Thursday, February 28, 2019

Semakin banyak turis restoran halal di Bangkok

Semakin banyak turis restoran halal di Bangkok
Jumlah restoran muslim atau halal semakin banyak saja kata Moch Noor pegawai di salah satu distro Melayu-Thai dekat arah Bandara.
Tambah banyak turis non muslim bahkan orang Bangkok yang suka makanan khas Muslim Thai. Lanjut Noor orang Siam dan mualaf karena istrinya orang Pathani.
Noor berbincang dengan Dawood dalam bahasa siam. Ia menerjemahkan permintaan kami agar porsi setengah saja untuk menghindari mubazir. Ia supir kedutaan yang off hari itu untuk mengantarkan kami ke Bandara Swarna dan sebelumnya beberapa jam lalu di hotel kami sudah sarapan. Noor mengerti bahasa Inggris yang kami sampaikan sebelumnya.
Saya kagum dengan cara orang Thailand menjaga negerinya sebagai destinasi favorite turis dunia. Tahun lalu lebih dari 40 juta turis asing datang ke negeri siam yang penduduknya pun hanya 70 juta. Beberapa brosur wisata halal dan syariah ditawarkan kepada kami oleh jasa wisata di hotel-hotel.
Wilayah perbatasan Thai-Malaysia, Thai-Vietnam adalah wilayah yang dihuni banyak penduduk beragama Islam. Setelah tensi konflik menurun maka tempat-tempat tadi menjadi favorit pengunjung dari negara-negara mayoritas muslim seperti Malaysia, Brunei, dan Timur Tengah.
Lama saya perhatikan jika Thailand dan tentu saja Singapura adalah negara yang memperhatikan trends positif pengunjung muslim dengan berbagai persyaratan yang tentunya berbeda dengan turis Cina. Hotel syariah dan tentu saja makanan halal adalah dua hal yang semakin diperhatikan pemerintah mereka.
Sedikit saja saya singgung. Selagi kita masih meributkan konsep halal dan syariah sebagai persoalan yurisprudensi, keyakinan, atau hal-hal lain. Thailand, Singapura sudah lama menguasai jaringan perdagangan makanan olahan halal di Asia. Mereka sebetulnya memimpin pelaksanaan voluntary sustainable standards (VSS), yang sedang digalak-galakkan PBB.
Standar halal sebenarnya sistem standar yang diadopsi sukarela yang paling cepat progressnya. Ini karena semakin banyak pemain bisnis yang menyadari jika konsep halal diterima publik non muslim secara luas bukan karena ia berkaitan dengan keyakinan. Namun kini kata halal di identik dengan makanan sehat, bersih, dan dalam pengolahannya dilakukan dengan gentle baik kepada tumbuhan maupun hewan yang digunakan.
Ketika mereka melihat peningkatan jumlah turis yang menginginkan makanan halal, atau hotel bersyariah itu sangat dimaklumi dan dalam bisnis peluang adalah peluang.
Ketika baru-baru ini saiya membaca Menteri Pariwisata menolak wisata syariah di Bali. Saiya faham sekali, ia tentu bukan ahli dalam mengambil peluang-peluang. Sejujurnya Bali bukan tempat favorit saiya yang hobi makan. Sulit menemukan makanan khas Bali yang halal dan makan di restoran Padang di Bali tentu bukan cita-cita orang.

Sunday, February 17, 2019

DOSA BESAR YANG MERUSAK AKIDAH ITU BERNAMA “KELUH KESAH”

Alfathri Adlin menambahkan foto baru ke album: ISLAM AGAMAKU [01].
DOSA BESAR YANG MERUSAK AKIDAH ITU BERNAMA “KELUH KESAH”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Semalam aku bersumpah pula, kuangkat sumpah demi hidup-Mu,
Bahwa aku tak akan pernah memalingkan mataku dari wajah-Mu; bila Kau memukul dengan pedang, aku tak akan berpaling dari-Mu.
Aku tak akan mencari sembuh dari yang lain, karena kepedihanku ialah lantaran perpisahan dengan-Mu.
Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mu‘min bila aku mengeluh.
Aku bangkit dari jalan-Mu bagai debu; kini aku kembali ke debu jalan-Mu.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Coba amati baik-baik puisi Jalaluddin Rumi di atas. Amati bait bagian: “Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mukmin bila aku mengeluh.”
Aku tak akan sangsi jika banyak pembaca karya Rumi mengungkapkan kesannya bahwa puisi-puisi Rumi adalah ungkapan cinta kepada-Nya, ungkapan mabuk kepayang seorang pecinta kepada-Nya. Namun, ada baiknya pelajari juga kisah hidup Rumi, ihwal berbagai fitnah yang menimpanya, bahkan dari para muridnya sendiri yang membenci Syamsuddin Tabriz, mursyid Rumi, karena dianggap telah memalingkan Rumi, “kiai pesantren” mereka, sehingga lebih asyik belajar pada seorang darwis yang entah datang dari mana dan entah apa otoritas formal keilmuannya, sehingga lancang sekali mengajari “kiai pesantren” mereka. Juga ihwal konspirasi untuk “menyingkirkan” Tabriz yang melibatkan anak sulung Rumi sendiri. Sang anak sulung itu memilih melawan bapaknya sendiri untuk ikut merencanakan pembunuhan mursyid bapaknya.
Dan, konon, saat anak sulungnya itu meninggal lebih dahulu, Rumi ‘tak bisa’ datang pada saat pemakamannya. Tentu hal itu tak mudah bagi seorang ayah. Dan berbagai ujian lainnya dalam hidup Rumi.
Akhirnya, semua kebencian orang sekitar Rumi terhadap Tabriz, mursyidnya, berujung dengan keterpisahannya dari sang “Matahari Agama” (Syam Ad-Dîn atau kalau di lisan lebih mudah disebut sebagai Syamsuddin), dan hal itu Rumi ungkapkan dalam karya tersendiri berjudul “Diwani Syamsi Tabriz”...
Karena itu, jelaslah bahwa Rumi mencapai ma‘rifatullah bukan dengan larut dalam emosi estetik dan rasa mabuk akan cinta, merangkai kata-kata puitis yang melenakan kebanyakan pembacanya. Lagi pula, bagaimana bisa seorang “kiai pesantren” yang tadinya lebih banyak mendalami urusan fiqih, mendadak menjadi mursyid thariqah yang fasih berpuisi? Kok bisa? Dalam kata-katanya sendiri, di salah satu Rubaiyat-nya, Rumi menegaskan sebagai berikut:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Aku bukan seorang penyair,
tak kuperoleh nafkah dari situ,
atau kupamerkan keterampilanku,
bahkan aku tak memikirkan tentang seniku,
bakatku ini hanyalah sebuah cangkir,
yang takkan kuteguk,
kecuali jika Kekasihku yang menyajikan.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Dalam bagian lain Matsnawi, Rumi juga menyatakan bahwa dia hanya berserah diri serta menyerahkan lidahnya kepada Allah, dan membiarkan Allah yang menuntun lidahnya melalui ilham untuk berkata apa, dan muridnyalah yang menuliskan bait-bait itu.
Akan tetapi, harus diingat baik-baik bahwa semua ungkapan cinta kepada Allah yang banyak bertebaran dalam puisi Rumi, dan tentu juga para sufi lainnya, diimbangi dengan kesediaan dan ketangguhan mereka untuk menerima apa pun yang “diperbuat” Allah, sebagai Sang Kekasih, terhadap mereka sebagai para pecinta.
Setiap muslim bisa saja dengan mudah mengatakan “Aku mencintai Rasulullah dan Allah”, tapi “pedang yang memukul” atau “dilempar ke dalam api” yang dirasakan dalam hidupnya, sehingga lahirlah sekian banyak keluh kesah -- baik di lisan, dalam hati, atau dalam bentuk status FB, twitter, WA group, bahkan tulisan di blog -- dengan jelas menjadi bukti betapa kata “mencintai” itu hanya baru menyangkut di bibir saja. Dalam salah satu hadits, Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sedekah.” (HR Thabrani)
Suatu ketika Nabi Isa as berkata kepada al-Hawariyyun bahwa “Yang paling banyak mengeluh di antara kalian pada waktu ditimpa musibah adalah yang paling banyak menghadapkan wajahnya kepada dunia!”
Pernah, saat diminta menjelaskan “Agama Cinta” di Unpar, sebuah kampus Katolik, dalam kelas kajian Filsafat Agama, kukatakan kepada kalangan Nasrani yang hadir di sana, kurang lebih, sebagai berikut:
Baca Kitab Samuel, dan saksikan bagaimana hidup Dawud dicerai berai oleh ujian demi ujian, mulai dari istri yang mengkhianatinya, mertua yang memerangi dan hendak membunuhnya, kakak ipar yang merupakan sahabat terbaiknya namun mati terbunuh dalam peperangan, lalu salah seorang anaknya yang bernama Amnon malah menodai adik tirinya yang bernama Tamar, kemudian Absalom yang membunuh Amnon atas perbuatan terhadap adik kandungnya, lalu Absalom yang diasingkan namun malah membentuk pasukan untuk memerangi bapaknya, dan Absalom pun mati di tangan salah satu jenderal Dawud, kemudian “skenario takdir” ihwal Batsyeba, istri Uriah, salah satu jenderal Dawud, yang membuat Dawud dihukum dan kehilangan beberapa anak yang lahir dari rahim Batsyeba, namun pada akhirnya, justru dari rahim Batsyeba inilah lahir Sulaiman.
Setelahnya, baca kitab Mazmur. Perhatikan. Adakah keluh kesah dalam kitab Mazmur tersebut? Tak ada. Semuanya adalah ungkapan cinta dan kekaguman serta keberserahdirian kepada-Nya. Seseorang yang menjalani hidup seberat Dawud, namun saat mengungkapkan isi hatinya -- sebagaimana terabadikan dalam Mazmur -- ternyata tak sekalipun mengeluh kepada-Nya ihwal hidup yang dijalaninya. Dalam Mazmur 23, tertulis ungkapan Nabi Dawud yang sangat indah:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa."
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Lalu kukatakan kepada audiens: “Itulah Agama Cinta. Tidak rumit filosofis kok uraiannya. Agama Cinta itu adalah ketika Tuhan mencobai hidupmu dengan banyak cobaan, namun tak sekali pun engkau berkeluh kesah. Yang lahir dari lisanmu hanya ungkapan cinta sebagai tanda penerimaanmu atas semua takdirnya.”
Itulah ketangguhan dan kekuatan sebenarnya dari seorang pecinta Tuhan, namun seringkali hal itu teralihkan karena terbungkus oleh berbagai ungkapan puitis, sama seperti puisi-puisi Rumi mau pun sufi lainnya. Padahal, dalam puisinya, Rumi mengaitkan keluh kesah dengan ketidakberimanan.
Seusai acara, aku mendapat kenalan beberapa biarawati yang bahkan meminta foto bersama dengan alasan “agar kami tak lupa sama Bapak”, dan seorang audiens Katolik lain, yang sedang menempuh S3 di ICAS dengan disertasi soal Seyyed Hosein Nasr, mengajak aku berdiskusi panjang lebar setelah sesi itu, lalu mengabariku bahwa teman-temannya tak percaya jika yang memaparkan soal Kitab Samuel dan Mazmur seperti itu adalah seorang muslim.
Yang ingin kutekankan di sini bahwa contoh-contoh ihwal ketangguhan dalam menjalani hidup dan tak berkeluh kesah serta hanya mengungkapkan cinta kepada-Nya itu banyak bisa ditemui di berbagai agama.
Namun, adalah berbeda antara (1) melakukan “tamasya intelektual maupun spiritual” menjelalajahi berbagai khazanah agama dan memiliki banyak wawasan soal ‘passing over’ dengan (2) mengambil hikmah dari berbagai khazanah itu agar menjadi pakaian keseharian dalam hidupnya. Adalah berbeda antara (1) wawasan yang hanya tersangkut di kepala dan lidah dengan (2) sesuatu yang telah berubah menjadi keseluruhan hidup yang dijalani setiap hari. Ujian hidup dan berbagai hal tak menyenangkan dalam hidup akan membuktikannya sendiri.
Kembali kepada keluh kesah. Ketangguhan untuk menerima kesakitan apa pun sebenarnya paling mudah dilihat pada para nabi dan rasul, atau, di masa berikutnya, di kalangan para sufi ‘arif billah. Rasanya tak jarang para sufi dipandang secara melankolik sebagai orang yang asyik berpuisi-puisi cinta dengan Tuhan, meninggalkan keluarga untuk menyendiri, tidak pernah berkiprah nyata bagi manusia di sekitarnya, dan berbagai stereotip yang entah kenapa selalu diulang-ulang lagi. Itulah gunanya banyak membaca serta belajar lagi dan lagi, tanpa prasangka juga terbuka.
Di kalangan Nabi, Rasul dan para sufi arif billah, keluh kesah itu termasuk dosa besar yang susah untuk dibersihkan. Bayangkan sebagai berikut. Apabila hati itu seperti bola kaca, maka ada dosa-dosa yang menyerupai lumpur yang menempel dan membentuk kerak di luar bola kaca tersebut. Dengan air, lumpur itu bisa kembali dibersihkan. Namun, ada dosa-dosa yang begitu halus dan kecil seperti molekul, yang bisa masuk ke dalam pori-pori bola kaca dan mengendap di bagian inti bola kaca. Keluh kesah termasuk dosa yang halus seperti itu, karena kaitannya dengan akidah seseorang terhadap Allah. Keluh kesah itu mencemari akidah. Silakan pikirkan sendiri bagaimana cara membersihkan “debu-debu halus” yang mengotori bagian dalam bola kaca.
Abdul Qadir Jailani pernah menjelaskan kurang lebih seperti ini. Kita mengenal teman-teman melalui identifikasi sifat dominannya. Bahwa si A itu culas, si B itu pemarah, si C itu tidak percaya diri dalam banyak hal, si D itu kocak tapi jadi susah diajak serius dan lain sebagainya. Kenapa identifikasi itu lahir? Karena dalam interaksi, kita melihat bahwa itulah sifat yang paling dominan pada diri mereka.
Nah, dalam hal ini, Allah Ta’ala mengidentifikasi Diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang menegaskan bahwa dua asma itulah yang paling dominan dari 97 asma lainnya. Dua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya sehingga diabadikan dalam rajanya doa, yaitu “Bismillahi Rahmani Rahimi”. Dengan Rahman dan Rahim-Nya itu pulalah maka Dia selalu menegaskan bahwa Dia hanya memberikan yang terbaik bagi manusia.
Ibn ‘Arabi mengutarakan bahwa Allah memiliki dua Tangan. Tangan Kanan merepresentasikan Kepemurahan-Nya, dan Tangan Kiri merepresentasikan Kemurkaan-Nya. Padahal, kata Ibn ‘Arabi lagi, sebenarnya kedua Tangan tersebut hanyalah Tangan Kanan belaka.
Nah, sebuah keluh kesah yang terlontar pada mereka yang katanya mengaku sebagai pecinta Allah, atau setiap orang yang mengaku beriman, secara langsung sebenarnya membuktikan bahwa cinta itu hanya di ujung lidah. Itulah sebentuk ketidakmenerimaan atas segala hal yang menghampiri dalam kehidupannya. Dan, yang lebih parah lagi, adalah tudingan bahwasanya Allah Ta’ala tidak adil. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: ‘Seorang anak Adam mencaci-maki masa padahal Akulah masa; siang dan malam hari ada di tangan-Ku.’” (HR Muslim)
Apakah Anda adalah seorang muslim yang beriman? Jika ya, silakan renungkan QS Al-Ankabut [29]: 2-3 yang artinya sebagai berikut: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
Sebuah keluh kesah secara langsung menghapuskan asma Rahman dan Rahim dari Allah Ta’ala, padahal kedua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya, asma yang mengidentifikasikan sifat dominan Diri-Nya. Tidakkah itu merupakan dosa akidah?
Mari kita simak dulu kisah berikut ini. Pada zaman ‘Amirul Mu‘minin ‘Umar bin Khaththab, ada seorang pemuda yang sering berdoa di sisi Baitullah “Ya Allah, masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit.”
Doanya tersebut didengar oleh ‘Umar ketika beliau sedang melakukan tawaf di Ka’bah. ‘Umar heran dengan permintaan pemuda tersebut. Setelah melakukan tawaf, ‘Umar mendatangi pemuda tersebut dan bertanya: “Mengapa engkau berdoa seperti itu? Apakah tidak ada permohonan lain yang engkau mohonkan kepada Allah?”
Pemuda itu menjawab: “Ya Amirul Mu‘minin, aku membaca doa itu karena aku takut dengan penjelasan Allah dalam surah Al-A‘râf [7]: 10, yang artinya: ‘Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur’. Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, lantaran terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah,” jelas pemuda tersebut.
Bersyukur kepada Allah atas segala yang terjadi, susah mau pun senang. Luar biasa sekali bukan? Kita pun ingat bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah lafadz ‘La ilaha illallah’ dan doa yang paling utama adalah ‘alhamdulillah.’” (HR At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibn Majah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim). Beranikah mengucapkan alhamdulillah bukan hanya saat mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, tapi juga saat mendapatkan hal-hal yang tak menyenangkan dengan kesadaran bahwa semua itu kebaikan semata dari Allah; bahwa itu semua adalah Tangan Kanan-Nya yang sedang bekerja?
: : : : : : : : : : : : : : : : :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Ketangguhan untuk tidak berkeluh kesah itu memang tidak mudah, sehingga alasan yang akan selalu mengemuka adalah: “Saya juga hanya manusia biasa dengan segala kelemahan, sehingga wajar jika saya masih suka berkeluh kesah” serta berbagai apologi sejenis dan senada. Tapi, apakah mungkin manusia berhenti berkeluh kesah dan mensyukuri apa pun yang terjadi dalam hidupnya dengan mengandalkan kemampuannya sendiri? Tidak akan mungkin bisa, kecuali dia meminta pertolongan Allah untuk menguatkan dirinya dan memasukannya ke dalam kalangan yang sedikit itu.
Siapa yang menyuruhmu mengandalkan kemampuanmu sendiri? Maka “...mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan shalat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu.” (QS Al-Baqarah [2]: 45)
Namun, secara nalar, setidaknya setiap diri bisa memahami bahwa keluh kesah tak mendapat tempat dan apologi apa pun dalam Islam sebab Allah telah berfirman dalam QS Al-Baqarah [2]: 286 yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Jika ada seorang manusia sanggup memikul ujian seberat 100 kilo, maka Allah tak akan menambahi barang sebesar dzarrah sekali pun. Itu sudah janji Allah dalam Al-Quran. Jadi, kenapa juga berkeluh kesah kalau semua yang terjadi dalam hidup ini semata terjadi sebatas kemampuan dirinya?
Dalam suatu kesempatan, Mursyid Penerus pernah memberi nasihat sebagai berikut:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Tak jarang, ketika setelah 'dihantam di sana sini' barulah kemudian muncul keinginan untuk menuju Allah. Akan tetapi bagi orang yang akalnya kuat, yang pandai, mereka tidak perlu dihantam dulu di sana sini dalam kehidupan. Tidak perlu ditimpa musibah dulu baru kemudian mencari Allah. Apabila sudah terpanggil -- mau kaya, mau miskin -- mereka akan langsung mencari Allah. Kalaupun misal dihantam di sana sini dalam kehidupan, ya harus bersyukur, karena termasuk orang yang dipalingkan untuk kemudian menuju Allah. Beruntung sekali, dibandingkan mereka yang belum terpanggil.
Jadi, keinginan semacam itu di hati sangat berharga sekali.
Saya pernah bercerita kepada sahabat bahwa Allah boleh mengambil apa pun dari diri saya. Semuanya. Apa pun itu. Tapi ada satu hal yang saya berjuang mempertahankannya, yaitu rasa pencarian kepada Allah. Itu berharga sekali. Kalau rasa itu tidak ada, sungguh sangat menyeramkan. Kalau rasa hilang, maka hilang sudah kemanusiaan saya.
Nabi Ayub as pada awalnya adalah seorang Nabi yang terpandang dan bangsawan. Kemudian hancur semuanya. Ladang habis, anak-anak meninggal, istri-istri pergi, pegawai pergi, karena mereka mengira Nabi Ayub telah sesat dan sedang diazab oleh Allah. Badannya pun diruntuhkan; diambil semuanya. Badannya membusuk, menjadi bau, sehingga orang-orang menyingkir semua. Kuda pun lari. Hingga akhirnya beliau pun masuk ke gua. Namun nabi Ayub berkata: “Ambillah semua ya Allah, kecuali hati dan lisanku untuk memuji-Mu”. Luar biasa, di saat seperti itu, beliau tetap memuji Allah.
Berapa tahun Nabi Zakaria tidak mempunyai anak? Delapan puluh tahun. Tapi dalam Al-Quran dituliskan bahwa beliau berkata: “Aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.” Luar biasa. Kita harus menjadi uswatun hasanah seperti itu. Kalau diuji sedikit saja kita sudah bilang “saya sudah diuji berat nih” kan malu sekali kepada paraNabi.
Kalau ada yang bilang “Ah, itu kan para Nabi” Iya, tapi bukankah mereka ada untuk menjadi contoh?
Jadi, semua silahkan diambil, kecuali hatiku, esensiku dalam mencari-Mu, yang bergantung kepada Allah.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Seseorang tak bisa ridha kepada Allah sebelum Allah ridha dulu kepadanya. Karena Allah ridha kepadanyalah maka orang tersebut bisa ridha kepada-Nya. Silakan simak sendiri berbagai ayat Al-Quran yang menegaskan bahwa “radhiyallahu 'anhum wa radhu ‘anhu”, Allah dulu yang ridha, bukan manusianya. Lalu, bagaimana agar Allah ridha kepada seseorang. Ridhalah dulu terhadap segala hal yang telah Allah tetapkan hingga hari ini dalam hidup ini. Ridhalah dulu terhadap apa pun yang sudah, sedang dan akan terjadi. Insya Allah, jika diterima, maka Allah pun akan ridha kepadanya, dan barulah dia bisa ridha kepada Allah. Jadi, itu bukanlah pengakuan sepihak saja, bukan?
Begitu pula dengan cinta. Tak bisa seseorang itu mencintai Allah sebelum Allah dulu yang mencintainya. Lalu bagaimana agar Allah mencintai seseorang? Rasulullah saw suatu ketika pernah bersabda: “Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barang siapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali padanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)
Ingin mencintai Allah dan Allah cintai? Cintailah ujian dalam hidup ini seluruhnya, cintailah hidup ini baik susah maupun senang yang terjadi di dalamnya, tanpa berkeluh kesah sedikit pun, dengan meminta penguatan dari-Nya melalui shalat dan sabar, serta cintailah juga sesama manusia dan seluruh makhluk-Nya. Bukankah cinta itu juga bukan pengakuan sepihak saja? Sebelum sampai sana, sebagaimana Al-Quran ulang-ulang, seseorang mungkin hanyalah disukai atau disayangi, namun belum jadi hamba yang dicintai Allah.
Aku pun teringat perkataan Mursyid Sepuh almarhum: “Jika kamu pernah membunuh, maka Bapak masih bisa berdoa untukmu agar Allah ampuni. Jika kamu pernah berzina, Bapak pun masih bisa berdoa untukmu agar Allah ampuni. Namun, jika kamu berkeluh kesah, Bapak tidak bisa apa-apa.”
Adapun dalam menjelaskan QS Al-Hujurat [49]: 7, yang terjemahannya “Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam qalb-mu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran...,” Mursyid Penerus berkata sebagai berikut:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
“Pertama-tama perhatikan ‘apakah ada benih-benih kekafiran dalam diri kita’ sebelum menunjuk orang lain. Karena setiap orang akan bertanggung jawab masing-masing di hadapan Sang Pemilik Semesta.
Hati yang masih mengeluh, kurang bersyukur, berprasangka buruk kepada Allah serta tidak menerima dengan baik ketetapan yang Dia Ta‘ala berikan sesungguhnya merupakan ‘benih-benih kekafiran dalam diri’.
Kekafiran dalam arti ‘ketertutupan dari cahaya kasih-Nya sehingga manusia kesulitan memandang kebaikan dalam fase-fase kehidupan’ adalah tirai besar yang menghalangi seorang hamba untuk bisa bersyukur kepada-Nya.
Orang beriman akan sangat benci untuk mengutuk kehidupan, mengeluh pada keadaan, dan menyimpan prasangka buruk dalam hati. Semua itu adalah bentuk-bentuk kekafiran dalam diri. Astaghfirullah al-adzim.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersanda bahwa “Barang siapa di pagi hari mengeluhkan kesulitan hidupnya (kepada orang lain), berarti seakan-akan dia mengeluhkan Rabb-nya. Barang siapa di pagi hari bersedih karena urusan duniawinya, berarti sungguh di pagi itu dia tidak puas dengan ketetapan Allah. Barang siapa menghormati seseorang karena kekayannya, sungguh telah lenyaplah dua per tiga agamanya.“ (Hadits dikutip dari Kitab Nashaihul ‘Ibad).
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Demikian. Jika postingan ini menurut Anda ada gunanya dan ingin di share, ambil saja. Copas juga sialakn. Nggak perlu pakai izin-izin swegala. Baiklah, mohon maaf jika ada silap kateu ta yeu. Wallahu a‘lam bishawwab. Wassalam.

Saturday, February 16, 2019

Filsafat Kumbang Taik

Filsafat Kumbang Taik
Yuuup, saiya tidak hadir di acara diskusi nya Goenawan Moehammad Cs yang kata orang-orang sih isinya ngegosipin Rocky Gerung.
Pertama, saiya sibuk sekali ngumpulin makan siang yang disediakan kantor. Terlalu banyak nasi boks sementara undangan yang datang biasa-biasa saja. Jadi undangan ke Cafe yang didahului makan siang itu tidak lagi menarik. Pipit di tangan dilepas, elang di awan dibayangkan.
Kedua, acara tadi sejak awal memang diselenggarakan oleh tim hore-hore petahana untuk membendung analogi Dungunya Rocky yang memincut perhatian publik lewat acara ILC yang digawangi Karni Ilyas. Rocky adalah selebritinya, dia sukses menembak langsung kekuasaan dengan permainan kata/bahasa yang langsung-langsung saja (einfach ein wort/sprachspiele). Meminjam istilah Wittgenstein, lugas, jelas, dan tepat sasaran.
Dungu, tolol, otak kecebong, tempurung, IQ digabung sekolam, adalah pilihan kata (diksi) yang mudah difahami awam dan tanpa mengurangi maknanya mereka ada di dalam kamus KBBI.
Sementara the so called para pencegah pembusukan filsafat itu sendiri kita mengenalnya sebagai penggiat kebudayaan, yang sebelumnya pun tidak terlalu dikenal karena memperkaya khasanah diskusi filsafat. Baru-baru ini pun mereka sibuk dalam wacana Kongres Kebudayaan. Tetapi hari ini orang tidak mau percaya jika isu politik-ekonomi adalah persoalan mental kebudayaan. Di sini kita dapat fahami mengapa Rocky me-rocket. Ia sukses memilih permainan kata yang cocok dalam bahasa popular hari ini.
Ketiga, tidak satu pun dari pemateri yang hadir berani mengatakan dirinya filsuf. Mereka hanya disebut Budayawan, Dosen Filsafat, Dosen Filsafat, dan semacam alumnus sekolah filsafat. Jadi atas keprihatinan siapa mereka ingin melawan pembusukan filsafat dan filsafat mana yang tengah dibusuki itu kita tidak tahu.
Sekali lagi, mereka hanya menjadi pengamat Rocky yang tentu saja statusnya mesti lebih rendah dari yang diamati. Ini karena mereka apa pun kedudukannya sedang digarap dalam permainan Rocky. No Rocky no Party, dan mereka adalah sedikit dari beberapa penggembira saja.
Keempat, dari link youtube yang diunduh tentang acara tersebut, saiya tidak melihat adanya pembahasan yang komprehensiv baik itu tentang filsafatnya atau Rocky. Keempatnya seperti melakukan gosip ala ibu-ibu di gang tentang janda kembang yang baru pindah rumah ke lingkungan. Si janda sendiri tidak terlalu pusing dengan obrolan dan persoalan filsafat atau pemikiran yang membusuk.
Ini karena si janda yang naik daun faham sekali, jika satu-satunya hewan yang mencegah terjadinya proses pembusukan adalah kumbang taik. Mereka senang menyimpannya untuk diri mereka sendiri.

Isu Propaganda Rusia dan Persoalan Bilateral Indonesia-Rusia

Isu Propaganda Rusia dan Persoalan Bilateral Indonesia-Rusia

Setelah Menhan Ryamizard Riakudu berkunjung ke Rusia bertemu dengan Menhan Sergey Sughoi kini giliran Menko Wiranto ke sana untuk bertemu Nikolay Patrusev, Sekretaris Dewan Keamanan.
Sebetulnya sulit untuk tidak menghubungkan pertemuan lanjutan dari pejabat setingkat menteri ke pejabat senior (Menko vs Sekretaris Jendral Keamanan) ini dengan isu Propaganda Rusia yang dilansir Jokowi pada sebuah kampanye di Surabaya beberapa waktu lalu.
Isu Russian Bots, Russia Apologist, dan kini Russia Propaganda adalah salah satu topik utama yang mendapatkan perhatian khusus kontra-intelejen Rusia. Mereka tidak menganggapnya hal sederhana, ini karena menyangkut keamanan geopolitik internasional Russia. Ada empat lembaga setingkat kementerian yang menangani persoalan ini, dari Kemlu Rusia, Kemendagri, Duta Besar Rusia PBB, Kemhan, dan Dewan Keamanan Rusia.
Bila Ryamizard mengatakan tujuan kunjungan adalah mempererat kerjasama pertahanan maka kunjungan Wiranto fokus pada upaya kerjasama penanggulangan Bencana a selain isu terorisme dan kejahatan siber.
Mereka yang senang mengamati isu keamanan-dan intelejen tentu mengetahui jika Sekretaris Keamanan Patrusev bukanlah orangnya untuk kerjasama penanggulangan seperti dimaksud. Ia adalah pejabat senior di FSB (dulu KGB) dan kepercayaan Putin di bidang kontra intelejen. Seperti pernah kita bahas beberapa waktu lalu di forum wall fesbuk nan mulia ini, pernyataan Jokowi memang tidak akan berhenti sekedar kicauan resmi Kedutaan Besar Rusia di Jakarta. Meski ada saja pemirsa yang tidak percaya jika persoalan ini akan berkembang menyangkut masalah diplomatik.
Melihat perkembangan leverage dari Menteri ke Pejabat yang lebih tinggi, tentu kita dapat menilai jika Rusia mesti meminta klarifikasi yang lebih terpercaya terkait pernyataan Jokowi di Surabaya. Ini karena meskipun sebagian menyebut Jokowi mengatakan Propaganda Rusia sebagai capres, atau Zainudin Ngaciro, Cak Njanjuk dst., tetapi secara de facto ia adalah presiden. Pernyataan yang keluar dari seorang presiden mesti mewakili satu pandangan kebijakan pemerintah dalam hubungannya ke dalam maupun ke luar dengan negara lain.
Pikir dulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna. Ini pepatah lama, tetapi persoalannya apa kita menggunakan pikiran ketika berpendapat.

Sunday, February 10, 2019

hawa nafsu

Sewaktu masih kuliah di Tut Tek Dung, saya diperkenalkan pada Hukum Panitia OS yang berbunyi: (1) Panitia selalu benar, dan (2) Jika Panitia salah maka lihat nomor (1).

Adalah lazim bahwa kebanyakan manusia tak akan suka disalahkan, termasuk saya sendiri. Menyakitkan rasanya. Dalam Islam, ada istilah “hawa nafsu” yang merupakan hasrat imaterial, hasrat yang 'menyeru' manusia kepada dirinya sendiri, bahwa akulah yang paling benar, bahwa akulah yang paling pandai, bahwa aku tak boleh dihina, bahwa aku tak boleh dipersalahkan, bahwa aku ingin berkuasa, dan berbagai “aku-sentris” lainnya.

Adalah sulit untuk melawan hawa nafsu, sehingga Rasulullah Muhammad saw pun menyebutnya sebagai “jihad akbar”...

(“Tapi Kang Al, itu bukan hadits. Itu adalah perkataan Abu Bakar.” ... Ya, tak apa-apa kalau ‘hanya’ perkataan Abu Bakar juga, toh tak mungkin Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mulia itu akan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Rasulullah Muhammad saw.)

Sekalipun memang susah melawannya, namun bukan berarti ‘mengafirmasi’ hawa nafsu adalah jalan keluarnya. Dan, salah satu jalan untuk berlatih melawan hawa nafsu itu adalah kejujuran dan kerendahhatian khas dunia ilmiah yang biasa disebut sebagai objektivitas.

(“Tapi Kang Al, apakah objektivitas itu memang ada?” Iya, kebetulan guru filsafat saya yang pertama adalah salah satu pakar hermeneutika di republik ini. Saya sedikit tahu soal itu. Tapi kita pakai saja dulu kata ‘objektivitas’ dalam makna yang menyiratkan ‘keterbukaan dan tak tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu.’ Boleh kan?)

Menjelang akhir pengerjaan disertasinya, istriku tercinta yang cantik jelita itu berkata dengan nada kecewa bahwa ternyata hasil penelitian S3-nya tidaklah signifikan. Dia meneliti meningitis dalam proyek disertasinya. Dia melakukan penelitian pada para pasien meningitis. Mungkin untuk kita yang awam, bayangkan saja perumpamannya begini. Selama ini dengan treatment standar yang ada, para pasien meningitis bisa membaik dalam waktu setahun. Nah berdasarkan penelitian tersebut, bagaimana kalau treatment-nya agak diubah, apakah pasien akan lebih cepat membaik? Ternyata pasien hanya jadi membaik satu jam lebih cepat saja. Ini hanya perumpamaan saja ya. Agar mudah membayangkan.

Istri cantikku itu lalu bercerita soal ‘ketidakpercayaan’ akademisi luar -- khususnya Barat -- terhadap penelitian di Indonesia, sebab tak jarang yang terjadi adalah ‘fabrikasi data’ hanya agar terlihat bahwa penelitian tersebut berhasil.

Dalam suatu percakapan bersama Mursyid Penerus, saat baru saja menyelesaikan disertasinya, beliau berkata bahwa semua penelitian mahasiswa S3 itu harus menghasilkan sesuatu yang “berhasil” dan “terbukti” agar bisa lulus. Kenapa tidak bisa kesimpulannya adalah “gagal” dan “tidak terbukti”?

Sebagaimana umumnya diketahui bahwa penulisan tugas akhir itu dimulai dari Bab Pendahuluan berisi berbagai pertanyaan teoretik yang hendak dijawab, dan bukan dari Bab Kesimpulan. Nah, untuk mahasiswa S3, porsinya berbeda. Mereka harus menghasilkan suatu kebaruan. Gambaran gampangnya begini: kalau selama ini Rasulullah dikenal sebagai nabi pembawa agama, pedagang, pemimpin, panglima perang, suami dari sekian istri, sosok yang dicintai lebih daripada para sahabat mencintai diri mereka sendiri, maka dalam disertasi ini sang mahasiswa S3 akan “membuktikan” bahwa Rasulullah juga adalah seorang eksistensialis.

Nah, apakah sang mahasiswa akan dinyatakan lulus jika dia berhasil “memperlihatkan” bahwa Rasulullah memang “terbukti” sebagai seorang eksistensialis, meskipun Islam yang dibawa Rasulullah memiliki pandangan ihwal hidup dan manusia yang berbeda sama sekali dengan eksistensialisme? Mungkin salah satu permasalahannya adalah “bagaimana bisa diterima bahwa waktu studi dan riset selama 4 tahun atau bahkan lebih itu hanya dihabiskan untuk menuliskan kesimpulan ‘ternyata saya salah’ dan ‘pendirian teoretik baru yang ingin saya hasilkan ternyata tak terbukti’...” Jika memang demikian keberatannya, lantas di manakah “kejujuran ilmiah bernama objektivitas” apabila sang mahasiswa malah seperti diajari untuk “berusahalah semaksimal mungkin untuk ngeles guna membuktikan bahwa saya benar”?

Memang ada perbedaan antara sains dengan humaniora. Sebagaimana saya tulis dalam makalah berjudul “Qui a peur de la philosophie?: Antara Prasangka, Fikrah dan Objektivitas”, salah satu perbedaannya adalah masalah hermeneutika tunggal (single hermeneutics) dengan hermeneutika ganda (double hermeneutics).

Hermeneutika tunggal artinya bahwa tindakan menafsir dan menganalisis dalam ilmu alam itu berlangsung satu arah, yaitu dari sang saintis kepada objek yang diamatinya. Tak ada tafsir apa pun yang dilakukan oleh objek sains terhadap sang saintis.

Hermeneutika ganda artinya bahwa tindakan menafsir dan menganalisis berlangsung dua arah, karena ilmu-ilmu sosial mengamati manusia. Misalnya, prediksi seorang ekonom soal bencana ekonomi yang akan terjadi di Indonesia 2017 bisa disikapi kepanikan oleh masyarakat dan berdampak pada tindakan para pelaku pasar. Namun, pelaku analisis/pengkaji/ilmuwan sosial dan apa yang dilakukannya merupakan bagian dari praktik sosial, yang pada gilirannya juga dapat dianalisis oleh ilmuwan sosial lainnya. Berbeda dari ilmu-ilmu alam, para pelaku ilmu-ilmu sosial (ilmuwan sosial) tidak sepenuhnya terpisah dari objek yang dikajinya.

Akan tetapi apakah karena ini pula maka dalam ranah humaniora, segala pendirian teoretis itu “benar” selama bisa diargumentasikan secara licin dan penuh akal-akalan? Kembali pertanyaannya adalah “lantas di mana integritas sang peneliti untuk mencoba bersikap objektif dan menerima bahwa ternyata dirinya memiliki kesimpulan yang salah?” Kadang hal ini malah menjadi kabur dengan klaim-klaim indah ihwal “pluralisme”, “penafsiran baru”, dan “keterbukaan menerima kritik untuk nantinya dijawab dengan ‘ngelesan’ lainnya”, sebagaimana sering juga dilakoni oleh saya sendiri.

Ini menggiring ingatan saya kepada Sokrates. Ada satu hal yang mengagumkan dari Sokrates jika membaca kitab Kriton.

Dalam kitab itu, Kriton menawarkan Sokrates untuk melarikan diri dengan cara menyuap penjaga penjara. Sokrates menolaknya sebab dia tak mau “menghancurkan” Athena dengan cara melanggar hukum-hukumnya, terlebih dia sendiri adalah salah satu warganya. Bagi Sokrates, memperlakukan seseorang dengan buruk sama saja dengan memperlakukannya dengan tidak adil. Sokrates juga sadar jika dia dihukum dengan cara yang tak adil, namun Sokrates mengingatkan Kriton ihwal percakapan lama mereka bahwa seseorang tak boleh membalas perlakuan buruk yang diterimanya. Balas dendam itu sama sekali tak dibenarkan. Sokrates juga menegaskan bahwa pendapat kebanyakan orang bukanlah sesuatu yang pasti benar. Sokrates lebih mempercayai satu orang yang memang ahlinya, daripada suara orang banyak, ihwal suatu perkara. Namun itu pun bukan menjadi pembenaran baginya untuk lantas melanggar hukum Athena, apalagi dengan cara menyuap. Selain itu, Sokrates pun tak menaruh benci atau menyalahkan siapa pun atas ketidakadilan yang dialaminya, bahkan tidak juga kepada Aristophanes yang membuat pertunjukkan teater untuk menyebarkan fitnah bahwa Sokrates adalah seorang gay yang mengincar para pemuda Athena dan bahwasanya Sokrates pun mengajarkan relativitas moral.

Bagi saya ini sangat luar biasa.

Sokrates menjadikan filsafat bukan sebagai seni mencipta konsep-konsep (rumit) sebagaimana didefinisikan oleh Deleuze & Guattari. Sokrates menjadikan filsafat sebagai jalan hidup, sebagai suatu integritas yang tak memisahkan antara etika dengan epistemologi, yang tak memisahkan antara ke-semau-gue-an di ranah privat dan ke-jaim-an di ranah publik, yang tak memisahkan hasrat tak terkendali lagi motivasi busuk tersembunyi di ranah privat yang kemudian dibungkus dengan konsep-konsep canggih lagi rumit di ranah publik. Sokrates menghidupi filsafat di ranah privat dan publik dalam keseharian hingga ajal menjemputnya, dan bukannya menawarkan kerumitan pikiran ke ranah publik sembari menutupi keliaran hasrat tak terkendali dan niat busuk di ranah privat.

Menurut saya, sofisme yang dilawan oleh Sokrates bukan semata berbentuk akrobat logika yang merelatifkan kebenaran hanya demi mendapatkan uang sebagaimana dilakoni oleh kalangan Sofis, tapi juga bagaimana daya pikir manusia malah dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh epithumia (hasrat material) maupun thumos (hasrat imaterial) untuk mendapatkan apa yang dimauinya. Baik epithumia maupun thumos adalah bagian dari jiwa yang fana (mortal), berbeda dengan bagian lain dari jiwa yang abadi (imortal) dan bahkan serupa dengan Idea. Itulah kenapa Sokrates mengatakan bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati, yaitu agar seseorang yang belajar filsafat bisa lepas dari epithumia dan thumos dengan berlatih mati, sehingga psukhé (jiwa) bisa lepas dari soma (tubuh), dan psukhé pun bisa belajar tanpa harus terganggu oleh hasrat-hasrat tersebut.

Dalam Islam dikenal ajaran bahwa hati (qalb) itu ibarat raja, sedangkan anggota badan itu ibarat prajuritnya. Bila sang raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya.

Saya baru mulai memahami kenapa Mursyid Penerus selalu menegaskan berulang kali agar kami, para saliknya, senantiasa belajar membangun sikap objektif, dan ternyata saya sendiri masih sering gagal membangun sikap ini.

(“Iya, Kang Al juga sering tidak objektif.” Sumuhun, saya memang seburuk itu, bahkan masih banyak keburukan saya yang belum Anda sebutkan, dan seperti yang saya tuliskan di atas, kebanyakan manusia itu tak suka jika disalah-salahkan. Begitu juga saya. Begitulah keburukan yang masih menempel di diri saya. Namun, semoga setelah teguran dari Anda ini, saya pun bisa mendapatkan ilmu dan hikmah dari Anda ya. Amin Ya Rabb Al-Alamin.)

Beberapa minggu ini saya baru mulai menyadari bahwa (berusaha untuk) bersikap objektif itu pun membersihkan hati. Bahwa saya seharusnya mencoba untuk tidak begitu saja dipermainkan oleh ketidaksukaan atau bahkan rasa benci kepada seseorang atau suatu kalangan sehingga ketidaksukaan atau rasa benci itu malah memanipulasi dan memanfaatkan segenap kemampuan pikir yang saya punya hanya untuk menyerangnya, mempermalukannya, mendelegitimasinya, dan di atas itu semua adalah “membuktikan bahwa saya pasti benar, sebab jika saya salah, maka ketahuilah bahwa saya pasti benar.” Permasalahannya, ketidaksukaan atau rasa benci itulah yang membuat saya selalu melihat orang atau kalangan yang tidak saya sukai atau benci senantiasa melakukan kesalahan; apa pun yang mereka lakukan pasti salah, sebab salah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri mereka. Adapun kebenaran itu ada di pihak saya dan teman-teman yang sepikiran dengan saya. Titik!

Ternyata seburuk itu saya selama ini... Astagfirullah Al-Adzim. Hampura Gusti Nu Agung.

Nah, dengan status panjang ini, sekalian saya pun mohon pamit untuk mundur dulu dari dunia media sosial, khususnya FB. Permasalahan utamanya adalah ada begitu banyak deadline yang harus saya penuhi hingga bulan Juli tahun ini, dan itu akan menyita banyak waktu. Semoga hingga saat pekerjaan itu selesai, euforia cupras capres pun sudah berlalu, dan saya pun bisa ngemedsos lagi dengan kondisi diri yang lebih baik dan tak merasa paling benar. Mohon maaf juga jika berbagai comment Anda di postingan ini tidak selalu saya jawab. Adapun jika Anda merasa bahwa postingan ini ada gunanya, serta berniat nge-share, silakan saja, tak perlu minta izin segala.

Oh iya, mungkin sesekali saya akan muncul di akhir pekan, jika ada sesuatu yang saya rasa berharga untuk dituliskan. Mohon maaf jika selama ini ada banyak salah kata yang saya tuliskan dan menyakitkan Anda, baik disengaja maupun tidak disengaja. Demikian. Salam.

Saturday, February 9, 2019

Propaganda Rusia : Jokowi bisa dianggap inkonstitusional

Propaganda Rusia : Jokowi bisa dianggap inkonstitusional
Pernyataan Jokowi di Surabaya yang menyebut ada tim sukses yang mempersiapkan Propaganda Rusia adalah blunder dalam politik luar negeri.
Sebagai negara pendiri NAM (non blok) dan ASEAN,konsep mendayung di antara dua karang dan tidak ikut campur (non interference) urusan dalam negeri orang lain maka tuduhan Jokowi ini sangat berbahaya dan bisa dianggap inkonstitusional. Dalam pembukaan UUD 45 sudah diterangkan jika pemerintahan negara kita bertujuan melaksanakan ketertiban dunia yang salah satunya menjadikan doktrin non-interference atau bebas aktif sebagai marwahnya.
Belum lagi bila kita melihat kepada dokumen ASEAN tentang tidak melibatkan pihak luar dalam persoalan bi dan multilateral sesama anggota. Selain tentunya Indonesia adalah konseptor dari kaidah utama komunikasi ASEAN yaitu musyawarah (deliberation) dan kemufakatan (concensus) yang mengedepankan pemeriksaan cermat dan menghindari tudingan dalam mengatasi persoalan.
Saiya tidak faham apa latar belakang seorang presiden (kita tidak perlu bermain kata dengan istilah calon presiden) mengucapkan adanya interfensi asing dalam hal ini Rusia, di hadapan publik, direkam banyak orang dan didukung pula banyak orang. Apakah pernyataan ini sifatnya dugaan, ataukah ada laporan intelejen detail yang membenarkan ucapan seorang Presiden di muka umum tentang interfensi propaganda Rusia. Apakah tujuan dari ucapannya ini untuk menyerang lawan politik ataukah untuk membangkitkan sentimen anti Rusia di kalangan masyarakat Indonesia.
Secara historis Rusia tidak memiliki persoalan sejarah, sebaliknya Uni-Sovyet pernah membantu perjuangan Indonesia dengan mengirim alutsista dan penasehat militer mereka.
Saya yakin terlepas dari rilis resmi kedutaan via sosial media twitter, maka mesti akan ada surat diplomatik dari Kedutaan Rusia yang meminta keterangan lebih jauh tentang hal ini. Jika tidak dilakukan kedutaan Rusia di Jakarta maka Kementerian Luar Negeri Rusia mesti memanggil Duta Besar Indonesia di Moskwa. Bisa dibayangkan betapa repotnya pihak Kemlu menjelaskan persoalan ini.
Jika pernyataan tadi diucapkan oleh Jainudin Nachiro, Nurhadi, atau Cak Jangcuk barangkali tidak ada masalah, tetapi ketika seorang Presiden mengucapkannya di muka umum ini tentu akan berkepanjangan dalam hubungan luar negeri kita.
Rusia mesti akan melakukan uji parameter atas persoalan ini, mengingat istilah Russian Propaganda, Russian Bots, Russian Meddling, Russian interference adalah bahasa baku yang digunakan oleh pemerintah Barat (Eropa dan AS) serta media mainstream mereka untuk menyudutkan pemerintah Rusia. Mereka tentu akan memasukkan persoalan ini sebagai sebuah catatan penting dari hubungan diplomatik Rusia-Indonesia.
Alangkah bodohnya.

Lebah

Lebah
Mbah Moen meminta maaf karena kesalahan doa. Ketika seseorang memintanya untuk mengulang kembali doa yang tertukar, ia berkata bahwa usia tua membuatnya demikian.
Di dusun kami dulu ada seseorang yang wajahnya mirip dengan mbak Moen. Namanya Bapak Kapaloh. Ayah kami membiarkan kami memanggilnya dengan sebutan Bapak padahal ia adalah iparnya, suami dari kakak perempuannya yang kami panggil Uwak. Bila mengikuti aturan pemanggilan ia mestinya juga disebut uwak oleh keponakan-keponakan dari adik iparnya.
Aturan penyebutan ini menurut saya terlalu rumit, tetapi sebenarnya cukup efektif memverifikasi orang. Juga nantinya dari sana ukuran-ukuran adat, istiadat atau kebiasaan ditetapkan menjadi hukuman.
Ayah berkata bahwa dia masih memiliki kekerabatan dari jalur bapaknya. Sehingga atas pengecualian dia mendapatkan panggilan tadi. Ayah sendiri memanggilnya kakak, sebagai sebuah penghormatan. Meskipun demikian Bapak Kapaloh adalah orang yang terikat pada aturan.
Rumah di dusun adalah rumah tiang yang tersusun oleh kayu-kayu ulin atau jati ratusan tahun. Sebagai slop yang menghubungkan antar tiang maka di lantainya akan digunakan satu balok besar panjang. Balok-balok tadi membentuk kotak-kotak dengan ukuran tergantung besar rumah. Rumah kami memiliki balok yang panjangnya dua puluh meter tanpa sambungan. Ia dibagi menjadi empat ruas masing-masing lima meter.
Di tiap ruas itulah aturan duduk di tetapkan.
"Kamu lihat nanti bagaimana Bapak Kapaloh datang"
Ayah melirik pada pria yang berjalan bungkuk dengan baju batik dan kopiah hitam dari kejauhan.
Ketika mendekati tangga ia berhenti sambil mengucapkan salam. Berdiri berpegangan pada tiang dan diam di sana.
"Bagaimana kabar kebun, sudah ada yang bisa dibawa ke Jakarta."
Ayah bertanya dari atas rumah dan ia menjawab agak panjang.
"Durian tiga bulan lagi, duku kalau mau menunggu dua minggu lagi, jeruk baru ditanam, tetapi ada saiya siapkan gabah buat digiling dan beberapa ikan asap."
Ia menjawab dan duduk di sana.
"Siapa yang datang minta doa."
Ayah bertanya lagi kepadanya sambil tersenyum.
"Kalau diizinkan boleh saiya duduk di sini? Belakangan sendi agak ngilu kalau banyak berdiri."
Ia berdiri menunggu jawaban.
"Duduklah"
Bapak Kapaloh melepaskan pegangannya pada tiang tangga dan duduk di ijan (anak tangga).
"...Moyang Woli, Ombai Idun, ombai Sia, bakas Usup, bapak Bakar,...."
Ia menyebutkan nama-nama orang di masa lampau yang telah mendahului.
"Naiklah ke sini kak, ada teh dan kue."
Ayah berkata dan Bapak Kapolah mengangguk. Ditanggalkannya sendal di bawah tangga dan ia meniti anak tangga pelan-pelan ke atas.
Istrinya atau uwak kami adalah artis penari terkenal di dusun. Namanya Irim atau biasa dipanggil Ran (Istri) Kapaloh. Ia perempuan yang selalu gembira dan berbahagia. Hobinya bernyanyi, menari, mengajar tari anak-anak, dan membuat kue. Menurutnya suaminya itu pemalu dan lambat seperti siput. Bagaimana kedua sifat-sifat saling bertentangan itu bertemu kita tidak pernah faham perjodohan.
"Masuklah, kita baru mau mulai."
Uwak Irim berkata pada orang-orang di bagian teras rumah.
Orang-orang masuk mengambil tempat duduknya di antara balok-balok di lantai.
"Nanti kamu perhatikan dimana Bapak Kapaloh duduk."
Ia adalah pria terakhir yang masuk. Tetapi ia tidak segera masuk. Pertama dia akan berdiri menampilkan diri di depan pintu masuk yang mirip pintu bar koboi. Lalu orang-orang akan meneriakinya untuk segera masuk.
Ia lalu akan duduk saja di palang pintu. Orang-orang kembali akan meledeknya dan berkata bahwa ia adalah bagian dari keluarga di rumah itu.
Bapak Kapaloh baru akan melompati palang pintu dan dipilihnya duduk di balok paling dekat dengan dinding luar rumah.
Lalu orang-orang makan bersama dari satu panci yang sama dengan tangan kosong dan obrolan serta gurauan yang kejam. Orang dusun senang membuat istilah dan saling menjahili dengan gurauan yang menurut saiya terlalu berlebihan. Tetapi itu adalah cara mereka berinteraksi saiya tidak faham apakah itu baik atau buruk.
Nenek biasanya akan duduk saja di atas ranjangnya sambil memutar tasbih. Ia tidak terlalu peduli dengan acara makan-makan. Tubuhnya kurus tetapi setiap pagi dini dia berangkat ke sungai untuk mandi dan mengambil satu ember air sebagai air wudhlu.
Setelah semua suguhan selesai biasanya kabar-kabar dari dunia lampau disampaikan.
"Hei Kapaloh, apa kabar nenek-moyang kita"
Uwa Badar, kakak tertua ayah bertanya padanya. Kapalah menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Moyang Tuan mengucapkan terimakasih karena ziarah dan membersihkan makamnya. Hanya dia sampaikan satu nisan yang di pasang Haji Latif tertukar tempat."
Orang-orang bergumam dan bertanya siapa yang memasang kembali waktu renovasi kuburan nenek-moyang. Satu dari pria di ruangan kemudian menyuruh seorang anak untuk menghubungi lagi orang lain.
"...Indok Haji (nenek)"
Bapak Kapaloh melanjutkan
Nenek berhenti memutar tasbihnya.
"Waktunya tidak lagi lama. Ia nantinya mati ngojut (tiba-tiba dan diketahui orang)."
Nenek tertunduk dan membalikkan badannya.
Perahu merapat ke gosong di tengah sungai. Beberapa pria baru saja kembali dari tempat pemakaman tua. Kak Mulkan anak dari uwa Badar berkata jika salah satu nisan memang salah pasangan tetapi sudah dicabut dan dipasangkan dengan benar.
Setiap generasi akan memasang sepasang nisan di kedua ujung kuburan. Sampai terakhir saiya melihat barangkali ada 7-8 generasi. Yang masing-masing ada terbuat dari kayu unglin, batu, semen, dan kaca. Nisan-nisan tadi dipasang berjejer untuk menunjukkan silsilah sesuai generasi dan karena makam yang berkembang membesar karena lebah tanah yang menjadikannya istana mereka. Si lebah memperbesar makam tadi sampai menembus atap dan ke depan atau ke samping yang membuat nisan terdorong lebih jauh. Makam tadi kira-kira panjangnya tiga atau empat meter.
Dua bulan setelah terakhir kami berkunjung, nenek meninggal dunia dalam tidurnya.
Bapak Kapaloh meninggal delapan tahun lalu. Ia barangkali murid terakhir dari Tanda Woli yang mengikuti tarekat Hasaniyah. Setiap malam mewajibkan dirinya membaca satu kitab quran. Bila saiya mendengarkannya membaca dari bawah rumahnya sepulang shalat subuh ia membaca seperti seekor lebah yang berdengung di depan kembang.

Kampanye Propaganda Rusia dan Selang Kebakaran

Kampanye Propaganda Rusia dan Selang Kebakaran
Pidato Jokowi di hadapan massa di Surabaya tentang adanya Propaganda Rusia memang akhirnya akan membuat blunder dari perspektif hubungan luar negeri dan pencitraan.
Terlepas benar atau tidaknya ada Propaganda Rusia untuk menggusur Jokowi dari kursi kepresidenan lewat, sepatutnya ucapan ini tidak boleh keluar dari mulut presiden langsung. Ada norma-norma hubungan luar negeri yang harus dihormati. Menuding negara yang tidak dikategorikan sebagai musuh atau ancaman terlibat dalam konstelasi politik pilpres tentu menjadi tuduhan yang berat.
Pihak kedutaan Rusia telah mengeluarkan rilis resmi di sosial media. Yang intinya Rusia menolak tudingan keterlibatan mereka di urusan dalam negeri negara lain dan menyebutkan jika istilah propaganda ini dibuat AS untuk menyudutkan mereka. Meski telah ada pernyataan ini, pihak Rusia tentu akan mengukur parameter dari dan atas tujuan apa ucapan tadi terlepas dari mulut presiden. Bagaimana pun juga ucapan seorang pemimpin negara mesti akan mempengaruhi pola kerjasama ke depan.
Sayangnya ketimbang meralat dan meminta maaf rupanya Propaganda Rusia ini terus digoreng seolah-olah bukan sebuah kesalahan kampanye dan bukan kekeliruan dalam diplomasi hubungan baik kedua negara. Istilah Inggrisnya to beat around the bush, memukul semak tanpa pernah mencoba mengetahui isinya.
Seperti baru-baru ini tim nasional kampanye Jokowi memperkuat blunder ucapan tadi dengan melontarkan teori Selang Kebakaran (Firehose of falsehood), teori menyiram api dengan minyak. Mereka menerangkan pola dan gerakan-gerakan dari hoax yang diciptakan lawan politik sebagai teknik propaganda Rusia. Belakangan bahkan ada nama Rand Co., konsultan politik asal AS dibalik proyek Propaganda Rusia yang dimaksud.
Sebetulnya tidak perlu atraksi memukuli semak untuk meminggirkan persoalan Propaganda Rusia menjadi firehose atau falsehood lainnya. Tim Kampanye Jokowi membutuhkan tema-tema besar untuk mendistraksi perhatian publik. Setelah tentunya isu toleran versus intoleran, Islam nusantara versus islam radikal dianggap tidak memukul sama sekali karena kenyataannya mereka yang dituduh intoleran dan radikal menyelenggarakan aksi massa besarnya berkali-kali dengan tertib dan adem-adem saja.
Sementara pencitraan millenial dengan mengambil model Perdana Menteri Kanada Justin Tredau lewat gaya anak motor, geng biker, Imam masjid, baju kaos, jeans dan sepatu kets ketika menerima tamu itu sepertinya tidak terlalu berhasil. Sandi Uno lebih mudah terasosiasikan kepada Justin Tredau, kaya muda, sporti, sportif, dan easy going. Sementara Syafi Ma'rief hanya mengulang-ulang perlunya mencintai ulama di forum yang homogen seperti pesantren.
Istilah Propaganda Rusia ini mesti menjadi opsi "mau ngapain lain ya" dari tim kampanye Jokowi. Mereka mungkin mau mengambil peluang sama menaikkan isu Russian Booths, Russia bots, Intervensi Rusia seperti dilakukan oleh Hillary Clinton untuk menyerang Donald Trumps. Langkah yang dianggap beberapa pengamat media kampanye sebagai langkah frustasi dan terakhir untuk menyatukan tim kampanyenya yang mis-manajemen.
Hillary mungkin sebentar mengambil perhatian publik dan menarik pendukungnya untuk berteriak materi Awas Bahaya Rusia, tetapi pada akhirnya Hillary kalah.

Draft

Draft
Setelah isu perpanjangan pensiun Bintara, Tantama dari 53 ke 58, kini Panglima meminta agar para pejabat militer yang belum menduduki pos di karyakan di lembaga-lembaga pemerintah sipil.
Yang menjadi pertanyaan tuan Heru kemarin adalah mengapa wacana tersebut baru muncul menjelang pemilu yang pastinya akan menjadi bisa guncangan bagi pemerintahan Jokowi.
Saiya tidak pandai menjawab cepat pada pertanyaan yang sebenarnya drafting argumen atas sebuah kebijakan.
Draft adalah susunan argumen yang menjadi latar dari diambilnya sebuah kebijakan atau tindakan. Ketika Panglima mengatakan bahwa tentara perlu dikaryakan di semua lembaga kementerian publik ia mesti mempunyai argumen dari sudut pandangnya. Apakah ini terkait dengan fungsi strategis karena keperluan yang juga strategis ataukah ini dipandang perlu dari sisi formasi serta peta jabatan di lingkungan militer.
Sejak aliansi NGO meminta tentara back to barrack sebagai tuntutan gerakan reformai maka boleh kita katakan tidak banyak ruang bermain bagi militer. Mereka tidak seperti lembaga kepolisian yang semakin moncer dengan dibentuknya lembaga-lembaga afiliasi seperti KPK, BNN, BNPB, BNPT, dst,. dimana perwira dan staf mereka dapat ditempatkan di luar instansi kepolisian.
Semenjak Presiden Abdurrahman Wahid, keberadaan militer di instansi sipil benar-benar dikurangi secara drastis. Di lingkungan istana misalnya, jabatan tinggi hanya tinggal di lingkungan Sekretariat Militer. Kebanyakan mereka dikembalikan ke instansi awal atas nama profesionalisme tentara.
Disetujui usulan perpanjangan pensiun dari 53 ke 58 pun sebetulnya bagian dari draft untuk memberi ruang lebih bagi tentara level menengah bawah agar dapat terus menghasilkan. Perpanjangan ini tentu disandingkan dengan yang telah dilakukan beberapa tahun lalu di kepolisian negara.
Artinya ada kemungkinan rivalitas atau kita sebut saja kecemburuan di lingkungan militer terhadap "diskriminasi" yang dilakukan pemerintah sementara hal yang berbeda diberikan kepada kepolisian.
Sehingga dorongan untuk membuka peluang penempatan tentara di lingkungan sipil ini pun tidak jauh dari persoalan rivalitas militer dengan kepolisian. Fenomena Perwira Meja Panjang atau Jendral Tanpa Jabatan yang merujuk kepada semakin padatnya ruang formasi di tentara ini dimunculkan kembali menjelang pemilu sebagai bagian dari draft negosiasi pihak militer kepada pemerintah.
Selain anggaran keseluruhan matra hari ini yang nyaris sama dengan satu kepolisian, maka pembentukan lembaga-lembaga non struktural yang dapat menempatkan perwira kepolisian itu pun kini dituntut dapat pula menerima perwira militer di dalamnya.
Ini tentu cukup menarik, mengingat di pemerintahan Jokowi hari ini beberapa jendral pensiunan boleh dibilang memiliki pengaruh yang besar (Wiranto, Luhut, Sutiyoso, Hendropriyono) untuk membuktikan bila tentara tetap loyal. Hanya saja apakah draft dari panglima ini merupakan satu bagian dari kebijakan yang telah dikonsultasikan dengan jendral pensiunan tadi kita menjadi ragu.
Mengingat tuntutan ini mesti akan menjadi perhatian dari aktivis HAM dan reformasi dan sudah tentu akan menjadi blunder bagi Jokowi menjelang pemilu.
Ataukah ini memang sengaja dimunculkan hari ini agar tentara mendapatkan perhatian untuk diberdayakan. Semacam negosiasi teritorial menjelang pemilu.

Ahok dan Akbar : Oportunis dan Loyalis

Ahok dan Akbar : Oportunis dan Loyalis
Dua tokoh yang viral di lingkungan sosial media belakangan adalah Ahok yang kembali berkiprah ke politik dan Akbar Tanjung yang mengundang Jokowi di rumahnya.
Ahok yang dulu berkata parpol sarang koruptor kini mendatangi PDIP untuk berkarir di sarang tadi. Ini kali keempat dia berpindah partai dan baginya itu bukan persoalan. Kita masih ingat pada saat ia menyampingkan tawaran parpol untuk mengusungnya di pilkada DKI baru lalu. Alasan sarang koruptor dan enggan membayar mahar menjadi dalihnya. Aksinya dengan segera menyenangkan the so called kelompok relawan independen kawan Ahok. Ia memilih diusung lewat jalur independen.
Belakangan setelah para independent tadi bekerja keras, Ahok dengan mudah berbalik kembali mencari dukungan parpol agar dapat maju di pilkada bertarung dengan Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono. Sekarang Ahok kembali menjadi orang partai dan partai ini adalah partai keempatnya.
Politik adalah soal kekuasaan dan memanfaatkan peluang-peluang. Sejauhmana peluang dapat dikapitalisasi bagi kepentingan sendiri maka itu sah-sah saja. Sehingga wajar orang berkata bahwa soal politik itu bukan soal yang perlu dibela mati-matian, semua orang adalah pragmatis, oportunis kutu lompat sekaligus
Berbeda kisahnya dengan Akbar Tanjung. Baru-baru ini ia menjadi perbincangan di lingkungan partai Golkar, Koalisi Jokowi dan juga Prabowo. Tetapi tidak ada yang membahasnya lebih keras ketimbang grup-grup sosmed di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam.
Ia baru-baru ini mengundang Jokowi hadir ke rumahnya untuk merayakan dies natalis 72 tahun Hmi serta peluncuran pembuatan film pendiri Hmi Profesor Lafran Pane. Beberapa hari sebelum acara tersebut sebuah meme' Jokowi dan Akbar beredar dengan tulisan: Deklarasi KAHMI dukung Jokowi.
Dengan cepat sekali meme' tadi menjadi perbincangan dan serangan kepada Akbar. Ia dianggap berkhianat kepada akar rumput kebanyakan alumni Hmi yang memang mayoritas berat ke Prabowo. Akbar lebih jauh dianggap memanfaatkan dies natalis, keluarga alumni dan juga Hmi sebagai alat untuk merapat ke istana.
Saiya tidak terlalu setuju dengan pendapat tadi.
Akbar barangkali satu-satunya tokoh elit politik yang mempunyai loyalitas total ke satu partai saja.
Ketika 1998 Golkar diserang dari segala penjuru untuk dibubarkan karena terafiliasi sebagai partainya Soeharto, Akbarlah yang berdiri di depan menjaga Golkar dengan hastagnya #GolkarBaru. Ia ingin memisahkan Golkar yang orba dengan Golkar reformis dan Akbar berhasil menjaga Golkar sebagai partai pilihan mayoritas masyarakat Indonesia.
Selang kemudian mereka yang dulunya di Golkar dan ikut mencela Golkar mulai kembali ke Golkar, Akbar pun ditendang dan dikalahkan. Ia kemudian sempat dibawa ke pengadilan terkait dugaan korupsi, dan kehilangan jabatan pimpinan DPR.
Ketika JK naik mengalahkannya di satu Mubes yang keras di Bali, Akbar tidak memperoleh posisi apa pun di Golkar. Tetapi ia tetap di partai tadi. Akbar tidak melompat sebagaimana Wiranto membuat Hanura, Edi Sudrajat-Tri membuat Partai KPI, Sutiyoso. Ryas Rashid dan Andi Mallarangeng membuat PDPDK.
Konsistensi di garis partai inilah yang membuat Akbar dianggap contoh ideal dari apa yang kita sebut loyalitas politik. Ia dibunuh berkali-kali, dan berkali-kali pula ia muncul kembali.
Pada 2014 ketiga Golkar mendukung Prabowo-Hatta, Akbar ikut mendukung. Sekarang ketika Golkar ada di pihak Jokowi, maka wajar ia pun ikut mendukung Jokowi. Bagi senior dan kawan-kawan Hmi yang menurut saya mayoritas mendukung Prabowo maka ini adalah sikap politik Akbar. Ia tidak pernah berbeda dengan Golkar sebagai sebuah parpol. Ini contoh dari seorang loyalis partai dan loyalitas dalam politik.
Di dunia yang penuh dengan intrik, advonturisme, oportunisme, pragmatisme dan saling memanfaatkan maka orang sah-sah saja menjadikan dirinya seperti Ahok, dan sah pula menjadi seperti Akbar Tanjung. Hanya saja, di dunia seperti itu hanya loyalitaslah yang membuat seseorang eksis meski ia mati berkali-kali.

Monday, February 4, 2019

Doa Ba'dal

Doa Ba'dal
Sebagai keluarga yang lahir dalam tradisi kauman di Sumatera yang diwarnai dengan tarekat ada kami mengenal konsep doa ba'dal.
Doa ini adalah doa bersyarat yang disampaikan untuk menangguhkan doa-doa yang pernah disampaikan seseorang. Sebab ia hanya boleh disebutkan sekali saja, maka tidak banyak dari orang-orang yang mengenali maksud dan tangguhan-tangguhan dari doa seperti ini. Hanya orang-orang yang diberi satu pandangan luas pada konsekeunsi doa tadi lah yang dapat memahami mengapa sebuah doa ba'dal dimintakan ke hadirat ilahi. Apa dan mengapa ia mengharapkan sebuah tangguhan-tangguhan itu tentu ada hal yang dia fahami sebagai seseorang yang diberi ketinggian ilmu.
Ada banyak doa yang dimintakan manusia kepada Tuhan meski ia sendiri tidak memahami mengapa ia meminta satu atau beberapa kehendak agar dikabulkan untuk terjadi. Hal ini tentu manusiawi, kita diajari berdoa, karena ini adalah satu-satunya kekuatan dan alat bagi manusia untuk mengubah peruntungan-peruntungan. Hanya saja kita tidak mengerti peruntungan apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Inilah mengapa pada kebanyakan para orang tua dulu yang mengikuti disiplin, mereka tidak banyak melayangkan doa dalam bentuk-bentuk yang beragam. Paling doa mereka sebatas semoga jangan sampai saiya menyusahkan manusia. Atau agar dalam kematian dihindari satu kematian yang mendadak.
Saiya ingat kembali tentang doa ini, ketika saiya menyaksikan video Kyai Maimoen Zubair berdoa di acara menyambut kehadiran Presiden Jokowi di acara Sarang Berzikir di Pesantren Anwar Sarang Rembang. Ia mendoakan Prabowo menjadi pemimpin nagari.
Besoknya di media online ada ditulis; Di Acara Jokowi, KH Maimun Zubair salah menyebut nama Prabowo. Maimun Zubair keliru doakan Prabowo pemimpin, Kyai Maimun ralat doa Prabowo jadi Presiden., dll. dll..
Jika Ulama besar KH Zubair saja mereka bisa sebut keliru, salah, dan perlu meralat doanya maka apalah ilmu kita di banding koran online itu.

It's Show Biz, it's show Time, Rocky Show

It's Show Biz, it's show Time, Rocky Show
Tentang klasifikasi yang dihibahkan seseorang kepada yang lainnya itu adalah bagian alamiah dari cara kita berpikir.
Manusia menggunakan kaidah dasar membagi dan mengelompokkan (to categorize-to classify) untuk mengenali sesuatu. Cara ini tentu saja tidak akan lepas dari dimensi-dimensi lain yang mengilhaminya termasuk preferensi politik seseorang.
Seorang kader Hmi mengirimkan pertanyaan kepada saiya tentang Filsafat, Rocky dan Sofisme. Ia berkata bahwa pandangan Rocky bukanlah sebuah pandangan filsafat namun pandangan seorang sofis. Apa yang disebutnya sofis di sini adalah kebalikan atau antonim dari filsuf. Yaitu orang-orang cerdas dan intelek yang menjual pengetahuannya untuk kepentingan, dalam hal ini uang.
Pertanyaannya terlihat sederhana tetapi menjadi komplek karena harus diurut dan diperiksa satu-satu.
Jika menurutnya Rocky bukanlah seorang filsuf, maka apakah itu karena ia mendengar -Rocky Gerung- pernah mengatakan dirinya sebagai seorang filsuf? Jika RG pernah berkata jika ia filsuf, maka apakah filsuf yang dimaksudnya itu adalah sama dengan yang kita bayangkan tentang filsuf.
Di sini nanti setelah mengklasifikan dan mengkategorisasikan Rocky kepada golongan filsuf dan bukan orang kebanyakan (demos) telah disepakati akan dimulai apa yang kita sebut defining the definition. Apakah filsuf itu dan apakah kategori filsuf tadi dipenuhi oleh RG.
Jika ternyata ia tidak pernah menyebut dirinya sebagai filsuf, maka ini akan tetap menjadi problematika di tahap klasifikasi-kategorisasi. Mungkin saja ia menjadi filsuf karena kita menilainya begitu, atau ia menjadi sofis karena kita mau ia masuk kepada definisi yang kita mau kan.
Nah pertanyaan yang sama dapat kita ulangkan kepada pengertian sofis.
Apakah RG seorang sofis? Apakah sofis itu sendiri?
Saiya tentu tidak akan memperpanjang pokok diskusi. Ini karena bila anda menyukai Nietzsche atau membencinya maka anda harus membaca semua hal tentang dia. Begitu pula ketika anda membenci Soekarno atau mencintainya maka semua yang dia tulis dan ditulis orang tentang Soekarno harus kita baca tuntas. Begitu pula pada RG, anda harus membaca dia dari banyak perspektif. Ini penting dalam metode ilmiah penelitian tentang pemikiran dan gagasan.
Berbeda halnya dengan ketika menilai seseorang yang mengurus harkat hidup kita, misalnya bupati, walikota, gubernur atau presiden. Mereka memperoleh kekuasaan dari amanah publik sehingga ada kewajiban dari publik (public obligation) untuk terus mengkritisi penyelenggaran kekuasaan tadi. Ini karena makan, minum, sampai beraknya pejabat negara itu dibayar dengan uang publik.
Pada sosok RG, dia adalah dirinya sendiri. Menurut pendapatnya ia beropini karena ada yang salah menurut dirinya atas penyelenggaran kekuasaan. Ia lalu menyampaikan opininya ke ruang publik untuk orang dan penyelenggara negara mengetahuinya.
Ketika pendapatnya tadi mengguncang dan mengaduk-aduk perspektif yang lain, maka di sini penilaian-penilaian pro-kontra dimulai. Potensi terjadinya debat dan konflik tadi secara alamiah menarik perhatian media-massa yang memang hidup dengan dua kutub tadi. Ia lalu menjadi selebriti dalam tiap kemunculannya yang kemudian difasilitasi sebagai "Talk Show".
Kita tentu faham bahwa talk show adalah show-bisnis. Semakin keras pertengkaran maka semakin tinggi rating dan pemasukan iklan. Termasuk cara kita kemudian mengklasifikan dan menggolongkan RG kepada filsuf bukan filsuf, sofis bukan sofis adalah tetek bengek atau remah-remahan dari obrolan inti. Sejatinya talk show is show biz. Terlepas dari semua usaha mempredikatkan sesuatu kepada RG, ia adalah orang cerdas yang faham bagaimana memainkan pandangan dan bisnis.
Tidak banyak orang bisa, banyak yang mencoba menjual pikiran kepada kekuasaan, tetapi ia kemudian menjadi orang lain atau sub-ordinat dari pikiran yang lain. Pada Rocky, ia sepertinya senang saja meniti gelombang, berselancar dengan kata-kata menjadi dirinya sendiri, dan menghasilkan uang. It's Rocky Time

Rocky dan Filsafat

Rocky dan Filsafat
Seperti yang saiya duga bahwa pada akhirnya akan ada orang yang mempertanyakan Rocky dan filsafatnya.
Seorang kawan berkomentar jika apa yang disampaikan Rocky bukanlah filsafat. Ia yang dulu senang membaca buku-buku filsafat terjemahan penerbit Mizan, beranggapan jika filsafat yang otentik adalah filsafat Islam lain dari itu bukan filsafat. Secara lebih spesifik filsafat islam yang dimaksudnya pun adalah yang berkembang di dalam tradisi muslim Syiah.
Saiya tidak hendak mendebatnya, tetapi menilai satu pandangan orang pada sebuah ide-gagasan pemikiran dengan melemparkan urusannya kepada hal yang sama sekali tidak dihadirkan di meja diskusi adalah tanda keminderan.
Jika kita periksa pendapat si kawan apa yang dia maksudnya dengan filsafat tradisi muslim Syiah itu pun nanti akan terbagi-bagi dalam aliran-aliran dan tokoh-tokohnya. Yang bukan hanya berbeda tetapi ada pula yang saling menegasikan di pokok turunan. Sementara itu di dunia muslim Sunni pun pandangan filsafat pun ada banyak pandangan dan aliran-alirannya.
Jadi saiya menilai jika dalam mempelajari filsafat pun tentang kefilsafatan siapa yang paling falsafi itu digugat. Hanya saja seperti kebanyakan gugatan, pandangan kawan tadi lebih dominan persoalan sentimen saja. Apa yang kita harapkan bahwa filsafat sebagai sebuah adu pikiran itu tidak muncul. Hanya pandangan senewen saja pada Rocky yang mau tidak mau harus kita akui berhasil mengobrak-abrik dunia talk-show kita.
Jika kita perhatikan dari cara Rocky membangun pandangan dan filsafatnya maka itu memang tidak berakar kepada tradisi filsafat di sekolah-sekolah keagamaan Islam. Ini karena ia bukan muslim dan memang tidak mempelajarinya begitu. Apakah dengan demikian pandangan-pandangannya menjadi batal demi hukum? Tentu tidak, ini karena seseorang menilai dan dinilai dari posisi dimana ia memulai bangunan pemikirannya (Setzung). Sehingga sangat tidak etis bila kita ketimbang membahas apa yang disampaikan Rocky namun kita mengalihkannya untuk sama-sama meragukan kefilsafatannya. Ini apa yang disebut dengan Gewald (kekerasan) dalam teori Walter Benjamin tentang dasar dari kedzaliman yaitu memberikan penilaian atau menghukumi sesuatu tidak pada tempatnya.
Pandangan senewen si kawan tadi barangkali juga lahir karena Rocky tidak mengkritisi salah satu Capres lawannya. Sehingga karena perbedaan preferensi pilihan politiknya maka yang disampaikannya dianggap sebagai keberpihakan kepada pihak lain. Sehingga untuk menyerangnya kita mengalihkan argumen kepada hal-hal yang tidak semestinya dipertanyakan. Semisal mempertanyakan gelar, keprofesorannya, kelulusan, pilihannya untuk selibat (belum menikah) dan hal lain yang sama sekali tidak berkorelasi dengan apa yang disampaikannya.
Harus diakui, Rocky membawa filsafat ke wilayah praktis dengan caranya yang unik. Ia tentu mengenali jika hari ini oranghidup dalam budaya; copy-paste-bagikan. Masyarakat yang lebih senang mengambil-bagi kutipan-kutipan daripada menghabiskan waktu membaca buku-buku secara mendalam. Di sini ia dengan cerdasnya memotong-motong frasa untuk memudahkan dan memuaskan pemirsanya dengan apa yang mereka butuhkan.
Ia juga membawa filsafat sebagai sesuatu yang dapat dirasakan dan bahkan lebih sering untuk ditertawakan. Kadang lewat argumennya ia mendatangkan kesadaran kepada publik, bahwa sebenarnya semua kuasa yang dimiliki negara berasal dari otorisasi yang diberikan publik sebagai sebuah amanah.
Ia dapat kita rebut kembali dan dicampakkan ke wajah kekuasaan bila otoritas tadi mulai diselewengkan. Dengan cara keras atau dengan anekdot-anekdot khas Rocky yang menghadirkan metafora.