Tuesday, January 1, 2019

Jalan Tol

Jalan Tol
Itu adalah tol Cipularang yang baru beberapa hari diresmikan dimana pada bagian kiri dan kanan jalan masih terdapat sisa-sisa pekerjaan. Kami di satu mobil sedan mewah yang bergerak melaju seperti angin.
Senior saiya yang anggota DPR-RI waktu itu terpukau dengan betapa indahnya pemandangan kiri dan kanan. Pepohonan, lembah, bukit dan jembatan. Ia bertanya pendapat tentang pembangunan jalan tol yang konon membuat perjalanan Jakarta Bandung dapat ditempuh cukup 2,5 jam saja.
Saiya kembalikan kesimpulan diskusi kami terakhir jika pembangunan jalan tol itu tidak sinergi dengan rencana double-double track Cikampek-Bandung yang sudah direncanakan PJKA/KAI. Saiya perkirakan jika anggaran pembangunan rel ganda tadi mesti tersalib kebutuhan dari pembuatan jalan tol. Jika jalan tol ini diutamakan maka transportasi publik yang sedang giat didorong untuk mengatasi hambatan jalur Parahyangan, Argo-Gede akan terbengkalai.
Selain saiya katakan jika persoalan waktu tempuh di Bandung itu bukan karena Cikampek-Bandung Butuh Jalan tol, tetapi lebih kepada perbaikan jalan artire; Bogor-Puncak-Cianjur-Padalarang, atau jalur utara Cikampek-Purwakarta-Padalarang. Pelebaran jalur arteri dan pengaturan lalin sepanjang jalan lama lebih rasional dan murah ketimbang membuat jalan tol.
Demikian pula dengan ongkos transportasi publik seperti bus atau kereta yang akan murah dan kompetitif karena tidak ada biaya toll jalan. Di Jerman toll tidak berbayar, ini karena hakikat jalan adalah infra untuk mendukung dan meringankan pergerakan masyarakat sipil. Makanya jurusan ini di ITB disebut civic enjinering. Pembangunan yang berkaitan dengan urusan sipil tadi seharusnya gratis dan kalau perlu berbayar maka disubsidi.
Selain waktu itu juga usulan dari diskusi untuk mempertimbangkan jika jalan tol tadi mesti membunuh ribuan usaha kecil-menengah dan industri-industri di sepanjang jalan lama.
Tol cipularang tetap dilanjutkan, double track berhenti meninggalkan jembatan-jembatan kereta lama sebagai monumen. Usaha restoran, asongan dan umkm sepanjang jalur lama tewas, dan kemacetan Jakarta-Bandung akan teratasi hanyalah ilusi saja. Sekarang sering sekali saiya melihat di lini masa kawan-kawan yang mengeluh kemacetan di tol, di pintu keluar atau penerbangan mereka yang gagal karena persoalan macet tadi.
Saiya ingat catatan Moh Hatta tentang ambisi-ambisi infrastruktur ini. Rencana membuat aneka jalan tol sampai jembatan penyeberangan antar pulau sudah pula masuk di dalam perencanaan negara. Padahal lanjut Hatta, jalan-jalan desa, kecamatan, dan provinsi saja masih banyak yang rusak dan belum lagi diaspal. Padahal dari jalan-jalan tadi rakyat kebanyakan menggunakannya untuk menjual hasil bumi dan menjalankan usaha ekonomi mereka sehari-hari lainnya.
Sekarang, ada saiya melihat kawan-kawan mengabadikan satu perjalanan yang hebat dengan waktu tempuh cepat di tol-tol baru yang dibuat pemerintah hari ini. Mereka membayar untuk berjalan di sana dan mereka hanya menggunakannya dengan kendaraan pribadi. Yang juga kadang kala pemilik kendaraan pribadi tadi hanya menikmatinya sekali dua kali. Nanti bila semua pengalaman personal itu berkumpul dan orang bicara tentang panjangnya antrian keluar tol, dan matinya usaha-usaha kecil sepanjang jalan arteri lama. Semua kegembiraan tadi sepertinya tidak lagi sepadan.
Mengapa kita tidak bisa bicara seperti Hatta, semua mesti ada prioritas, semua perlu ada tahapan-tahapannya. Mengapa tidak lebih banyak membuat rel kereta, kendaraan publik lebih banyak daripada memprioritaskan jalan tol bagi pengemudi kendaraan pribadi? Kita sebetulnya bisa belajar dari negara-negara yang pernah mengalami kebodohan pembangunan seperti yang kita kerjakan hari ini.

0 comments:

Post a Comment