Tuesday, March 5, 2019

Santai

"Lho kok Sampeyan santai-santai saja di masa kampanye gini." tanya Kang Kuat saat beli sarapan dirangkap makan siang di warung Kang Ikhlas.
"Buat apa tegang, kayak hal baru saja. Kalah biasa, menang tinggal digadang. Beres." jawab si pria bersarung dengan kumis putih tebal njelantir.
"Kan mempengaruhi hajat hidup orang banyak lho. Termasuk ladang dakwah dan maisah, em, pendapatan Sampeyan." kejar si mantan jomblo yang masih kerempeng sembari mengambil sendiri nasi dan sayur.
"Dakwah kan nyenengin orang. Warungku ini menerima siapapun, dengan topik obrolan seliar apapun, dan tak pernah kularang sedikitpun. Kecuali kalau mau nenggak alkohol ya pindah dulu saja, pusing dan nge-fly di sini gakpapa. Cuma prosesnya ya jangan." sahut sosok berkepala 5 itu dengan pose masih leyeh-leyeh di bawah pohon jambu air. Laptop Asus di depannya masih menyala.
"Terus soal pajak 10% tiap piring yang Sampeyan sajikan, atau makin sulit dapat pasokan bahan dapur?" Kang Kuat duduk di meja sebelah Kang Ikhlas, mulai melahap porsi kuli di depannya.
"Katanya rejeki sudah diatur Gusti Allah. Mosok aku ragukan. Pajak kan kewajiban, ya tinggal bayar. Non-muslim saja kalau bayar pajak lantas luntur status kafir yang bisa diperangi kok. Adapun bahan masakan kan dipasok koperasi pesantren asuhan Mbah Yai, jelas mandiri dan insyaAllah stabil." imbuh Kang Ikhlas seusai menyeruput kopi di gelas jumbonya.
"Tapi soal potensi garis keras kuasai kampus dan sistem pemerintahan?" pria usia 25 tahun masih belum puas, seperti piring yang belum kandas isinya.
"Itu sudah terjadi sejak era 90-an kok. Santai saja. Ormas kita dan sepupu memang kewalahan, bahkan terang-terangan berkoar masjid dan jamaahnya dicuri. Tapi apa mau dikata, sedangkan kita saja tak reaktif bikin gerakan tandingan. Gagal adaptasi tak terelakkan. Terpenting terus play defense saja." kata Kang Ikhlas yang sudah mengepulkan asap tembakau. Pertanda obrolan mulai serius.
"Harus dilawan dong biar gak ada jihadis amatiran." Si pria ceking masih belum lega. Seseret tenggorokannya yang disebabkan ia lupa ambil segelas air putih gratisan.
"Nyatanya kan densus 88 beres membabat spora-spora itu. Kita tinggal bikin upaya preventif di tingkat pendidikan menengah dan tinggi. Kita kepayahan di situ. Antara lain kurang maunya kader kita srawung dengan kubu yang dianggap lawan. Peran taaruf untuk menyeimbangkan tersisihkan." Pandangan pria bercucu dua itu terlempar jauh ke keramaian jalanan.
"Underbow kita bukannya ada?" Tanya Kang Kuat sembari meremuk krupuk dengan giginya.
"Militan dengan kadar yang masih kalah adaptif dibanding yang ingin disaingi. Darah muda yang terlalu minim gejolak. Tugasmu barangkali ngompori mereka untuk memaksimalkan medsos dan teknologi jauh di depan. Termasuk diskusi masalah kekinian sebaiknya lebih sering digelar. Biar teks agama menemukan konteks di zaman edan ini." Sahut Kang Ikhlas yang beranjak ke meja belakang kasir. Melayani pembeli yang mau bayar.
"Hm. Lho kok jadi tugasku. Penganten anyar kok disuruh turun lapangan. Hadeh. Mana masih keteteran memenuhi belanja isi dapur, je." Celetuk Kang Kuat pelan.
"Lha kan, imanmu kurang mantep tuh." Teriak Kang Ikhlas dengan tangan memijat kalkulator.
"Asyem ik. Kok yo krungu." Gumam Kang Kuat.

0 comments:

Post a Comment