Monday, February 4, 2019

It's Show Biz, it's show Time, Rocky Show

It's Show Biz, it's show Time, Rocky Show
Tentang klasifikasi yang dihibahkan seseorang kepada yang lainnya itu adalah bagian alamiah dari cara kita berpikir.
Manusia menggunakan kaidah dasar membagi dan mengelompokkan (to categorize-to classify) untuk mengenali sesuatu. Cara ini tentu saja tidak akan lepas dari dimensi-dimensi lain yang mengilhaminya termasuk preferensi politik seseorang.
Seorang kader Hmi mengirimkan pertanyaan kepada saiya tentang Filsafat, Rocky dan Sofisme. Ia berkata bahwa pandangan Rocky bukanlah sebuah pandangan filsafat namun pandangan seorang sofis. Apa yang disebutnya sofis di sini adalah kebalikan atau antonim dari filsuf. Yaitu orang-orang cerdas dan intelek yang menjual pengetahuannya untuk kepentingan, dalam hal ini uang.
Pertanyaannya terlihat sederhana tetapi menjadi komplek karena harus diurut dan diperiksa satu-satu.
Jika menurutnya Rocky bukanlah seorang filsuf, maka apakah itu karena ia mendengar -Rocky Gerung- pernah mengatakan dirinya sebagai seorang filsuf? Jika RG pernah berkata jika ia filsuf, maka apakah filsuf yang dimaksudnya itu adalah sama dengan yang kita bayangkan tentang filsuf.
Di sini nanti setelah mengklasifikan dan mengkategorisasikan Rocky kepada golongan filsuf dan bukan orang kebanyakan (demos) telah disepakati akan dimulai apa yang kita sebut defining the definition. Apakah filsuf itu dan apakah kategori filsuf tadi dipenuhi oleh RG.
Jika ternyata ia tidak pernah menyebut dirinya sebagai filsuf, maka ini akan tetap menjadi problematika di tahap klasifikasi-kategorisasi. Mungkin saja ia menjadi filsuf karena kita menilainya begitu, atau ia menjadi sofis karena kita mau ia masuk kepada definisi yang kita mau kan.
Nah pertanyaan yang sama dapat kita ulangkan kepada pengertian sofis.
Apakah RG seorang sofis? Apakah sofis itu sendiri?
Saiya tentu tidak akan memperpanjang pokok diskusi. Ini karena bila anda menyukai Nietzsche atau membencinya maka anda harus membaca semua hal tentang dia. Begitu pula ketika anda membenci Soekarno atau mencintainya maka semua yang dia tulis dan ditulis orang tentang Soekarno harus kita baca tuntas. Begitu pula pada RG, anda harus membaca dia dari banyak perspektif. Ini penting dalam metode ilmiah penelitian tentang pemikiran dan gagasan.
Berbeda halnya dengan ketika menilai seseorang yang mengurus harkat hidup kita, misalnya bupati, walikota, gubernur atau presiden. Mereka memperoleh kekuasaan dari amanah publik sehingga ada kewajiban dari publik (public obligation) untuk terus mengkritisi penyelenggaran kekuasaan tadi. Ini karena makan, minum, sampai beraknya pejabat negara itu dibayar dengan uang publik.
Pada sosok RG, dia adalah dirinya sendiri. Menurut pendapatnya ia beropini karena ada yang salah menurut dirinya atas penyelenggaran kekuasaan. Ia lalu menyampaikan opininya ke ruang publik untuk orang dan penyelenggara negara mengetahuinya.
Ketika pendapatnya tadi mengguncang dan mengaduk-aduk perspektif yang lain, maka di sini penilaian-penilaian pro-kontra dimulai. Potensi terjadinya debat dan konflik tadi secara alamiah menarik perhatian media-massa yang memang hidup dengan dua kutub tadi. Ia lalu menjadi selebriti dalam tiap kemunculannya yang kemudian difasilitasi sebagai "Talk Show".
Kita tentu faham bahwa talk show adalah show-bisnis. Semakin keras pertengkaran maka semakin tinggi rating dan pemasukan iklan. Termasuk cara kita kemudian mengklasifikan dan menggolongkan RG kepada filsuf bukan filsuf, sofis bukan sofis adalah tetek bengek atau remah-remahan dari obrolan inti. Sejatinya talk show is show biz. Terlepas dari semua usaha mempredikatkan sesuatu kepada RG, ia adalah orang cerdas yang faham bagaimana memainkan pandangan dan bisnis.
Tidak banyak orang bisa, banyak yang mencoba menjual pikiran kepada kekuasaan, tetapi ia kemudian menjadi orang lain atau sub-ordinat dari pikiran yang lain. Pada Rocky, ia sepertinya senang saja meniti gelombang, berselancar dengan kata-kata menjadi dirinya sendiri, dan menghasilkan uang. It's Rocky Time

0 comments:

Post a Comment