Saturday, February 16, 2019

Filsafat Kumbang Taik

Filsafat Kumbang Taik
Yuuup, saiya tidak hadir di acara diskusi nya Goenawan Moehammad Cs yang kata orang-orang sih isinya ngegosipin Rocky Gerung.
Pertama, saiya sibuk sekali ngumpulin makan siang yang disediakan kantor. Terlalu banyak nasi boks sementara undangan yang datang biasa-biasa saja. Jadi undangan ke Cafe yang didahului makan siang itu tidak lagi menarik. Pipit di tangan dilepas, elang di awan dibayangkan.
Kedua, acara tadi sejak awal memang diselenggarakan oleh tim hore-hore petahana untuk membendung analogi Dungunya Rocky yang memincut perhatian publik lewat acara ILC yang digawangi Karni Ilyas. Rocky adalah selebritinya, dia sukses menembak langsung kekuasaan dengan permainan kata/bahasa yang langsung-langsung saja (einfach ein wort/sprachspiele). Meminjam istilah Wittgenstein, lugas, jelas, dan tepat sasaran.
Dungu, tolol, otak kecebong, tempurung, IQ digabung sekolam, adalah pilihan kata (diksi) yang mudah difahami awam dan tanpa mengurangi maknanya mereka ada di dalam kamus KBBI.
Sementara the so called para pencegah pembusukan filsafat itu sendiri kita mengenalnya sebagai penggiat kebudayaan, yang sebelumnya pun tidak terlalu dikenal karena memperkaya khasanah diskusi filsafat. Baru-baru ini pun mereka sibuk dalam wacana Kongres Kebudayaan. Tetapi hari ini orang tidak mau percaya jika isu politik-ekonomi adalah persoalan mental kebudayaan. Di sini kita dapat fahami mengapa Rocky me-rocket. Ia sukses memilih permainan kata yang cocok dalam bahasa popular hari ini.
Ketiga, tidak satu pun dari pemateri yang hadir berani mengatakan dirinya filsuf. Mereka hanya disebut Budayawan, Dosen Filsafat, Dosen Filsafat, dan semacam alumnus sekolah filsafat. Jadi atas keprihatinan siapa mereka ingin melawan pembusukan filsafat dan filsafat mana yang tengah dibusuki itu kita tidak tahu.
Sekali lagi, mereka hanya menjadi pengamat Rocky yang tentu saja statusnya mesti lebih rendah dari yang diamati. Ini karena mereka apa pun kedudukannya sedang digarap dalam permainan Rocky. No Rocky no Party, dan mereka adalah sedikit dari beberapa penggembira saja.
Keempat, dari link youtube yang diunduh tentang acara tersebut, saiya tidak melihat adanya pembahasan yang komprehensiv baik itu tentang filsafatnya atau Rocky. Keempatnya seperti melakukan gosip ala ibu-ibu di gang tentang janda kembang yang baru pindah rumah ke lingkungan. Si janda sendiri tidak terlalu pusing dengan obrolan dan persoalan filsafat atau pemikiran yang membusuk.
Ini karena si janda yang naik daun faham sekali, jika satu-satunya hewan yang mencegah terjadinya proses pembusukan adalah kumbang taik. Mereka senang menyimpannya untuk diri mereka sendiri.

Isu Propaganda Rusia dan Persoalan Bilateral Indonesia-Rusia

Isu Propaganda Rusia dan Persoalan Bilateral Indonesia-Rusia

Setelah Menhan Ryamizard Riakudu berkunjung ke Rusia bertemu dengan Menhan Sergey Sughoi kini giliran Menko Wiranto ke sana untuk bertemu Nikolay Patrusev, Sekretaris Dewan Keamanan.
Sebetulnya sulit untuk tidak menghubungkan pertemuan lanjutan dari pejabat setingkat menteri ke pejabat senior (Menko vs Sekretaris Jendral Keamanan) ini dengan isu Propaganda Rusia yang dilansir Jokowi pada sebuah kampanye di Surabaya beberapa waktu lalu.
Isu Russian Bots, Russia Apologist, dan kini Russia Propaganda adalah salah satu topik utama yang mendapatkan perhatian khusus kontra-intelejen Rusia. Mereka tidak menganggapnya hal sederhana, ini karena menyangkut keamanan geopolitik internasional Russia. Ada empat lembaga setingkat kementerian yang menangani persoalan ini, dari Kemlu Rusia, Kemendagri, Duta Besar Rusia PBB, Kemhan, dan Dewan Keamanan Rusia.
Bila Ryamizard mengatakan tujuan kunjungan adalah mempererat kerjasama pertahanan maka kunjungan Wiranto fokus pada upaya kerjasama penanggulangan Bencana a selain isu terorisme dan kejahatan siber.
Mereka yang senang mengamati isu keamanan-dan intelejen tentu mengetahui jika Sekretaris Keamanan Patrusev bukanlah orangnya untuk kerjasama penanggulangan seperti dimaksud. Ia adalah pejabat senior di FSB (dulu KGB) dan kepercayaan Putin di bidang kontra intelejen. Seperti pernah kita bahas beberapa waktu lalu di forum wall fesbuk nan mulia ini, pernyataan Jokowi memang tidak akan berhenti sekedar kicauan resmi Kedutaan Besar Rusia di Jakarta. Meski ada saja pemirsa yang tidak percaya jika persoalan ini akan berkembang menyangkut masalah diplomatik.
Melihat perkembangan leverage dari Menteri ke Pejabat yang lebih tinggi, tentu kita dapat menilai jika Rusia mesti meminta klarifikasi yang lebih terpercaya terkait pernyataan Jokowi di Surabaya. Ini karena meskipun sebagian menyebut Jokowi mengatakan Propaganda Rusia sebagai capres, atau Zainudin Ngaciro, Cak Njanjuk dst., tetapi secara de facto ia adalah presiden. Pernyataan yang keluar dari seorang presiden mesti mewakili satu pandangan kebijakan pemerintah dalam hubungannya ke dalam maupun ke luar dengan negara lain.
Pikir dulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna. Ini pepatah lama, tetapi persoalannya apa kita menggunakan pikiran ketika berpendapat.

Sunday, February 10, 2019

hawa nafsu

Sewaktu masih kuliah di Tut Tek Dung, saya diperkenalkan pada Hukum Panitia OS yang berbunyi: (1) Panitia selalu benar, dan (2) Jika Panitia salah maka lihat nomor (1).

Adalah lazim bahwa kebanyakan manusia tak akan suka disalahkan, termasuk saya sendiri. Menyakitkan rasanya. Dalam Islam, ada istilah “hawa nafsu” yang merupakan hasrat imaterial, hasrat yang 'menyeru' manusia kepada dirinya sendiri, bahwa akulah yang paling benar, bahwa akulah yang paling pandai, bahwa aku tak boleh dihina, bahwa aku tak boleh dipersalahkan, bahwa aku ingin berkuasa, dan berbagai “aku-sentris” lainnya.

Adalah sulit untuk melawan hawa nafsu, sehingga Rasulullah Muhammad saw pun menyebutnya sebagai “jihad akbar”...

(“Tapi Kang Al, itu bukan hadits. Itu adalah perkataan Abu Bakar.” ... Ya, tak apa-apa kalau ‘hanya’ perkataan Abu Bakar juga, toh tak mungkin Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mulia itu akan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Rasulullah Muhammad saw.)

Sekalipun memang susah melawannya, namun bukan berarti ‘mengafirmasi’ hawa nafsu adalah jalan keluarnya. Dan, salah satu jalan untuk berlatih melawan hawa nafsu itu adalah kejujuran dan kerendahhatian khas dunia ilmiah yang biasa disebut sebagai objektivitas.

(“Tapi Kang Al, apakah objektivitas itu memang ada?” Iya, kebetulan guru filsafat saya yang pertama adalah salah satu pakar hermeneutika di republik ini. Saya sedikit tahu soal itu. Tapi kita pakai saja dulu kata ‘objektivitas’ dalam makna yang menyiratkan ‘keterbukaan dan tak tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu.’ Boleh kan?)

Menjelang akhir pengerjaan disertasinya, istriku tercinta yang cantik jelita itu berkata dengan nada kecewa bahwa ternyata hasil penelitian S3-nya tidaklah signifikan. Dia meneliti meningitis dalam proyek disertasinya. Dia melakukan penelitian pada para pasien meningitis. Mungkin untuk kita yang awam, bayangkan saja perumpamannya begini. Selama ini dengan treatment standar yang ada, para pasien meningitis bisa membaik dalam waktu setahun. Nah berdasarkan penelitian tersebut, bagaimana kalau treatment-nya agak diubah, apakah pasien akan lebih cepat membaik? Ternyata pasien hanya jadi membaik satu jam lebih cepat saja. Ini hanya perumpamaan saja ya. Agar mudah membayangkan.

Istri cantikku itu lalu bercerita soal ‘ketidakpercayaan’ akademisi luar -- khususnya Barat -- terhadap penelitian di Indonesia, sebab tak jarang yang terjadi adalah ‘fabrikasi data’ hanya agar terlihat bahwa penelitian tersebut berhasil.

Dalam suatu percakapan bersama Mursyid Penerus, saat baru saja menyelesaikan disertasinya, beliau berkata bahwa semua penelitian mahasiswa S3 itu harus menghasilkan sesuatu yang “berhasil” dan “terbukti” agar bisa lulus. Kenapa tidak bisa kesimpulannya adalah “gagal” dan “tidak terbukti”?

Sebagaimana umumnya diketahui bahwa penulisan tugas akhir itu dimulai dari Bab Pendahuluan berisi berbagai pertanyaan teoretik yang hendak dijawab, dan bukan dari Bab Kesimpulan. Nah, untuk mahasiswa S3, porsinya berbeda. Mereka harus menghasilkan suatu kebaruan. Gambaran gampangnya begini: kalau selama ini Rasulullah dikenal sebagai nabi pembawa agama, pedagang, pemimpin, panglima perang, suami dari sekian istri, sosok yang dicintai lebih daripada para sahabat mencintai diri mereka sendiri, maka dalam disertasi ini sang mahasiswa S3 akan “membuktikan” bahwa Rasulullah juga adalah seorang eksistensialis.

Nah, apakah sang mahasiswa akan dinyatakan lulus jika dia berhasil “memperlihatkan” bahwa Rasulullah memang “terbukti” sebagai seorang eksistensialis, meskipun Islam yang dibawa Rasulullah memiliki pandangan ihwal hidup dan manusia yang berbeda sama sekali dengan eksistensialisme? Mungkin salah satu permasalahannya adalah “bagaimana bisa diterima bahwa waktu studi dan riset selama 4 tahun atau bahkan lebih itu hanya dihabiskan untuk menuliskan kesimpulan ‘ternyata saya salah’ dan ‘pendirian teoretik baru yang ingin saya hasilkan ternyata tak terbukti’...” Jika memang demikian keberatannya, lantas di manakah “kejujuran ilmiah bernama objektivitas” apabila sang mahasiswa malah seperti diajari untuk “berusahalah semaksimal mungkin untuk ngeles guna membuktikan bahwa saya benar”?

Memang ada perbedaan antara sains dengan humaniora. Sebagaimana saya tulis dalam makalah berjudul “Qui a peur de la philosophie?: Antara Prasangka, Fikrah dan Objektivitas”, salah satu perbedaannya adalah masalah hermeneutika tunggal (single hermeneutics) dengan hermeneutika ganda (double hermeneutics).

Hermeneutika tunggal artinya bahwa tindakan menafsir dan menganalisis dalam ilmu alam itu berlangsung satu arah, yaitu dari sang saintis kepada objek yang diamatinya. Tak ada tafsir apa pun yang dilakukan oleh objek sains terhadap sang saintis.

Hermeneutika ganda artinya bahwa tindakan menafsir dan menganalisis berlangsung dua arah, karena ilmu-ilmu sosial mengamati manusia. Misalnya, prediksi seorang ekonom soal bencana ekonomi yang akan terjadi di Indonesia 2017 bisa disikapi kepanikan oleh masyarakat dan berdampak pada tindakan para pelaku pasar. Namun, pelaku analisis/pengkaji/ilmuwan sosial dan apa yang dilakukannya merupakan bagian dari praktik sosial, yang pada gilirannya juga dapat dianalisis oleh ilmuwan sosial lainnya. Berbeda dari ilmu-ilmu alam, para pelaku ilmu-ilmu sosial (ilmuwan sosial) tidak sepenuhnya terpisah dari objek yang dikajinya.

Akan tetapi apakah karena ini pula maka dalam ranah humaniora, segala pendirian teoretis itu “benar” selama bisa diargumentasikan secara licin dan penuh akal-akalan? Kembali pertanyaannya adalah “lantas di mana integritas sang peneliti untuk mencoba bersikap objektif dan menerima bahwa ternyata dirinya memiliki kesimpulan yang salah?” Kadang hal ini malah menjadi kabur dengan klaim-klaim indah ihwal “pluralisme”, “penafsiran baru”, dan “keterbukaan menerima kritik untuk nantinya dijawab dengan ‘ngelesan’ lainnya”, sebagaimana sering juga dilakoni oleh saya sendiri.

Ini menggiring ingatan saya kepada Sokrates. Ada satu hal yang mengagumkan dari Sokrates jika membaca kitab Kriton.

Dalam kitab itu, Kriton menawarkan Sokrates untuk melarikan diri dengan cara menyuap penjaga penjara. Sokrates menolaknya sebab dia tak mau “menghancurkan” Athena dengan cara melanggar hukum-hukumnya, terlebih dia sendiri adalah salah satu warganya. Bagi Sokrates, memperlakukan seseorang dengan buruk sama saja dengan memperlakukannya dengan tidak adil. Sokrates juga sadar jika dia dihukum dengan cara yang tak adil, namun Sokrates mengingatkan Kriton ihwal percakapan lama mereka bahwa seseorang tak boleh membalas perlakuan buruk yang diterimanya. Balas dendam itu sama sekali tak dibenarkan. Sokrates juga menegaskan bahwa pendapat kebanyakan orang bukanlah sesuatu yang pasti benar. Sokrates lebih mempercayai satu orang yang memang ahlinya, daripada suara orang banyak, ihwal suatu perkara. Namun itu pun bukan menjadi pembenaran baginya untuk lantas melanggar hukum Athena, apalagi dengan cara menyuap. Selain itu, Sokrates pun tak menaruh benci atau menyalahkan siapa pun atas ketidakadilan yang dialaminya, bahkan tidak juga kepada Aristophanes yang membuat pertunjukkan teater untuk menyebarkan fitnah bahwa Sokrates adalah seorang gay yang mengincar para pemuda Athena dan bahwasanya Sokrates pun mengajarkan relativitas moral.

Bagi saya ini sangat luar biasa.

Sokrates menjadikan filsafat bukan sebagai seni mencipta konsep-konsep (rumit) sebagaimana didefinisikan oleh Deleuze & Guattari. Sokrates menjadikan filsafat sebagai jalan hidup, sebagai suatu integritas yang tak memisahkan antara etika dengan epistemologi, yang tak memisahkan antara ke-semau-gue-an di ranah privat dan ke-jaim-an di ranah publik, yang tak memisahkan hasrat tak terkendali lagi motivasi busuk tersembunyi di ranah privat yang kemudian dibungkus dengan konsep-konsep canggih lagi rumit di ranah publik. Sokrates menghidupi filsafat di ranah privat dan publik dalam keseharian hingga ajal menjemputnya, dan bukannya menawarkan kerumitan pikiran ke ranah publik sembari menutupi keliaran hasrat tak terkendali dan niat busuk di ranah privat.

Menurut saya, sofisme yang dilawan oleh Sokrates bukan semata berbentuk akrobat logika yang merelatifkan kebenaran hanya demi mendapatkan uang sebagaimana dilakoni oleh kalangan Sofis, tapi juga bagaimana daya pikir manusia malah dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh epithumia (hasrat material) maupun thumos (hasrat imaterial) untuk mendapatkan apa yang dimauinya. Baik epithumia maupun thumos adalah bagian dari jiwa yang fana (mortal), berbeda dengan bagian lain dari jiwa yang abadi (imortal) dan bahkan serupa dengan Idea. Itulah kenapa Sokrates mengatakan bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati, yaitu agar seseorang yang belajar filsafat bisa lepas dari epithumia dan thumos dengan berlatih mati, sehingga psukhé (jiwa) bisa lepas dari soma (tubuh), dan psukhé pun bisa belajar tanpa harus terganggu oleh hasrat-hasrat tersebut.

Dalam Islam dikenal ajaran bahwa hati (qalb) itu ibarat raja, sedangkan anggota badan itu ibarat prajuritnya. Bila sang raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya.

Saya baru mulai memahami kenapa Mursyid Penerus selalu menegaskan berulang kali agar kami, para saliknya, senantiasa belajar membangun sikap objektif, dan ternyata saya sendiri masih sering gagal membangun sikap ini.

(“Iya, Kang Al juga sering tidak objektif.” Sumuhun, saya memang seburuk itu, bahkan masih banyak keburukan saya yang belum Anda sebutkan, dan seperti yang saya tuliskan di atas, kebanyakan manusia itu tak suka jika disalah-salahkan. Begitu juga saya. Begitulah keburukan yang masih menempel di diri saya. Namun, semoga setelah teguran dari Anda ini, saya pun bisa mendapatkan ilmu dan hikmah dari Anda ya. Amin Ya Rabb Al-Alamin.)

Beberapa minggu ini saya baru mulai menyadari bahwa (berusaha untuk) bersikap objektif itu pun membersihkan hati. Bahwa saya seharusnya mencoba untuk tidak begitu saja dipermainkan oleh ketidaksukaan atau bahkan rasa benci kepada seseorang atau suatu kalangan sehingga ketidaksukaan atau rasa benci itu malah memanipulasi dan memanfaatkan segenap kemampuan pikir yang saya punya hanya untuk menyerangnya, mempermalukannya, mendelegitimasinya, dan di atas itu semua adalah “membuktikan bahwa saya pasti benar, sebab jika saya salah, maka ketahuilah bahwa saya pasti benar.” Permasalahannya, ketidaksukaan atau rasa benci itulah yang membuat saya selalu melihat orang atau kalangan yang tidak saya sukai atau benci senantiasa melakukan kesalahan; apa pun yang mereka lakukan pasti salah, sebab salah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri mereka. Adapun kebenaran itu ada di pihak saya dan teman-teman yang sepikiran dengan saya. Titik!

Ternyata seburuk itu saya selama ini... Astagfirullah Al-Adzim. Hampura Gusti Nu Agung.

Nah, dengan status panjang ini, sekalian saya pun mohon pamit untuk mundur dulu dari dunia media sosial, khususnya FB. Permasalahan utamanya adalah ada begitu banyak deadline yang harus saya penuhi hingga bulan Juli tahun ini, dan itu akan menyita banyak waktu. Semoga hingga saat pekerjaan itu selesai, euforia cupras capres pun sudah berlalu, dan saya pun bisa ngemedsos lagi dengan kondisi diri yang lebih baik dan tak merasa paling benar. Mohon maaf juga jika berbagai comment Anda di postingan ini tidak selalu saya jawab. Adapun jika Anda merasa bahwa postingan ini ada gunanya, serta berniat nge-share, silakan saja, tak perlu minta izin segala.

Oh iya, mungkin sesekali saya akan muncul di akhir pekan, jika ada sesuatu yang saya rasa berharga untuk dituliskan. Mohon maaf jika selama ini ada banyak salah kata yang saya tuliskan dan menyakitkan Anda, baik disengaja maupun tidak disengaja. Demikian. Salam.

Saturday, February 9, 2019

Propaganda Rusia : Jokowi bisa dianggap inkonstitusional

Propaganda Rusia : Jokowi bisa dianggap inkonstitusional
Pernyataan Jokowi di Surabaya yang menyebut ada tim sukses yang mempersiapkan Propaganda Rusia adalah blunder dalam politik luar negeri.
Sebagai negara pendiri NAM (non blok) dan ASEAN,konsep mendayung di antara dua karang dan tidak ikut campur (non interference) urusan dalam negeri orang lain maka tuduhan Jokowi ini sangat berbahaya dan bisa dianggap inkonstitusional. Dalam pembukaan UUD 45 sudah diterangkan jika pemerintahan negara kita bertujuan melaksanakan ketertiban dunia yang salah satunya menjadikan doktrin non-interference atau bebas aktif sebagai marwahnya.
Belum lagi bila kita melihat kepada dokumen ASEAN tentang tidak melibatkan pihak luar dalam persoalan bi dan multilateral sesama anggota. Selain tentunya Indonesia adalah konseptor dari kaidah utama komunikasi ASEAN yaitu musyawarah (deliberation) dan kemufakatan (concensus) yang mengedepankan pemeriksaan cermat dan menghindari tudingan dalam mengatasi persoalan.
Saiya tidak faham apa latar belakang seorang presiden (kita tidak perlu bermain kata dengan istilah calon presiden) mengucapkan adanya interfensi asing dalam hal ini Rusia, di hadapan publik, direkam banyak orang dan didukung pula banyak orang. Apakah pernyataan ini sifatnya dugaan, ataukah ada laporan intelejen detail yang membenarkan ucapan seorang Presiden di muka umum tentang interfensi propaganda Rusia. Apakah tujuan dari ucapannya ini untuk menyerang lawan politik ataukah untuk membangkitkan sentimen anti Rusia di kalangan masyarakat Indonesia.
Secara historis Rusia tidak memiliki persoalan sejarah, sebaliknya Uni-Sovyet pernah membantu perjuangan Indonesia dengan mengirim alutsista dan penasehat militer mereka.
Saya yakin terlepas dari rilis resmi kedutaan via sosial media twitter, maka mesti akan ada surat diplomatik dari Kedutaan Rusia yang meminta keterangan lebih jauh tentang hal ini. Jika tidak dilakukan kedutaan Rusia di Jakarta maka Kementerian Luar Negeri Rusia mesti memanggil Duta Besar Indonesia di Moskwa. Bisa dibayangkan betapa repotnya pihak Kemlu menjelaskan persoalan ini.
Jika pernyataan tadi diucapkan oleh Jainudin Nachiro, Nurhadi, atau Cak Jangcuk barangkali tidak ada masalah, tetapi ketika seorang Presiden mengucapkannya di muka umum ini tentu akan berkepanjangan dalam hubungan luar negeri kita.
Rusia mesti akan melakukan uji parameter atas persoalan ini, mengingat istilah Russian Propaganda, Russian Bots, Russian Meddling, Russian interference adalah bahasa baku yang digunakan oleh pemerintah Barat (Eropa dan AS) serta media mainstream mereka untuk menyudutkan pemerintah Rusia. Mereka tentu akan memasukkan persoalan ini sebagai sebuah catatan penting dari hubungan diplomatik Rusia-Indonesia.
Alangkah bodohnya.

Lebah

Lebah
Mbah Moen meminta maaf karena kesalahan doa. Ketika seseorang memintanya untuk mengulang kembali doa yang tertukar, ia berkata bahwa usia tua membuatnya demikian.
Di dusun kami dulu ada seseorang yang wajahnya mirip dengan mbak Moen. Namanya Bapak Kapaloh. Ayah kami membiarkan kami memanggilnya dengan sebutan Bapak padahal ia adalah iparnya, suami dari kakak perempuannya yang kami panggil Uwak. Bila mengikuti aturan pemanggilan ia mestinya juga disebut uwak oleh keponakan-keponakan dari adik iparnya.
Aturan penyebutan ini menurut saya terlalu rumit, tetapi sebenarnya cukup efektif memverifikasi orang. Juga nantinya dari sana ukuran-ukuran adat, istiadat atau kebiasaan ditetapkan menjadi hukuman.
Ayah berkata bahwa dia masih memiliki kekerabatan dari jalur bapaknya. Sehingga atas pengecualian dia mendapatkan panggilan tadi. Ayah sendiri memanggilnya kakak, sebagai sebuah penghormatan. Meskipun demikian Bapak Kapaloh adalah orang yang terikat pada aturan.
Rumah di dusun adalah rumah tiang yang tersusun oleh kayu-kayu ulin atau jati ratusan tahun. Sebagai slop yang menghubungkan antar tiang maka di lantainya akan digunakan satu balok besar panjang. Balok-balok tadi membentuk kotak-kotak dengan ukuran tergantung besar rumah. Rumah kami memiliki balok yang panjangnya dua puluh meter tanpa sambungan. Ia dibagi menjadi empat ruas masing-masing lima meter.
Di tiap ruas itulah aturan duduk di tetapkan.
"Kamu lihat nanti bagaimana Bapak Kapaloh datang"
Ayah melirik pada pria yang berjalan bungkuk dengan baju batik dan kopiah hitam dari kejauhan.
Ketika mendekati tangga ia berhenti sambil mengucapkan salam. Berdiri berpegangan pada tiang dan diam di sana.
"Bagaimana kabar kebun, sudah ada yang bisa dibawa ke Jakarta."
Ayah bertanya dari atas rumah dan ia menjawab agak panjang.
"Durian tiga bulan lagi, duku kalau mau menunggu dua minggu lagi, jeruk baru ditanam, tetapi ada saiya siapkan gabah buat digiling dan beberapa ikan asap."
Ia menjawab dan duduk di sana.
"Siapa yang datang minta doa."
Ayah bertanya lagi kepadanya sambil tersenyum.
"Kalau diizinkan boleh saiya duduk di sini? Belakangan sendi agak ngilu kalau banyak berdiri."
Ia berdiri menunggu jawaban.
"Duduklah"
Bapak Kapaloh melepaskan pegangannya pada tiang tangga dan duduk di ijan (anak tangga).
"...Moyang Woli, Ombai Idun, ombai Sia, bakas Usup, bapak Bakar,...."
Ia menyebutkan nama-nama orang di masa lampau yang telah mendahului.
"Naiklah ke sini kak, ada teh dan kue."
Ayah berkata dan Bapak Kapolah mengangguk. Ditanggalkannya sendal di bawah tangga dan ia meniti anak tangga pelan-pelan ke atas.
Istrinya atau uwak kami adalah artis penari terkenal di dusun. Namanya Irim atau biasa dipanggil Ran (Istri) Kapaloh. Ia perempuan yang selalu gembira dan berbahagia. Hobinya bernyanyi, menari, mengajar tari anak-anak, dan membuat kue. Menurutnya suaminya itu pemalu dan lambat seperti siput. Bagaimana kedua sifat-sifat saling bertentangan itu bertemu kita tidak pernah faham perjodohan.
"Masuklah, kita baru mau mulai."
Uwak Irim berkata pada orang-orang di bagian teras rumah.
Orang-orang masuk mengambil tempat duduknya di antara balok-balok di lantai.
"Nanti kamu perhatikan dimana Bapak Kapaloh duduk."
Ia adalah pria terakhir yang masuk. Tetapi ia tidak segera masuk. Pertama dia akan berdiri menampilkan diri di depan pintu masuk yang mirip pintu bar koboi. Lalu orang-orang akan meneriakinya untuk segera masuk.
Ia lalu akan duduk saja di palang pintu. Orang-orang kembali akan meledeknya dan berkata bahwa ia adalah bagian dari keluarga di rumah itu.
Bapak Kapaloh baru akan melompati palang pintu dan dipilihnya duduk di balok paling dekat dengan dinding luar rumah.
Lalu orang-orang makan bersama dari satu panci yang sama dengan tangan kosong dan obrolan serta gurauan yang kejam. Orang dusun senang membuat istilah dan saling menjahili dengan gurauan yang menurut saiya terlalu berlebihan. Tetapi itu adalah cara mereka berinteraksi saiya tidak faham apakah itu baik atau buruk.
Nenek biasanya akan duduk saja di atas ranjangnya sambil memutar tasbih. Ia tidak terlalu peduli dengan acara makan-makan. Tubuhnya kurus tetapi setiap pagi dini dia berangkat ke sungai untuk mandi dan mengambil satu ember air sebagai air wudhlu.
Setelah semua suguhan selesai biasanya kabar-kabar dari dunia lampau disampaikan.
"Hei Kapaloh, apa kabar nenek-moyang kita"
Uwa Badar, kakak tertua ayah bertanya padanya. Kapalah menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Moyang Tuan mengucapkan terimakasih karena ziarah dan membersihkan makamnya. Hanya dia sampaikan satu nisan yang di pasang Haji Latif tertukar tempat."
Orang-orang bergumam dan bertanya siapa yang memasang kembali waktu renovasi kuburan nenek-moyang. Satu dari pria di ruangan kemudian menyuruh seorang anak untuk menghubungi lagi orang lain.
"...Indok Haji (nenek)"
Bapak Kapaloh melanjutkan
Nenek berhenti memutar tasbihnya.
"Waktunya tidak lagi lama. Ia nantinya mati ngojut (tiba-tiba dan diketahui orang)."
Nenek tertunduk dan membalikkan badannya.
Perahu merapat ke gosong di tengah sungai. Beberapa pria baru saja kembali dari tempat pemakaman tua. Kak Mulkan anak dari uwa Badar berkata jika salah satu nisan memang salah pasangan tetapi sudah dicabut dan dipasangkan dengan benar.
Setiap generasi akan memasang sepasang nisan di kedua ujung kuburan. Sampai terakhir saiya melihat barangkali ada 7-8 generasi. Yang masing-masing ada terbuat dari kayu unglin, batu, semen, dan kaca. Nisan-nisan tadi dipasang berjejer untuk menunjukkan silsilah sesuai generasi dan karena makam yang berkembang membesar karena lebah tanah yang menjadikannya istana mereka. Si lebah memperbesar makam tadi sampai menembus atap dan ke depan atau ke samping yang membuat nisan terdorong lebih jauh. Makam tadi kira-kira panjangnya tiga atau empat meter.
Dua bulan setelah terakhir kami berkunjung, nenek meninggal dunia dalam tidurnya.
Bapak Kapaloh meninggal delapan tahun lalu. Ia barangkali murid terakhir dari Tanda Woli yang mengikuti tarekat Hasaniyah. Setiap malam mewajibkan dirinya membaca satu kitab quran. Bila saiya mendengarkannya membaca dari bawah rumahnya sepulang shalat subuh ia membaca seperti seekor lebah yang berdengung di depan kembang.

Kampanye Propaganda Rusia dan Selang Kebakaran

Kampanye Propaganda Rusia dan Selang Kebakaran
Pidato Jokowi di hadapan massa di Surabaya tentang adanya Propaganda Rusia memang akhirnya akan membuat blunder dari perspektif hubungan luar negeri dan pencitraan.
Terlepas benar atau tidaknya ada Propaganda Rusia untuk menggusur Jokowi dari kursi kepresidenan lewat, sepatutnya ucapan ini tidak boleh keluar dari mulut presiden langsung. Ada norma-norma hubungan luar negeri yang harus dihormati. Menuding negara yang tidak dikategorikan sebagai musuh atau ancaman terlibat dalam konstelasi politik pilpres tentu menjadi tuduhan yang berat.
Pihak kedutaan Rusia telah mengeluarkan rilis resmi di sosial media. Yang intinya Rusia menolak tudingan keterlibatan mereka di urusan dalam negeri negara lain dan menyebutkan jika istilah propaganda ini dibuat AS untuk menyudutkan mereka. Meski telah ada pernyataan ini, pihak Rusia tentu akan mengukur parameter dari dan atas tujuan apa ucapan tadi terlepas dari mulut presiden. Bagaimana pun juga ucapan seorang pemimpin negara mesti akan mempengaruhi pola kerjasama ke depan.
Sayangnya ketimbang meralat dan meminta maaf rupanya Propaganda Rusia ini terus digoreng seolah-olah bukan sebuah kesalahan kampanye dan bukan kekeliruan dalam diplomasi hubungan baik kedua negara. Istilah Inggrisnya to beat around the bush, memukul semak tanpa pernah mencoba mengetahui isinya.
Seperti baru-baru ini tim nasional kampanye Jokowi memperkuat blunder ucapan tadi dengan melontarkan teori Selang Kebakaran (Firehose of falsehood), teori menyiram api dengan minyak. Mereka menerangkan pola dan gerakan-gerakan dari hoax yang diciptakan lawan politik sebagai teknik propaganda Rusia. Belakangan bahkan ada nama Rand Co., konsultan politik asal AS dibalik proyek Propaganda Rusia yang dimaksud.
Sebetulnya tidak perlu atraksi memukuli semak untuk meminggirkan persoalan Propaganda Rusia menjadi firehose atau falsehood lainnya. Tim Kampanye Jokowi membutuhkan tema-tema besar untuk mendistraksi perhatian publik. Setelah tentunya isu toleran versus intoleran, Islam nusantara versus islam radikal dianggap tidak memukul sama sekali karena kenyataannya mereka yang dituduh intoleran dan radikal menyelenggarakan aksi massa besarnya berkali-kali dengan tertib dan adem-adem saja.
Sementara pencitraan millenial dengan mengambil model Perdana Menteri Kanada Justin Tredau lewat gaya anak motor, geng biker, Imam masjid, baju kaos, jeans dan sepatu kets ketika menerima tamu itu sepertinya tidak terlalu berhasil. Sandi Uno lebih mudah terasosiasikan kepada Justin Tredau, kaya muda, sporti, sportif, dan easy going. Sementara Syafi Ma'rief hanya mengulang-ulang perlunya mencintai ulama di forum yang homogen seperti pesantren.
Istilah Propaganda Rusia ini mesti menjadi opsi "mau ngapain lain ya" dari tim kampanye Jokowi. Mereka mungkin mau mengambil peluang sama menaikkan isu Russian Booths, Russia bots, Intervensi Rusia seperti dilakukan oleh Hillary Clinton untuk menyerang Donald Trumps. Langkah yang dianggap beberapa pengamat media kampanye sebagai langkah frustasi dan terakhir untuk menyatukan tim kampanyenya yang mis-manajemen.
Hillary mungkin sebentar mengambil perhatian publik dan menarik pendukungnya untuk berteriak materi Awas Bahaya Rusia, tetapi pada akhirnya Hillary kalah.

Draft

Draft
Setelah isu perpanjangan pensiun Bintara, Tantama dari 53 ke 58, kini Panglima meminta agar para pejabat militer yang belum menduduki pos di karyakan di lembaga-lembaga pemerintah sipil.
Yang menjadi pertanyaan tuan Heru kemarin adalah mengapa wacana tersebut baru muncul menjelang pemilu yang pastinya akan menjadi bisa guncangan bagi pemerintahan Jokowi.
Saiya tidak pandai menjawab cepat pada pertanyaan yang sebenarnya drafting argumen atas sebuah kebijakan.
Draft adalah susunan argumen yang menjadi latar dari diambilnya sebuah kebijakan atau tindakan. Ketika Panglima mengatakan bahwa tentara perlu dikaryakan di semua lembaga kementerian publik ia mesti mempunyai argumen dari sudut pandangnya. Apakah ini terkait dengan fungsi strategis karena keperluan yang juga strategis ataukah ini dipandang perlu dari sisi formasi serta peta jabatan di lingkungan militer.
Sejak aliansi NGO meminta tentara back to barrack sebagai tuntutan gerakan reformai maka boleh kita katakan tidak banyak ruang bermain bagi militer. Mereka tidak seperti lembaga kepolisian yang semakin moncer dengan dibentuknya lembaga-lembaga afiliasi seperti KPK, BNN, BNPB, BNPT, dst,. dimana perwira dan staf mereka dapat ditempatkan di luar instansi kepolisian.
Semenjak Presiden Abdurrahman Wahid, keberadaan militer di instansi sipil benar-benar dikurangi secara drastis. Di lingkungan istana misalnya, jabatan tinggi hanya tinggal di lingkungan Sekretariat Militer. Kebanyakan mereka dikembalikan ke instansi awal atas nama profesionalisme tentara.
Disetujui usulan perpanjangan pensiun dari 53 ke 58 pun sebetulnya bagian dari draft untuk memberi ruang lebih bagi tentara level menengah bawah agar dapat terus menghasilkan. Perpanjangan ini tentu disandingkan dengan yang telah dilakukan beberapa tahun lalu di kepolisian negara.
Artinya ada kemungkinan rivalitas atau kita sebut saja kecemburuan di lingkungan militer terhadap "diskriminasi" yang dilakukan pemerintah sementara hal yang berbeda diberikan kepada kepolisian.
Sehingga dorongan untuk membuka peluang penempatan tentara di lingkungan sipil ini pun tidak jauh dari persoalan rivalitas militer dengan kepolisian. Fenomena Perwira Meja Panjang atau Jendral Tanpa Jabatan yang merujuk kepada semakin padatnya ruang formasi di tentara ini dimunculkan kembali menjelang pemilu sebagai bagian dari draft negosiasi pihak militer kepada pemerintah.
Selain anggaran keseluruhan matra hari ini yang nyaris sama dengan satu kepolisian, maka pembentukan lembaga-lembaga non struktural yang dapat menempatkan perwira kepolisian itu pun kini dituntut dapat pula menerima perwira militer di dalamnya.
Ini tentu cukup menarik, mengingat di pemerintahan Jokowi hari ini beberapa jendral pensiunan boleh dibilang memiliki pengaruh yang besar (Wiranto, Luhut, Sutiyoso, Hendropriyono) untuk membuktikan bila tentara tetap loyal. Hanya saja apakah draft dari panglima ini merupakan satu bagian dari kebijakan yang telah dikonsultasikan dengan jendral pensiunan tadi kita menjadi ragu.
Mengingat tuntutan ini mesti akan menjadi perhatian dari aktivis HAM dan reformasi dan sudah tentu akan menjadi blunder bagi Jokowi menjelang pemilu.
Ataukah ini memang sengaja dimunculkan hari ini agar tentara mendapatkan perhatian untuk diberdayakan. Semacam negosiasi teritorial menjelang pemilu.

Ahok dan Akbar : Oportunis dan Loyalis

Ahok dan Akbar : Oportunis dan Loyalis
Dua tokoh yang viral di lingkungan sosial media belakangan adalah Ahok yang kembali berkiprah ke politik dan Akbar Tanjung yang mengundang Jokowi di rumahnya.
Ahok yang dulu berkata parpol sarang koruptor kini mendatangi PDIP untuk berkarir di sarang tadi. Ini kali keempat dia berpindah partai dan baginya itu bukan persoalan. Kita masih ingat pada saat ia menyampingkan tawaran parpol untuk mengusungnya di pilkada DKI baru lalu. Alasan sarang koruptor dan enggan membayar mahar menjadi dalihnya. Aksinya dengan segera menyenangkan the so called kelompok relawan independen kawan Ahok. Ia memilih diusung lewat jalur independen.
Belakangan setelah para independent tadi bekerja keras, Ahok dengan mudah berbalik kembali mencari dukungan parpol agar dapat maju di pilkada bertarung dengan Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono. Sekarang Ahok kembali menjadi orang partai dan partai ini adalah partai keempatnya.
Politik adalah soal kekuasaan dan memanfaatkan peluang-peluang. Sejauhmana peluang dapat dikapitalisasi bagi kepentingan sendiri maka itu sah-sah saja. Sehingga wajar orang berkata bahwa soal politik itu bukan soal yang perlu dibela mati-matian, semua orang adalah pragmatis, oportunis kutu lompat sekaligus
Berbeda kisahnya dengan Akbar Tanjung. Baru-baru ini ia menjadi perbincangan di lingkungan partai Golkar, Koalisi Jokowi dan juga Prabowo. Tetapi tidak ada yang membahasnya lebih keras ketimbang grup-grup sosmed di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam.
Ia baru-baru ini mengundang Jokowi hadir ke rumahnya untuk merayakan dies natalis 72 tahun Hmi serta peluncuran pembuatan film pendiri Hmi Profesor Lafran Pane. Beberapa hari sebelum acara tersebut sebuah meme' Jokowi dan Akbar beredar dengan tulisan: Deklarasi KAHMI dukung Jokowi.
Dengan cepat sekali meme' tadi menjadi perbincangan dan serangan kepada Akbar. Ia dianggap berkhianat kepada akar rumput kebanyakan alumni Hmi yang memang mayoritas berat ke Prabowo. Akbar lebih jauh dianggap memanfaatkan dies natalis, keluarga alumni dan juga Hmi sebagai alat untuk merapat ke istana.
Saiya tidak terlalu setuju dengan pendapat tadi.
Akbar barangkali satu-satunya tokoh elit politik yang mempunyai loyalitas total ke satu partai saja.
Ketika 1998 Golkar diserang dari segala penjuru untuk dibubarkan karena terafiliasi sebagai partainya Soeharto, Akbarlah yang berdiri di depan menjaga Golkar dengan hastagnya #GolkarBaru. Ia ingin memisahkan Golkar yang orba dengan Golkar reformis dan Akbar berhasil menjaga Golkar sebagai partai pilihan mayoritas masyarakat Indonesia.
Selang kemudian mereka yang dulunya di Golkar dan ikut mencela Golkar mulai kembali ke Golkar, Akbar pun ditendang dan dikalahkan. Ia kemudian sempat dibawa ke pengadilan terkait dugaan korupsi, dan kehilangan jabatan pimpinan DPR.
Ketika JK naik mengalahkannya di satu Mubes yang keras di Bali, Akbar tidak memperoleh posisi apa pun di Golkar. Tetapi ia tetap di partai tadi. Akbar tidak melompat sebagaimana Wiranto membuat Hanura, Edi Sudrajat-Tri membuat Partai KPI, Sutiyoso. Ryas Rashid dan Andi Mallarangeng membuat PDPDK.
Konsistensi di garis partai inilah yang membuat Akbar dianggap contoh ideal dari apa yang kita sebut loyalitas politik. Ia dibunuh berkali-kali, dan berkali-kali pula ia muncul kembali.
Pada 2014 ketiga Golkar mendukung Prabowo-Hatta, Akbar ikut mendukung. Sekarang ketika Golkar ada di pihak Jokowi, maka wajar ia pun ikut mendukung Jokowi. Bagi senior dan kawan-kawan Hmi yang menurut saya mayoritas mendukung Prabowo maka ini adalah sikap politik Akbar. Ia tidak pernah berbeda dengan Golkar sebagai sebuah parpol. Ini contoh dari seorang loyalis partai dan loyalitas dalam politik.
Di dunia yang penuh dengan intrik, advonturisme, oportunisme, pragmatisme dan saling memanfaatkan maka orang sah-sah saja menjadikan dirinya seperti Ahok, dan sah pula menjadi seperti Akbar Tanjung. Hanya saja, di dunia seperti itu hanya loyalitaslah yang membuat seseorang eksis meski ia mati berkali-kali.

Monday, February 4, 2019

Doa Ba'dal

Doa Ba'dal
Sebagai keluarga yang lahir dalam tradisi kauman di Sumatera yang diwarnai dengan tarekat ada kami mengenal konsep doa ba'dal.
Doa ini adalah doa bersyarat yang disampaikan untuk menangguhkan doa-doa yang pernah disampaikan seseorang. Sebab ia hanya boleh disebutkan sekali saja, maka tidak banyak dari orang-orang yang mengenali maksud dan tangguhan-tangguhan dari doa seperti ini. Hanya orang-orang yang diberi satu pandangan luas pada konsekeunsi doa tadi lah yang dapat memahami mengapa sebuah doa ba'dal dimintakan ke hadirat ilahi. Apa dan mengapa ia mengharapkan sebuah tangguhan-tangguhan itu tentu ada hal yang dia fahami sebagai seseorang yang diberi ketinggian ilmu.
Ada banyak doa yang dimintakan manusia kepada Tuhan meski ia sendiri tidak memahami mengapa ia meminta satu atau beberapa kehendak agar dikabulkan untuk terjadi. Hal ini tentu manusiawi, kita diajari berdoa, karena ini adalah satu-satunya kekuatan dan alat bagi manusia untuk mengubah peruntungan-peruntungan. Hanya saja kita tidak mengerti peruntungan apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Inilah mengapa pada kebanyakan para orang tua dulu yang mengikuti disiplin, mereka tidak banyak melayangkan doa dalam bentuk-bentuk yang beragam. Paling doa mereka sebatas semoga jangan sampai saiya menyusahkan manusia. Atau agar dalam kematian dihindari satu kematian yang mendadak.
Saiya ingat kembali tentang doa ini, ketika saiya menyaksikan video Kyai Maimoen Zubair berdoa di acara menyambut kehadiran Presiden Jokowi di acara Sarang Berzikir di Pesantren Anwar Sarang Rembang. Ia mendoakan Prabowo menjadi pemimpin nagari.
Besoknya di media online ada ditulis; Di Acara Jokowi, KH Maimun Zubair salah menyebut nama Prabowo. Maimun Zubair keliru doakan Prabowo pemimpin, Kyai Maimun ralat doa Prabowo jadi Presiden., dll. dll..
Jika Ulama besar KH Zubair saja mereka bisa sebut keliru, salah, dan perlu meralat doanya maka apalah ilmu kita di banding koran online itu.

It's Show Biz, it's show Time, Rocky Show

It's Show Biz, it's show Time, Rocky Show
Tentang klasifikasi yang dihibahkan seseorang kepada yang lainnya itu adalah bagian alamiah dari cara kita berpikir.
Manusia menggunakan kaidah dasar membagi dan mengelompokkan (to categorize-to classify) untuk mengenali sesuatu. Cara ini tentu saja tidak akan lepas dari dimensi-dimensi lain yang mengilhaminya termasuk preferensi politik seseorang.
Seorang kader Hmi mengirimkan pertanyaan kepada saiya tentang Filsafat, Rocky dan Sofisme. Ia berkata bahwa pandangan Rocky bukanlah sebuah pandangan filsafat namun pandangan seorang sofis. Apa yang disebutnya sofis di sini adalah kebalikan atau antonim dari filsuf. Yaitu orang-orang cerdas dan intelek yang menjual pengetahuannya untuk kepentingan, dalam hal ini uang.
Pertanyaannya terlihat sederhana tetapi menjadi komplek karena harus diurut dan diperiksa satu-satu.
Jika menurutnya Rocky bukanlah seorang filsuf, maka apakah itu karena ia mendengar -Rocky Gerung- pernah mengatakan dirinya sebagai seorang filsuf? Jika RG pernah berkata jika ia filsuf, maka apakah filsuf yang dimaksudnya itu adalah sama dengan yang kita bayangkan tentang filsuf.
Di sini nanti setelah mengklasifikan dan mengkategorisasikan Rocky kepada golongan filsuf dan bukan orang kebanyakan (demos) telah disepakati akan dimulai apa yang kita sebut defining the definition. Apakah filsuf itu dan apakah kategori filsuf tadi dipenuhi oleh RG.
Jika ternyata ia tidak pernah menyebut dirinya sebagai filsuf, maka ini akan tetap menjadi problematika di tahap klasifikasi-kategorisasi. Mungkin saja ia menjadi filsuf karena kita menilainya begitu, atau ia menjadi sofis karena kita mau ia masuk kepada definisi yang kita mau kan.
Nah pertanyaan yang sama dapat kita ulangkan kepada pengertian sofis.
Apakah RG seorang sofis? Apakah sofis itu sendiri?
Saiya tentu tidak akan memperpanjang pokok diskusi. Ini karena bila anda menyukai Nietzsche atau membencinya maka anda harus membaca semua hal tentang dia. Begitu pula ketika anda membenci Soekarno atau mencintainya maka semua yang dia tulis dan ditulis orang tentang Soekarno harus kita baca tuntas. Begitu pula pada RG, anda harus membaca dia dari banyak perspektif. Ini penting dalam metode ilmiah penelitian tentang pemikiran dan gagasan.
Berbeda halnya dengan ketika menilai seseorang yang mengurus harkat hidup kita, misalnya bupati, walikota, gubernur atau presiden. Mereka memperoleh kekuasaan dari amanah publik sehingga ada kewajiban dari publik (public obligation) untuk terus mengkritisi penyelenggaran kekuasaan tadi. Ini karena makan, minum, sampai beraknya pejabat negara itu dibayar dengan uang publik.
Pada sosok RG, dia adalah dirinya sendiri. Menurut pendapatnya ia beropini karena ada yang salah menurut dirinya atas penyelenggaran kekuasaan. Ia lalu menyampaikan opininya ke ruang publik untuk orang dan penyelenggara negara mengetahuinya.
Ketika pendapatnya tadi mengguncang dan mengaduk-aduk perspektif yang lain, maka di sini penilaian-penilaian pro-kontra dimulai. Potensi terjadinya debat dan konflik tadi secara alamiah menarik perhatian media-massa yang memang hidup dengan dua kutub tadi. Ia lalu menjadi selebriti dalam tiap kemunculannya yang kemudian difasilitasi sebagai "Talk Show".
Kita tentu faham bahwa talk show adalah show-bisnis. Semakin keras pertengkaran maka semakin tinggi rating dan pemasukan iklan. Termasuk cara kita kemudian mengklasifikan dan menggolongkan RG kepada filsuf bukan filsuf, sofis bukan sofis adalah tetek bengek atau remah-remahan dari obrolan inti. Sejatinya talk show is show biz. Terlepas dari semua usaha mempredikatkan sesuatu kepada RG, ia adalah orang cerdas yang faham bagaimana memainkan pandangan dan bisnis.
Tidak banyak orang bisa, banyak yang mencoba menjual pikiran kepada kekuasaan, tetapi ia kemudian menjadi orang lain atau sub-ordinat dari pikiran yang lain. Pada Rocky, ia sepertinya senang saja meniti gelombang, berselancar dengan kata-kata menjadi dirinya sendiri, dan menghasilkan uang. It's Rocky Time

Rocky dan Filsafat

Rocky dan Filsafat
Seperti yang saiya duga bahwa pada akhirnya akan ada orang yang mempertanyakan Rocky dan filsafatnya.
Seorang kawan berkomentar jika apa yang disampaikan Rocky bukanlah filsafat. Ia yang dulu senang membaca buku-buku filsafat terjemahan penerbit Mizan, beranggapan jika filsafat yang otentik adalah filsafat Islam lain dari itu bukan filsafat. Secara lebih spesifik filsafat islam yang dimaksudnya pun adalah yang berkembang di dalam tradisi muslim Syiah.
Saiya tidak hendak mendebatnya, tetapi menilai satu pandangan orang pada sebuah ide-gagasan pemikiran dengan melemparkan urusannya kepada hal yang sama sekali tidak dihadirkan di meja diskusi adalah tanda keminderan.
Jika kita periksa pendapat si kawan apa yang dia maksudnya dengan filsafat tradisi muslim Syiah itu pun nanti akan terbagi-bagi dalam aliran-aliran dan tokoh-tokohnya. Yang bukan hanya berbeda tetapi ada pula yang saling menegasikan di pokok turunan. Sementara itu di dunia muslim Sunni pun pandangan filsafat pun ada banyak pandangan dan aliran-alirannya.
Jadi saiya menilai jika dalam mempelajari filsafat pun tentang kefilsafatan siapa yang paling falsafi itu digugat. Hanya saja seperti kebanyakan gugatan, pandangan kawan tadi lebih dominan persoalan sentimen saja. Apa yang kita harapkan bahwa filsafat sebagai sebuah adu pikiran itu tidak muncul. Hanya pandangan senewen saja pada Rocky yang mau tidak mau harus kita akui berhasil mengobrak-abrik dunia talk-show kita.
Jika kita perhatikan dari cara Rocky membangun pandangan dan filsafatnya maka itu memang tidak berakar kepada tradisi filsafat di sekolah-sekolah keagamaan Islam. Ini karena ia bukan muslim dan memang tidak mempelajarinya begitu. Apakah dengan demikian pandangan-pandangannya menjadi batal demi hukum? Tentu tidak, ini karena seseorang menilai dan dinilai dari posisi dimana ia memulai bangunan pemikirannya (Setzung). Sehingga sangat tidak etis bila kita ketimbang membahas apa yang disampaikan Rocky namun kita mengalihkannya untuk sama-sama meragukan kefilsafatannya. Ini apa yang disebut dengan Gewald (kekerasan) dalam teori Walter Benjamin tentang dasar dari kedzaliman yaitu memberikan penilaian atau menghukumi sesuatu tidak pada tempatnya.
Pandangan senewen si kawan tadi barangkali juga lahir karena Rocky tidak mengkritisi salah satu Capres lawannya. Sehingga karena perbedaan preferensi pilihan politiknya maka yang disampaikannya dianggap sebagai keberpihakan kepada pihak lain. Sehingga untuk menyerangnya kita mengalihkan argumen kepada hal-hal yang tidak semestinya dipertanyakan. Semisal mempertanyakan gelar, keprofesorannya, kelulusan, pilihannya untuk selibat (belum menikah) dan hal lain yang sama sekali tidak berkorelasi dengan apa yang disampaikannya.
Harus diakui, Rocky membawa filsafat ke wilayah praktis dengan caranya yang unik. Ia tentu mengenali jika hari ini oranghidup dalam budaya; copy-paste-bagikan. Masyarakat yang lebih senang mengambil-bagi kutipan-kutipan daripada menghabiskan waktu membaca buku-buku secara mendalam. Di sini ia dengan cerdasnya memotong-motong frasa untuk memudahkan dan memuaskan pemirsanya dengan apa yang mereka butuhkan.
Ia juga membawa filsafat sebagai sesuatu yang dapat dirasakan dan bahkan lebih sering untuk ditertawakan. Kadang lewat argumennya ia mendatangkan kesadaran kepada publik, bahwa sebenarnya semua kuasa yang dimiliki negara berasal dari otorisasi yang diberikan publik sebagai sebuah amanah.
Ia dapat kita rebut kembali dan dicampakkan ke wajah kekuasaan bila otoritas tadi mulai diselewengkan. Dengan cara keras atau dengan anekdot-anekdot khas Rocky yang menghadirkan metafora.