Friday, January 11, 2019

Waktunya kampanye Program

Waktunya kampanye Program
Sebetulnya tidak terlalu ada faedahnya kita membahas apa yang berkembang di sosial media. Pemilih Prabow-Sandi ada di kelompok ini dan mereka selalu memenangkan survey monyet dengan telak. Sementara pemilih Jokowi juga tidak akan banyak berobah.
Apa yang dilakukan Sandiaga-Uno untuk mengambil perhatian dari kelompok praktikan kelas menangah bawah yaitu ibu-ibu, pedagang umkm adalah langkah yang bagus untuk keluar dari pasar sosmed yang terpolakan.
Ia masuk ke pasar-pasar becek untuk menyapa pengunjung dan pedagang. Menanyakan hal-hal normatif seputar menurunnya ppp (daya beli masyarakat) kemarin memainkan gerakan sumbangan sukarela dimana video-video anak muda, pedagang atau ibu rumah tangga memberikan dana bantuan kampanye. Artinya Sandi dan timnya cukup piawai menyambung celah antara dirinya dengan mereka yang memiliki harapan agar nasib dan peruntungan berubah di 2019. Ia membangun ekspektasi sekaligus simpati.
Sandi cukup sadar jika pemilu bukan cuma bertukar keributan. Tidak banyak yang merasakan faedah dari jalan tol berbayar sementara pedagang sayuran di Banten mengeluh bahwa mereka membayar mahal untuk pick-up ke pasar karena jalan desa rusak berantakan.
Persoalan program memang harus langsung dapat tempat di ekspektasi orang. Ia tidak perlu banyak mencerahkan pikiran, tokh yang seperti itu hanya cocok di forum debat yang ditonton spesifik penonton dengan kelas pendidikan tertentu. Orang senang atau benci dengan omongan Rocky Gerung, tetapi sebuah penjelasan yang gamblang tidak menyelesaikan perut yang kelaparan.
Si sini saiya melihat adu program ke lapangan jadi signifikan. Perdebatan di sosial-media sudah kadarluarsa. Yang menolak atau mendukung adalah kelompok hore-hore yang sama. Mereka para ketimun bungkuk. Yang keberadaan atau ketiadaannya tidak menambah signifikan suara kemenangan.
PKS misalnya sudah memainkan program langsung mengena seperti tawaran SIM seumur hidup dan pajak motor yang dihilangkan. Sementara PKB dan PPP menawarkan perumahan santri dan kyai. Meskipun tidak dijelaskan apakah pak Kyai dapat satu unit atau model langsung empat kamar. Persoalan nantinya bisa atau tidak program ini dijalankan itu adalah urusan politik tata kelolanya. Dalam tata kelola pemerintahan ada dikenal adagium "campaign is something, and policy is something else. Dulu Jokowi bicara tentang adanya 8000 pesanan mobil Esemka dengan kapasitas produksi 100-200 unit per bulan. Bahwa esemka ini kemudian menjadi omongkosong dan omong besar (OKOB) itu adalah lain persoalan.
Nah rupanya kiranya program apa yang cocok dan menarik simpati kelompok-kelompok yang disasar dalam pemilu kali ini saiya ada beberapa usul:
1) Penghapusan UN bagi siswa SMU. dan diganti dengan pembagian sertifikat kelulusan langsung.
2) Regulasi tarif tol. Tiap 10 km pertama gratis, tiap 5 km selanjutnya 2000 rupiah.
3) Pemberlakuan aturan Ganjil Genap para ortu, karyawan dan PNS. Berdasarkan angka terakhir di NIK KTP atau NIK kepegawaian. Karyawan yang niknya ganjil boleh tidak ke kantor tiap tanggal ganjil. (Ini untuk merekatkan rasa kekeluargaan)
4) Ojol mendapatkan cuti besar dan cuti akhir tahun dibayar operator.
5) Gerbong kereta khusus pria akan diadakan. Mengingat banyaknya keluhan para pria yang kena tipu mbak-mbak ngaku hamil.

0 comments:

Post a Comment