Saturday, February 9, 2019

Lebah

Lebah
Mbah Moen meminta maaf karena kesalahan doa. Ketika seseorang memintanya untuk mengulang kembali doa yang tertukar, ia berkata bahwa usia tua membuatnya demikian.
Di dusun kami dulu ada seseorang yang wajahnya mirip dengan mbak Moen. Namanya Bapak Kapaloh. Ayah kami membiarkan kami memanggilnya dengan sebutan Bapak padahal ia adalah iparnya, suami dari kakak perempuannya yang kami panggil Uwak. Bila mengikuti aturan pemanggilan ia mestinya juga disebut uwak oleh keponakan-keponakan dari adik iparnya.
Aturan penyebutan ini menurut saya terlalu rumit, tetapi sebenarnya cukup efektif memverifikasi orang. Juga nantinya dari sana ukuran-ukuran adat, istiadat atau kebiasaan ditetapkan menjadi hukuman.
Ayah berkata bahwa dia masih memiliki kekerabatan dari jalur bapaknya. Sehingga atas pengecualian dia mendapatkan panggilan tadi. Ayah sendiri memanggilnya kakak, sebagai sebuah penghormatan. Meskipun demikian Bapak Kapaloh adalah orang yang terikat pada aturan.
Rumah di dusun adalah rumah tiang yang tersusun oleh kayu-kayu ulin atau jati ratusan tahun. Sebagai slop yang menghubungkan antar tiang maka di lantainya akan digunakan satu balok besar panjang. Balok-balok tadi membentuk kotak-kotak dengan ukuran tergantung besar rumah. Rumah kami memiliki balok yang panjangnya dua puluh meter tanpa sambungan. Ia dibagi menjadi empat ruas masing-masing lima meter.
Di tiap ruas itulah aturan duduk di tetapkan.
"Kamu lihat nanti bagaimana Bapak Kapaloh datang"
Ayah melirik pada pria yang berjalan bungkuk dengan baju batik dan kopiah hitam dari kejauhan.
Ketika mendekati tangga ia berhenti sambil mengucapkan salam. Berdiri berpegangan pada tiang dan diam di sana.
"Bagaimana kabar kebun, sudah ada yang bisa dibawa ke Jakarta."
Ayah bertanya dari atas rumah dan ia menjawab agak panjang.
"Durian tiga bulan lagi, duku kalau mau menunggu dua minggu lagi, jeruk baru ditanam, tetapi ada saiya siapkan gabah buat digiling dan beberapa ikan asap."
Ia menjawab dan duduk di sana.
"Siapa yang datang minta doa."
Ayah bertanya lagi kepadanya sambil tersenyum.
"Kalau diizinkan boleh saiya duduk di sini? Belakangan sendi agak ngilu kalau banyak berdiri."
Ia berdiri menunggu jawaban.
"Duduklah"
Bapak Kapaloh melepaskan pegangannya pada tiang tangga dan duduk di ijan (anak tangga).
"...Moyang Woli, Ombai Idun, ombai Sia, bakas Usup, bapak Bakar,...."
Ia menyebutkan nama-nama orang di masa lampau yang telah mendahului.
"Naiklah ke sini kak, ada teh dan kue."
Ayah berkata dan Bapak Kapolah mengangguk. Ditanggalkannya sendal di bawah tangga dan ia meniti anak tangga pelan-pelan ke atas.
Istrinya atau uwak kami adalah artis penari terkenal di dusun. Namanya Irim atau biasa dipanggil Ran (Istri) Kapaloh. Ia perempuan yang selalu gembira dan berbahagia. Hobinya bernyanyi, menari, mengajar tari anak-anak, dan membuat kue. Menurutnya suaminya itu pemalu dan lambat seperti siput. Bagaimana kedua sifat-sifat saling bertentangan itu bertemu kita tidak pernah faham perjodohan.
"Masuklah, kita baru mau mulai."
Uwak Irim berkata pada orang-orang di bagian teras rumah.
Orang-orang masuk mengambil tempat duduknya di antara balok-balok di lantai.
"Nanti kamu perhatikan dimana Bapak Kapaloh duduk."
Ia adalah pria terakhir yang masuk. Tetapi ia tidak segera masuk. Pertama dia akan berdiri menampilkan diri di depan pintu masuk yang mirip pintu bar koboi. Lalu orang-orang akan meneriakinya untuk segera masuk.
Ia lalu akan duduk saja di palang pintu. Orang-orang kembali akan meledeknya dan berkata bahwa ia adalah bagian dari keluarga di rumah itu.
Bapak Kapaloh baru akan melompati palang pintu dan dipilihnya duduk di balok paling dekat dengan dinding luar rumah.
Lalu orang-orang makan bersama dari satu panci yang sama dengan tangan kosong dan obrolan serta gurauan yang kejam. Orang dusun senang membuat istilah dan saling menjahili dengan gurauan yang menurut saiya terlalu berlebihan. Tetapi itu adalah cara mereka berinteraksi saiya tidak faham apakah itu baik atau buruk.
Nenek biasanya akan duduk saja di atas ranjangnya sambil memutar tasbih. Ia tidak terlalu peduli dengan acara makan-makan. Tubuhnya kurus tetapi setiap pagi dini dia berangkat ke sungai untuk mandi dan mengambil satu ember air sebagai air wudhlu.
Setelah semua suguhan selesai biasanya kabar-kabar dari dunia lampau disampaikan.
"Hei Kapaloh, apa kabar nenek-moyang kita"
Uwa Badar, kakak tertua ayah bertanya padanya. Kapalah menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Moyang Tuan mengucapkan terimakasih karena ziarah dan membersihkan makamnya. Hanya dia sampaikan satu nisan yang di pasang Haji Latif tertukar tempat."
Orang-orang bergumam dan bertanya siapa yang memasang kembali waktu renovasi kuburan nenek-moyang. Satu dari pria di ruangan kemudian menyuruh seorang anak untuk menghubungi lagi orang lain.
"...Indok Haji (nenek)"
Bapak Kapaloh melanjutkan
Nenek berhenti memutar tasbihnya.
"Waktunya tidak lagi lama. Ia nantinya mati ngojut (tiba-tiba dan diketahui orang)."
Nenek tertunduk dan membalikkan badannya.
Perahu merapat ke gosong di tengah sungai. Beberapa pria baru saja kembali dari tempat pemakaman tua. Kak Mulkan anak dari uwa Badar berkata jika salah satu nisan memang salah pasangan tetapi sudah dicabut dan dipasangkan dengan benar.
Setiap generasi akan memasang sepasang nisan di kedua ujung kuburan. Sampai terakhir saiya melihat barangkali ada 7-8 generasi. Yang masing-masing ada terbuat dari kayu unglin, batu, semen, dan kaca. Nisan-nisan tadi dipasang berjejer untuk menunjukkan silsilah sesuai generasi dan karena makam yang berkembang membesar karena lebah tanah yang menjadikannya istana mereka. Si lebah memperbesar makam tadi sampai menembus atap dan ke depan atau ke samping yang membuat nisan terdorong lebih jauh. Makam tadi kira-kira panjangnya tiga atau empat meter.
Dua bulan setelah terakhir kami berkunjung, nenek meninggal dunia dalam tidurnya.
Bapak Kapaloh meninggal delapan tahun lalu. Ia barangkali murid terakhir dari Tanda Woli yang mengikuti tarekat Hasaniyah. Setiap malam mewajibkan dirinya membaca satu kitab quran. Bila saiya mendengarkannya membaca dari bawah rumahnya sepulang shalat subuh ia membaca seperti seekor lebah yang berdengung di depan kembang.

0 comments:

Post a Comment