Monday, February 4, 2019

Rocky dan Filsafat

Rocky dan Filsafat
Seperti yang saiya duga bahwa pada akhirnya akan ada orang yang mempertanyakan Rocky dan filsafatnya.
Seorang kawan berkomentar jika apa yang disampaikan Rocky bukanlah filsafat. Ia yang dulu senang membaca buku-buku filsafat terjemahan penerbit Mizan, beranggapan jika filsafat yang otentik adalah filsafat Islam lain dari itu bukan filsafat. Secara lebih spesifik filsafat islam yang dimaksudnya pun adalah yang berkembang di dalam tradisi muslim Syiah.
Saiya tidak hendak mendebatnya, tetapi menilai satu pandangan orang pada sebuah ide-gagasan pemikiran dengan melemparkan urusannya kepada hal yang sama sekali tidak dihadirkan di meja diskusi adalah tanda keminderan.
Jika kita periksa pendapat si kawan apa yang dia maksudnya dengan filsafat tradisi muslim Syiah itu pun nanti akan terbagi-bagi dalam aliran-aliran dan tokoh-tokohnya. Yang bukan hanya berbeda tetapi ada pula yang saling menegasikan di pokok turunan. Sementara itu di dunia muslim Sunni pun pandangan filsafat pun ada banyak pandangan dan aliran-alirannya.
Jadi saiya menilai jika dalam mempelajari filsafat pun tentang kefilsafatan siapa yang paling falsafi itu digugat. Hanya saja seperti kebanyakan gugatan, pandangan kawan tadi lebih dominan persoalan sentimen saja. Apa yang kita harapkan bahwa filsafat sebagai sebuah adu pikiran itu tidak muncul. Hanya pandangan senewen saja pada Rocky yang mau tidak mau harus kita akui berhasil mengobrak-abrik dunia talk-show kita.
Jika kita perhatikan dari cara Rocky membangun pandangan dan filsafatnya maka itu memang tidak berakar kepada tradisi filsafat di sekolah-sekolah keagamaan Islam. Ini karena ia bukan muslim dan memang tidak mempelajarinya begitu. Apakah dengan demikian pandangan-pandangannya menjadi batal demi hukum? Tentu tidak, ini karena seseorang menilai dan dinilai dari posisi dimana ia memulai bangunan pemikirannya (Setzung). Sehingga sangat tidak etis bila kita ketimbang membahas apa yang disampaikan Rocky namun kita mengalihkannya untuk sama-sama meragukan kefilsafatannya. Ini apa yang disebut dengan Gewald (kekerasan) dalam teori Walter Benjamin tentang dasar dari kedzaliman yaitu memberikan penilaian atau menghukumi sesuatu tidak pada tempatnya.
Pandangan senewen si kawan tadi barangkali juga lahir karena Rocky tidak mengkritisi salah satu Capres lawannya. Sehingga karena perbedaan preferensi pilihan politiknya maka yang disampaikannya dianggap sebagai keberpihakan kepada pihak lain. Sehingga untuk menyerangnya kita mengalihkan argumen kepada hal-hal yang tidak semestinya dipertanyakan. Semisal mempertanyakan gelar, keprofesorannya, kelulusan, pilihannya untuk selibat (belum menikah) dan hal lain yang sama sekali tidak berkorelasi dengan apa yang disampaikannya.
Harus diakui, Rocky membawa filsafat ke wilayah praktis dengan caranya yang unik. Ia tentu mengenali jika hari ini oranghidup dalam budaya; copy-paste-bagikan. Masyarakat yang lebih senang mengambil-bagi kutipan-kutipan daripada menghabiskan waktu membaca buku-buku secara mendalam. Di sini ia dengan cerdasnya memotong-motong frasa untuk memudahkan dan memuaskan pemirsanya dengan apa yang mereka butuhkan.
Ia juga membawa filsafat sebagai sesuatu yang dapat dirasakan dan bahkan lebih sering untuk ditertawakan. Kadang lewat argumennya ia mendatangkan kesadaran kepada publik, bahwa sebenarnya semua kuasa yang dimiliki negara berasal dari otorisasi yang diberikan publik sebagai sebuah amanah.
Ia dapat kita rebut kembali dan dicampakkan ke wajah kekuasaan bila otoritas tadi mulai diselewengkan. Dengan cara keras atau dengan anekdot-anekdot khas Rocky yang menghadirkan metafora.

0 comments:

Post a Comment