Sunday, April 7, 2019

Pecah dan Hancurkan

Pecah dan Hancurkan
Seseorang yang saya kenal lama sebagai ustadznya yayasan tasayu atau Syiah mengirimi saiya pesan; bahayanya khilafah terhadap pancasila. Ia mengiyakan omongan Hendropriyono, orang intel yang dikenal karena pembantaian TalangSari Lampung 1989.
Saiya balas saja, sebaiknya ia melakukan rekonsiliasi internal. Problem lembaga-lembaga Islam seperti Ahmadyah, Syiah, Tabligh, atau kini tarekat-tarekat dzikir baik yang lokal maupun yang bersyekh luar negeri adalah urusan keorganisasian.
Pada saat mereka gagal bergerak sebagai organisasi karena ribut antar pengurus atau rebutan jamaah maka biasa berakhir dengan saling caci serta memecah-belah yayasan. Demi.menutupi program internal yang gagal jalan akhirnya kebanyakan lembaga tadi mencari-cari musuh eksternal.
Beberapa kasus saiya temui ketika memediasi konflik warga dgn lembaga ini. Di NTB misalnya sudah tahunan warga Ahmadiyah terusir dari kampungnya. Bukan karena gagal berasimilasi tetapi karena ada pengurus yang maunya konflik tadi terus dieksploitasi untuk mendapat perhatian.
Persoalan pribadi yang diproyeksikan sebagai urusan tingkat negara inilah yang mendasari omongan-omongan seperti disampaikan Priyono. Hendropriyono sendiri adalah spesialis eska yang ikut bertanggungjawab atas pembunuhan Talang Sari 89 dengan puluhan warga tewas, ratusan cacat dan hilang.
Sebagian dari anggota Warsidi menyebut jika awal konflik adalah persoalan pengambil alihan lahan warga untuk lahan industri Sawit atau gula. Belakangan ada usaha-usaha menutup kasus pelanggaran HAM Talang Sari untuk kepentingan pilpres 2019. Hendropriyono memang ada dipihak petahana.
Jadi kembali kepada pecah dan hancurkan, setelah Suriah nisasi untuk membendung isu Ahok yang gagal kini muncul lagi versi Khilafahisasi.

0 comments:

Post a Comment