Friday, January 11, 2019

Fenomena Rocky

Fenomena Rocky
Sulit menyangkal jika pilpres 2019 ini adalah panggung sendirian Rocky Gerung. Ia seperti tidak terbendung menghantam lawan-lawan debatnya dengan model bahasa yang akrab. Bahasa yang seperti disangka tuan Goben Gusmiyadi adalah gaya anak melial yang pas dengan kebutuhan cara berkomunikasi media-sosial melenial. Ia dengan mulus memadu padankan antara pendekatan dialog a la Socrates melalui teknik parafrase yang dibangunnya. Caranya membagi-bagi kalimat lewat pharafrase yang mudah dikutip, dipenggal, dicuplik audiens adalah ciri-ciri kultur bahasa dari masyarakat digital yang akrab dengan perilaku, lihat-bagikan-komentar.
Ia menawarkan sebuah definisi, kemudian konseptualisasi, lalu dengan santai memparafrasenya untuk menjebak lawan debatnya masuk dalam kesalahan awal logika. Yaitu ragu pada batasan atau pengertian dari definisi yang sedang mereka paparkan. Pada posisi kikuk ini, Rocky dengan mudah melipat lawan dalam konseptualisasi yang dipersiapkannya.
"...menurut anda, Kitab Suci itu fakta atau fiksi."
Yang dijawabnya sendiri dengan fiksi. Pada saat pemirsa terjebak dalam definisi fiksi-fakta, Rocky melontarkan kata fiktif. yang pada sebagian orang menjadi satu pengertian baru jika fiksi dan fiktif itu dua hal berbeda dimana secara asal kita sering menggunakannya untuk menerangkan sebuah definisi. Keberaniannya untuk menggeledah pemahaman pemirsa dengan model dialog ala sokrates tadi itulah yang membuat Rocky menjadi tokoh pilpres kali ini.
Sedemikian ditunggunya pancingan-jab lalu upper-cut nya di setiap sessi debat ILC, Karni Ilyas mengatakan bahwa No Rocky No Party. Rocky adalah sentra dari setiap pembicaraan. Kini bila ia berbicara di forum apa saja. selalu ada puluhan video dibuat orang melalui gawai cerdas yang ditempel di tongkat narsis (tongsis). Berharap ia mengeluarkan sebuah frase yang quoatble, instragramable, dan share-able, yang berpotensi disukai ribuan orang dalam sekejab.
Bila pada 2014, ada banyak buzzer cinta mati terlibat dalam perang cyber dan saut-menyaut politik dukung mendukung maka pada 2019, hanya Rocky yang dibicarakan banyak orang. Rocky memang fenomena yang pas dengan transisi kebudayaan orang hari ini. Ia mampu mengumpan pemirsa dengan sesuatu yang ditunggu-tunggu dan mudah dibagikan.

0 comments:

Post a Comment