Sunday, February 10, 2019

hawa nafsu

Sewaktu masih kuliah di Tut Tek Dung, saya diperkenalkan pada Hukum Panitia OS yang berbunyi: (1) Panitia selalu benar, dan (2) Jika Panitia salah maka lihat nomor (1).

Adalah lazim bahwa kebanyakan manusia tak akan suka disalahkan, termasuk saya sendiri. Menyakitkan rasanya. Dalam Islam, ada istilah “hawa nafsu” yang merupakan hasrat imaterial, hasrat yang 'menyeru' manusia kepada dirinya sendiri, bahwa akulah yang paling benar, bahwa akulah yang paling pandai, bahwa aku tak boleh dihina, bahwa aku tak boleh dipersalahkan, bahwa aku ingin berkuasa, dan berbagai “aku-sentris” lainnya.

Adalah sulit untuk melawan hawa nafsu, sehingga Rasulullah Muhammad saw pun menyebutnya sebagai “jihad akbar”...

(“Tapi Kang Al, itu bukan hadits. Itu adalah perkataan Abu Bakar.” ... Ya, tak apa-apa kalau ‘hanya’ perkataan Abu Bakar juga, toh tak mungkin Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mulia itu akan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Rasulullah Muhammad saw.)

Sekalipun memang susah melawannya, namun bukan berarti ‘mengafirmasi’ hawa nafsu adalah jalan keluarnya. Dan, salah satu jalan untuk berlatih melawan hawa nafsu itu adalah kejujuran dan kerendahhatian khas dunia ilmiah yang biasa disebut sebagai objektivitas.

(“Tapi Kang Al, apakah objektivitas itu memang ada?” Iya, kebetulan guru filsafat saya yang pertama adalah salah satu pakar hermeneutika di republik ini. Saya sedikit tahu soal itu. Tapi kita pakai saja dulu kata ‘objektivitas’ dalam makna yang menyiratkan ‘keterbukaan dan tak tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu.’ Boleh kan?)

Menjelang akhir pengerjaan disertasinya, istriku tercinta yang cantik jelita itu berkata dengan nada kecewa bahwa ternyata hasil penelitian S3-nya tidaklah signifikan. Dia meneliti meningitis dalam proyek disertasinya. Dia melakukan penelitian pada para pasien meningitis. Mungkin untuk kita yang awam, bayangkan saja perumpamannya begini. Selama ini dengan treatment standar yang ada, para pasien meningitis bisa membaik dalam waktu setahun. Nah berdasarkan penelitian tersebut, bagaimana kalau treatment-nya agak diubah, apakah pasien akan lebih cepat membaik? Ternyata pasien hanya jadi membaik satu jam lebih cepat saja. Ini hanya perumpamaan saja ya. Agar mudah membayangkan.

Istri cantikku itu lalu bercerita soal ‘ketidakpercayaan’ akademisi luar -- khususnya Barat -- terhadap penelitian di Indonesia, sebab tak jarang yang terjadi adalah ‘fabrikasi data’ hanya agar terlihat bahwa penelitian tersebut berhasil.

Dalam suatu percakapan bersama Mursyid Penerus, saat baru saja menyelesaikan disertasinya, beliau berkata bahwa semua penelitian mahasiswa S3 itu harus menghasilkan sesuatu yang “berhasil” dan “terbukti” agar bisa lulus. Kenapa tidak bisa kesimpulannya adalah “gagal” dan “tidak terbukti”?

Sebagaimana umumnya diketahui bahwa penulisan tugas akhir itu dimulai dari Bab Pendahuluan berisi berbagai pertanyaan teoretik yang hendak dijawab, dan bukan dari Bab Kesimpulan. Nah, untuk mahasiswa S3, porsinya berbeda. Mereka harus menghasilkan suatu kebaruan. Gambaran gampangnya begini: kalau selama ini Rasulullah dikenal sebagai nabi pembawa agama, pedagang, pemimpin, panglima perang, suami dari sekian istri, sosok yang dicintai lebih daripada para sahabat mencintai diri mereka sendiri, maka dalam disertasi ini sang mahasiswa S3 akan “membuktikan” bahwa Rasulullah juga adalah seorang eksistensialis.

Nah, apakah sang mahasiswa akan dinyatakan lulus jika dia berhasil “memperlihatkan” bahwa Rasulullah memang “terbukti” sebagai seorang eksistensialis, meskipun Islam yang dibawa Rasulullah memiliki pandangan ihwal hidup dan manusia yang berbeda sama sekali dengan eksistensialisme? Mungkin salah satu permasalahannya adalah “bagaimana bisa diterima bahwa waktu studi dan riset selama 4 tahun atau bahkan lebih itu hanya dihabiskan untuk menuliskan kesimpulan ‘ternyata saya salah’ dan ‘pendirian teoretik baru yang ingin saya hasilkan ternyata tak terbukti’...” Jika memang demikian keberatannya, lantas di manakah “kejujuran ilmiah bernama objektivitas” apabila sang mahasiswa malah seperti diajari untuk “berusahalah semaksimal mungkin untuk ngeles guna membuktikan bahwa saya benar”?

Memang ada perbedaan antara sains dengan humaniora. Sebagaimana saya tulis dalam makalah berjudul “Qui a peur de la philosophie?: Antara Prasangka, Fikrah dan Objektivitas”, salah satu perbedaannya adalah masalah hermeneutika tunggal (single hermeneutics) dengan hermeneutika ganda (double hermeneutics).

Hermeneutika tunggal artinya bahwa tindakan menafsir dan menganalisis dalam ilmu alam itu berlangsung satu arah, yaitu dari sang saintis kepada objek yang diamatinya. Tak ada tafsir apa pun yang dilakukan oleh objek sains terhadap sang saintis.

Hermeneutika ganda artinya bahwa tindakan menafsir dan menganalisis berlangsung dua arah, karena ilmu-ilmu sosial mengamati manusia. Misalnya, prediksi seorang ekonom soal bencana ekonomi yang akan terjadi di Indonesia 2017 bisa disikapi kepanikan oleh masyarakat dan berdampak pada tindakan para pelaku pasar. Namun, pelaku analisis/pengkaji/ilmuwan sosial dan apa yang dilakukannya merupakan bagian dari praktik sosial, yang pada gilirannya juga dapat dianalisis oleh ilmuwan sosial lainnya. Berbeda dari ilmu-ilmu alam, para pelaku ilmu-ilmu sosial (ilmuwan sosial) tidak sepenuhnya terpisah dari objek yang dikajinya.

Akan tetapi apakah karena ini pula maka dalam ranah humaniora, segala pendirian teoretis itu “benar” selama bisa diargumentasikan secara licin dan penuh akal-akalan? Kembali pertanyaannya adalah “lantas di mana integritas sang peneliti untuk mencoba bersikap objektif dan menerima bahwa ternyata dirinya memiliki kesimpulan yang salah?” Kadang hal ini malah menjadi kabur dengan klaim-klaim indah ihwal “pluralisme”, “penafsiran baru”, dan “keterbukaan menerima kritik untuk nantinya dijawab dengan ‘ngelesan’ lainnya”, sebagaimana sering juga dilakoni oleh saya sendiri.

Ini menggiring ingatan saya kepada Sokrates. Ada satu hal yang mengagumkan dari Sokrates jika membaca kitab Kriton.

Dalam kitab itu, Kriton menawarkan Sokrates untuk melarikan diri dengan cara menyuap penjaga penjara. Sokrates menolaknya sebab dia tak mau “menghancurkan” Athena dengan cara melanggar hukum-hukumnya, terlebih dia sendiri adalah salah satu warganya. Bagi Sokrates, memperlakukan seseorang dengan buruk sama saja dengan memperlakukannya dengan tidak adil. Sokrates juga sadar jika dia dihukum dengan cara yang tak adil, namun Sokrates mengingatkan Kriton ihwal percakapan lama mereka bahwa seseorang tak boleh membalas perlakuan buruk yang diterimanya. Balas dendam itu sama sekali tak dibenarkan. Sokrates juga menegaskan bahwa pendapat kebanyakan orang bukanlah sesuatu yang pasti benar. Sokrates lebih mempercayai satu orang yang memang ahlinya, daripada suara orang banyak, ihwal suatu perkara. Namun itu pun bukan menjadi pembenaran baginya untuk lantas melanggar hukum Athena, apalagi dengan cara menyuap. Selain itu, Sokrates pun tak menaruh benci atau menyalahkan siapa pun atas ketidakadilan yang dialaminya, bahkan tidak juga kepada Aristophanes yang membuat pertunjukkan teater untuk menyebarkan fitnah bahwa Sokrates adalah seorang gay yang mengincar para pemuda Athena dan bahwasanya Sokrates pun mengajarkan relativitas moral.

Bagi saya ini sangat luar biasa.

Sokrates menjadikan filsafat bukan sebagai seni mencipta konsep-konsep (rumit) sebagaimana didefinisikan oleh Deleuze & Guattari. Sokrates menjadikan filsafat sebagai jalan hidup, sebagai suatu integritas yang tak memisahkan antara etika dengan epistemologi, yang tak memisahkan antara ke-semau-gue-an di ranah privat dan ke-jaim-an di ranah publik, yang tak memisahkan hasrat tak terkendali lagi motivasi busuk tersembunyi di ranah privat yang kemudian dibungkus dengan konsep-konsep canggih lagi rumit di ranah publik. Sokrates menghidupi filsafat di ranah privat dan publik dalam keseharian hingga ajal menjemputnya, dan bukannya menawarkan kerumitan pikiran ke ranah publik sembari menutupi keliaran hasrat tak terkendali dan niat busuk di ranah privat.

Menurut saya, sofisme yang dilawan oleh Sokrates bukan semata berbentuk akrobat logika yang merelatifkan kebenaran hanya demi mendapatkan uang sebagaimana dilakoni oleh kalangan Sofis, tapi juga bagaimana daya pikir manusia malah dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh epithumia (hasrat material) maupun thumos (hasrat imaterial) untuk mendapatkan apa yang dimauinya. Baik epithumia maupun thumos adalah bagian dari jiwa yang fana (mortal), berbeda dengan bagian lain dari jiwa yang abadi (imortal) dan bahkan serupa dengan Idea. Itulah kenapa Sokrates mengatakan bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk belajar mati, yaitu agar seseorang yang belajar filsafat bisa lepas dari epithumia dan thumos dengan berlatih mati, sehingga psukhé (jiwa) bisa lepas dari soma (tubuh), dan psukhé pun bisa belajar tanpa harus terganggu oleh hasrat-hasrat tersebut.

Dalam Islam dikenal ajaran bahwa hati (qalb) itu ibarat raja, sedangkan anggota badan itu ibarat prajuritnya. Bila sang raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya.

Saya baru mulai memahami kenapa Mursyid Penerus selalu menegaskan berulang kali agar kami, para saliknya, senantiasa belajar membangun sikap objektif, dan ternyata saya sendiri masih sering gagal membangun sikap ini.

(“Iya, Kang Al juga sering tidak objektif.” Sumuhun, saya memang seburuk itu, bahkan masih banyak keburukan saya yang belum Anda sebutkan, dan seperti yang saya tuliskan di atas, kebanyakan manusia itu tak suka jika disalah-salahkan. Begitu juga saya. Begitulah keburukan yang masih menempel di diri saya. Namun, semoga setelah teguran dari Anda ini, saya pun bisa mendapatkan ilmu dan hikmah dari Anda ya. Amin Ya Rabb Al-Alamin.)

Beberapa minggu ini saya baru mulai menyadari bahwa (berusaha untuk) bersikap objektif itu pun membersihkan hati. Bahwa saya seharusnya mencoba untuk tidak begitu saja dipermainkan oleh ketidaksukaan atau bahkan rasa benci kepada seseorang atau suatu kalangan sehingga ketidaksukaan atau rasa benci itu malah memanipulasi dan memanfaatkan segenap kemampuan pikir yang saya punya hanya untuk menyerangnya, mempermalukannya, mendelegitimasinya, dan di atas itu semua adalah “membuktikan bahwa saya pasti benar, sebab jika saya salah, maka ketahuilah bahwa saya pasti benar.” Permasalahannya, ketidaksukaan atau rasa benci itulah yang membuat saya selalu melihat orang atau kalangan yang tidak saya sukai atau benci senantiasa melakukan kesalahan; apa pun yang mereka lakukan pasti salah, sebab salah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri mereka. Adapun kebenaran itu ada di pihak saya dan teman-teman yang sepikiran dengan saya. Titik!

Ternyata seburuk itu saya selama ini... Astagfirullah Al-Adzim. Hampura Gusti Nu Agung.

Nah, dengan status panjang ini, sekalian saya pun mohon pamit untuk mundur dulu dari dunia media sosial, khususnya FB. Permasalahan utamanya adalah ada begitu banyak deadline yang harus saya penuhi hingga bulan Juli tahun ini, dan itu akan menyita banyak waktu. Semoga hingga saat pekerjaan itu selesai, euforia cupras capres pun sudah berlalu, dan saya pun bisa ngemedsos lagi dengan kondisi diri yang lebih baik dan tak merasa paling benar. Mohon maaf juga jika berbagai comment Anda di postingan ini tidak selalu saya jawab. Adapun jika Anda merasa bahwa postingan ini ada gunanya, serta berniat nge-share, silakan saja, tak perlu minta izin segala.

Oh iya, mungkin sesekali saya akan muncul di akhir pekan, jika ada sesuatu yang saya rasa berharga untuk dituliskan. Mohon maaf jika selama ini ada banyak salah kata yang saya tuliskan dan menyakitkan Anda, baik disengaja maupun tidak disengaja. Demikian. Salam.

0 comments:

Post a Comment