Sunday, February 17, 2019

DOSA BESAR YANG MERUSAK AKIDAH ITU BERNAMA “KELUH KESAH”

Alfathri Adlin menambahkan foto baru ke album: ISLAM AGAMAKU [01].
DOSA BESAR YANG MERUSAK AKIDAH ITU BERNAMA “KELUH KESAH”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Semalam aku bersumpah pula, kuangkat sumpah demi hidup-Mu,
Bahwa aku tak akan pernah memalingkan mataku dari wajah-Mu; bila Kau memukul dengan pedang, aku tak akan berpaling dari-Mu.
Aku tak akan mencari sembuh dari yang lain, karena kepedihanku ialah lantaran perpisahan dengan-Mu.
Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mu‘min bila aku mengeluh.
Aku bangkit dari jalan-Mu bagai debu; kini aku kembali ke debu jalan-Mu.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Coba amati baik-baik puisi Jalaluddin Rumi di atas. Amati bait bagian: “Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mukmin bila aku mengeluh.”
Aku tak akan sangsi jika banyak pembaca karya Rumi mengungkapkan kesannya bahwa puisi-puisi Rumi adalah ungkapan cinta kepada-Nya, ungkapan mabuk kepayang seorang pecinta kepada-Nya. Namun, ada baiknya pelajari juga kisah hidup Rumi, ihwal berbagai fitnah yang menimpanya, bahkan dari para muridnya sendiri yang membenci Syamsuddin Tabriz, mursyid Rumi, karena dianggap telah memalingkan Rumi, “kiai pesantren” mereka, sehingga lebih asyik belajar pada seorang darwis yang entah datang dari mana dan entah apa otoritas formal keilmuannya, sehingga lancang sekali mengajari “kiai pesantren” mereka. Juga ihwal konspirasi untuk “menyingkirkan” Tabriz yang melibatkan anak sulung Rumi sendiri. Sang anak sulung itu memilih melawan bapaknya sendiri untuk ikut merencanakan pembunuhan mursyid bapaknya.
Dan, konon, saat anak sulungnya itu meninggal lebih dahulu, Rumi ‘tak bisa’ datang pada saat pemakamannya. Tentu hal itu tak mudah bagi seorang ayah. Dan berbagai ujian lainnya dalam hidup Rumi.
Akhirnya, semua kebencian orang sekitar Rumi terhadap Tabriz, mursyidnya, berujung dengan keterpisahannya dari sang “Matahari Agama” (Syam Ad-Dîn atau kalau di lisan lebih mudah disebut sebagai Syamsuddin), dan hal itu Rumi ungkapkan dalam karya tersendiri berjudul “Diwani Syamsi Tabriz”...
Karena itu, jelaslah bahwa Rumi mencapai ma‘rifatullah bukan dengan larut dalam emosi estetik dan rasa mabuk akan cinta, merangkai kata-kata puitis yang melenakan kebanyakan pembacanya. Lagi pula, bagaimana bisa seorang “kiai pesantren” yang tadinya lebih banyak mendalami urusan fiqih, mendadak menjadi mursyid thariqah yang fasih berpuisi? Kok bisa? Dalam kata-katanya sendiri, di salah satu Rubaiyat-nya, Rumi menegaskan sebagai berikut:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Aku bukan seorang penyair,
tak kuperoleh nafkah dari situ,
atau kupamerkan keterampilanku,
bahkan aku tak memikirkan tentang seniku,
bakatku ini hanyalah sebuah cangkir,
yang takkan kuteguk,
kecuali jika Kekasihku yang menyajikan.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Dalam bagian lain Matsnawi, Rumi juga menyatakan bahwa dia hanya berserah diri serta menyerahkan lidahnya kepada Allah, dan membiarkan Allah yang menuntun lidahnya melalui ilham untuk berkata apa, dan muridnyalah yang menuliskan bait-bait itu.
Akan tetapi, harus diingat baik-baik bahwa semua ungkapan cinta kepada Allah yang banyak bertebaran dalam puisi Rumi, dan tentu juga para sufi lainnya, diimbangi dengan kesediaan dan ketangguhan mereka untuk menerima apa pun yang “diperbuat” Allah, sebagai Sang Kekasih, terhadap mereka sebagai para pecinta.
Setiap muslim bisa saja dengan mudah mengatakan “Aku mencintai Rasulullah dan Allah”, tapi “pedang yang memukul” atau “dilempar ke dalam api” yang dirasakan dalam hidupnya, sehingga lahirlah sekian banyak keluh kesah -- baik di lisan, dalam hati, atau dalam bentuk status FB, twitter, WA group, bahkan tulisan di blog -- dengan jelas menjadi bukti betapa kata “mencintai” itu hanya baru menyangkut di bibir saja. Dalam salah satu hadits, Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sedekah.” (HR Thabrani)
Suatu ketika Nabi Isa as berkata kepada al-Hawariyyun bahwa “Yang paling banyak mengeluh di antara kalian pada waktu ditimpa musibah adalah yang paling banyak menghadapkan wajahnya kepada dunia!”
Pernah, saat diminta menjelaskan “Agama Cinta” di Unpar, sebuah kampus Katolik, dalam kelas kajian Filsafat Agama, kukatakan kepada kalangan Nasrani yang hadir di sana, kurang lebih, sebagai berikut:
Baca Kitab Samuel, dan saksikan bagaimana hidup Dawud dicerai berai oleh ujian demi ujian, mulai dari istri yang mengkhianatinya, mertua yang memerangi dan hendak membunuhnya, kakak ipar yang merupakan sahabat terbaiknya namun mati terbunuh dalam peperangan, lalu salah seorang anaknya yang bernama Amnon malah menodai adik tirinya yang bernama Tamar, kemudian Absalom yang membunuh Amnon atas perbuatan terhadap adik kandungnya, lalu Absalom yang diasingkan namun malah membentuk pasukan untuk memerangi bapaknya, dan Absalom pun mati di tangan salah satu jenderal Dawud, kemudian “skenario takdir” ihwal Batsyeba, istri Uriah, salah satu jenderal Dawud, yang membuat Dawud dihukum dan kehilangan beberapa anak yang lahir dari rahim Batsyeba, namun pada akhirnya, justru dari rahim Batsyeba inilah lahir Sulaiman.
Setelahnya, baca kitab Mazmur. Perhatikan. Adakah keluh kesah dalam kitab Mazmur tersebut? Tak ada. Semuanya adalah ungkapan cinta dan kekaguman serta keberserahdirian kepada-Nya. Seseorang yang menjalani hidup seberat Dawud, namun saat mengungkapkan isi hatinya -- sebagaimana terabadikan dalam Mazmur -- ternyata tak sekalipun mengeluh kepada-Nya ihwal hidup yang dijalaninya. Dalam Mazmur 23, tertulis ungkapan Nabi Dawud yang sangat indah:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa."
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Lalu kukatakan kepada audiens: “Itulah Agama Cinta. Tidak rumit filosofis kok uraiannya. Agama Cinta itu adalah ketika Tuhan mencobai hidupmu dengan banyak cobaan, namun tak sekali pun engkau berkeluh kesah. Yang lahir dari lisanmu hanya ungkapan cinta sebagai tanda penerimaanmu atas semua takdirnya.”
Itulah ketangguhan dan kekuatan sebenarnya dari seorang pecinta Tuhan, namun seringkali hal itu teralihkan karena terbungkus oleh berbagai ungkapan puitis, sama seperti puisi-puisi Rumi mau pun sufi lainnya. Padahal, dalam puisinya, Rumi mengaitkan keluh kesah dengan ketidakberimanan.
Seusai acara, aku mendapat kenalan beberapa biarawati yang bahkan meminta foto bersama dengan alasan “agar kami tak lupa sama Bapak”, dan seorang audiens Katolik lain, yang sedang menempuh S3 di ICAS dengan disertasi soal Seyyed Hosein Nasr, mengajak aku berdiskusi panjang lebar setelah sesi itu, lalu mengabariku bahwa teman-temannya tak percaya jika yang memaparkan soal Kitab Samuel dan Mazmur seperti itu adalah seorang muslim.
Yang ingin kutekankan di sini bahwa contoh-contoh ihwal ketangguhan dalam menjalani hidup dan tak berkeluh kesah serta hanya mengungkapkan cinta kepada-Nya itu banyak bisa ditemui di berbagai agama.
Namun, adalah berbeda antara (1) melakukan “tamasya intelektual maupun spiritual” menjelalajahi berbagai khazanah agama dan memiliki banyak wawasan soal ‘passing over’ dengan (2) mengambil hikmah dari berbagai khazanah itu agar menjadi pakaian keseharian dalam hidupnya. Adalah berbeda antara (1) wawasan yang hanya tersangkut di kepala dan lidah dengan (2) sesuatu yang telah berubah menjadi keseluruhan hidup yang dijalani setiap hari. Ujian hidup dan berbagai hal tak menyenangkan dalam hidup akan membuktikannya sendiri.
Kembali kepada keluh kesah. Ketangguhan untuk menerima kesakitan apa pun sebenarnya paling mudah dilihat pada para nabi dan rasul, atau, di masa berikutnya, di kalangan para sufi ‘arif billah. Rasanya tak jarang para sufi dipandang secara melankolik sebagai orang yang asyik berpuisi-puisi cinta dengan Tuhan, meninggalkan keluarga untuk menyendiri, tidak pernah berkiprah nyata bagi manusia di sekitarnya, dan berbagai stereotip yang entah kenapa selalu diulang-ulang lagi. Itulah gunanya banyak membaca serta belajar lagi dan lagi, tanpa prasangka juga terbuka.
Di kalangan Nabi, Rasul dan para sufi arif billah, keluh kesah itu termasuk dosa besar yang susah untuk dibersihkan. Bayangkan sebagai berikut. Apabila hati itu seperti bola kaca, maka ada dosa-dosa yang menyerupai lumpur yang menempel dan membentuk kerak di luar bola kaca tersebut. Dengan air, lumpur itu bisa kembali dibersihkan. Namun, ada dosa-dosa yang begitu halus dan kecil seperti molekul, yang bisa masuk ke dalam pori-pori bola kaca dan mengendap di bagian inti bola kaca. Keluh kesah termasuk dosa yang halus seperti itu, karena kaitannya dengan akidah seseorang terhadap Allah. Keluh kesah itu mencemari akidah. Silakan pikirkan sendiri bagaimana cara membersihkan “debu-debu halus” yang mengotori bagian dalam bola kaca.
Abdul Qadir Jailani pernah menjelaskan kurang lebih seperti ini. Kita mengenal teman-teman melalui identifikasi sifat dominannya. Bahwa si A itu culas, si B itu pemarah, si C itu tidak percaya diri dalam banyak hal, si D itu kocak tapi jadi susah diajak serius dan lain sebagainya. Kenapa identifikasi itu lahir? Karena dalam interaksi, kita melihat bahwa itulah sifat yang paling dominan pada diri mereka.
Nah, dalam hal ini, Allah Ta’ala mengidentifikasi Diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang menegaskan bahwa dua asma itulah yang paling dominan dari 97 asma lainnya. Dua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya sehingga diabadikan dalam rajanya doa, yaitu “Bismillahi Rahmani Rahimi”. Dengan Rahman dan Rahim-Nya itu pulalah maka Dia selalu menegaskan bahwa Dia hanya memberikan yang terbaik bagi manusia.
Ibn ‘Arabi mengutarakan bahwa Allah memiliki dua Tangan. Tangan Kanan merepresentasikan Kepemurahan-Nya, dan Tangan Kiri merepresentasikan Kemurkaan-Nya. Padahal, kata Ibn ‘Arabi lagi, sebenarnya kedua Tangan tersebut hanyalah Tangan Kanan belaka.
Nah, sebuah keluh kesah yang terlontar pada mereka yang katanya mengaku sebagai pecinta Allah, atau setiap orang yang mengaku beriman, secara langsung sebenarnya membuktikan bahwa cinta itu hanya di ujung lidah. Itulah sebentuk ketidakmenerimaan atas segala hal yang menghampiri dalam kehidupannya. Dan, yang lebih parah lagi, adalah tudingan bahwasanya Allah Ta’ala tidak adil. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: ‘Seorang anak Adam mencaci-maki masa padahal Akulah masa; siang dan malam hari ada di tangan-Ku.’” (HR Muslim)
Apakah Anda adalah seorang muslim yang beriman? Jika ya, silakan renungkan QS Al-Ankabut [29]: 2-3 yang artinya sebagai berikut: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
Sebuah keluh kesah secara langsung menghapuskan asma Rahman dan Rahim dari Allah Ta’ala, padahal kedua asma itulah yang paling dibanggakan-Nya, asma yang mengidentifikasikan sifat dominan Diri-Nya. Tidakkah itu merupakan dosa akidah?
Mari kita simak dulu kisah berikut ini. Pada zaman ‘Amirul Mu‘minin ‘Umar bin Khaththab, ada seorang pemuda yang sering berdoa di sisi Baitullah “Ya Allah, masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit.”
Doanya tersebut didengar oleh ‘Umar ketika beliau sedang melakukan tawaf di Ka’bah. ‘Umar heran dengan permintaan pemuda tersebut. Setelah melakukan tawaf, ‘Umar mendatangi pemuda tersebut dan bertanya: “Mengapa engkau berdoa seperti itu? Apakah tidak ada permohonan lain yang engkau mohonkan kepada Allah?”
Pemuda itu menjawab: “Ya Amirul Mu‘minin, aku membaca doa itu karena aku takut dengan penjelasan Allah dalam surah Al-A‘râf [7]: 10, yang artinya: ‘Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur’. Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, lantaran terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah,” jelas pemuda tersebut.
Bersyukur kepada Allah atas segala yang terjadi, susah mau pun senang. Luar biasa sekali bukan? Kita pun ingat bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah lafadz ‘La ilaha illallah’ dan doa yang paling utama adalah ‘alhamdulillah.’” (HR At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibn Majah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim). Beranikah mengucapkan alhamdulillah bukan hanya saat mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, tapi juga saat mendapatkan hal-hal yang tak menyenangkan dengan kesadaran bahwa semua itu kebaikan semata dari Allah; bahwa itu semua adalah Tangan Kanan-Nya yang sedang bekerja?
: : : : : : : : : : : : : : : : :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Ketangguhan untuk tidak berkeluh kesah itu memang tidak mudah, sehingga alasan yang akan selalu mengemuka adalah: “Saya juga hanya manusia biasa dengan segala kelemahan, sehingga wajar jika saya masih suka berkeluh kesah” serta berbagai apologi sejenis dan senada. Tapi, apakah mungkin manusia berhenti berkeluh kesah dan mensyukuri apa pun yang terjadi dalam hidupnya dengan mengandalkan kemampuannya sendiri? Tidak akan mungkin bisa, kecuali dia meminta pertolongan Allah untuk menguatkan dirinya dan memasukannya ke dalam kalangan yang sedikit itu.
Siapa yang menyuruhmu mengandalkan kemampuanmu sendiri? Maka “...mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan shalat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu.” (QS Al-Baqarah [2]: 45)
Namun, secara nalar, setidaknya setiap diri bisa memahami bahwa keluh kesah tak mendapat tempat dan apologi apa pun dalam Islam sebab Allah telah berfirman dalam QS Al-Baqarah [2]: 286 yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Jika ada seorang manusia sanggup memikul ujian seberat 100 kilo, maka Allah tak akan menambahi barang sebesar dzarrah sekali pun. Itu sudah janji Allah dalam Al-Quran. Jadi, kenapa juga berkeluh kesah kalau semua yang terjadi dalam hidup ini semata terjadi sebatas kemampuan dirinya?
Dalam suatu kesempatan, Mursyid Penerus pernah memberi nasihat sebagai berikut:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Tak jarang, ketika setelah 'dihantam di sana sini' barulah kemudian muncul keinginan untuk menuju Allah. Akan tetapi bagi orang yang akalnya kuat, yang pandai, mereka tidak perlu dihantam dulu di sana sini dalam kehidupan. Tidak perlu ditimpa musibah dulu baru kemudian mencari Allah. Apabila sudah terpanggil -- mau kaya, mau miskin -- mereka akan langsung mencari Allah. Kalaupun misal dihantam di sana sini dalam kehidupan, ya harus bersyukur, karena termasuk orang yang dipalingkan untuk kemudian menuju Allah. Beruntung sekali, dibandingkan mereka yang belum terpanggil.
Jadi, keinginan semacam itu di hati sangat berharga sekali.
Saya pernah bercerita kepada sahabat bahwa Allah boleh mengambil apa pun dari diri saya. Semuanya. Apa pun itu. Tapi ada satu hal yang saya berjuang mempertahankannya, yaitu rasa pencarian kepada Allah. Itu berharga sekali. Kalau rasa itu tidak ada, sungguh sangat menyeramkan. Kalau rasa hilang, maka hilang sudah kemanusiaan saya.
Nabi Ayub as pada awalnya adalah seorang Nabi yang terpandang dan bangsawan. Kemudian hancur semuanya. Ladang habis, anak-anak meninggal, istri-istri pergi, pegawai pergi, karena mereka mengira Nabi Ayub telah sesat dan sedang diazab oleh Allah. Badannya pun diruntuhkan; diambil semuanya. Badannya membusuk, menjadi bau, sehingga orang-orang menyingkir semua. Kuda pun lari. Hingga akhirnya beliau pun masuk ke gua. Namun nabi Ayub berkata: “Ambillah semua ya Allah, kecuali hati dan lisanku untuk memuji-Mu”. Luar biasa, di saat seperti itu, beliau tetap memuji Allah.
Berapa tahun Nabi Zakaria tidak mempunyai anak? Delapan puluh tahun. Tapi dalam Al-Quran dituliskan bahwa beliau berkata: “Aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.” Luar biasa. Kita harus menjadi uswatun hasanah seperti itu. Kalau diuji sedikit saja kita sudah bilang “saya sudah diuji berat nih” kan malu sekali kepada paraNabi.
Kalau ada yang bilang “Ah, itu kan para Nabi” Iya, tapi bukankah mereka ada untuk menjadi contoh?
Jadi, semua silahkan diambil, kecuali hatiku, esensiku dalam mencari-Mu, yang bergantung kepada Allah.
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Seseorang tak bisa ridha kepada Allah sebelum Allah ridha dulu kepadanya. Karena Allah ridha kepadanyalah maka orang tersebut bisa ridha kepada-Nya. Silakan simak sendiri berbagai ayat Al-Quran yang menegaskan bahwa “radhiyallahu 'anhum wa radhu ‘anhu”, Allah dulu yang ridha, bukan manusianya. Lalu, bagaimana agar Allah ridha kepada seseorang. Ridhalah dulu terhadap segala hal yang telah Allah tetapkan hingga hari ini dalam hidup ini. Ridhalah dulu terhadap apa pun yang sudah, sedang dan akan terjadi. Insya Allah, jika diterima, maka Allah pun akan ridha kepadanya, dan barulah dia bisa ridha kepada Allah. Jadi, itu bukanlah pengakuan sepihak saja, bukan?
Begitu pula dengan cinta. Tak bisa seseorang itu mencintai Allah sebelum Allah dulu yang mencintainya. Lalu bagaimana agar Allah mencintai seseorang? Rasulullah saw suatu ketika pernah bersabda: “Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barang siapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barang siapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali padanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)
Ingin mencintai Allah dan Allah cintai? Cintailah ujian dalam hidup ini seluruhnya, cintailah hidup ini baik susah maupun senang yang terjadi di dalamnya, tanpa berkeluh kesah sedikit pun, dengan meminta penguatan dari-Nya melalui shalat dan sabar, serta cintailah juga sesama manusia dan seluruh makhluk-Nya. Bukankah cinta itu juga bukan pengakuan sepihak saja? Sebelum sampai sana, sebagaimana Al-Quran ulang-ulang, seseorang mungkin hanyalah disukai atau disayangi, namun belum jadi hamba yang dicintai Allah.
Aku pun teringat perkataan Mursyid Sepuh almarhum: “Jika kamu pernah membunuh, maka Bapak masih bisa berdoa untukmu agar Allah ampuni. Jika kamu pernah berzina, Bapak pun masih bisa berdoa untukmu agar Allah ampuni. Namun, jika kamu berkeluh kesah, Bapak tidak bisa apa-apa.”
Adapun dalam menjelaskan QS Al-Hujurat [49]: 7, yang terjemahannya “Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam qalb-mu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran...,” Mursyid Penerus berkata sebagai berikut:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
“Pertama-tama perhatikan ‘apakah ada benih-benih kekafiran dalam diri kita’ sebelum menunjuk orang lain. Karena setiap orang akan bertanggung jawab masing-masing di hadapan Sang Pemilik Semesta.
Hati yang masih mengeluh, kurang bersyukur, berprasangka buruk kepada Allah serta tidak menerima dengan baik ketetapan yang Dia Ta‘ala berikan sesungguhnya merupakan ‘benih-benih kekafiran dalam diri’.
Kekafiran dalam arti ‘ketertutupan dari cahaya kasih-Nya sehingga manusia kesulitan memandang kebaikan dalam fase-fase kehidupan’ adalah tirai besar yang menghalangi seorang hamba untuk bisa bersyukur kepada-Nya.
Orang beriman akan sangat benci untuk mengutuk kehidupan, mengeluh pada keadaan, dan menyimpan prasangka buruk dalam hati. Semua itu adalah bentuk-bentuk kekafiran dalam diri. Astaghfirullah al-adzim.”
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersanda bahwa “Barang siapa di pagi hari mengeluhkan kesulitan hidupnya (kepada orang lain), berarti seakan-akan dia mengeluhkan Rabb-nya. Barang siapa di pagi hari bersedih karena urusan duniawinya, berarti sungguh di pagi itu dia tidak puas dengan ketetapan Allah. Barang siapa menghormati seseorang karena kekayannya, sungguh telah lenyaplah dua per tiga agamanya.“ (Hadits dikutip dari Kitab Nashaihul ‘Ibad).
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Demikian. Jika postingan ini menurut Anda ada gunanya dan ingin di share, ambil saja. Copas juga sialakn. Nggak perlu pakai izin-izin swegala. Baiklah, mohon maaf jika ada silap kateu ta yeu. Wallahu a‘lam bishawwab. Wassalam.

0 comments:

Post a Comment