Sunday, April 7, 2019

Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, maka dia akan mengenal Tuhannya

Pengetahuan tentang diri adalah kunci pengetahuan tentang Tuhan, sesuai dengan hadits, “Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, maka dia akan mengenal Tuhannya,” dan sebagaimana yang tertulis di dalam Al-Quran, “Akan Kami tunjukkan ayat-ayat kami di segenap ufuk dan di dalam diri mereka sendiri, agar mereka tahu bahwa itu adalah al-haqq.” (QS Fushshilat [41]: 53)
Tidak ada yang lebih dekat kepada Anda kecuali diri Anda sendiri. Jika Anda tidak mengenal diri Anda sendiri, bagaimana Anda bisa mengetahui segala sesuatu yang lain. Jika Anda berkata” “Saya mengenal diri saya” — yang berarti bentuk luar Anda; badan, muka dan anggota-anggota badan lainnya — pengetahuan seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi kunci pengetahuan tentang Tuhan.
Demikian pula halnya jika pengetahuan Anda hanyalah sekadar bahwa kalau lapar Anda makan, dan kalau marah Anda menyerang seseorang; akankah Anda dapatkan kemajuan-kemajuan lebih lanjut di dalam lintasan ini, mengingat bahwa dalam hal ini hewanlah kawan Anda?
Pengetahuan tentang diri yang sebenarnya itu ada dalam pengetahuan tentang hal-hal berikut ini:
Siapakah Anda, dan dari mana Anda datang? Kemana Anda pergi, apa tujuan Anda datang lalu tinggal sejenak di sini, serta di manakah kebahagiaan Anda dan kesedihan Anda yang sebenarnya berada?
Sebagian sifat Anda adalah sifat-sifat binatang, sebagian yang lain adalah sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat. Mesti Anda temukan, mana di antara sifat-sifat ini yang aksidental dan mana yang esensial (pokok).
Sebelum Anda ketahui hal ini, tak akan bisa Anda temukan letak kebahagiaan Anda yang sebenarnya.
Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Oleh karena itu, jika Anda seekor hewan, sibukkan diri Anda dengan pekerjaan-pekerjaan ini.
Syaithan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, akal bulus dan kebohongan. Jika Anda termasuk dalam kelompok mereka, kerjakan pekerjaan mereka.
Malaikat-malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sama sekali bebas dari kualitas-kualitas hewan. Jika Anda punya sifat-sifat malaikat, maka berjuanglah untuk mencapai sifat-sifat asal Anda agar bisa Anda kenali dan renungi Dia Yang Maha Tinggi, serta merdeka dari perbudakan hawa nafsu dan amarah.
Juga mesti Anda temukan sebab-sebab Anda diciptakan dengan kedua insting hewan ini: mestikah keduanya menundukkan dan memerangkap Anda, ataukah Anda yang mesti menundukkan mereka dan — dalam kemajuan Anda — menjadikan salah satu di antaranya sebagai kuda tunggangan serta yang lainnya sebagai senjata.
(Imam Al-Ghazali, dalam kitab “Al-Kimiya’ As-Sa‘adah” atau “Kimia Kebahagiaan.”) alfathri

0 comments:

Post a Comment