Saturday, February 9, 2019

Kampanye Propaganda Rusia dan Selang Kebakaran

Kampanye Propaganda Rusia dan Selang Kebakaran
Pidato Jokowi di hadapan massa di Surabaya tentang adanya Propaganda Rusia memang akhirnya akan membuat blunder dari perspektif hubungan luar negeri dan pencitraan.
Terlepas benar atau tidaknya ada Propaganda Rusia untuk menggusur Jokowi dari kursi kepresidenan lewat, sepatutnya ucapan ini tidak boleh keluar dari mulut presiden langsung. Ada norma-norma hubungan luar negeri yang harus dihormati. Menuding negara yang tidak dikategorikan sebagai musuh atau ancaman terlibat dalam konstelasi politik pilpres tentu menjadi tuduhan yang berat.
Pihak kedutaan Rusia telah mengeluarkan rilis resmi di sosial media. Yang intinya Rusia menolak tudingan keterlibatan mereka di urusan dalam negeri negara lain dan menyebutkan jika istilah propaganda ini dibuat AS untuk menyudutkan mereka. Meski telah ada pernyataan ini, pihak Rusia tentu akan mengukur parameter dari dan atas tujuan apa ucapan tadi terlepas dari mulut presiden. Bagaimana pun juga ucapan seorang pemimpin negara mesti akan mempengaruhi pola kerjasama ke depan.
Sayangnya ketimbang meralat dan meminta maaf rupanya Propaganda Rusia ini terus digoreng seolah-olah bukan sebuah kesalahan kampanye dan bukan kekeliruan dalam diplomasi hubungan baik kedua negara. Istilah Inggrisnya to beat around the bush, memukul semak tanpa pernah mencoba mengetahui isinya.
Seperti baru-baru ini tim nasional kampanye Jokowi memperkuat blunder ucapan tadi dengan melontarkan teori Selang Kebakaran (Firehose of falsehood), teori menyiram api dengan minyak. Mereka menerangkan pola dan gerakan-gerakan dari hoax yang diciptakan lawan politik sebagai teknik propaganda Rusia. Belakangan bahkan ada nama Rand Co., konsultan politik asal AS dibalik proyek Propaganda Rusia yang dimaksud.
Sebetulnya tidak perlu atraksi memukuli semak untuk meminggirkan persoalan Propaganda Rusia menjadi firehose atau falsehood lainnya. Tim Kampanye Jokowi membutuhkan tema-tema besar untuk mendistraksi perhatian publik. Setelah tentunya isu toleran versus intoleran, Islam nusantara versus islam radikal dianggap tidak memukul sama sekali karena kenyataannya mereka yang dituduh intoleran dan radikal menyelenggarakan aksi massa besarnya berkali-kali dengan tertib dan adem-adem saja.
Sementara pencitraan millenial dengan mengambil model Perdana Menteri Kanada Justin Tredau lewat gaya anak motor, geng biker, Imam masjid, baju kaos, jeans dan sepatu kets ketika menerima tamu itu sepertinya tidak terlalu berhasil. Sandi Uno lebih mudah terasosiasikan kepada Justin Tredau, kaya muda, sporti, sportif, dan easy going. Sementara Syafi Ma'rief hanya mengulang-ulang perlunya mencintai ulama di forum yang homogen seperti pesantren.
Istilah Propaganda Rusia ini mesti menjadi opsi "mau ngapain lain ya" dari tim kampanye Jokowi. Mereka mungkin mau mengambil peluang sama menaikkan isu Russian Booths, Russia bots, Intervensi Rusia seperti dilakukan oleh Hillary Clinton untuk menyerang Donald Trumps. Langkah yang dianggap beberapa pengamat media kampanye sebagai langkah frustasi dan terakhir untuk menyatukan tim kampanyenya yang mis-manajemen.
Hillary mungkin sebentar mengambil perhatian publik dan menarik pendukungnya untuk berteriak materi Awas Bahaya Rusia, tetapi pada akhirnya Hillary kalah.

0 comments:

Post a Comment