Sunday, January 20, 2019

When the Camera Never Lies

When the Camera Never Lies
Yang paling menarik dari munculnya sosial media adalah kenyataan bahwa kita semakin ditarik ke wilayah demokrasi yang sesungguhnya.
Hari ini semua orang dapat menyampaikan apa yang menjadi kepentingannya ke forum-forum tanpa adanya sekat dan langsung. Meski dalam demokrasi yang seperti ini, seperti halnya kamera yang merekam aktivitas dan peristiwa maka sosial media menyimpan dalam jejak digital apa-apa yang kita kerjakan.
Artinya dalam sistem yang serba langsung dan terbuka tadi, sebenarnya di dalam dunia digital kita diminta untuk semakin transparan, konsisten, terbuka, dan jujur. Ini karena sebagaimana narasi tentang malaikat pencatat kebaikan dan keburukan, pada hari ini kita menyaksikan sendiri jika time-lines di sosial media telah menjadi mesin pencatat yang berlaku mirip dengan kedua malaikat tadi. Orang akan dengan cepat dipaksa untuk jujur dengan kebenaran.
Lama sebelum kita mengenal media-sosial, Michael Frank dalam liriknya menulis jika kebenaran adalah sesuatu yang tidak dapat kita muskilkan untuk dibenci.
Dengan membuka mata kita dapat mengetahui bahwa kamera tidak berbohong dan tidak akan pernah berbohong. Bahwa pada pendapat yang mengatakan kamera membawa narasi-narasi itu memang benar, tetapi sebuah narasi mesti mengandung di dalamnya alur, plot, dan logikanya. Ia tidak boleh menciptakan ganjalan dan keganjilan bagi pengamatnya.
Bila kita membaca Camera Lucida dari Barthes maka seperti halnya camera, sosial media adalah instrumen bagi kita untuk mengobservasi, mengamati, menilai, menyimpan, membekukan, namun sekaligus merekam kenangan untuk tetap hidup dan peristiwa lainnya.
Di sinilah pada narasi-narasi yang janggal orang akan dengan cepat merasa ada hal-hal ganjil yang tidak menggenapkan akal sehat.
Pada adegan pada foto (gambar) di bawah ini, kita yang normal tentu dapat merasakan kejanggalan tadi. Seorang presiden sambil dicukur, tengah membahas semacam blue-print atau ppl rencana pembangunan di sebuah Provinsi bersama seorang gubernur. Sementara melengkapi adegan tadi adalah; seorang tukang cukur Garut yang tampaknya tidak seperti kebanyakan tukang cukur Limbangan Garut. Ia lebih mirip tampilan seorang dokter bedah plastik yang merangkap penyanyi jazz.
Apakah ini sebuah adegan yang direkayasa? Apakah perekayasaan itu termasuk di dalamnya narasi dua kepala pemerintahan tengah membahas sebuah kebijakan negeri? Apakah isi dari blue print itu pun hanya narasi rekayasa? Benarkah si tukang cukur itu mencukur, atau sebenarnya ia sedang mengukur bagian mana dari wajah si klien untuk dioperasi plastik. Ini karena kain penutup badan terlalu bersih dan tampaknya belum ada satu pun rambut yang menepel. Atau sudah sedemikian mendesakkah urusan tadi sehingga harus dilakukan sambil cukuran rambut?
Sampai ia pun harus berpindah dari satu keramaian ke tempat lainnya untuk menuntaskan adegan berpose tadi. Manakah dari kedua pose tadi yang latar belakangnya editan, dan seandainya salah satu adalah hasil editing maka apa tujuan-tujuan dari dua latar yang berbeda tadi.
Pada narasi-narasi janggal seperti ini, kita tahu Kamera tidak pernah berbohong.

0 comments:

Post a Comment