Akbar ... Allkhu Akbar ... Wal-Hamdulillahi katsiro, wasubhanallohi bukrotan wa ashila...”
Kegembiraan memancar dari setiap sudut alam raya, gemuruh sholawat memenuhi semesta dengan bahasa yang berbeda beda dan dengan cara yang bermacam macam pula
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Tidaklah Kami MENGUTUS Engkau (Muhammad) Melainkan Sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam (Al-Anbiya)
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa alaa sayyidina Muhammad
“Yaa Nabi Salam Alaika … Yaa Rosul Salam Alaika … Yaa Habib Salam Alaika … Sholawatulloh Alaika ... ”
Semoga Selawat dan salam senantiasa tercurahkan untuk Nabi Muhammad SAW berserta kluarga & para shabat yang menngikutinya dan kita umatnya hinga Akhir zaman semoga kita memperoleh syafaatnya kelak.
Ya Allah ya rabb..
Semoga Engkau bangkitkan kami dalam barisan yang sama bersama Rasul kami Ya Habibi Yaa Rasulullah
Aamin Ya Robbal Alamiin
(Diriwayatkan dari Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-syafi’i. Dalam kitabnya “Anni’matul-Kubro ’alal-alam).
Maqom Saiyyida Aminah ibunya Baginda saw. 😢😭😢😭
Moch Djerdjis

Friday, May 3, 2019

Solo Leveling

Beberapa cerita mengungkapkan cinta dan kasih sayang dalam keluarga. Salah satunya adalah cerita Solo Leveling yang tersedia dalam bentuk manhwa dan novel.
Ceritanya dimulai dari tokong Sung Jin Woo yang menjadi hunter karena harus bertanggung jawab mencari nafkah untuk dia dan adik perempuannya. Dia cuma hunter tingkat paling rendah, dan dalam awal-awal cerita sudah harus mati. Tetapi dia mendapatkan kesempatan hidup kedua dengan pengingkatan kemampuan yang cukup signifikan.
Awalnya kemampuan yang dia miliki tidak bisa dikenali oleh mesin pemberi level hunter sehingga dia diberi level yang paling rendah. Kemudian lama-kelamaan kemampuannya semakin tinggi dan menjadi penyelamat hidup hunter-hunter yang bekerja sama dengannya.
Sampai akhirnya dia menjadi hunter dengan level tertinggi dan berhasil mendapatkan obat untuk sakit ibunya yang sudah koma selama lebih dari 4 tahun. Di novel chapter 110 diceritakan betapa bahagianya ibu dan adiknya dapat berkumpul kembali setelah terpisah tahunan akibat ibunya koma.

Wednesday, May 1, 2019

Doa Ruqyah

Beberapa doa ruqyah untuk diketahui. Disarikan dari video2 ruqyah Dokter Indra (the story of doctor indra/indra permana) dan Syaikh Abderraouf ben Halima (aplikita).
Mungkin sebaiknya dilakukan oleh orang2 berhati bersih. Atau dilakukan mandiri.
Biasanya diawali dengan taawudz untuk meminta perlindungan. Berniat yg baik untuk melakukan ruqyah.
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. (QS. Al-Araf : 196)

Doa yg dibaca pertama yaitu:

وَلَهُ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anam : 13)
Atau bisa juga dengan ayat berikut ini


أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah : 148)
Biasanya kalau jin mendapat sajen berupa tumbal darah, dibacakan ayat ini untuk membatalkannya

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ 

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama Allah (surat-al-maidah-ayat-3)

Untuk membatalkan ritual yg pernah dilakukan untuk jin:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-Anam : 162)
لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al-Anam : 163)

Biasanya ada perjanjian antara jin dengan iblis, misal ditugaskan menjaga suatu tempat, menyesatkan manusia, menghalangi rezeki, atau yg lainnya. Untuk menyadarkan bahwa perjanjian itu bohong dibacakan ayat ini:
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. Ibrahim : 22)Sadarkan jin bahwa yg bisa menolong hanya Allah:
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang orang beriman" (Ar Rum 47)
Kalau jin merasa ngga bisa lepas perjanjian dengan iblis atau untuk melepaskan ikatannya baik dengan jimat atau orang yg dirasuki maka dibacakan ayat ini:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiya : 30)

Banyak diulang bagian fafataqnahuma (kemudian kami pisahkan antara keduanya), bisa sampai belasan atau puluhan kali.

Selain itu untuk memutus perjanjian antara jin dengan dukun atau iblis dibacakan:

بَرَاءَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka). (QS. At-Taubah : 1)

Untuk menunjukkan cahaya islam


اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ
Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi (an nur 35)

Atau menunjukkan neraka

هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya). (QS. Yasin : 63)

Jika diserang

رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. Al-Ahzab : 68)

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. An-Nisa : 76)


Karya Tere Liye

Setidaknya ada dua buah buku novel karya Tere Liye yang pernah saya baca. Keduanya dibaca bukan karena saya penikmat karya fiksi dan saya mencarinya, melainkan karena diendorse oleh kawan-kawan di FB.
Karya pertama yang saya baca adalah "Pulang". Bacanya di Gramedia, dari tumpukan buku yang sudah terbuka sampulnya.
Kalau boleh dibilang, saya cukup suka cerita dan alur ceritanya. Berkisah tentang perjalanan hidup orang yang terkait dengan organisasi rahasia. Dimulai dari saat anak-anak sampai tokoh utama dewasa. Buku ini bisa memaksa saya untuk membaca tgerus, sampai hampir habis dalam satu kali baca saja.
Sedangkan buku kedua "Anak Cahaya", saya baca sedikit saja. Dapat dari free preview google play store. Tapi menurut saya sih, ceritanya tidak semenarik novel "Pulang". Sepertinya ada sesuatu yang hilang, atau terlalu dilebih-lebihkan. Setelah baca fre preview, tidak membuat saya penasaran untuk meneruskan membaca.

Saturday, April 20, 2019

Beda Jenis Motor untuk Mobil Listrik

Hampir semua mobil listrik di saat ini menggunakan motor listrik sinkron magnet permanen. Motor listrik ini kecepatannya dikendalikan dengan menggunakan inverter (pengubah listrik dc batere menjadi teganga/arus ac).
Semakin tinggi kecepatan motor, semakin tinggi tegangan yang dibangkitkan motor. Agar tegangan motor tidak terlalu tinggi, inverter akan menyuntikkan arus yang memperlemah medan magnet yang dihasilkan motor (field weakening region). Semakin tinggi kecepatan motor yang diinginkan, semakin besar arus pelemah yang disuntikkan oleh inverter.
Di sinilah masalah terjadi. Saat motor berada pada kecepatan tinggi dan inverter mengalami kerusakan sistem kendali, maka inverter akan otomatis bekerja sebagai penyearah dioda yang tak terkendali. Karena arus pelemah magnetnya hilang, maka motor akan menghasilkan tegangan yang sangat tinggi. Tegangan yang sangat tinggi ini jika disearahkan akan menghasilkan tegangan dc yang sangat tinggi yang akhirnya bisa merusak batere, inverter, dan motornya.
Ini berbeda dengan jika menggunakan motor induksi atau motor reluctance. Saat kendali inverter rusak, motor induksi dan reluctance akan kehilangan sumber magnet dan tidak menghasilkan tegangan yang tinggi.

Tuesday, April 16, 2019

tanggung jawab atas diri kita masing-masing

Herry Mardian
PINGIN nanya kang, apakah mungkin saat ini kita bisa memastikan bahwa "ad din" yang dijalankan sekarang sepenuhnya benar sehingga saya mengajak orang lain ke jalan saya? Dan sya seringkali bingung menyikapi orang lain yang teguh dengan ad dinnya tapi bertolak belakang dg ad din persepsi saya. Apa sya tdk punya hak terhadap org yang "yakin"?
: :
Sebenarnya gini.
Pada prinsipnya, kita hanya akan dimintai tanggung jawab atas diri kita masing-masing, termasuk bagaimana kita menentukan jalan untuk memahami ad-Diin kita sendiri. Itu yang paling penting. Kita akan dihakimi dan dimintai pertanggung jawaban atas diri kita sendiri, bukan orang lain (baca saja di Q. S. 6 : 164).
Tentu, seorang ayah akan dimintai pertanggungjawaban atas anaknya, suami atas istrinya, istri atas anaknya, dsb, bukan berarti sama sekali tidak mau tau, elu elu gua gua, ya. Tapi apakah agama orang tersebut ada dalam tanggung jawab kita nggak, sementara kita sendiri belum merasa firm dengan apa yang kita pegang.
Tidak semua yang berbeda dengan apa yang kita yakini itu pasti salah, dan tidak semua yang berbeda dengan kita itu harus ikut kita sehingga sama keyakinannya. Sebab, perbedaan adalah sesuatu yang niscaya, sudah ditetapkan. Mustahil semua harus jadi satu pemahaman.
==
"Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu."
(Q. S. [5] : 48).
==
Berbeda pemahaman, sudut pandang, ya boleh saja. Tidak ada masalah. Asal jangan saling memaksa. Allah menghendaki kita 'work the difference out', bukan 'eliminate all the differences'. Sama seperti menikah kan.
Sekali lagi, yang akan dimintai pertanggungan jawab adalah 'diri sendiri'. Gimana kamu sampai meyakini itu? Sejauh mana upayanya? Gimana sampai kamu memutuskan itu? Gimana prosesnya? Bukan, 'kenapa dia nggak juga meyakini apa yang kamu yakini?'
Bahkan tugas seorang Rasul pun hanya menyampaikan, bukan memaksa (5 : 99).
Menyampaikan pun, hanya pada yang butuh, yang mau. Bukan semua orang dipaksa harus menerima dan mendengarkan. Itu menzalimi namanya. Kalau tidak haus, jangan dipaksa minum dong 
Nah, di saat yang sama, kita diwajibkan-Nya memahami dulu, dengan kokoh, apapun yang akan kita ikuti. Kita tidak boleh taklid, asal ikut, tidak cross check, tidak meneliti/mengkonfirmasi, cuma beragama dengan 'katanya'. Itu tidak boleh, sebenarnya, jika kita sudah mulai ingin melangkah ke pemahaman ad-Diin yang lebih hakiki.
Kita harus paham dengan apa yang akan kita ikuti. Tidak boleh tidak.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" (17 : 36)
Artinya,
(1) kita tidak dimintai pertanggung jawaban atas jalan orang lain. Orang lain boleh berbeda, dan masing-masing akan mempertanggungjawabkan jalannya sendiri.
Tapi, (2) kita harus punya sekian kadar pemahaman atas apa yang akan kita ikuti. apapun yang kita ikuti, masing-masing kita harus mempertanggungjawabkan pilihan kita sendiri.
Bukan berarti tidak perlu berdakwah, ya. Tapi itu bahasan lain.
Jadi, sebenarnya Allah menghendaki masing-masing kita itu punya pemahaman yang firm, yang kokoh, atas ad-Diin masing-masing. Setiap orang akan punya sekian kadar pemahaman, kadar kebenaran. Jadi, kita akan jadi masyarakat yang saling mengisi. Kalau semua pemahaman harus sama dan standar, kita akan saling memerangi.
Jadi perlu nggak mengajak-ngajak orang lain?
Sikap paling utama, hargailah proses orang lain yang juga sedang berusaha memahami agamanya, memahami kehidupannya. Jangan menganggap 'semua belum setinggi saya pemahamannya', tapi hargailah bahwa Allah mengajari setiap orang dengan proses yang berbeda, dengan kadar pemahaman yang berbeda pula.
Fokus pada titik temu, bukan pada perbedaan.
Jangan tebas semua perbedaan, jangan anggap bahwa yang sedang kita yakini sekarang adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti semua orang 
Toh yang akan ditanya nanti, kita dan apa yang kita yakini, bukan 'dia dan keyakinan dia'.
(Herry Mardian)
: :

Sunday, April 7, 2019

James Barbers dan Peluang Pilpres ke Konflik

James Barbers dan Peluang Pilpres ke Konflik
Apa yang disampaikan Jokowi di Stadion Kridosono 23 Maret lalu dalam acara reuni pendukungnya dari Yogyakarta sebetulnya menunjukkan jika Jokowi bukanlah orang yang faham akan peluang terjadinya konflik.
Pernyataannya yang akan melawan aneka fitnah, celaan, dan tudingan kepada dirinya (secara personal) akan dilawannya sebenarnya pernah ditelaah James Davir Barber dalam The Pulse of Politics".
Bila kita membaca James muatan kampanye dengan mengarahkan persoalan personal menjadi luka bagi publik -pendukungnya- merupakan satu dari tiga titik bakar terjadinya konflik. The so called para kandidat dan para peluncurnya (negosiator) terpaku pada tiga narasi pokok yang dibentuk secara tidak langsung oleh media massa.
James memaparkan geneologi detak-detik perubahan konstelasi politik dalam kampanye beberapa presiden di AS dari sudut pandang komunikasi media massa. Ia menyimpulkan jika secara umum, masyarakat dibentuk untuk memahami jika politik itu adalah melulu persoalan konflik, penyadaran publik (conscience), dan sebuah rekonsiliasi dalam aneka bentuknya seperti perdamaian, aliansi, koalisi, atau persekongkolan.
Apa dan bagaimana ketiga tema tadi diolah dan didefinisikan untuk meledak sebagai konflik sangat bergantung dengan apa yang kita sebut sebagai preferensi dan kecenderungan kepentingan.
Seandainya kita menggunakan analisa James bahwa politik adalah persoalan konflik, perang, pertikaian, dan saling serang saja, maka hari ini memang sudah terjadi di perhelatan pemilu kita. Bahkan sejak beberapa waktu lalu. Ancaman yang disampaikan Wiranto untuk menggunakan UU Terorisme pada pihak-pihak yang mengajak untuk Golput (tidak memilih) adalah sebuah serangan keras.
Sementara sebelumnya Moeldoko dengan gamblang berkata jika ia akan melakukan "Perang Total". Apa alasan dia menggunakan terminologi kata perang dan bukan kompetisi, atau usaha, tentu akan memberikan pandangan yang berbeda baik kepada masing-masing pendukung dan kandidat lawan.
Kedua lanjut James, kita melihat politik sebagai sebuah kesadaran atau gerakan akal sehat. Melalui kampanye politik, publik diberi kesadaran dan akhirnya mengkonversi kesadaran tadi sebagai suara. Meskipun pada kenyataannya tetap saja kedua pihak kita ketahui sama-sama mengklaim sebagai pemilik akal sehat tadi . Mereka adalah yang terbaik dalam melaksanakan pemilu ini dengan cara paling bermoral dan benar.
Pendukung Petahana misalnya mengatakan jika semua kritik yang sifatnya negatif kepada pemerintah adalah sebuah fitnah, kebohongan, dan hoaks. Mereka pun mendukung usaha memerangi dan menangkapi pelakunya. Bahwa kritik tadi merupakan bagian inheren dari kehidupan demokrasi dan hak dasar publik itu semua harus dianggap sebagai ucaran kebencian saja.
Demikian pula di pihak lawan. Adalah Rocky Gerung yang memanfaatkan perbaikan akal agar sehat melalui redefinisi dan kontekstualisasinya pada pemahaman awam. Ia membalikan jika hoaks adalah paling mungkin dilakukan oleh negara. Negara menurutnya mempunyai aparatus dari birokrasi sampai media untuk menciptakan hoaks dan imajinasi tentang pembangunan.
Ketiga adalah terjadinya letupan-letupan berulang (beats) yang sadar atau tidak diciptakan untuk mendeskreditkan lawan.
Bila dulu isu yang diangkat adalah persoalan pri-non pri, elit versus wong cilik, lalu islam tradisional bersus modern, sekarang isu yang dimunculkan adalah radikal versus toleran, Dimana pihak yang paling sering diserang adalah umat Islam. Baik itu serangan kepada pemahaman, praktik, dan politik keagamaannya.
Jadi ketika hari ini kita melihat bahwa masyarakat semakin terbelah bahkan di beberapa tempat sudah terjadi saling serang secara fisik dan ucapan maka itu adalah satu dari syarat terciptanya konflik. Saiya hanya tidak faham, bagaimana hal ini berulang-ulang seperti sengaja dipolakan untuk akhirnya kita sama-sama berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan penyelenggara pemerintahan kita sekarang.

Pecah dan Hancurkan

Pecah dan Hancurkan
Seseorang yang saya kenal lama sebagai ustadznya yayasan tasayu atau Syiah mengirimi saiya pesan; bahayanya khilafah terhadap pancasila. Ia mengiyakan omongan Hendropriyono, orang intel yang dikenal karena pembantaian TalangSari Lampung 1989.
Saiya balas saja, sebaiknya ia melakukan rekonsiliasi internal. Problem lembaga-lembaga Islam seperti Ahmadyah, Syiah, Tabligh, atau kini tarekat-tarekat dzikir baik yang lokal maupun yang bersyekh luar negeri adalah urusan keorganisasian.
Pada saat mereka gagal bergerak sebagai organisasi karena ribut antar pengurus atau rebutan jamaah maka biasa berakhir dengan saling caci serta memecah-belah yayasan. Demi.menutupi program internal yang gagal jalan akhirnya kebanyakan lembaga tadi mencari-cari musuh eksternal.
Beberapa kasus saiya temui ketika memediasi konflik warga dgn lembaga ini. Di NTB misalnya sudah tahunan warga Ahmadiyah terusir dari kampungnya. Bukan karena gagal berasimilasi tetapi karena ada pengurus yang maunya konflik tadi terus dieksploitasi untuk mendapat perhatian.
Persoalan pribadi yang diproyeksikan sebagai urusan tingkat negara inilah yang mendasari omongan-omongan seperti disampaikan Priyono. Hendropriyono sendiri adalah spesialis eska yang ikut bertanggungjawab atas pembunuhan Talang Sari 89 dengan puluhan warga tewas, ratusan cacat dan hilang.
Sebagian dari anggota Warsidi menyebut jika awal konflik adalah persoalan pengambil alihan lahan warga untuk lahan industri Sawit atau gula. Belakangan ada usaha-usaha menutup kasus pelanggaran HAM Talang Sari untuk kepentingan pilpres 2019. Hendropriyono memang ada dipihak petahana.
Jadi kembali kepada pecah dan hancurkan, setelah Suriah nisasi untuk membendung isu Ahok yang gagal kini muncul lagi versi Khilafahisasi.

Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, maka dia akan mengenal Tuhannya

Pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan, sesuai dengan hadits, “Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, maka dia akan mengenal Tuhannya,” dan sebagaimana yang tertulis di dalam Al-Quran, “Akan Kami tunjukkan ayat-ayat kami di segenap ufuk dan di dalam diri mereka sendiri, agar mereka tahu bahwa itu adalah al-haqq.” (QS Fushshilat [41]: 53)
Tidak ada yang lebih dekat kepada Anda kecuali diri Anda sendiri. Jika Anda tidak mengenal diri Anda sendiri, bagaimana Anda bisa mengetahui segala sesuatu yang lain. Jika Anda berkata” “Saya mengenal diri saya” — yang berarti bentuk luar Anda; badan, muka dan anggota-anggota badan lainnya — pengetahuan seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi kunci pengetahuan tentang Tuhan.
Demikian pula halnya jika pengetahuan Anda hanyalah sekadar bahwa kalau lapar Anda makan, dan kalau marah Anda menyerang seseorang; akankah Anda dapatkan kemajuan-kemajuan lebih lanjut di dalam lintasan ini, mengingat bahwa dalam hal ini hewanlah kawan Anda?
Pengetahuan tentang diri yang sebenarnya itu ada dalam pengetahuan tentang hal-hal berikut ini:
Siapakah Anda, dan dari mana Anda datang? Kemana Anda pergi, apa tujuan Anda datang lalu tinggal sejenak di sini, serta di manakah kebahagiaan Anda dan kesedihan Anda yang sebenarnya berada?
Sebagian sifat Anda adalah sifat-sifat binatang, sebagian yang lain adalah sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat. Mesti Anda temukan, mana di antara sifat-sifat ini yang aksidental dan mana yang esensial (pokok).
Sebelum Anda ketahui hal ini, tak akan bisa Anda temukan letak kebahagiaan Anda yang sebenarnya.
Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Oleh karena itu, jika Anda seekor hewan, sibukkan diri Anda dengan pekerjaan-pekerjaan ini.
Syaithan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, akal bulus dan kebohongan. Jika Anda termasuk dalam kelompok mereka, kerjakan pekerjaan mereka.
Malaikat-malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sama sekali bebas dari kualitas-kualitas hewan. Jika Anda punya sifat-sifat malaikat, maka berjuanglah untuk mencapai sifat-sifat asal Anda agar bisa Anda kenali dan renungi Dia Yang Maha Tinggi, serta merdeka dari perbudakan hawa nafsu dan amarah.
Juga mesti Anda temukan sebab-sebab Anda diciptakan dengan kedua insting hewan ini: mestikah keduanya menundukkan dan memerangkap Anda, ataukah Anda yang mesti menundukkan mereka dan — dalam kemajuan Anda — menjadikan salah satu di antaranya sebagai kuda tunggangan serta yang lainnya sebagai senjata.
(Imam Al-Ghazali, dalam kitab “Al-Kimiya’ As-Sa‘adah” atau “Kimia Kebahagiaan.”) alfathri

UANG-UANGAN

(oleh: Watung Budiman)
“Hidup ini permainan,” kira-kira begitu kata Kitab Suci. Ini ide yang nggak terlalu nyandak buat sebagian orang sebenarnya. Lha gimana, wong sudah lintang pukang dibombardir deadline seperti ini, pagi sampai petang, kok dibilang cuma dolanan? Dan kalau kita baca koran, betapa seratusan orang mati tragis di Situ Gintung, trilyunan duit beredar di pemilu kemarin, peluh dan depresi, tragedi dan nestapa dunia, semua riil terasa… dan sama sekali nggak kelihatan seperti main-main. Kelihatannya.
Rumi punya tamsil yang kalau dipikir-pikir, dimat-matke, bisa memberi sedikit insight. Begini beliau bilang:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Dunia adalah taman bermain, 
di mana anak-anak bermain jual-jualan.
Saling bertukar uang-uangan.
Ketika malam tiba, mereka pun pulang
kelelahan, dan tangan mereka
tetap tak membawa apa-apa.
(diterjemahkan oleh Herry Mardian)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Persis. Kita seharian nguber-nguber (dan diuber-uber) kerjaan, pemilu, rumah, iPhone, Playstation, bonus tahunan, deposito, job-grade, golden shakehand (apaan sih?)… sementara nanti pas saatnya kita dikubur berkalang tanah, nggak satu pun dibawa, kecuali selembar kafan. Semuanya ditinggal, termasuk anak dan istri. Semuanya goodbye.
Dan ngomong-ngomong soal ‘uang-uangan' (imaginary money) di puisinya Rumi, itu persis permainan monopoli waktu kecil dulu. Ada duit-duitan, ada bank-bankan. Kita bisa beli tanah, rumah, sampai hotel dan mengutip pajak dari lawan. Kita sorak sorai begitu dapat “rejeki” kartu dana umum atau si lawan mendarat di tanah kita. Kita depresi kalau disuruh bayar atau kena kartu masuk penjara (dan paling sebel kalau nggak keluar-keluar). Sedih, murung, riang, excited, bahkan keributan, otot-ototan dengan lawan, namanya juga permainan: kadang kita terbawa suasana.
Tapi begitu maghrib tiba, ibunda tercinta memanggil di bawah, kita pun sadar: permainan musti selesai. Duit-duitan yang terkumpul dengan “jerih payah” itu, rumah, hotel, semua properti musti masuk lagi ke kotaknya. Papan ditutup. Nggak ada yang dibawa. “...dan mereka pun pulang kelelahan, dan tangan mereka tetap tak membawa apa-apa.”
Terus apa maksudnya ini semua kalau cuma buat dolanan?
Mari kita minggir barang sebentar, merenung sejenak. Kita main monopoli, kita having fun, kita nyari rumah sebanyak-banyaknya, hotel sebanyak-banyaknya, bikin lawan sebangkrut-bangkrutnya, dan begitu papan ditutup, semuanya selesai, wusss… bak kapas ditiup angin. Ada refleksi menarik sebenarnya di sana: apa sebenarnya tujuan permainan monopoli ini?
Flashback ke abad 19. Permainan monopoli ini tercipta di sebuah lingkungan pergolakan politik dan ekonomi yang ruwet di masa itu di Virginia, Amrik sono, yang panjang kalau diceritakan (jadi detilnya baca sendiri).
Tapi intinya begini. Permainan yang dulu bernama Landlord’s Game (atau Dolanan Tuan Tanah) ini didesain oleh seorang wanita Quaker bernama Elizabeth Magie dengan satu tujuan: memudahkan orang mengerti tentang single-tax theory, tentang bagaimana tuan-tuan tanah memperkaya dirinya dan mempermiskin para penyewa.
Nah, itu. Itu tujuan awalnya: supaya para pemain belajar sesuatu. Tapi kemudian apa yang terjadi sekarang, berabad-abad kemudian? Landlord’s Game ini jadi permainan monopoli, dolanan yang pure entertainment, yang masing-masing pemain berusaha menjadi sekaya-kayanya dengan memiskinkan lawan semiskin-miskinnya. The richer, the winner. Kita main, beli sana-sini, menang atau kalah, selesai. Sementara tujuan asalinya? Tentang single-tax theory? Kebanyakan anak-anak kita, mungkin juga kita, nggak lagi tahu.
And sadly, it happens also with our life… don’t you think? What is this life? What is the purpose of this game of life?
Elizabeth Magie, sang pencipta monopoli, telah mendesain sedemikian rupa agar para pemain memperoleh sesuatu yang tentu lebih berharga dari pernak-pernik aksesori permainan itu sendiri, sesuatu yang mungkin akan senantiasa tinggal bahkan setelah papan permainan ditutup: sebuah pelajaran.
Dan hidup ini tentulah lebih kompleks, lebih warna-warni dari permainan monopoli. But again, what have we learned from this “game of life”, sesuatu yang akan senantiasa melekat bahkan ketika papan kehidupan kita ditutup? What do you think The Creator has in mind? Telling us to collect imaginary money, lands and houses… as much as you can?
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS Al-An'am [6]: 32)

Tuesday, March 5, 2019

Tutup Mata Atas Kesalahan Pasangan

"Sampeyan belajarlah menutup mata dari kesalahan-kesalahan pasangan. Gak usah sok bisa mengubah. Mustahil. Itu urusan Gusti Allah. Sampeyan cuma dituntut sabar dan terus berbuat baik. Toh kekeliruan itu gak fatal soal syariat, cuma sikap." saran Kang Sabar pada Kang Kuat.
"Lho katanya disuruh buka mata lebar-lebar sebelum nikah? Kok sekarang disarankan merem. Wah, ra konsisten ik!" sahut Kang Kuat yang baru menikah sekian bulan belakangan.
"Yo kan beda tujuan. Buka mata biar gak kaget banget pas sudah lewat malam pertama. Tutup mata biar tetap bisa bersyukur." balas Kang Sabar.
"Lha mosok dibiarin gitu aja kekurangan istri. Rumus saling melengkapi kan artinya kutambal." kilah Kang Kuat.
"Boleh, tapi tetap ingat Gusti Allah penentu hadirnya perubahan. Bukan Sampeyan. Ingat, Sayyidina Umar saja diam seribu bahasa saat dimarahi istri kok. Bahkan Kanjeng Nabi biarkan Sayyidatina Aisyah pecahkan piring di depan tamu suaminya. Kedua sosok sangar itu ya menutup mulut rapat. Sabar." tutur bapak berjenggot beranak dua.
"Korelasinya ke kasusku?" kejar mantan jomblo itu.
"Jadikan sikap istri yang Sampeyan anggap buruk itu jadi tungku dan palu. Gunanya untuk menempa spiritual Sampeyan. Berat, kan? Itu kenapa nikah senilai separuh agama." tandas Kang Sabar.

Santai

"Lho kok Sampeyan santai-santai saja di masa kampanye gini." tanya Kang Kuat saat beli sarapan dirangkap makan siang di warung Kang Ikhlas.
"Buat apa tegang, kayak hal baru saja. Kalah biasa, menang tinggal digadang. Beres." jawab si pria bersarung dengan kumis putih tebal njelantir.
"Kan mempengaruhi hajat hidup orang banyak lho. Termasuk ladang dakwah dan maisah, em, pendapatan Sampeyan." kejar si mantan jomblo yang masih kerempeng sembari mengambil sendiri nasi dan sayur.
"Dakwah kan nyenengin orang. Warungku ini menerima siapapun, dengan topik obrolan seliar apapun, dan tak pernah kularang sedikitpun. Kecuali kalau mau nenggak alkohol ya pindah dulu saja, pusing dan nge-fly di sini gakpapa. Cuma prosesnya ya jangan." sahut sosok berkepala 5 itu dengan pose masih leyeh-leyeh di bawah pohon jambu air. Laptop Asus di depannya masih menyala.
"Terus soal pajak 10% tiap piring yang Sampeyan sajikan, atau makin sulit dapat pasokan bahan dapur?" Kang Kuat duduk di meja sebelah Kang Ikhlas, mulai melahap porsi kuli di depannya.
"Katanya rejeki sudah diatur Gusti Allah. Mosok aku ragukan. Pajak kan kewajiban, ya tinggal bayar. Non-muslim saja kalau bayar pajak lantas luntur status kafir yang bisa diperangi kok. Adapun bahan masakan kan dipasok koperasi pesantren asuhan Mbah Yai, jelas mandiri dan insyaAllah stabil." imbuh Kang Ikhlas seusai menyeruput kopi di gelas jumbonya.
"Tapi soal potensi garis keras kuasai kampus dan sistem pemerintahan?" pria usia 25 tahun masih belum puas, seperti piring yang belum kandas isinya.
"Itu sudah terjadi sejak era 90-an kok. Santai saja. Ormas kita dan sepupu memang kewalahan, bahkan terang-terangan berkoar masjid dan jamaahnya dicuri. Tapi apa mau dikata, sedangkan kita saja tak reaktif bikin gerakan tandingan. Gagal adaptasi tak terelakkan. Terpenting terus play defense saja." kata Kang Ikhlas yang sudah mengepulkan asap tembakau. Pertanda obrolan mulai serius.
"Harus dilawan dong biar gak ada jihadis amatiran." Si pria ceking masih belum lega. Seseret tenggorokannya yang disebabkan ia lupa ambil segelas air putih gratisan.
"Nyatanya kan densus 88 beres membabat spora-spora itu. Kita tinggal bikin upaya preventif di tingkat pendidikan menengah dan tinggi. Kita kepayahan di situ. Antara lain kurang maunya kader kita srawung dengan kubu yang dianggap lawan. Peran taaruf untuk menyeimbangkan tersisihkan." Pandangan pria bercucu dua itu terlempar jauh ke keramaian jalanan.
"Underbow kita bukannya ada?" Tanya Kang Kuat sembari meremuk krupuk dengan giginya.
"Militan dengan kadar yang masih kalah adaptif dibanding yang ingin disaingi. Darah muda yang terlalu minim gejolak. Tugasmu barangkali ngompori mereka untuk memaksimalkan medsos dan teknologi jauh di depan. Termasuk diskusi masalah kekinian sebaiknya lebih sering digelar. Biar teks agama menemukan konteks di zaman edan ini." Sahut Kang Ikhlas yang beranjak ke meja belakang kasir. Melayani pembeli yang mau bayar.
"Hm. Lho kok jadi tugasku. Penganten anyar kok disuruh turun lapangan. Hadeh. Mana masih keteteran memenuhi belanja isi dapur, je." Celetuk Kang Kuat pelan.
"Lha kan, imanmu kurang mantep tuh." Teriak Kang Ikhlas dengan tangan memijat kalkulator.
"Asyem ik. Kok yo krungu." Gumam Kang Kuat.