Sunday, April 7, 2019

James Barbers dan Peluang Pilpres ke Konflik

James Barbers dan Peluang Pilpres ke Konflik
Apa yang disampaikan Jokowi di Stadion Kridosono 23 Maret lalu dalam acara reuni pendukungnya dari Yogyakarta sebetulnya menunjukkan jika Jokowi bukanlah orang yang faham akan peluang terjadinya konflik.
Pernyataannya yang akan melawan aneka fitnah, celaan, dan tudingan kepada dirinya (secara personal) akan dilawannya sebenarnya pernah ditelaah James Davir Barber dalam The Pulse of Politics".
Bila kita membaca James muatan kampanye dengan mengarahkan persoalan personal menjadi luka bagi publik -pendukungnya- merupakan satu dari tiga titik bakar terjadinya konflik. The so called para kandidat dan para peluncurnya (negosiator) terpaku pada tiga narasi pokok yang dibentuk secara tidak langsung oleh media massa.
James memaparkan geneologi detak-detik perubahan konstelasi politik dalam kampanye beberapa presiden di AS dari sudut pandang komunikasi media massa. Ia menyimpulkan jika secara umum, masyarakat dibentuk untuk memahami jika politik itu adalah melulu persoalan konflik, penyadaran publik (conscience), dan sebuah rekonsiliasi dalam aneka bentuknya seperti perdamaian, aliansi, koalisi, atau persekongkolan.
Apa dan bagaimana ketiga tema tadi diolah dan didefinisikan untuk meledak sebagai konflik sangat bergantung dengan apa yang kita sebut sebagai preferensi dan kecenderungan kepentingan.
Seandainya kita menggunakan analisa James bahwa politik adalah persoalan konflik, perang, pertikaian, dan saling serang saja, maka hari ini memang sudah terjadi di perhelatan pemilu kita. Bahkan sejak beberapa waktu lalu. Ancaman yang disampaikan Wiranto untuk menggunakan UU Terorisme pada pihak-pihak yang mengajak untuk Golput (tidak memilih) adalah sebuah serangan keras.
Sementara sebelumnya Moeldoko dengan gamblang berkata jika ia akan melakukan "Perang Total". Apa alasan dia menggunakan terminologi kata perang dan bukan kompetisi, atau usaha, tentu akan memberikan pandangan yang berbeda baik kepada masing-masing pendukung dan kandidat lawan.
Kedua lanjut James, kita melihat politik sebagai sebuah kesadaran atau gerakan akal sehat. Melalui kampanye politik, publik diberi kesadaran dan akhirnya mengkonversi kesadaran tadi sebagai suara. Meskipun pada kenyataannya tetap saja kedua pihak kita ketahui sama-sama mengklaim sebagai pemilik akal sehat tadi . Mereka adalah yang terbaik dalam melaksanakan pemilu ini dengan cara paling bermoral dan benar.
Pendukung Petahana misalnya mengatakan jika semua kritik yang sifatnya negatif kepada pemerintah adalah sebuah fitnah, kebohongan, dan hoaks. Mereka pun mendukung usaha memerangi dan menangkapi pelakunya. Bahwa kritik tadi merupakan bagian inheren dari kehidupan demokrasi dan hak dasar publik itu semua harus dianggap sebagai ucaran kebencian saja.
Demikian pula di pihak lawan. Adalah Rocky Gerung yang memanfaatkan perbaikan akal agar sehat melalui redefinisi dan kontekstualisasinya pada pemahaman awam. Ia membalikan jika hoaks adalah paling mungkin dilakukan oleh negara. Negara menurutnya mempunyai aparatus dari birokrasi sampai media untuk menciptakan hoaks dan imajinasi tentang pembangunan.
Ketiga adalah terjadinya letupan-letupan berulang (beats) yang sadar atau tidak diciptakan untuk mendeskreditkan lawan.
Bila dulu isu yang diangkat adalah persoalan pri-non pri, elit versus wong cilik, lalu islam tradisional bersus modern, sekarang isu yang dimunculkan adalah radikal versus toleran, Dimana pihak yang paling sering diserang adalah umat Islam. Baik itu serangan kepada pemahaman, praktik, dan politik keagamaannya.
Jadi ketika hari ini kita melihat bahwa masyarakat semakin terbelah bahkan di beberapa tempat sudah terjadi saling serang secara fisik dan ucapan maka itu adalah satu dari syarat terciptanya konflik. Saiya hanya tidak faham, bagaimana hal ini berulang-ulang seperti sengaja dipolakan untuk akhirnya kita sama-sama berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan penyelenggara pemerintahan kita sekarang.

0 comments:

Post a Comment