Friday, January 18, 2019

Refleksi Debat dan Ketakutan

Refleksi Debat dan Ketakutan
Acara debat kemarin sedikit banyak menarik partisipasi masyarakat untuk ikut mengamatinya. Ini tentu hal yang pantas disyukuri.
Terlepas bahwa cukup banyak pemirsa yang menilai bila KPU gagal menghadirkan ronde pembuka yang bermutu. Mereka menilai telah terjadi antiklimak yang membuat ekspektasi publik dari awalnya bersemangat tiba-tiba turun kembali. Perdebatan itu terlalu banyak aturan main dan pembagian giliran dalam tanggap-menanggapi itu seperti permainan ludo empat orang. Sebaiknya ada banyak yang bisa dikritik untuk perbaikan di depan.
Di layar ponsel ada beberapa ajakan untuk menonton debat tadi malam. Beberapa saiya biarkan untuk tidak dijawab, satu dua tiga lainnya dibalas dengan kalimat pendek; "Dimana".
Tuan Siregar membalas dengan kalimat lurus, "Wah pesan 07.40 AM dibalas 16.30 PM )".
Ya, saiya baru membaca pandangan tentang Trend-trend di depan di majalah fortune online. Bahwa generasi sekarang akan semakin bergerak dari Fear of Missing Out (Fomo) kepada Joy of Missing Out (Jomo).
"Aku pikir enak juga gaya kau itu Ndi."
Tuan Epoh tersenyum serius sambil manggut-manggut, ketika dia sebelumnya bertanya mengapa sulit sekali menghubungi saiya. Beberapa pesan WA pun lambat dibalas katanya.
"...dipikir-pikir nyaman betul hidup seperti itu."
Ia melanjutkan sambil diperiksanya dua tiga buah ponsel pintar yang diletakkannya di meja.
"Saiya tidak bawa ponsel bang. Tetapi yang penting kita kan bisa bertemu muka."
Saya membalasnya dan ia manggut-manggut setuju, sambil dikatakan jika hal itu terjadi pada dirinya tentu ia akan dimarahi orang-orang yang menghubunginya.
Sejak lama saiya memang tidak terlalu antusias terhadap perkembangan teknologi berkomunikasi. Jadi ini mirip generasi old-school saja. Kita berjanji pada waktu dan tempat ditentukan, nah di sana nanti kita akan saling berteleponan atau bertemu. Mirip dulu ketika orang ramai memprotes saiya yang tidak terlalu peduli dengan obrolan di BBM atau apalah. Sama sekali tidak ada keinginan untuk memiliki dan mengetahui urusan tadi. Hanya fesbuk yang menurut saiya masih memberikan kesempatan untuk berperilaku share and run. Kirim status lalu tinggalkan.
Di acara debat itu pun saiya perhatikan orang sibuk dengan ponsel nya masing-masing. Sementara dalam laporan Fortune, beberapa kafe sudah mulai menghilangkan fasilitas wifi. Bukan karena mereka pelit, tetapi secara psikologis seharusnya di kafe orang berbincang-bincang dan menghabiskan pikirannya di sana. Nah soal menghabiskan pikiran tadi tentu akan berdampak kepada jumlah order yang dipesan pengunjung. Jadi ke depan lanjut Fortune, kafe akan semakin mendorong orang saling berinteraksi langsung.
Soal jarang membawa ponsel atau membalas WA sendiri sebenarnya ada alasan lain yang masuk akal. Pertama, saiya tidak terlalu antusias membaca atau mendapatkan informasi dari pihak lain yang begitu mudah diperoleh dan dibagi di sosial media. Membaca jurnal berbayar atau laporan dari orang yang mendalami satu bidang secara serius dan membutuhkan waktu agak lama untuk memahaminya itu adalah sesuatu yang menyenangkan.
Kedua, saiya memiliki ponsel yang mudah sekali kehilangan daya. Si baterai melorot dengan cepat karena beberapa grup WA terlalu banyak mengirimkan pesan. Belum ada kawan yang serius membelikan satu ponsel dengan baterai panjang umur.
Ketiga, saiya sangat-sangat jarang membeli pulsa paket atau langganan. Jadi stay connected itu tidak terjadi setiap saat. Hanya bila ada jaringan wifi dan ada keinginan untuk menyambung maka pesan-pesan tadi baru terbuka.
Mereka yang selalu mengecek posisi dan kabar tentu akan kehilangan semangat. Tetapi begitulah adanya. Si laporan dari Fortune juga menyebutkan bila Jomo (Joys of Missing Out) atau kenikmatan untuk lepas dari ketakutan kehilangan informasi, berita, dan isu akan menjadi salah satu trend ke depan.
Bagi saiya itu hanya pilihan saja. Jalan-jalan ke satu tempat, berdiskusi, atau sekedar bolak-balik mengasah jalan tanpa ada interupsi untuk membaca apa yang muncul di ponsel itu adalah sebuah kenkmatan yang langka sekarang ini. Meskipun berfoto selfie di acara kawinan orang, mengabadikan sebuah perkumpulan yang tidak penting, atau sibuk melaporkan keberadaan kita disebuah kota atau tempat wisata itu bisa juga sebuah kesenangan bagi orang lain. Saiya tidak berdebat untuk hal-hal yang menyangkut selera, meskipun menurut saiya itu semacam ketakutan juga. Takut tidak bisa kembali lagi, takut tidak terberitakan atau terbagikan.
Jomo. Saiya suka istilah itu. Bukankah para petualang zaman dulu mempunyai adagium: Buat apa takut kesaasar (missing). Every missing is new finding.

Friday, January 11, 2019

Waktunya kampanye Program

Waktunya kampanye Program
Sebetulnya tidak terlalu ada faedahnya kita membahas apa yang berkembang di sosial media. Pemilih Prabow-Sandi ada di kelompok ini dan mereka selalu memenangkan survey monyet dengan telak. Sementara pemilih Jokowi juga tidak akan banyak berobah.
Apa yang dilakukan Sandiaga-Uno untuk mengambil perhatian dari kelompok praktikan kelas menangah bawah yaitu ibu-ibu, pedagang umkm adalah langkah yang bagus untuk keluar dari pasar sosmed yang terpolakan.
Ia masuk ke pasar-pasar becek untuk menyapa pengunjung dan pedagang. Menanyakan hal-hal normatif seputar menurunnya ppp (daya beli masyarakat) kemarin memainkan gerakan sumbangan sukarela dimana video-video anak muda, pedagang atau ibu rumah tangga memberikan dana bantuan kampanye. Artinya Sandi dan timnya cukup piawai menyambung celah antara dirinya dengan mereka yang memiliki harapan agar nasib dan peruntungan berubah di 2019. Ia membangun ekspektasi sekaligus simpati.
Sandi cukup sadar jika pemilu bukan cuma bertukar keributan. Tidak banyak yang merasakan faedah dari jalan tol berbayar sementara pedagang sayuran di Banten mengeluh bahwa mereka membayar mahal untuk pick-up ke pasar karena jalan desa rusak berantakan.
Persoalan program memang harus langsung dapat tempat di ekspektasi orang. Ia tidak perlu banyak mencerahkan pikiran, tokh yang seperti itu hanya cocok di forum debat yang ditonton spesifik penonton dengan kelas pendidikan tertentu. Orang senang atau benci dengan omongan Rocky Gerung, tetapi sebuah penjelasan yang gamblang tidak menyelesaikan perut yang kelaparan.
Si sini saiya melihat adu program ke lapangan jadi signifikan. Perdebatan di sosial-media sudah kadarluarsa. Yang menolak atau mendukung adalah kelompok hore-hore yang sama. Mereka para ketimun bungkuk. Yang keberadaan atau ketiadaannya tidak menambah signifikan suara kemenangan.
PKS misalnya sudah memainkan program langsung mengena seperti tawaran SIM seumur hidup dan pajak motor yang dihilangkan. Sementara PKB dan PPP menawarkan perumahan santri dan kyai. Meskipun tidak dijelaskan apakah pak Kyai dapat satu unit atau model langsung empat kamar. Persoalan nantinya bisa atau tidak program ini dijalankan itu adalah urusan politik tata kelolanya. Dalam tata kelola pemerintahan ada dikenal adagium "campaign is something, and policy is something else. Dulu Jokowi bicara tentang adanya 8000 pesanan mobil Esemka dengan kapasitas produksi 100-200 unit per bulan. Bahwa esemka ini kemudian menjadi omongkosong dan omong besar (OKOB) itu adalah lain persoalan.
Nah rupanya kiranya program apa yang cocok dan menarik simpati kelompok-kelompok yang disasar dalam pemilu kali ini saiya ada beberapa usul:
1) Penghapusan UN bagi siswa SMU. dan diganti dengan pembagian sertifikat kelulusan langsung.
2) Regulasi tarif tol. Tiap 10 km pertama gratis, tiap 5 km selanjutnya 2000 rupiah.
3) Pemberlakuan aturan Ganjil Genap para ortu, karyawan dan PNS. Berdasarkan angka terakhir di NIK KTP atau NIK kepegawaian. Karyawan yang niknya ganjil boleh tidak ke kantor tiap tanggal ganjil. (Ini untuk merekatkan rasa kekeluargaan)
4) Ojol mendapatkan cuti besar dan cuti akhir tahun dibayar operator.
5) Gerbong kereta khusus pria akan diadakan. Mengingat banyaknya keluhan para pria yang kena tipu mbak-mbak ngaku hamil.

Fenomena Rocky

Fenomena Rocky
Sulit menyangkal jika pilpres 2019 ini adalah panggung sendirian Rocky Gerung. Ia seperti tidak terbendung menghantam lawan-lawan debatnya dengan model bahasa yang akrab. Bahasa yang seperti disangka tuan Goben Gusmiyadi adalah gaya anak melial yang pas dengan kebutuhan cara berkomunikasi media-sosial melenial. Ia dengan mulus memadu padankan antara pendekatan dialog a la Socrates melalui teknik parafrase yang dibangunnya. Caranya membagi-bagi kalimat lewat pharafrase yang mudah dikutip, dipenggal, dicuplik audiens adalah ciri-ciri kultur bahasa dari masyarakat digital yang akrab dengan perilaku, lihat-bagikan-komentar.
Ia menawarkan sebuah definisi, kemudian konseptualisasi, lalu dengan santai memparafrasenya untuk menjebak lawan debatnya masuk dalam kesalahan awal logika. Yaitu ragu pada batasan atau pengertian dari definisi yang sedang mereka paparkan. Pada posisi kikuk ini, Rocky dengan mudah melipat lawan dalam konseptualisasi yang dipersiapkannya.
"...menurut anda, Kitab Suci itu fakta atau fiksi."
Yang dijawabnya sendiri dengan fiksi. Pada saat pemirsa terjebak dalam definisi fiksi-fakta, Rocky melontarkan kata fiktif. yang pada sebagian orang menjadi satu pengertian baru jika fiksi dan fiktif itu dua hal berbeda dimana secara asal kita sering menggunakannya untuk menerangkan sebuah definisi. Keberaniannya untuk menggeledah pemahaman pemirsa dengan model dialog ala sokrates tadi itulah yang membuat Rocky menjadi tokoh pilpres kali ini.
Sedemikian ditunggunya pancingan-jab lalu upper-cut nya di setiap sessi debat ILC, Karni Ilyas mengatakan bahwa No Rocky No Party. Rocky adalah sentra dari setiap pembicaraan. Kini bila ia berbicara di forum apa saja. selalu ada puluhan video dibuat orang melalui gawai cerdas yang ditempel di tongkat narsis (tongsis). Berharap ia mengeluarkan sebuah frase yang quoatble, instragramable, dan share-able, yang berpotensi disukai ribuan orang dalam sekejab.
Bila pada 2014, ada banyak buzzer cinta mati terlibat dalam perang cyber dan saut-menyaut politik dukung mendukung maka pada 2019, hanya Rocky yang dibicarakan banyak orang. Rocky memang fenomena yang pas dengan transisi kebudayaan orang hari ini. Ia mampu mengumpan pemirsa dengan sesuatu yang ditunggu-tunggu dan mudah dibagikan.

Tuesday, January 1, 2019

KRITERIA PEMIMPIN

KRITERIA PEMIMPIN
Sejak lama saya berpandangan bahwa syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kompetensi. Kita memiliki banyak instrumen, mulai dari hukum hingga moral, dari yang abstrak hingga yang material, dan juga banyak lembaga, mulai dari lembaga negara hingga masyarakat sipil, untuk mengontrol dan mengatasi berbagai penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) yang mungkin bisa dilakukan oleh seorang pemimpin. Tapi, kita tak punya instrumen apapun untuk mengatasi seorang pemimpin yang tidak kompeten!
Banyak orang berpandangan keliru bahwa risiko dipimpin oleh orang yang tidak kompeten lebih kecil daripada kategori-negatif pemimpin lainnya. Sayangnya kenyataannya tidaklah demikian. Pemimpin yang tidak kompeten cenderung membutuhkan banyak mitos untuk menjaga kekuasaannya. Di situlah hoax dan mitos akan merajalela. Akal sehatpun menjadi barang langka.
Syarat berikutnya, di tengah bangsa yang bhinneka kita membutuhkan seorang pemimpin yang bisa berperan sebagai perajut. Seseorang bisa saja berangkat dari identitas tertentu, berasal dari kelas tertentu, dan atribut-atribut parokial lainnya. Namun, saat ia menjadi pemimpin, ia harus memposisikan dirinya sebagai perajut yang bisa menenun kain kebangsaan. Seorang pemimpin harus bisa melampaui batas identitasnya sendiri. Tak semua orang bisa memiliki kebesaran hati semacam ini.
Itu sebabnya menjadi pemimpin bukanlah perkara mudah. "Een leidersweg is een lijdnsweg. Leiden is lijden," demikian kata Mr. Kasman Singodimedjo. Artinya, jalan pemimpin itu bukanlah jalan yang mudah, karena memimpin itu berimpit artinya dengan menderita.
Jadi, bagi mereka yang tidak tahan banting, gentar berpisah dari banyak orang, tak pernah tegar dengan keyakinannya sendiri, tak tekun membangun kompetensi, tak pernah sungguh-sungguh menjadi perajut, sebaiknya jangan pernah bermimpi menjadi pemimpin. Jadi badut saja.
Selamat tahun baru 2019!

Effektif kah wacana sederhana-merakyat ?

Effektif kah wacana sederhana-merakyat ?
Sekedar iseng saja, saiya memperhatikan jika wacana sederhana-merakyat itu tidak lagi dibeli orang dalam kampanye pilpres 2019 ini.
Meskipun berkali-kali media massa mainstream (MSM) seperti Kompas, Media Indonesia, Metro tivi, dan grup milik pemodal mengedepankan apresiasi publik yang tinggi kepada Jokowi-Ma'ruf daripada Prabowo-Sandi dari segi; sederhana, merakyat, familiar, akrab dst., namun dari hitungan kita tidak menemukan hasil akademis yang mendukung survey tadi.
Pertama, rendahnya tingkat keterhubungan antara kata; sederhana, merakyat dengan atribut baju putih, kaos, santai, kasual, dan sepatu kets, sneaker atau olahraga.
Ini artinya orang tetap menganggap jika persoalan baju berwarna putih, merah, kuning, atau belang-belang itu sama sekali tidak mewakilkan satu kehendak (ekspektasi) dari masyarakat. Jika kita periksa lebih lanjut memang sebenarnya tidak ada orang yang mau hidup sederhana, biasa-biasa saja atau ala kadarnya. Singkatnya orang memiliki cita-cita yang secara material untuk lebih.
Pada saat tim-ses memaksakan atrribut kesederhanaan ini kepada Jokowi, maka itu menjadi sesuatu yang obsolete, basi, atau kadarluarsa. Ini karena hakikatnya logika publik berjalan dengan baik. Bagaimana pun juga Jokowi adalah presiden bukan lagi orang kebanyakan. Ia pejabat negara, penggede, dan uangnya mesti banyak. Ia juga mempunyai anak-anak yang bisa disekolahnya ke luar negeri dan memiliki modal bisnis besar.
Verifikasi pengamat atas objek yang diamati melalui perspektif iklan atau kehumasan versi media massa mainstream ini terhalang oleh mental barrier pengamat sendiri. Mental ini yang nantinya akan membuat pikiran menjadi skeptis dan melakukan verifikasi. Yang semestinya tujuan dari narasi sederhana tadi adalah membuang halangan ini dan bukan mendesakkannya kepada publik untuk menerimanya.
Kedua, kesederhanaan itu adalah konsep yang mewakili gaya hidup. Bagi sebagian orang itu adalah sesuatu yang adaptatif bukan adoptif. Proses adopsi atau pencangkokkan ide kesederhanaan kepada sosok petahana mudah sekali dinilai sebagai sesuatu yang fake, palsu, tidak otentik.
Orang dapat dengan mudah menilai harga pakaian yang dikenakan Sandi itu mahal. Tetapi yang muncul dari pakaian dan pemakainya adalah gaya hidup. Sandi menjadi kasual, easy going, atau istilah anak sekarang nge-blend ajah secara alamiah dengan atribut yang dikenakannya. Ia tidak menjadi glamour atau luar biasa.
Pada Jokowi hal tadi terlalu dipaksakan. Baik ketika ia dipasangkan dengan tribut jaket kulit penerbang, jaket kasual, jaket olahraga, dan jaket jeans, semua tidak masuk menjadi konsep gaya hidup Jokowiah. Ini karena ada verifikasi dari pengamatan publik; jika sejatinya Jokowi memang bukan anak Streetbike, chooper, atau rat-bike. Ia menjadi asing dengan atributnya sendiri. Engga nge-blend kata anak-anak ABG yang sering nongkrong dekat warung Munah.
Kesederhanaan ini mungkin efektif pada 2014 lalu. Lewat kemeja putih lengan panjang (kebesaran), celana pantalon hitam dan sepatu hitam dop, Jokowi terlihat alami. Hari ini, dengan lengan tangan yang terlalu dinaikkan, dan sepatu olahraga atau sneaker yang dipaksakan the so called kesederhanaan itu tidak muncul dan terlalu dibuat-buat.
Lagi pula, memang masalah kita hari ini bukan soal gaya hidup kandidat. Prabowo senangnya naik kuda, Sandi marathon dan basket. Sementara Maruf Amien senang makan nasi kotak. Hal-hal tadi adalah urusan personalia masing-masing. Saiya pikir publik hanya berpikir bagaimana program pilpres benar-benar mengantarkan harapan mereka kepada ekonomi dan hidup yang lebih baik.

Jalan Tol

Jalan Tol
Itu adalah tol Cipularang yang baru beberapa hari diresmikan dimana pada bagian kiri dan kanan jalan masih terdapat sisa-sisa pekerjaan. Kami di satu mobil sedan mewah yang bergerak melaju seperti angin.
Senior saiya yang anggota DPR-RI waktu itu terpukau dengan betapa indahnya pemandangan kiri dan kanan. Pepohonan, lembah, bukit dan jembatan. Ia bertanya pendapat tentang pembangunan jalan tol yang konon membuat perjalanan Jakarta Bandung dapat ditempuh cukup 2,5 jam saja.
Saiya kembalikan kesimpulan diskusi kami terakhir jika pembangunan jalan tol itu tidak sinergi dengan rencana double-double track Cikampek-Bandung yang sudah direncanakan PJKA/KAI. Saiya perkirakan jika anggaran pembangunan rel ganda tadi mesti tersalib kebutuhan dari pembuatan jalan tol. Jika jalan tol ini diutamakan maka transportasi publik yang sedang giat didorong untuk mengatasi hambatan jalur Parahyangan, Argo-Gede akan terbengkalai.
Selain saiya katakan jika persoalan waktu tempuh di Bandung itu bukan karena Cikampek-Bandung Butuh Jalan tol, tetapi lebih kepada perbaikan jalan artire; Bogor-Puncak-Cianjur-Padalarang, atau jalur utara Cikampek-Purwakarta-Padalarang. Pelebaran jalur arteri dan pengaturan lalin sepanjang jalan lama lebih rasional dan murah ketimbang membuat jalan tol.
Demikian pula dengan ongkos transportasi publik seperti bus atau kereta yang akan murah dan kompetitif karena tidak ada biaya toll jalan. Di Jerman toll tidak berbayar, ini karena hakikat jalan adalah infra untuk mendukung dan meringankan pergerakan masyarakat sipil. Makanya jurusan ini di ITB disebut civic enjinering. Pembangunan yang berkaitan dengan urusan sipil tadi seharusnya gratis dan kalau perlu berbayar maka disubsidi.
Selain waktu itu juga usulan dari diskusi untuk mempertimbangkan jika jalan tol tadi mesti membunuh ribuan usaha kecil-menengah dan industri-industri di sepanjang jalan lama.
Tol cipularang tetap dilanjutkan, double track berhenti meninggalkan jembatan-jembatan kereta lama sebagai monumen. Usaha restoran, asongan dan umkm sepanjang jalur lama tewas, dan kemacetan Jakarta-Bandung akan teratasi hanyalah ilusi saja. Sekarang sering sekali saiya melihat di lini masa kawan-kawan yang mengeluh kemacetan di tol, di pintu keluar atau penerbangan mereka yang gagal karena persoalan macet tadi.
Saiya ingat catatan Moh Hatta tentang ambisi-ambisi infrastruktur ini. Rencana membuat aneka jalan tol sampai jembatan penyeberangan antar pulau sudah pula masuk di dalam perencanaan negara. Padahal lanjut Hatta, jalan-jalan desa, kecamatan, dan provinsi saja masih banyak yang rusak dan belum lagi diaspal. Padahal dari jalan-jalan tadi rakyat kebanyakan menggunakannya untuk menjual hasil bumi dan menjalankan usaha ekonomi mereka sehari-hari lainnya.
Sekarang, ada saiya melihat kawan-kawan mengabadikan satu perjalanan yang hebat dengan waktu tempuh cepat di tol-tol baru yang dibuat pemerintah hari ini. Mereka membayar untuk berjalan di sana dan mereka hanya menggunakannya dengan kendaraan pribadi. Yang juga kadang kala pemilik kendaraan pribadi tadi hanya menikmatinya sekali dua kali. Nanti bila semua pengalaman personal itu berkumpul dan orang bicara tentang panjangnya antrian keluar tol, dan matinya usaha-usaha kecil sepanjang jalan arteri lama. Semua kegembiraan tadi sepertinya tidak lagi sepadan.
Mengapa kita tidak bisa bicara seperti Hatta, semua mesti ada prioritas, semua perlu ada tahapan-tahapannya. Mengapa tidak lebih banyak membuat rel kereta, kendaraan publik lebih banyak daripada memprioritaskan jalan tol bagi pengemudi kendaraan pribadi? Kita sebetulnya bisa belajar dari negara-negara yang pernah mengalami kebodohan pembangunan seperti yang kita kerjakan hari ini.