Saturday, February 16, 2019

Isu Propaganda Rusia dan Persoalan Bilateral Indonesia-Rusia

Isu Propaganda Rusia dan Persoalan Bilateral Indonesia-Rusia

Setelah Menhan Ryamizard Riakudu berkunjung ke Rusia bertemu dengan Menhan Sergey Sughoi kini giliran Menko Wiranto ke sana untuk bertemu Nikolay Patrusev, Sekretaris Dewan Keamanan.
Sebetulnya sulit untuk tidak menghubungkan pertemuan lanjutan dari pejabat setingkat menteri ke pejabat senior (Menko vs Sekretaris Jendral Keamanan) ini dengan isu Propaganda Rusia yang dilansir Jokowi pada sebuah kampanye di Surabaya beberapa waktu lalu.
Isu Russian Bots, Russia Apologist, dan kini Russia Propaganda adalah salah satu topik utama yang mendapatkan perhatian khusus kontra-intelejen Rusia. Mereka tidak menganggapnya hal sederhana, ini karena menyangkut keamanan geopolitik internasional Russia. Ada empat lembaga setingkat kementerian yang menangani persoalan ini, dari Kemlu Rusia, Kemendagri, Duta Besar Rusia PBB, Kemhan, dan Dewan Keamanan Rusia.
Bila Ryamizard mengatakan tujuan kunjungan adalah mempererat kerjasama pertahanan maka kunjungan Wiranto fokus pada upaya kerjasama penanggulangan Bencana a selain isu terorisme dan kejahatan siber.
Mereka yang senang mengamati isu keamanan-dan intelejen tentu mengetahui jika Sekretaris Keamanan Patrusev bukanlah orangnya untuk kerjasama penanggulangan seperti dimaksud. Ia adalah pejabat senior di FSB (dulu KGB) dan kepercayaan Putin di bidang kontra intelejen. Seperti pernah kita bahas beberapa waktu lalu di forum wall fesbuk nan mulia ini, pernyataan Jokowi memang tidak akan berhenti sekedar kicauan resmi Kedutaan Besar Rusia di Jakarta. Meski ada saja pemirsa yang tidak percaya jika persoalan ini akan berkembang menyangkut masalah diplomatik.
Melihat perkembangan leverage dari Menteri ke Pejabat yang lebih tinggi, tentu kita dapat menilai jika Rusia mesti meminta klarifikasi yang lebih terpercaya terkait pernyataan Jokowi di Surabaya. Ini karena meskipun sebagian menyebut Jokowi mengatakan Propaganda Rusia sebagai capres, atau Zainudin Ngaciro, Cak Njanjuk dst., tetapi secara de facto ia adalah presiden. Pernyataan yang keluar dari seorang presiden mesti mewakili satu pandangan kebijakan pemerintah dalam hubungannya ke dalam maupun ke luar dengan negara lain.
Pikir dulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna. Ini pepatah lama, tetapi persoalannya apa kita menggunakan pikiran ketika berpendapat.

0 comments:

Post a Comment