Thursday, February 28, 2019

Semakin banyak turis restoran halal di Bangkok

Semakin banyak turis restoran halal di Bangkok
Jumlah restoran muslim atau halal semakin banyak saja kata Moch Noor pegawai di salah satu distro Melayu-Thai dekat arah Bandara.
Tambah banyak turis non muslim bahkan orang Bangkok yang suka makanan khas Muslim Thai. Lanjut Noor orang Siam dan mualaf karena istrinya orang Pathani.
Noor berbincang dengan Dawood dalam bahasa siam. Ia menerjemahkan permintaan kami agar porsi setengah saja untuk menghindari mubazir. Ia supir kedutaan yang off hari itu untuk mengantarkan kami ke Bandara Swarna dan sebelumnya beberapa jam lalu di hotel kami sudah sarapan. Noor mengerti bahasa Inggris yang kami sampaikan sebelumnya.
Saya kagum dengan cara orang Thailand menjaga negerinya sebagai destinasi favorite turis dunia. Tahun lalu lebih dari 40 juta turis asing datang ke negeri siam yang penduduknya pun hanya 70 juta. Beberapa brosur wisata halal dan syariah ditawarkan kepada kami oleh jasa wisata di hotel-hotel.
Wilayah perbatasan Thai-Malaysia, Thai-Vietnam adalah wilayah yang dihuni banyak penduduk beragama Islam. Setelah tensi konflik menurun maka tempat-tempat tadi menjadi favorit pengunjung dari negara-negara mayoritas muslim seperti Malaysia, Brunei, dan Timur Tengah.
Lama saya perhatikan jika Thailand dan tentu saja Singapura adalah negara yang memperhatikan trends positif pengunjung muslim dengan berbagai persyaratan yang tentunya berbeda dengan turis Cina. Hotel syariah dan tentu saja makanan halal adalah dua hal yang semakin diperhatikan pemerintah mereka.
Sedikit saja saya singgung. Selagi kita masih meributkan konsep halal dan syariah sebagai persoalan yurisprudensi, keyakinan, atau hal-hal lain. Thailand, Singapura sudah lama menguasai jaringan perdagangan makanan olahan halal di Asia. Mereka sebetulnya memimpin pelaksanaan voluntary sustainable standards (VSS), yang sedang digalak-galakkan PBB.
Standar halal sebenarnya sistem standar yang diadopsi sukarela yang paling cepat progressnya. Ini karena semakin banyak pemain bisnis yang menyadari jika konsep halal diterima publik non muslim secara luas bukan karena ia berkaitan dengan keyakinan. Namun kini kata halal di identik dengan makanan sehat, bersih, dan dalam pengolahannya dilakukan dengan gentle baik kepada tumbuhan maupun hewan yang digunakan.
Ketika mereka melihat peningkatan jumlah turis yang menginginkan makanan halal, atau hotel bersyariah itu sangat dimaklumi dan dalam bisnis peluang adalah peluang.
Ketika baru-baru ini saiya membaca Menteri Pariwisata menolak wisata syariah di Bali. Saiya faham sekali, ia tentu bukan ahli dalam mengambil peluang-peluang. Sejujurnya Bali bukan tempat favorit saiya yang hobi makan. Sulit menemukan makanan khas Bali yang halal dan makan di restoran Padang di Bali tentu bukan cita-cita orang.

0 comments:

Post a Comment