Saturday, February 16, 2019

Filsafat Kumbang Taik

Filsafat Kumbang Taik
Yuuup, saiya tidak hadir di acara diskusi nya Goenawan Moehammad Cs yang kata orang-orang sih isinya ngegosipin Rocky Gerung.
Pertama, saiya sibuk sekali ngumpulin makan siang yang disediakan kantor. Terlalu banyak nasi boks sementara undangan yang datang biasa-biasa saja. Jadi undangan ke Cafe yang didahului makan siang itu tidak lagi menarik. Pipit di tangan dilepas, elang di awan dibayangkan.
Kedua, acara tadi sejak awal memang diselenggarakan oleh tim hore-hore petahana untuk membendung analogi Dungunya Rocky yang memincut perhatian publik lewat acara ILC yang digawangi Karni Ilyas. Rocky adalah selebritinya, dia sukses menembak langsung kekuasaan dengan permainan kata/bahasa yang langsung-langsung saja (einfach ein wort/sprachspiele). Meminjam istilah Wittgenstein, lugas, jelas, dan tepat sasaran.
Dungu, tolol, otak kecebong, tempurung, IQ digabung sekolam, adalah pilihan kata (diksi) yang mudah difahami awam dan tanpa mengurangi maknanya mereka ada di dalam kamus KBBI.
Sementara the so called para pencegah pembusukan filsafat itu sendiri kita mengenalnya sebagai penggiat kebudayaan, yang sebelumnya pun tidak terlalu dikenal karena memperkaya khasanah diskusi filsafat. Baru-baru ini pun mereka sibuk dalam wacana Kongres Kebudayaan. Tetapi hari ini orang tidak mau percaya jika isu politik-ekonomi adalah persoalan mental kebudayaan. Di sini kita dapat fahami mengapa Rocky me-rocket. Ia sukses memilih permainan kata yang cocok dalam bahasa popular hari ini.
Ketiga, tidak satu pun dari pemateri yang hadir berani mengatakan dirinya filsuf. Mereka hanya disebut Budayawan, Dosen Filsafat, Dosen Filsafat, dan semacam alumnus sekolah filsafat. Jadi atas keprihatinan siapa mereka ingin melawan pembusukan filsafat dan filsafat mana yang tengah dibusuki itu kita tidak tahu.
Sekali lagi, mereka hanya menjadi pengamat Rocky yang tentu saja statusnya mesti lebih rendah dari yang diamati. Ini karena mereka apa pun kedudukannya sedang digarap dalam permainan Rocky. No Rocky no Party, dan mereka adalah sedikit dari beberapa penggembira saja.
Keempat, dari link youtube yang diunduh tentang acara tersebut, saiya tidak melihat adanya pembahasan yang komprehensiv baik itu tentang filsafatnya atau Rocky. Keempatnya seperti melakukan gosip ala ibu-ibu di gang tentang janda kembang yang baru pindah rumah ke lingkungan. Si janda sendiri tidak terlalu pusing dengan obrolan dan persoalan filsafat atau pemikiran yang membusuk.
Ini karena si janda yang naik daun faham sekali, jika satu-satunya hewan yang mencegah terjadinya proses pembusukan adalah kumbang taik. Mereka senang menyimpannya untuk diri mereka sendiri.

0 comments:

Post a Comment