Tuesday, January 1, 2019

Effektif kah wacana sederhana-merakyat ?

Effektif kah wacana sederhana-merakyat ?
Sekedar iseng saja, saiya memperhatikan jika wacana sederhana-merakyat itu tidak lagi dibeli orang dalam kampanye pilpres 2019 ini.
Meskipun berkali-kali media massa mainstream (MSM) seperti Kompas, Media Indonesia, Metro tivi, dan grup milik pemodal mengedepankan apresiasi publik yang tinggi kepada Jokowi-Ma'ruf daripada Prabowo-Sandi dari segi; sederhana, merakyat, familiar, akrab dst., namun dari hitungan kita tidak menemukan hasil akademis yang mendukung survey tadi.
Pertama, rendahnya tingkat keterhubungan antara kata; sederhana, merakyat dengan atribut baju putih, kaos, santai, kasual, dan sepatu kets, sneaker atau olahraga.
Ini artinya orang tetap menganggap jika persoalan baju berwarna putih, merah, kuning, atau belang-belang itu sama sekali tidak mewakilkan satu kehendak (ekspektasi) dari masyarakat. Jika kita periksa lebih lanjut memang sebenarnya tidak ada orang yang mau hidup sederhana, biasa-biasa saja atau ala kadarnya. Singkatnya orang memiliki cita-cita yang secara material untuk lebih.
Pada saat tim-ses memaksakan atrribut kesederhanaan ini kepada Jokowi, maka itu menjadi sesuatu yang obsolete, basi, atau kadarluarsa. Ini karena hakikatnya logika publik berjalan dengan baik. Bagaimana pun juga Jokowi adalah presiden bukan lagi orang kebanyakan. Ia pejabat negara, penggede, dan uangnya mesti banyak. Ia juga mempunyai anak-anak yang bisa disekolahnya ke luar negeri dan memiliki modal bisnis besar.
Verifikasi pengamat atas objek yang diamati melalui perspektif iklan atau kehumasan versi media massa mainstream ini terhalang oleh mental barrier pengamat sendiri. Mental ini yang nantinya akan membuat pikiran menjadi skeptis dan melakukan verifikasi. Yang semestinya tujuan dari narasi sederhana tadi adalah membuang halangan ini dan bukan mendesakkannya kepada publik untuk menerimanya.
Kedua, kesederhanaan itu adalah konsep yang mewakili gaya hidup. Bagi sebagian orang itu adalah sesuatu yang adaptatif bukan adoptif. Proses adopsi atau pencangkokkan ide kesederhanaan kepada sosok petahana mudah sekali dinilai sebagai sesuatu yang fake, palsu, tidak otentik.
Orang dapat dengan mudah menilai harga pakaian yang dikenakan Sandi itu mahal. Tetapi yang muncul dari pakaian dan pemakainya adalah gaya hidup. Sandi menjadi kasual, easy going, atau istilah anak sekarang nge-blend ajah secara alamiah dengan atribut yang dikenakannya. Ia tidak menjadi glamour atau luar biasa.
Pada Jokowi hal tadi terlalu dipaksakan. Baik ketika ia dipasangkan dengan tribut jaket kulit penerbang, jaket kasual, jaket olahraga, dan jaket jeans, semua tidak masuk menjadi konsep gaya hidup Jokowiah. Ini karena ada verifikasi dari pengamatan publik; jika sejatinya Jokowi memang bukan anak Streetbike, chooper, atau rat-bike. Ia menjadi asing dengan atributnya sendiri. Engga nge-blend kata anak-anak ABG yang sering nongkrong dekat warung Munah.
Kesederhanaan ini mungkin efektif pada 2014 lalu. Lewat kemeja putih lengan panjang (kebesaran), celana pantalon hitam dan sepatu hitam dop, Jokowi terlihat alami. Hari ini, dengan lengan tangan yang terlalu dinaikkan, dan sepatu olahraga atau sneaker yang dipaksakan the so called kesederhanaan itu tidak muncul dan terlalu dibuat-buat.
Lagi pula, memang masalah kita hari ini bukan soal gaya hidup kandidat. Prabowo senangnya naik kuda, Sandi marathon dan basket. Sementara Maruf Amien senang makan nasi kotak. Hal-hal tadi adalah urusan personalia masing-masing. Saiya pikir publik hanya berpikir bagaimana program pilpres benar-benar mengantarkan harapan mereka kepada ekonomi dan hidup yang lebih baik.

0 comments:

Post a Comment